CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
Ah dia menyebalkan sekali


__ADS_3

NARITA POV


 


Usai lagu pertama berakhir, Karen memelukku dengan erat beberapa saat lamanya, lalu dia mengurai pelukannya dan memandang jauh ke dalam ke dua bola mataku. Aku menatap mata birunya yang teramat cantik dan jernih, dia pun menatapku tanpa berkedip hingga aku pun dapat bercermin di kedua bola matanya. Lalu, dengan tangan kecilnya yang lembut, dia menghapus sisa air mata yang membasahi wajahku.


“Nanny Na, semua akan baik-baik saja. Jangan menangis lagi!” ucapannya sangat menyentuh hatiku, aku kembali menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Ya, kupeluk dirinya dengan erat.


Dia anak yang masih sangat kecil, tapi kenapa dia bisa mengucapkan kata-kata bijak yang hanya bisa keluar dari mulut orang dewasa? Sungguh dia bagaikan anak ketigaku, dia pelipur laraku. Dia menepuk lembut punggungku.


“Daddy?” mendengar Karen memanggil daddy nya, segera aku urai pelukannya,  dan aku mengikuti arah pandangan matanya.


Saat aku membalikkan badanku, aku kaget sekaget-kagetnya melihat tuan Dave dan Davis tengah berdiri di dekat pintu masuk sementara pintu itu telah tertutup rapat.


Ya seingatku tadi pintu memang tertutup, lalu apakah tadi saat mereka masuk, aku tak menyadarinya? Sebegitu menghayatinya kah aku dengan laguku hingga tak mengetahui ada orang lain di sana.


Segera aku memposisikan diri berdiri, lalu sedikit membungkukkan badanku. Mereka berdua pun perlahan mendekati kami.


“Suaramu bagus, lagumu sudah mampu membuatnya menangis!” ujar Davis sembari melirik Dave, dan tentu saja kata-katanya itu membuat Dave melotot ke Davis dan lengannya menyenggol lengan Davis.


Seolah mendapat tatapan penuh marah, Davis dengan santainya duduk di sampingku.


“Duduklah! Ceritakan apa yang membuatmu menangis usai bernyanyi?” wajahnya mendongak melihat wajahku yang mana aku masih berdiri sementara aku sedikit menoleh dengan wajah menunduk karena mendengarkannya berbicara.


Jujur aku tak suka, suasana hatiku saat ini dijadikannya bahan ejekan. Aku hanya bisa menghela nafas kasar, lalu aku segera meraih jemari Karen, aku tarik tangannya dan berlalu dari sana.

__ADS_1


“Saya permisi!” ucapku cepat.


Aku berhenti sejenak saat di depan Dave, mengangguk sedikit lalu pergi. Aku menggandeng Karen pergi meninggalkan mereka berdua.


“Kau sudah membuatnya tersinggung!” suara keras Dave sangat jelas terdengar. Usai dia mengatakannya dengan ketus, Dave segera meninggalkan Davis.


Kini aku melangkahkan kaki lebih cepat, namun saat aku menyadari bahwa dengan langkah kaki lebarku sehingga membuat Karen harus berlari untuk menyeimbangkan posisi kami, segera aku memelankan langkah kembali. Kini kami sudah memasuki rumah utama.


“Karen!” suara Dave sedikit berteriak memanggil Karen.


“Narita!” Dave kini berganti memanggilku mengingat Karen hanya menoleh ke belakang sebentar dan tak menghentikan langkahnya. Karena panggilan Dave, akhirnya aku menghentikan langkahku. Spontan aku dan Karen menoleh ke belakang.


“Karen mau menemani Daddy pilihin dasi yang bagus?” Dave mendekati Karen, berlutut mensejajarnya tingginya dengan Karen. Kedua tangannya memegang pundak Karen. Matanya menatap lekat pada mata Karen. Dari tatapannya, dia menginginkan Karen berkata ‘ya’. Karen hanya terdiam, lalu wajahnya mendongak dan matanya memandangku seolah meminta pertimbanganku.


“Yey,,,,” Karen tiba-tiba melepaskan genggaman tanganku, berlarian dan jingkrak-jingkrak saking girangnya. Perubahan ekspresinya yang tiba-tiba dari diam menjadi girang, membuatku turut terharu melihat kebahagiaannya.


Dave mencuri pandang padaku setelah beberapa saat dia tersenyum memandang Karen yang jejingkrakan. Aku pun demikian. Kami sama-sama saling memandang untuk sekilas, lalu kembali memandang Karen dengan tingkah lucunya.


 


--- Di mall ---


Siang ini aku menemani Karen dan Daddynya ke mall. Mengingat Karen masih kecil dan dikhawatirkan kecapekan kalau terus berjalan kaki akhirnya aku menyarankan membawa stroller dan gendongan. Awalnya Dave hanya menginginkan membawa stroller karena dia sendiri tak mau menggendong menggunakan gendongan, tapi menurutku perlu juga membawa gendongan.


