CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
KEDATANGAN DAVIS 2


__ADS_3

AUTHOR POV


 


Ali, Narita, dan Leni segera bangkit dari posisi duduknya.


“Aku pikir kamu sudah pulang ke Inggris, bro?” tanya Ali.


“Belum Al. Aku hanya pindah tidur saja. Aku ada kesempatan ke sini karena baru saja mengisi acara kuliah terbuka di kampusmu!” jawab Davis yang sesekali masih mencuri pandang ke Narita.


“Owh,,,jadi kamu itu CEO tampan yang seharian tadi jadi trending topic di kampus ya?” lanjut Ali.


“No…no….no. Sesungguhnya yang mengisi acara kak Dave, aku hanya diminta opa untuk menemaninya saja. Mana pantas aku menjadi pembicara di kuliah terbuka di kampus ternama. Apalah aku? So, yang jadi trending topic jelas kak Dave” mendengar jawaban Davis, Ali hanya manggut-manggut saja.


“Karen sini turun, ikut nanny Na ya? Kasian uncle capek gendong Karen!” Narita yang merasa tidak tertarik dengan obrolan mereka, bermaksud untuk pergi dari sana dengan membawa Karen.


Namun Karen sepertinya merasa nyaman di gendongan Davis, dia tidak mau diturunkan. Karen memang jarang sekali digendong dan ketika ada seseorang yang mau menggendongnya, dia pasti merasa dimanja.


“Narita, aku ke sini sengaja mau mencarimu. Hal yang ingin aku bicarakan waktu itu kan belum sempet kita obrolin!” kini Davis beralih menatap Narita, namun Narita berusaha untuk tidak terlalu lama menatap pada Davis. Dia hanya membalasnya dengan tersenyum, mengangguk, lalu membuang pandangan ke sembarang arah.


“Na, kalian kalau mau ngobrol. Aku temeni ya!” ucap Ali segera. Nampak perubahan ekspresi wajah Ali yang sangat terbaca oleh semua orang yang ada di sana. Ali yang tadinya sangat senang dengan menebar tawa lebar, kini berubah serius.


Davis yang mendengar Ali ingin menemani Narita, merasa kurang begitu suka. Davis tak pernah berencana hanya bertemu berdua, namun dia berencana untuk berbincang di tempat terbuka yang akan mudah dilihat oleh banyak orang, agar tidak menimbulkan fitnah. Davis tidak menyukai bila Ali turut serta dalam perbincangan mereka.


“Seperti yang sudah pernah saya katakan sebelumnya, saya bersedia menerima tawaran mengobrol dengan Anda asalkan Ali ada di sana juga!” ucap Narita kemudian karena merasa bahwa Davis tidak menyukai ide Ali.


Ali tersenyum mendengar Narita mengatakan hal itu.


“Terserah!” Davis berlalu dengan muka cemberut masih menggendong Karen.


Ketika dia telah melangkah beberapa langkah, tiba-tiba dia membalikkan badannya lalu berkata “kutunggu usai Shalat Ashar!”

__ADS_1


“Ya” jawab Narita lirih.


Melihat Davis yang berjalan dengan cepat menjauh dari Narita, Narita tidak berusaha mengejarnya meskipun Karen digendong Davis. Kini Narita menghela nafas panjang.


“Aku penasaran apa yang akan dia bicarakan denganmu?” Ali menoleh pada Narita, Narita menjawabnya dengan menaikkan kedua bahunya secara bersamaan.


“Apa mungkin dia…….” Sebelum Ali melanjutkan ucapannya, Narita langsung menyela.


“Jangan menebak-nebak. Nanti dengar saja sendiri!” ucap Narita sembari berlalu meninggalkan Ali.


 


--- Di kantor Dave---


Saat ini Teddy tengah berada di dalam ruangan Dave. Dia sedang menunggu berkas yang sedang dipelajari dan ditandatangani oleh Dave.


“Ted, tolong kau panggilkan Davis! Aku mau minta dia menganalisis proposal ini!” Dave menunjukkan proposal yang kini telah dipegang di tangan kanannya.


“Apa? Pulang?” tanya Dave dengan suara nada tingginya yang menggelegar.


“Kenapa dia pulang tidak minta ijin padaku?” tatapan tajam Dave kini mulai menelisik ke Teddy.


