
Beberapa orang pemandu wisata telah mendampingi mereka bersepeda keliling pulau. Sore hari dengan suasana redup dan angin pantai sepoi-sepoi merupakan waktu yang sangat tepat untuk menikmati pulau.
Mereka melewati pinggiran pantai yang sedikit berbatu, hutan kecil yang sama sekali tak memberi kesan horror, deretan pohon kelapa yang terlihat seksi berdiri di atas bersihnya pantai berpasir putih. Sesekali mereka berhenti untuk berpose dan mengambil gambar. Beberapa orang di antaranya bahkan menvideokan moment-momen mereka bersepeda. Ketika mereka melewati pantai dengan hamparan pasir putih dan teduhnya pohon kelapa, ada yang memilih menstandar sepedanya dan bermain air di pantai itu.
Pemandu wisata tak mempermasalahkan seandainya mereka berpencar, karena jalur sepeda hanya ada satu dan cottage mereka pun tepat berada di pinggiran jalur sepeda, sehingga mereka tidak akan tersesat. Peserta tour pun lebih memilih untuk berpencar untuk menikmati pemandangan sesuai apa yang menarik hatinya.
Narita dan Sriti yang bersepeda sendiri-sendiri, memilih berhenti ketika mereka melewati pantai berpasir putih yang ada pohon kepala meliuk menyentuh pasir. Mereka menstandar sepedanya dan duduk di bagian liukan pohon tersebut sembari memandang laut lepas dan matahari yang siap terbenam. Posisi mereka duduk memang tidak di pinggir jalan jalur sepeda. Untuk menjangkau pinggir pantai itu, harus melewati beberapa tanaman pendek yang menambah eksotisme pantai tersebut. Terlihat di sekitar mereka beberapa orang yang juga duduk duduk dan bermain pasir dan ombak.
Sriti dan Narita dikagetkan oleh panggilan seseorang yang menawarkan kelapa muda. Kebetulan mereka haus, akhirnya mereka memesan kelapa muda.
“Silahkan neng kelapa mudanya!” bapak-bapak tua menyerahkan 2 buah kelapa muda yang sudah siap diminum.
“Ini pak uangnya, makasih” sahut Narita menerima kelapa muda itu.
“Terima kasih neng” bapak itu tersenyum lalu pergi.
“Segernya, pas banget ya Mbak ada yang nawari kelapa muda” kata Narita sembari meminum air kelapanya.
“Iya. Nie aku bawa minum air putih, tapi kok kayanya lebih nikmat air kelapa” kata Sriti.
Mereka berdua sudah pegal duduk di liukan pohon kelapa sambil memegang kelapa mudanya, lalu mereka mengubah posisi lebih mendekati bibir pantai dan duduk di pasir putihnya.
“Coba di Ancol pantainya kaya gini ya Mbak?? Aku gak perlu jauh-jauh untuk melarikan diri kalau menggalau” kata Narita diiringi dengan tawa ringan mereka berdua.
“Iya bener” sahut Sriti.
Sesaat kemudian,“Na?” panggil Sriti.
“Hm” jawab singkat Narita masih memandang laut lepas.
“Kamu yakin tidak ada perasaan ke Davis?” tanya Sriti, seolah dia tak percaya dengan jawaban yang pernah diberikan Narita, karena menurut Sriti, Narita ada perasaan ke Davis.
Tak pelak pertanyaan Sriti mengagetkan Narita. Narita berusaha menguasai kegugupannya, berusaha kembali bersikap biasa, namun cukup lama dia belum membalas pertanyaan Sriti.
__ADS_1
Sikap Narita itu ditangkap baik oleh Sriti. Sriti hanya tersenyum simpul seolah memahami bahwa saat ini Narita sedang berusaha untuk menutupi kejujurannya.
“Kenapa kamu menanyakan hal yang sama berulang-ulang kali mbak?” tanya Narita sudah mulai tenang namun tak mampu menatap mata Sriti yang pada saat itu menatap Narita.
“Kamu inget kan apa yang pernah aku bilang dulu? Jangan pernah melawan perasaanmu sendiri, tapi jujurlah meskipun kejujuranmu tak seperti apa yang kamu inginkan” Sriti dengan posisi kembali menatap laut lepas, kedua tangan ke belakang untuk menumpu beban tubuhnya ketika duduk.
Dahi Narita berkerut, seolah mencerna maksud kata-kata Sriti lalu terpaksa Narita berbohong “Mbak, jawabanku masih sama”
“Umurku sekarang 23 tahun, aku ingin menikah ketika usiaku 25 tahun.”
“Davis hanya aku anggap sebatas adik”
“Davis bukan pria yang aku harapkan menjadi pendamping hidupku!” tegas Narita.
