
3,2 tahun kemudian
Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, di sebuah club malam sudah ramai riuh suara para pria dan wanita yang mencari penghiburan di tengah lampu kerlap kerlip dan suara musik disko yang cukup menggelegar.
“Ayo mau pesen minuman apapun, aku yang traktir” teriak salah satu pria di antara kumpulan 4 pria dan 4 wanita.
Mereka mulai memesan minuman yang mereka inginkan.
“Aku pesan minuman yang tidak mengandung alkohol” kata wanita itu tepat di samping telinga sang pelayan club. Pelayan itu pun menganggukkan kepalanya dan membuka lembar menu varian minuman yang tidak mengandung alkohol. Wanita itu pun memilih salah satu menu yang ditawarkannya dan pelayan itu pun mencatatnya.
Sembari menunggu pesanan, mereka dengan santainya mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti irama musik.
“Hayuk temenin aku melantai!” seru salah satu wanita kepada salah satu pria di meja mereka. Mereka berdua pun beranjak dari duduknya.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang, mereka meminumnya. Lalu kedua pasang pria dan wanita yang lainnya menyusul untuk turut melantai. Kini tinggallah seorang pria dan seorang wanita di meja mereka.
Pria berdarah campuran Australia dan Timur Tengah, dengan badan tinggi, tegap, gagah, wajahnya tampan, nampak tersenyum dan sedikit mendekat ke tempat duduk wanita yang tak lain adalah Narita.
“Kamu gak dance?” tanya pria itu.
“Enggak!” jawab Narita.
NARITA POV
Aku memang tak begitu enjoy berada di tempat seperti sekarang ini. Aku ke sini karena daripada kesepian di apartemen, mending aku have fun sama temen-temen kantor. Ya, aku ke sini dengan teman-teman sekantorku. Empat orang cewek dan empat orang cowok. Sejak 3 tahun yang lalu, aku pindah kantor dan bekerja pada perusahaan bertaraf internasional.
Di kantorku banyak mempekerjakan pegawai asing. Kami pun terbiasa menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dalam kesehariannya (namun di novel ini aku ceritakan tetap menggunakan Bahasa Indonesia saja ya).
Tak sulit bagiku dekat, akrab, dan bersahabat dengan mereka meskipun multicultural. Justru dengan adanya akulah yang menyatukan geng kami, 4 pasang pria dan wanita. Dari kami berdelapan, hanya 2 orang yang orang pribumi, sisanya warga negara asing.
__ADS_1
Aku mengenal tempat seperti ini (night club) setelah bergaul dengan mereka. Ya, jujur sebenarnya aku kurang suka tempat ini. Aku lebih suka berada di café pinggir pantai atau di pegunungan yang ada live musicnya. Masih sama-sama nuansa musik tapi dengan suasana yang lebih tenang dan damai, bukan hingar bingar seperti ini. Masih untung sie ada pilihan minuman halal.
Kami berdelapan bersahabat cukup solid. Ya entah murni persahabatan antara pria dan wanita ataukah ada yang memainkan perasaan di dalamnya, aku sendiri kurang tau. Namun untukku sendiri dapat aku pastikan hanya menganggap mereka sebatas sahabat. Terkadang aku mengikuti hobby mereka dengan menemani mereka datang ke club, namun tak jarang juga kami menemani hobby sahabat-sahabat yang lainnya semisal belanja, ngafe di pinggir pantai, hiking, bersepeda, dan lain-lain.
Tak bisa kupungkiri, semenjak aku tinggal di Jakarta, aku sudah cukup banyak berubah. Lingkungan kerja dan pergaulanku yang mengubahku dari cewek lugu menjadi cewek yang lebih berani dalam banyak hal. Aku sudah berani mengenakan baju yang sedikit terbuka baik bagian atas maupun bagian bawah. Aku berani datang ke club yang ku tau banyak kemaksiatan di sini. Aku berani pulang malam sendiri. Dan positifnya, aku lebih berani mengungkapkan pendapat, berani berargumen pada saat rapat, berani dan percaya diri dalam banyak hal.
Kami berdelapan ke club sepulang kantor. Kami para cewek tentunya bergantian pakaian agar tidak saltum. Kali ini aku mengenakan atasan lengan panjang model balon berbahan transparan dan dipadukan dengan rok pendek sekitar 15 cm di atas lutut.