“Maaf, Mr. Saya lupa menyampaikan pesannya. Tadi dia mau minta ijin Mr, tapi Mr sedang ada meeting dengan pihak investor!” jawab Teddy.


“Kamu tau kan kalau opa meminta dia untuk mulai kembali fokus mengelola perusahaan, kenapa kamu tak menghalanginya untuk pergi dari sini? Setidaknya tunggulah sampai aku selesai rapat kalau semisal dia tidak mau ikut rapatnya!” Dave nampak marah dengan sikap Davis namun diluapkannya pada Teddy yang telah memberikan ijin.


“Ma ma maaf, Mr. Saya pikir tugasnya hanya menemani Mr mengisi kuliah terbuka saja!” nada bergetar Teddy. Meskipun mereka berteman, tapi Teddy tetaplah Teddy, lelaki berhati lembut yang sensitif ketika mendengar suara tinggi atasannya akan bersikap tidak nyaman juga.


“Di mana dia sekarang?” Dave menutup proposal yang tengah dibacanya dan menatap Teddy.


“Saya coba telpon Drake dulu, Mr!” jawab Teddy dan Dave melambaikan tangan seolah menyuruh Teddy untuk keluar ruangannya.

__ADS_1


Teddy yang tau isyarat itu akhirnya permisi keluar ruangan dan segera menelpon Drake. Teddy memang sengaja tidak langsung menelpon Davis karena sudah bisa dia tebak kalau Davis tak akan mengangkat teleponnya. Dan kenapa Teddy menelpon Drake? Karena tadi ketika Davis ditanya mau pulang kemana, dia hanya menjawab ‘adalah’, jadi kemungkinan besar dia tak pulang ke rumah yang saat ini ditempati Mommy dan Daddy nya.


Beberapa saat kemudian Teddy telah kembali ke dalam ruangan Dave.


“Kamu sudah tau di mana Davis?” tanya Dave tanpa melihat Teddy, dia masih menatap laptopnya.


“Iya Mr. Dia ada di rumah Mr” jawab Teddy.


Mendengar jawaban itu, Dave langsung berdiri. Dia segera menyambar jasnya dan berkata “Kamu beresi segera barangku! Kita pulang sekarang!”


Mendengar perintah Dave, Teddy segera membereskan macbook, ipad, dan beberapa barang penting untuk dimasukkan ke tas dan dibawa pulang Dave. Setelah beres, dia segera menyusul Dave ke lobby kantor untuk bersama-sama menunggu sopir mereka.


 


--- Di gazebo dekat kolam renang ---


Narita, Ali, dan Davis kini tengah duduk bertiga di dalam gazebo.


“Na, dari semua bagian rumah ini, yang paling aku sukai adalah di sini. Gazebo ini selalu mengingatkanku akan Indonesia.” Mendengar ucapan Davis yang sengaja menggunakan Bahasa Indonesia, Narita hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


Sementara itu Ali yang merasa tak diijinkan mengetahui obrolan Narita dan Davis, lalu membuka ipadnya dan bermain dengan ipadnya. Sepanjang ekspresi Narita dan Davis tak menunjukkan keanehan, Ali masih menghargai privacy nya.


“Sebagai anak campuran, aku telah menjalani hidup di berbagai negara, namun entah mengapa bagiku Indonesia adalah negara yang paling banyak memberikan kenangan indah. Bagiku pulang ke kampung halaman adalah ke Indonesia, meskipun di sana tidak ada Mommy and Daddy” lanjutnya.


Narita masih mendengarkan dengan sabar.


“Semua hal yang berhubungan dengan Indonesia, akan membuat hatiku bergetar dan merasa bahagia. Saat makan makanan Indonesia, melihat tarian Indonesia diperagakan di luar negeri, saat melihat orang mengenakan kebaya dan batik, dan saat bertemu dengan teman-teman dari Indonesia adalah saat yang paling membuatku antusias” tatapan Davis menerawang kosong ke depan.


“NARITA!!!” panggilan seseorang yang sangat keras membuat Narita kaget dan segera berdiri. Narita nampak salah tingkah menatap seseorang yang tadi memanggilnya, karena dia saat ini tengah menggandeng Karen, ya Karen seharusnya dijaga olehnya tapi malah kini dia kedapatan seolah bersantai di gazebo bersama dua orang lelaki.


Tak hanya Narita yang kaget, Ali dan Davis pun segera berdiri dan menatap pada seseorang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2