
NARITA POV
Ketika segelas susu itu berada tepat di depanku dan aku mencium bau yang sangat tidak sedap, aku pun tak tahan untuk muntah.
Hoooeek,,,hoekkkk,,,,, aku langsung berdiri dan berlari kecil menuju wastafel. Aku memuntahkan semua, yaaa semua yang tadi sudah aku makan. Seolah tak ada lagi yang tersisa di perutku, sampai akhirnya aku berhenti muntah. Lagi dan lagi badanku kembali lemas. Aku merasakan Bi Jah tengah memegangi tangan dan lenganku untuk membantuku agar tetap memiliki kekuatan untuk berdiri.
“Nyonya,,,,” panggilnya di sela-sela aku membersihkan mulutku dari sisa muntahan.
“Sudah?” tanyanya lagi dan setelah aku menjawabnya dengan mengangguk, dia memapahku kembali ke meja makan.
“Bi, tolong singkirkan gelas ini!” aku menjauhkan susu yang ada di depanku, dan setelah aku duduk dengan benar, Bi Jah membawa kembali susu itu ke dapur, lalu dia kembali duduk di sampingku.
Tangan kananku masih memegangi kepalaku yang terasa berat sedangkan tangan kiriku memegangi perutku yang terasa sedikit mual.
“Nyonya, saya lihat beberapa hari ini sering muntah-muntah, apa Nyonya sudah bilang Den Davis?” Bi Jah memijit tengkukku dengan lembut.
“Belum, Bi. Davis tidak bisa dihubungi. Handphone nya mati” jawabku lemah.
“Hmmm, apa, a a apa nyonya sudah coba tespack?” Bibi mengucapkannya dengan terbata-bata.
Aku mengangkat wajahku yang semula tertunduk, menatap lekat ke Bi Jah dengan ekspresi datar, tak ada senyum sama sekali. Ini kah yang ada dipikiran mereka saat ini, ketika melihatku muntah-muntah, wajah pucat, dan badan lemah.
“Nyonya mau makan apalagi? Sepertinya tadi muntah banyak” Bi Jah memahami ekspresi wajahku, sehingga dia tak menunggu jawabanku.
“Udah gak selera, Bi. Tapi bolehlah aku minta tolong dipotong-potongin buah aja Bi. Nanti aku bawa ke kamar.” Bi Jah bangkit dari duduknya dan berlalu ke dapur.
Sekembalinya Bi Jah ke meja makan sambil membawa buah potong, dia membantuku berjalan menuju kamar.
“Terima kasih, Bi” sesampainya aku di kamarku, aku mengucapkan terima kasih kepada Bi Jah yang telah membantuku. Dia membalasnya dengan senyuman dan menundukkan kepala sejenak dan keluar kamar.
Setelah aku mengunci pintu kamar, aku berjalan ke sisi kasur, meraih gelas air minum yang sudah terisi air putih lalu meneguknya. Setelah dahagaku terobati, aku meraih tas di atas nakas, mengambil plastik putih kecil bertuliskan nama apotik dan mulai mengambil salah satu tespack.
Tanpa terasa bulir air menetes dari sudut kedua mataku, aku menghapusnya pelan diselingi isakan lembut. Entah ini emosional sesaat ataukah perasaan khawatir yang sudah sangat membuncah. Mau sampai kapan dia tak memberiku kabar? Kenapa pula semua akses yang terhubung dengannya seolah terputus begitu saja. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Meskipun aku menatap tespack, tapi aku malah mengingatnya.
__ADS_1
Aku menimbang-nimbang untuk menggunakan tespack malam ini juga, tapi aku urungkan niatku karena pertimbangan akurasi hasilnya. Akhirnya kukembalikan tespack ke tempat semua. Aku beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan bersiap untuk melaksanakan ibadah.
Malam ini aku kembali tertidur tanpa sapaan dan kabar darinya. Meski demikian tak sulit bagiku untuk langsung tertidur karena sepertinya kondisi badanku terasa sangat lelah.
Keesokan harinya, aku terbangun karena merdunya panggilan Shalat dari Adzan Subuh. Sesaat setelah mengerjabkan kedua mata dan mencoba mengumpulkan nyawa, aku pun bangun dari posisi tidur. Aku segera meraih ponsel di atas nakas, mengaktifkan mode data seluler. Kutunggu beberapa saat, berharap akan mendapatkan notifikasi yang kuharapkan, tapi,,,,,aku harus kecewa, lagi-lagi tak ada kabar darinya.
Sungguh bodohnya, air mata kembali mengalir tanpa permisi. Aku mengusapnya dengan kasar lalu bangun dan meraih plastik dan berjalan menuju ke toilet.
