
NARITA POV
Sepulang kantor, aku masuk ke pavilliun terlebih dahulu, menyapa beberapa orang dan menanyakan apakah tuan Dave sudah pulang ke rumah atau belum. Bersyukurnya aku ternyata beliau belum pulang, jadi aku segera naik ke kamarku, mandi. Usai mandi, aku keluar kamar dan Karen keluar dari kamarnya dan menghampiriku.
“Nanny Na, aku kangen kamu” aku berjongkok mensejajarkan tubuh dengannya, aku cium kedua pipi gembulnya, lalu aku menggendongnya.
“Na, syukurlah kau pulang cepat” ucap Leni.
“Kenapa Len? Apa yang terjadi?”
“Tadi pagi tuan Dave marah besar. Dia mempermasalahkan barang-barang yang masih di lantai depan kamarmu” kami berjalan beriringan menuju lantai dasar.
“Owh ya? Pantesan sekarang barang-barang itu sudah tidak ada di sana.”
“Hm. Tuan Drake kena semprot habis-habisan. Dan kau bersiaplah mencari alasan!”
“Kupikir barang-barang itu bukan milikku, karena saat membelinya dia tak menyinggungnya, saat menurunkan barang-barang itu ke dalam rumah, dia juga tak mengatakan apapun. Len, itu barang branded kelas atas, harganya mahal, mana berani aku bermimpi memilikinya, jadi aku tak percaya kalau dia memberikannya untukku, sementara dia sendiri tak mengatakan apapun” aku mengatakan alasanku panjang dan lebar.
“Ya kau tau sendiri bagaimana tuan Dave. Carilah alasan yang takkan membuatnya makin marah padamu!” usul Leni.
“Makasih Len.”
Usai kami sampai di dapur rumah utama, aku memanggil chef untuk dibantu memasak. Lalu kami pun memasak, sementara Leni mendampingi Karen makan di ruang makan.
Bersamaan dengan berkumandangnya Adzan Maghrib, aku telah selesai memasak.
“Len, tolong temenin Karen dulu ya! Aku mau ambil mukena” aku bergegas kembali ke kamarku di lantai 2 untuk mengambil mukenaku dan Karen.
Saat aku hendak menuruni tangga, aku berpapasan dengan tuan Dave. Sepertinya dia baru saja pulang. Tak seperti biasanya, saat ini dia justru menaiki tangga, bukan lift.
“Bilang ke imam, tungguin aku! Aku ingin jamaah!” dia mengatakannya tanpa memandangku sama sekali, pandangannya ke depan dan langkahnya terus menaiki tangga.
“Baik tuan” jawabku.
__ADS_1
Meski yang keluar dari mulutnya adalah kalimat biasa saja, tapi terkesan dingin dan tidak bersahabat. Saat aku sudah sampai di ruang makan, kulihat Davis dan Jess juga baru saja sampai rumah.
“Na, bilangin tungguin aku ya! Aku mau jamaah!” Davis menghampiriku sejenak lalu setelah mendengar jawabanku, dia pun berlalu.
Usai menunaikan Sholat Maghrib berjamaah, Dave langsung menuju ruang makan. Aku sengaja buru-buru keluar dari Little of Al Aqsha agar bisa mempersiapkan makan malam.
Semua anggota keluarga telah berkumpul. Aku menata menu makan malam di meja makan. Semua bungkam dan tidak ada yang bersuara, hingga aku selesai mengeluarkan semua makanannya.
“Silahkan dinikmati makan malamnya!” ucapku kemudian.
“Na, selama aku di sini sepertinya kamu belum pernah masak menu ini, tapi aku sangat familiar dengan taste nya. Apa kau pernah jadi koki di rumah makan di Indonesia?” tanya Davis memecahkan kesunyian.
“Tidak” jawabku singkat.
“Aku yakin sudah pernah makan masakan dengan taste sama percis dengan ini. Apakah kau pernah memasak untukku selain di sini?”
DEG
Aku yang tadinya menundukkan kepala langsung mendongak, menoleh, memandang Davis. Jantungku berdebar lebih cepat dari normalnya, pikiranku kacau, aku takut bersuara karena takut mereka mengetahui kebenarannya.
“Ini bukan resep khusus, jadi semua orang Indonesia bisa memasaknya” jawabku netral.