Meskipun Davis telah memiliki hatiku. Hati yang kujaga selama 23 tahun. –Narita melanjutkan kata-katanya dalam hati.
“Na, kulihat Davis memiliki perasaan padamu, yaaahh walaupun ada yang mengaku sebagai pacarnya, tapi sepertinya Davis hanya menganggap Alin tidak lebih sebagai adik” Sriti mulai berargumen.
“Kulihat Davis walaupun masih sangat belia, tapi dia bersikap dewasa, baik, bukan tipe cowok slengekan, dan sepertinya tipe cowok setia”
“Yaa anggaplah seumuranku menikahnya, apakah menurutmu terlalu tua menikah di usia sepertiku saat ini? Apakah terlalu lama untuk menunggunya 5 tahun lagi” Sriti cukup banyak berkata.
Narita berusaha menguasai diri agar tidak nampak kebohongannya dan menutupinya dengan tertawa lepas dan menepuk lengan Sriti berulang-ulang sambil berkata “Mbak, aku gak mau berandai-andai”
“Perasaan Davis ke aku pun juga cuma andai-andai, ngapain aku jawab?”
“Kalau perasaanmu ke dia gimana?” tanya Sriti kembali menatap Narita.
“Tolong jawab dengan menatapku Na, kamu jangan berbohong!”
Narita menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar sembari berkata “Terlalu banyak perbedaanku dengannya, Mbak”
“Aku memang berkeinginan menikah di usia 25 tahun, namun sesungguhnya hanya Alloh yang akan menetapkannya. Kalau ketetapan Alloh, aku tidak bisa menikah di umur itu. Aku hanya bisa menjalaninya dengan ikhlas dan suka cita”
__ADS_1
“Dan satu hal prinsip utamaku yang akan selalu kupegang teguh sampai kapanpun juga, Mbak. Aku mungkin akan diuji dengan cara merasakan jatuh cinta dengan orang yang salah, namun aku hanya ingin menikah karena Alloh semata” Narita memberanikan diri memandang Sriti.
Sriti dahinya berkerut mencerna ucapan Narita.
Kembali Narita berbicara “Sebelum bertemu dengannya, aku tidak pernah merasakan ini” Narita memegang dada sisi letak jantungnya.
“Aku cukup sadar diri, Mbak. Apalah aku ini. Mana mungkin seorang sesempurna dirinya ada hati padaku”
“Terlebih lagi jurang perbedaan di antara kami cukup jauh, Mbak. Itulah yang selalu membuatku untuk membentengi hatiku”
“You know what I mean, Mbak” tegas Narita.
Sriti mengangguk tanda paham. Mereka berdua lalu kembali terdiam dengan pikiran masing-masing.
“Semoga kita berdua segera Alloh pertemukan dengan orang yang tepat di waktu yang tepat ya, Na?!” kata Sriti kemudian.
“Aamiin” jawab Narita mantap sembari menengadahkan tangannya lalu meraupkan kedua telapak tangannya ke mukanya.
“Btw, kita memperluas pergaulan di mana lagi nie Na?” tanya Sriti mencairkan suasana yang tadi sedikit menegang karena pembahasan hati ke hati Narita.
“Mbak mau ikut pengajian remaja? Aku udah 2x ikut pengajian remaja di masjid SK”
“Bukan berarti niatnya mau mencari jodoh yaaaa….. Cuma aku ingin mencari ketenangan diri mbak. Nah karena ini pengajian yang dikhususkan untuk kaum muda, jadi pembahasannya yaa tak jauh-jauh dari lingkup perasaan, galau, karir, dan masalah-masalah yang biasa dihadapi kaum muda, Mbak”
“Ditambah lagi, makanan di sekitar masjid juga enak Mbak,,habis ngaji kita bisa kulineran deh!” cerita Narita panjang lebar pada Sriti.
“Boleh juga. Kabarin ya!” sahut Sriti penuh semangat.
Tak terasa matahari sudah tenggelam dari peraduannya dan sore tlah sedikit berubah menjadi gelap. Narita dan Sriti kembali ke sepedanya dan kemudian mengayuhnya mengikuti jalur untuk kembali ke cottage.
Sesampainya di cottage terlihat oleh mereka, Alin dan Davis yang sedang bersendau gurau dengan peserta tour yang lain. Alin dengan santainya menyandarkan badannya dan melingkarkan tangannya ke lengan Davis, sementara itu Davis pun seolah tak memperdulikan kedatangan Narita dan Sriti.
Ya Alloh, aku lega sudah bercerita dengan Mbak Sriti.
__ADS_1
Aku semakin yakin dengan sikapnya saat ini. Dia acuh padaku, tak mungkin dia ada hati padaku.
Aku harus mengubur rasa ini. Rasaku sendiri. Sakit. – batin Narita sembari melirik ke Davis namun Davis mengabaikannya.