Ahh mana berani aku pake baju begini kalau di kampung.
Keenam temenku telah melantai, Daniel tak turut melantai, mungkin saja ia berniat menemaniku.
“Kamu kalau mau turun, silahkan Niel!” ujarku padanya.
“Gak. Aku gak suka ngedance” jawabnya sembari menenggak minumannya.
“Jangan terlalu banyak minum, gak bagus buat kesehatan” nasehatku membuat Daniel terkekeh dan menatapku.
“Ashh,,,gombal kusut” aku memukul lengannya dengan keras dan dia tertawa lebih keras lagi.
“Gimana perasaanmu seminggu berstatus Manajer Financial and Project Planner” tanyanya lebih serius.
“Senanglah. Pasti.” Aku kembali meminum orange jusku.
“Jangan terlalu ambisius berkarir, kalian para wanita juga harus memikirkan membangun rumah tangga” ingatnya masih lekat memandangku.
“Ck,,,” aku hanya berdecak sebal.
“Lho bener kan?” sambungnya.
__ADS_1
“Males aku dengernya” elakku.
“Ah, jangan bahas aku deh. Kamu sendiri gimana? Emangnya cuma wanita seusiaku saja yang harus memikirkan membangun rumah tangga? Ingat Niel, bahkan umurmu 3 tahun di atasku lho!” sambungku mengejeknya kemudian dan hanya dia jawab dengan gelak tawa.
“Sudah pintar membolak balikkan keadaan ya sekarang!” keluhnya sembari mengusap-usap rambutku.
“Ishhh, berantakan tau!” segera aku menepis tangannya dari rambutku.
“Habisnya aku gemes sama kamu. Kalau kamu ingatkan umur, aku jadi berasa jadi kakakmu. Tapi kalau aku ingat kamu wanita yang sudah siap menikah, aku berasa jadi---“ segera kupotong omongannya.
“Asyik yaaa musiknya!” aku menyela Daniel ketika melihat mereka berenam berjalan kembali ke meja kami. Daniel mengalihkan pandangan ke mereka berenam.
“Iya dong. Kalian nie selalu kompak gak mau melantai!” hanya kubalas senyuman.
Semakin malam suasana semakin ramai. Aku sudah menghabiskan 2 gelas orange jus dan 1 kaleng minuman bersoda. Aku sudah bosan.
“Pulang yuk!” ajakku pada mereka, namun mereka malah tertawa terbahak-bahak.
“Pantang pulang sebelum jam 12 malam, Say” pekik Anabelle salah satu bule cewek temen kantorku.
Teman-temanku ini kuat minum, meskipun mereka minum lebih dari segelas tapi mereka gak mabok. Sedangkan aku? meskipun aku berani masuk ke tempat ini, tapi sekali pun aku tak pernah menyentuh minuman haram itu. Untuk satu hal itu, aku selalu menjaga komitmenku.
Tak banyak pembicaraan kalau kami sedang di club. Kami hanya menikmati hingar bingarnya, minumannya, dan keramaiannya. Aku pun lebih sering mengedarkan pandangan ke arah mana saja. Mengamati gelagat orang-orang yang sudah kehilangan kesadarannya. Berganti ke arah orang-orang yang asyik ngedance. Berpindah lagi ke arah meja lain yang terdapat pria dan wanita berci uman mesra.
Ahh, tak tau malunya mereka berci uman di tempat umum – gumamku sambil melemparkan pandangan ke tempat lain.
“Aku ke toilet dulu ya!” ijinku pada mereka lalu Daniel berdiri.
“Kutemenin, biar gak nyasar” katanya sambil menggandeng lenganku.
__ADS_1
Saat aku berjalan menuju toilet, dari kejauhan aku melihat seseorang yang sepertinya aku kenal. Aku picingkan kembali mataku yang saat itu kupakaikan softlens. Aku berusaha mempertajam pandanganku. Belum sempat melihat dengan jelas, dia menghilang masuk ke dalam ruangan suatu ruangan.
Seperti,,,,,ah bukan. Mungkin aku hanya salah liat-- batinku.