Mataku perih ketika aku melihat ketiga tespack yang telah kucelupkan ke air seni secara bersamaan menunjukkan hasilnya. Segera kuraih satu persatu tespack itu. Lagi-lagi aku menjadi sangat cengeng, aku tak mampu lagi menahan isak tangis dan air mata yang mengalir dengan derasnya.
Ada rasa syukur yang tak terkira di sela rasa khawatir yang menyeruak dari relung sanubariku.
Terima kasih ya Allah atas karunia, amanah indah yang Engkau titipkan pada kami.
Terima kasih Engkau telah memberiku kesempatan untuk memilikinya di dalam sini.
Aku akan selalu menjaganya, mencintainya, dan melindunginya.
Bagiku dialah kekuatanku saat ini, penyemangatku, dan masa depanku.
Tanganku mengelus-elus perutku yang masih tipis, dengan isakan tangis dan deraian air mata.
Aku letakkan ketiga tespack itu dan aku pun mengambil air wudhu. Usai menunaikan Shalat Subuh, aku mengambil ketiga testpack dan memotretnya. Usai memotret, aku menyimpannya di dalam sebuah pouch tipis tempatku menyimpan perhiasan dan logam mulia beserta surat-suratnya.
Aku kembali duduk di ujung kasur bersandar pada sandaran kasur. Kupegang ponsel dan memandangi foto ketiga tespack itu. Air mata yang tak kunjung mengering kini malah harus mengalir kembali. Bayangan-bayangan buruk tiba-tiba menari di depan mataku. Berulang kali aku menggeleng dan menghilangkan bayangan itu, berharap membuatnya menghilang terbawa udara dingin malam, namun harapanku sia-sia. Bayangan buruk kembali datang dan seolah mengejekku.
Ya Allah, aku tak mau sendiri.
Aku ingin dia mendapatkan kasih sayang darinya juga.
Aku kembali mengusap lembut perutku.
Nak, ibu belum memberitahukan kehadiranmu kepada ayahmu. Ayah pasti senang ada kamu di perut ibu. Nak, sehat-sehat terus di sana yaa, kita sama-sama menunggu ayah pulang. Nak, doakan biar urusan ayah segera selesai dan bisa berkumpul lagi dengan kita.
Nak, ibu sama sekali tak menyangka kehadiranmu begitu cepat. Kehadiranmu memberi warna bagi kebahagiaan ayah dan ibu. Ibu benar-benar bahagia, Sayang.
__ADS_1
Aku berusaha mensugesti diriku untuk selalu kuat dan bahagia dengan kehadirannya, sehingga secara perlahan air mata mengering, senyum pun terbit, dan seolah mendapat kekuatan, aku berdiri dari dudukku dan bersiap untuk mandi dan berangkat kantor.
Aku bersyukur, pagi hari ini tak muntah-muntah. Sepertinya selain pikiran positif dan kebahagiaan ternyata memakan buah potong membuat kenyang dan tak merasakan mual yang berlebihan. Kali ini Bi Jah membawakanku buah potong untuk bisa aku jadikan cemilan di kantor.
Taksi online menurunkanku sampai di depan lobby. Saat hendak masuk ke lobby, aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku menoleh dan tersenyum melihatnya yang juga tersenyum padaku.
“Pagi-pagi dapat senyum semanis ini, bisa jadi penyemangat buatku” seru orang itu dan aku hanya mengerucutkan bibirku mendengar gombalannya.
“Happy banget, Sayang! Ada kabar bahagia kah?” spontan aku melotot mendengar panggilan ‘Sayang’ darinya, bahkan beberapa karyawan/karyawati yang saat ini tengah berada di dekat kami langsung menoleh pada kami ketika mendengar dia menyebutku dengan sebutan itu.
Bahkan kali ini, tangannya dengan berani merangkulku, langsung aku menjauh darinya dan memukul tangannya yang tak sopan. Dia hanya membalasnya dengan tawa yang sedikit menggelegar. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya kali ini. Dia kembali mendekatiku.
“Kamu nampaknya sudah sehat, sudah kembali seperti Narita yang seperti dulu!” ucapnya menoleh padaku.
“Alhamdullillah” jawabku singkat.
“Kata dokter sakit apa?”
“Masuk angin” bohongku dan dia hanya manggut-manggut.
“Nie!” dia menyerahkan sesuatu yang dibungkus plastik yang sedari tadi dipegangnya.
“Apa?” aku belum menerimanya, hanya melihatnya saja.
“Bubur ayam hangat” dia meraih tanganku dan memaksaku untuk menerima plastik itu.
“Terima kasih” jawabku dengan tersenyum menerima plastiknya.
Ketika lift terbuka di lantai 5, segera aku memberi sapa perpisahan pada Daniel dan turun.
“Tunggu!” dia meraih lenganku dan ikut turun bersamaku di lantai 5.
TO BE CONTINUED
__ADS_1
PLEASE KLIK : LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE YAAAA!!!!!