
NARITA POV
Aku hanya terdiam sampai pintu lift tertutup kembali. Beberapa saat setelah aku tersadar, segera kuhempas pegangannya di lenganku.
“Kok turun sini?” tanyaku heran dengan tangan yang sudah kuhempas dan terlepas.
“Mau makan bubur ayam bertiga sama kamu dan Abel” dagu Daniel menunjuk pada bungkusan plastik yang ada di tanganku.
Aku ragu-ragu, aku menengok ke arah cctv yang ada di dekat lift. Aku takut Davis kembali salah paham dengan kedekatanku dengan Daniel. Sebagai wanita yang sudah bersuami, sebisa mungkin aku menjaga sikap, tindakanku, agar tak menimbulkan fitnah.
“Haii!!!” Daniel menggoyang-goyangkan jemari tangannya di depan wajahku, membuatku kembali tersadar dari lamunan.
“Kok malah melamun sie? Kecuali mau kamu habiskan bubur ayamnya untuk dirimu sendiri, silahkan!” kata Daniel kemudian.
Meskipun ragu, aku akhirnya mengangguk. Semoga keputusanku ini tepat, aku pikir karena kami makan bertiga, tidak ada salahnya juga.
Setelah Abel melihat kami berdua berjalan bersisian, matanya memicing seolah berkata ‘Kok kalian bisa Bersama? Curiga aku sama hubungan kalian’. Aku yang sangat mengenal Abel, dapat membaca pikirannya meski hanya melihat ekspresi wajahnya.
“Jangan pasang muka curiga gitu, Bel. Daniel kesini cuma mau makan bubur ayam bareng” aku menunjukkan plastik yang sedang aku pegang.
“Kok kalian bisa datang bersama? Kalian tinggal serumah?” suara Abel yang besar dan ruangan yang masih cukup sepi membuat seisi ruangan mendengarnya dan spontan melihat kami bertiga.
“Ini mulut kenapa kalau ngomong selalu ngaco sie?” aku berusaha meraih wajahnya untuk mencubit mulut Abel yang lemes. Tingkah kami berdua membuat Daniel yang hanya berdiri akhirnya tertawa terbahak-bahak.
Kami pun terdiam ketika seorang office girl menyerahkan sendok dan garpu kepadaku. Kami bertiga makan bubur ayam di salah satu meja bundar yang berada dekat meja kerja kami.
“Tumben kamu makan di kantor, Na? Biasanya sampe kantor udah sarapan” tanya Abel sembari mengunyah buburnya.
“Tadi aku cuma sarapan buah potong” jawabku singkat.
“Tunanganmu udah telpon?” pertanyaan Abel langsung membuat aku dan Daniel menatapnya. Lalu Daniel menoleh kepadaku seolah menunggu jawabanku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Maaf guys, aku bohong – batinku.
__ADS_1
Rona wajah Daniel nampak kurang suka dengan pokok pembahasan kami. Aku menginjak kaki Abel pelan, sebagai sebuah isyarat agar dia tak menyinggung lagi soal tunanganku.
“Move on, Niel! Aku rasa dia tak hanya sekedar bertunangan!” perkataan santai Abel langsung membuatku melotot. Sama halnya dengan Daniel, dia mengangkat wajahnya dan menatap lekat pada Abel.
“Selama dia belum mengatakan sudah menjadi istri seseorang, aku takkan berhenti mengejarnya!” Daniel kembali menunduk seolah sedang fokus dengan bubur ayamnya.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan membuangnya pelan. Bila saling mencintai, sungguh bahagianya dicintainya yang begitu dalam dan setia.
Sarapan pagi telah usai, kami kembali menekuni aktifitas masing-masing. Di sela-sela aktifitasku, aku selalu melirik ponselku, berharap dia mengirimiku pesan atau menelponku.
Suamiku, kenapa kau mengingkari janjimu sendiri?
Aku menanti kabar darimu sepanjang pagi, siang, dan malam, tapi kamu seolah melupakanku.