“Sakit?” entah dorongan darimana, mendengar dia mengucapkan kata ‘lupa’ dan ‘sakit’ aku langsung melontarkan pertanyaan itu. Dan beruntungnya, mereka yang tengah makan, sepertinya tak begitu menyadari keterkejutanku.
“Jess, bolehkah aku mengobrol dengan Narita? Aku---”
“Aku sedang ingin bercinta denganmu malam ini!” sontak semua yang ada di sana menoleh ke Jess.
Dan jantungku kembali berdebar kencang mendengar kata-kata Jess. Apakah benar mereka melakukannya tanpa ikatan pernikahan? Ahhh kenapa dengan perasaan ini? Kenapa aku tidak ikhlas?
Sakit.
Ya sakit yang kurasakan,,,aku memegang dada kiriku, lalu kutundukkan kepalaku. Air yang telah mengumpul di pelupuk mata, sekuat tenaga masih kutahan.
“Menikahlah kalian secepatnya!” ucap Dave tegas.
__ADS_1
“Kak kami---” Davis yang hendak memberi alasan tiba-tiba terhenti karena disela Dave.
“Davis, aku tidak suka ada orang berzina di rumahku! Aku tidak peduli dengan kehidupan bebas kalian, tapi sebagai saudara seiman, aku hanya mengingatkanmu saja. Menikahlah!”
“Kak, aku akan menikahi Jess, tapi ijinkan aku menyelesaikan urusanku terlebih dahulu!” tanpa sengaja saat aku kembali mengangkat kepala dan sedikit mencuri pandang ke Davis, dia tengah memandangku juga. Untuk beberapa detik tatapan mata kami bertemu.
“Urusan apa?” tanya Dave.
“Urusan hatiku dengan wanita lain” jujur Davis masih memandangku dengan lekat. Entah apa maksud dari tatapannya, tapi ketika dia mengatakan itu, aku merasa seolah wanita lain itu adalah aku. Benarkah? Apakah Davis sudah mengingatku?
“Siapa dia? Apa kau bermain dengan wanita lain di belakangku?” ucap Jess menelisik.
“Tidak Jess. Justru aku merasa dia adalah wanita yang ada sebelum dirimu!”
“Lalu kau berhubungan denganku dan masih belum menyelesaikannya dengannya?” bentak Jess.
“Jess please. Jangan desak aku. Aku aku aku----” Davis memegang kepalanya.
“Auw….” Sontak semua berdiri dan menghampiri Davis.
Aku yang tadinya hendak menghampirinya juga, segera mengurungkan niat karena dia telah dikelilingi banyak orang.
“Auw, kepalaku seperti ditusuk-tusuk!” tubuh Davis langsung terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
“Drake bantu aku, angkat tubuhnya ke sofa!” perintah Dave.
Drake, Davis, dan beberapa pelayan pria bersama-sama mengangkat tubuh Davis dan merebahkannya di sofa ruang tengah.
Lalu setelah itu Drake memanggilkan dokter keluarga ke rumah. Suasana rumah menjadi heboh karena tragedi pingsannya Davis. Aku sendiri bingung harus melakukan apa, namun aku teringat bahwa yang dibutuhkan Davis untuk sadar adalah bau-bauan, tak berapa lama aku segera naik ke lantai 2 dan mengambil minyak kayu putih.
Saat aku kembali menuruni tangga, Davis masih belum sadarkan diri.
“Tuan, coba pakaikan ini di hidungnya, barangkali membantunya siuman” aku segera memberikan minyak kayu putih ke tuan Dave yang berada di dekat kepalanya Dave.
Tuan Dave mulai mengolesi minyak sesuai instruksiku. Nampak kepanikan di wajah tuan Dave. Meskipun tadi dia marah karena mendengar kalimat Jess, namun sepertinya rasa sayangnya ke adiknya lebih besar hingga ia menurunkan egonya. Sementara itu Jess nampak biasa saja, bahkan kini dia sibuk bermain dengan ponselnya meskipun lelaki yang kini sudah menjadi tunangannya itu sedang pingsan.
__ADS_1
Tiba-tiba,,,,,
“Istriku,,,Maaf,,,,Istriku,,,Maaf” butiran air mata menetes dari ujung mata Davis. Meskipun suaranya pelan, tapi semua menyadari bahwa Davis menyebut kata ‘istri’ di dalam pingsannya.