
Minggu pagi ini, aku janjian dengan Mbak Sriti untuk datang ke pengajian salah satu stasiun televisi. Setelah aku memarkir mobilku, aku mengirimkan pesan ke Mbak Sriti mengabarkan bahwa aku telah sampai. Tak berapa lama Mbak Sriti pun mengabarkan bahwa dia dalam perjalanan dan kemungkinan dalam 30 menit akan sampai juga. Sembari menunggu Mbak Sriti, aku masih memainkan ponselku di dalam mobil. Aku pun teringat akan janjiku untuk menemaninya ke soft opening café Bagas jam 09.00. Aku mengirimkan pesan ke Davis untuk mengubah rencana.
Aku: Vis, aku sekarang lagi ada acara pengajian. Acara selesai biasanya jam 08.00. Gimana kalau kita langsung ketemu aja di lokasi café Bagas?
Tak perlu menunggu terlalu lama, Davis menelponku.
“Na, kita sebaiknya ke soft opening café Bagas menggunakan 1 mobil aja ya!?”
“Owh, gitu? Gakpapa kalau semisal aku belum sampai apartemen terus kamu harus menungguku?”
“Kamu kira-kira sampai apartemen lagi jam berapa?”
“Aku usahain sekitar jam 10.00 deh”
“Yaudah ntar aku sampai parkiran apartemenmu jam 10.00. Gakpapalah menunggumu, cuma menunggu 1 sampai 2 jam mah gak masalah, toh aku juga udah sabar menunggumu selama 4 tahun, hehehe” Davis tertawa kecil meledekku.
Aku terdiam dalam sejenak. Ledekannya bukan membuatku berbunga-bunga, tapi malah sebaliknya, aku merasa terbebani dengan perasaannya. Aku takut seolah memberi harapan palsu.
“Hmmm,,,Vis!” panggilku kemudian.
“Iya, Na. Kenapa?”
Aku pun menjeda sejenak. Aku bingung dan mencari kata-kata yang tepat agar tidak membuatnya tersinggung.
“Aku tidak pernah melarang siapa pun untuk mendekatiku, tapi bolehkah aku minta tolong 1 hal padamu?”
“Apaaa Sayangg?”
“Tolong pada saat kita di kantor, kita tetap bersikap professional ya!? Aku tidak mau ada gosip yang membuat kita berdua sama-sama tidak nyaman”
“Loh?? Emang kalau jam makan siang aku mengajakmu makan siang, gak boleh?”
“Gimana ya Vis aku ngomongnya?? Hmmm,,, Maaf Vis, kalau cuma kita berdua, aku pasti menolak. Walaupun di restoran atau kantin pasti nanti juga bakal banyak orang. Tapi kan kalau se meja cuma ada kita berdua, itu pasti akan menimbulkan gosip”
Aku pun hanya berani mengungkapkan sebatas itu saja. Andaikan dia serius dan tidak hanya status pedekate, pasti aku gak masalah makan siang berdua. Tapi kalau pedekate dan kedekatan yang entah bakal sampai mana juntrungannya, aku gak mau. Di umurku yang segini, sebenarnya udah bukan saatnya lagi masa-masa pedekate. Tapi aku tak mungkin meminta lebih, walau bagaimana pun juga aku kan perempuan. Aku masih memegang teguh prinsip perempuan jadul, yang anti menembak duluan. Apalagi antara aku dan dia jelas ada perbedaan.
“Oke aku paham, Na”
__ADS_1
“Ngomong-ngomong ini kamu belum mulai pengajiannya?”
“Belum. Sebentar lagi sie. Aku masih di dalam mobil soale menunggu Mbak Sriti belum datang!”
“Owh sama Mbak Sriti? Kamu masih kontak-kontakan sama dia?”
“Iya, akhir-akhir ini kami selalu janjian untuk datang ke pengajian. Selain untuk menimba ilmu agama, biasanya nanti ada acara tambahan, acara taaruf” kataku menjelaskan.
“Taaruf?!” Davis berteriak mendengar kata taaruf dari mulutku.
“Hehehe biasa aja kali, Vis dengernya. Jangan kaget gitu!”
“Na, kamu kalau mau taaruf kenapa harus nyari di pengajian? Belum tentu kamu mengenalnya dengan baik. Na, aku serius sama kamu, kalau kamu mau, mending taaruf sama aku aja ya??” aku mendengar nada keseriusan dari suara Davis.
Tapi lagi-lagi kami membicarakan hal sepenting ini hanya melalui telpon. Aku gak bisa melihat kejujuran dan keseriusannya dari sorot matanya. Jadi bagaimana aku bisa yakin bahwa apa yang dikatakannya itu jujur dan sungguh-sungguh. Lalu aku dikagetkan oleh suara ketukan kaca mobilku, aku menoleh ke arah ketukan, dan ternyata Mbak Sriti sudah ada di luar.
“Vis, udah dulu ya. Mbak Sriti udah datang. Bye” langsung aku tutup telponnya tanpa menunggu jawabannya.