Penampilan Dave saat ini sangat jauh berbeda dari biasanya. Kali ini dia mengenakan celana jeans warna hitam dipadukan dengan kemeja lengan panjang warna biru muda berbahan soft jeans yang lengannya dia lipat rapi hingga ke siku. Dia mengenakan sunglasses tapi yang sangat cocok untuk dipake di indoor. Sepatunya kets warna putih dari brand ternama yang terdapat list warna hijau merah hijau. Di tangan kirinya melingkar jam tangan berharga fantastis warna silver, dan tak lupa dia menenteng pouch tipis bermotif damier eben hitam dari brand ternama juga. Semua yang melekat di tubuhnya sangat pass dan memperlihatkan betapa ‘eksklusifnya’ dia.

__ADS_1


Sementara itu, Karen pun aku dandanin secantik mungkin. Dia mengenakan kaos warna putih lengan panjang yang dipadukan dengan overall model rok pendek warna biru muda berbahan jeans lalu agar tidak terlalu dingin tak lupa kupakaikan ledging warna putih. Dia mengenakan sepatu kets warna putih couple an dengan sepatu daddy nya.


Dan yang lebih membuatku heran lagi, entah kenapa, kali ini kami bertiga bisa mengenakan baju dengan warna senada seolah janjian untuk couple an.


Aku sendiri mengenakan celana panjang berbahan jeans warna dark navy dipadu dengan kaos putih yang kumasukkan ke dalam celana lalu aku pakai outer berbahan soft jeans berwarna biru muda. Aku mengenakan jilbab berwarna senada dengan model pashmina, di mana di salah satu bagiannya kubiarkan menjuntai. Untuk sepatu, aku mengenakan sepatu kets warna putih, yang tentunya. Aku hanya membawa diaper bag khusus untuk keperluan Karen, sedangkan untuk domper dan handphone cukup kumasukkan di dalamnya saja.


Kecanggungan benar-benar terasa tak hanya dari baju yang seolah couple an, tapi Dave sengaja tak mau menggunakan sopir. Di balik kemudi ada Dave. Dia juga memintaku untuk duduk di sampingnya, sementara itu Karen menggunakan carseat duduk di baris kedua. Selama perjalanan ke mall, sama sekali tak ada obrolan di antara kami. Dave seolah fokus memandang jalanan, sedangkan aku hanya memandang ke depan atau pun ke jendela sampingku. Beruntungnya dia menyetel musik sehingga suasana tak sunyi amat.


Sesampainya di parkiran mall, dengan sigap aku segera keluar dan mengeluarkan stroller, gendongan, dan diaper bagnya. Diaper bag segera kupakai seperti mengenakan ransel, sementara itu stroller aku atur sedemikian rupa agar Karen nyaman. Terdengar suara Dave menutup pintu mobil dan sesaat kemudian kulihat dia sudah menggendong Karen dengan sebelah tangannya.


Untuk sesaat aku tertegun. Ahh dia bener-bener ‘Hot Daddy’ banget – pikirku.


Lalu segera kuhampiri dirinya dan berkata “Stroller sudah siap, tuan.” kedua tanganku terulur untuk mengambil alih Karen dari gendongan Dave, bermaksud untuk menaikkannya ke stroller.


Tinggi badan kami yang sangat banyak selisihnya, hingga aku harus mendongak untuk melihat Dave dan meminta persetujuannya untuk mengambil alih Karen, namu sikap Dave sungguh menyebalkan. Dia hanya melirikku sekilas, tangannya yang bebas sesekali memperbaiki posisi kacamatanya, lalu pergi begitu saja meninggalkanku tanpa berkata apapun, seolah menganggapku bagai kambing congek.


Dicuekin bo’!!!


Hufh. Aku hanya menghela nafas kasar mengingat sikap bossy nya barusan. Oke baiklah. Lets go! Biarin ajalah kalau dia mau gendong Karen. Pegel-pegel yaa biarin aja, emangnya gue pikirin!


Aku pun segera menyusulnya di belakang dengan mendorong stroller. Sesekali aku menghentikan langkahku karena aku berusaha menurunkan diaper bagnya untuk diletakkan di stroller.


“Hai, kamu bisa cepat sedikit!?” tiba-tiba Dave sedikit berteriak menoleh ke belakang dan memperhatikanku yang sedang posisi berhenti. Tanpa menjawabnya, aku pun mempercepat langkahku dan menyusulnya.


Aku kembali geleng-geleng kepala melihat sikap ketusnya. Ya ampunn,,,ada ya laki-laki macam begini? Baru aja aku memuji penampilannya yang wow banget dan sempet menobatkannya sebagai ‘HOT DADDY’ tapi mengingat sikap dan tutur katanya barusan, hadew,,,aku rasa hanya perempuan matre saja yang mau dengan lelaki kasar, ketus, cuek, dan bossy macam dia.

__ADS_1


__ADS_2