Taukah engkau wahai suamiku, ada si kecil buah hati kita di dalam tubuhku.
Apakah kau tak ingin mendengar kabar bahagia ini???
Sudah cukup bagiku untuk bersabar dan menahan egoku. Aku beranjak dari tempat dudukku dan melangkah menuju ke suatu tempat. Saat lift berhenti di lantai 10, aku masih berdiri terpaku di dalam lift dengan tangan menahan tombol agar pintu tidak tertutup.
Aku harus mencari tau apa yang terjadi dengan suamiku. Aku harus tau! Harus!
Saat aku melihat Sekretaris Davis, Permata tengah sibuk dengan berbagai berkas yang ada di mejanya, aku melangkah perlahan mendekati mejanya. Sejenak aku terdiam menunggunya. Saat dia mendongakkan wajahnya, melihatku, dia berkata “Narita? Ada apa?”
“Aku mau menyerahkan feasibility study rencana proyek hotel A” aku menyodorkan map tipis di depannya lalu dia meraihnya.
“Terima kasih” ucapnya pelan lalu segera menunduk untuk kembali fokus pada pekerjaannya.
“Kak, kau nampak sibuk?” dengan suara sedikit ragu, aku memberanikan diri mengganggunya.
“Iya begitulah Na. Seperti yang kau lihat. Kamu masih ada urusan apalagi?” dia bertanya menatapku.
“Mr. Davis masih di luar negeri?”
“Iya” jawabnya cepat.
__ADS_1
“Pak Rio?”
“Sama. Mereka kan sepaket” jawabnya cepat juga.
“Kapan mereka kembali? Ada yang ingin aku konsultasikan” bohongku pada Permata.
“Entahlah. Kali ini mereka pergi dan tanpa memberiku kabar. Gak biasanya mereka begini. Ini semua schedule nya juga berantakan karena mereka tak bisa dihubungi, tak menghubungi, aku bingung sendiri, Na!” mendengar perkataan Permata, seketika badanku melemas.
Tak mungkin seorang Davis dan seorang sejeli Rio akan pergi tanpa kabar seperti sekarang.
Ada apa dengan mereka Tuhan?
Aku memegang dada kiriku yang terasa sesak. Sekuat tenaga aku menahan air mata yang tengah menggenang agar tak terjatuh dan mengalir. Aku masih berdiri terpaku di depan Permata dengan sejuta bayangan-bayangan, pikiran-pikiran buruk.
“Kak, kemana sebaiknya aku harus pergi untuk bisa berkabar dengannya?”
Kak Permata langsung mendongak dan kulihat matanya mendelik menatapku lalu berkata “berkabar? Maksudmu”
Aku menyadari sudah terjadi kesalahan dalam mengucapkan 1 kata yang aku yakin itu membuat Permata salah paham.
“Ma maksudku, aku mau konsultasi langsung ke mereka. Siapa yang harus kuhubungi?” kulihat Permata menggeleng lemah.
“Bahkan Pak Dandy dan Bu Melati saja tidak tau apa yang terjadi, dan gak tau harus berbuat apa. Kalau aku tau siapa yang harus kuhubungi, gak mungkin aku akan serepot ini, Na!” jawab Permata sedikit sewot.
“Owh gitu. Maaf Kak aku mengganggu. Aku permisi. Makasih ya”
“Iya” dia masih acuh.
Aku pun pergi berlalu dari hadapannya. Aku melangkah dengan lemah dan sepertinya sudah tak ada lagi ide. Aku bingung apa yang harus aku lakukan saat ini. Kerabat Davis yang kukenal hanya Om Dandy dan tante Melati, tapi nyatanya mereka pun tak tau. Seorang pimpinan tertinggi perusahaan yang pergi selama 2 minggu tanpa kabar, sudah pasti akan membuat keadaan perusahaan terguncang.
TO BE CONTINUED
__ADS_1
PLEASE KLIK : LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE YAAAA!!!!!