DAVIS POV
Aktifitas pagiku di hari libur selalu kuiisi dengan berolah raga. Inginnya lari pagi berkeliling komplek tapi tak asyik kalau tidak ada yang menemani. Akhirnya olah raga di ruang gym atau berenang adalah pilihan terbaikku. Seperti pagi ini, aku berolah raga di ruang gym. Kali ini aku sedang berlari di treadmill, handphone aku tempel di treadmill. Baru setengah jam, aku melihat ada pesan masuk. Saat aku mengintip siapakah yang berkirim pesan di pagi hari seperti ini? Kala kulihat namanya yang ada di sana, aku tersenyum senyum sendiri.
Tanpa menunggu waktu lama, aku segera berhenti berlari dan segera membuka aplikasi berwarna dominan hijau bergambar telpon warna putih. Aku pun memutuskan menelponnya daripada membalas pesannya.
Percakapan kami awalnya biasa saja. Aku pun memberanikan diri memanggilnya “Sayang” karena memang itulah perasaanku padanya yang harus sering kuungkapkan agar dia merasakannya. Tapi sepertinya dia di seberang sana tak menunjukkan ekspresi keterkejutan ketika kupanggil Sayang, pikirku ah sudahlah, mungkin dia belum berani membuka hatinya untukku.
Namun, saat aku mendengar tujuannya datang ke pengajian salah satunya karena adanya acara taaruf. Aku lah yang malah telah dibuatnya terkejut.
TAARUF?
Banyak sekali pertanyaan yang ada dalam otakku.
Kenapa dia ingin taaruf jika memang ada seseorang yang jelas-jelas menyukainya?
Mungkinkah selama ini dia mengacuhkan Daniel yang memang jelas-jelas menyukainya?
Dan bagaimana dengan aku? Apakah dia tetap ingin taaruf dengan orang lain meskipun aku sudah mengungkapkan keseriusanku?
__ADS_1
Ya ampun Narita benar-benar membuatku gregetan.
Aku tak habis pikir dengan apa yang dia inginkan dan dia cari.
Aku paham sie dengan kegalauannya. Di umurnya yang sudah menjelang angka 30, belum juga mengikat janji suci. Bagi sebagian besar orang Indonesia seorang wanita yang seumuran dengannya belum menikah, pasti akan dituntut dari berbagai pihak untuk segera menikah.
Setelah menerima telponnya, aku memilih untuk istirahat dan memikirkan cara agar Narita tak mengikuti taaruf dengan orang lain.
----- Parkiran Apartemen Narita -----
AUTHOR POV
Davis telah berjanjian dengan Narita, dan Narita telah mengetahui posisi Davis memarkir mobilnya. Sebenarnya Narita telah sampai apartemen, namun dia naik ke unitnya untuk berganti baju dan sedikit touch up make up dan memperbaiki tatanan rambutnya.
Setelah melihat Narita dari kejauhan, Davis segera keluar dari mobil. Dia tersenyum sembari melambaikan tangannya. Narita membalas dengan senyum termanisnya dan melangkah mendekati Davis.
Penampilan Narita kali ini terlihat lebih fresh. Dia mengenakan pakaian casual trendy, celana overall jeans yang dipadukan dengan t-shirt dan sepatu sneakers warna putih. Rambut dimodel curly dan dia sematkan jepit rambut menambah manis tampilan rambutnya. Ya jepit rambut yang sama seperti jepit rambut 4 tahun lalu yang diberikan Davis kepadanya.
“Maaf, jadi menunggu lama” kata Narita.
“Gak kok” sahut Davis sembari membukakan pintu mobilnya untuk Narita.
Seat belt telah terpasang dengan sempurna, namun Narita nampak bingung ketika Davis tak segera menyalakan mesin mobilnya, tapi malah menatap Narita begitu lekat dan tersenyum tipis. Narita yang ditatap begitu lekat dan lama menjadi salah tingkah.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu Vis? Apa ada yang salah?” Narita meraba jepit rambut itu dan tersenyum ke Davis seolah memahami kalau Davis memandangnya karena dia telah menyimpan jepit rambut pemberiannya dengan baik.
“Kamu terlihat cantik. Jepit rambut itu?” tatapan Davis beralih ke jepit rambut yang sudah dari tadi Narita raba.
“Makasih atas pujiannya. Makasih juga jepit rambutnya masih awet meskipun sudah berumur 4 tahun” kata Narita dengan tertawa kecil.
“Yaudah ah, jangan menatapku begitu. Nanti aku makin salah tingkah!”
Davis pun tertawa terbahak-bahak dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Butuh waktu 1,5 jam untuk sampai ke café Bagas. Mereka pun keluar mobil dan menuju ke tempat yang telah disediakan untuk tamu.
“Hai bro, apa kabar?” Aldi dan Davis saling berpelukan seolah mereka lama tidak bertemu.
“Baik bro” jawab Davis.
__ADS_1
Lalu Aldi mengurai pelukannya dan tatapannya berpindah ke seseorang di sebelah Davis, lalu dia pun mulai tersenyum dan menyapanya.
“Kak Narita?? Bro, loe udah ketemu sama dia? Wah selamat ya!” Aldi melihat ke Davis dan Narita secara bergantian. Narita pun bingung mau berkomentar apa. Bahkan dia pun bingung kenapa Aldi harus mengucapkan selamat.