
DAVIS POV
FLASH BACK ON_LANJUTAN
Tiga minggu sudah aku melakukan serangkaian test Kesehatan untuk mengecek secara keseluruhan. Aku dan keluargaku sangat bersyukur karena hasilnya aku dinyatakan sehat.
Sejak saat itu, aku merasa sangat bersalah pada keluargaku terutama Mommy. Aku berjanji untuk selalu berhati-hati dalam melakukan segala tindakan, jangan sampai membahayakan dan mempermalukan diri dan keluarga.
Berbagai cara aku lakukan untuk mengatasi kecanduanku pada minum dan free ***. Bukan karena aku hyper tapi karena menurut dokter, seseorang yang telah sering free *** dengan berganti-ganti pasangan dan pula menikmatinya, secara psikologi pasti akan terganggu.
Kali ini kesibukanku tak hanya kuliah dan kerja, tapi juga terapi. Hingga pada akhirnya aku mengenal Islam.
FLASH BACK OFF
Kurangkul dan kubawa kepala nya dalam dekapanku, kukecup puncak kepalanya dengan lembut berharap menyalurkan energi kasih sayang kepadanya. Narita masih menangis dalam sunyi.
Tiba-tiba rasa bersalah merambat di dalam relung hatiku. Aku merasa menjadi sosok yang sangat kotor dan hina di hadapannya. Aku merasa tidak pantas untuknya.
“Maaf, aku tak pantas untukmu, Sayang!” aku lepas begitu saja rangkulanku padanya.
Masih dalam kondisi menangis, Narita berlari ke kasur, menyibak selimut, lalu masuk ke dalam selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki ke ujung kepala. Tangisannya makin pecah.
Seminggu telah berlalu, hubunganku dan Narita masih dingin. Meskipun dia memasak dan melayaniku, namun ketika di kamar dia masih enggan untuk berbicara, mendekat, bahkan setiap kali aku menyentuhnya tanpa banyak bicara, dia selalu menolaknya. Aku pun hanya bisa pasrah dan menunggunya untuk berbicara dari hati ke hati. Aku ingin mendengar apa keinginannya, apa yang dia harapkan selanjutnya dari hubungan ini. Aku pasrah dengan segala keputusannya, aku pun merasa bersalah karena tak pernah jujur mengatakan ini sejak dari awal. Aku akui aku egois, aku hanya menganggap cintaku padanya membuatku harus memilikinya, tanpa memikirkan bahwa apa yang kututupi selama ini bisa menjadi boomerang bagi diriku sendiri.
NARITA POV
__ADS_1
Keinginanku untuk mengetahui segala hal mengenai masa lalunya, membuatku shock dan kecewa. Aku tak menyangka dia menyembunyikan sesuatu yang sekrusial ini. Mungkin jika dia mengatakannya dari awal, aku bisa berpikir dua kali untuk menerima lamarannya. Namun sekarang aku bingung.
Bagiku dia yang pertama kali untukku, semua-muanya dia yang mendapatkanku untuk pertama kalinya. Sebegitu aku menghargai diriku sendiri hingga aku hanya akan berikan pada suamiku. Aku tak mudah terpengaruh meskipun lingkunganku adalah lingkungan yang banyak menganut budaya barat. Dia pun tau bahwa dirinyalah yang pertama menyentuhku.
Aku sama sekali tak menyangka jika dia sekotor itu. Oh, Tuhan apakah boleh aku mengatakannya kotor? Maaf suamiku, aku tak bermaksud jahat dengan menyebutmu kotor, namun sejujurnya, sejak aku tau masa lalunya, aku merasa jijik untuk berdekatan dengannya.
Aku bingung kemana aku harus mengadu. Tak mungkin aku menceritakan hal ini pada orang lain, karena ini menyangkut aib suamiku, yang itu berarti aib keluargaku. Aku tak rela orang mencibir suamiku.
Aku tak mungkin mampu memendamnya sendirian karena aku bukanlah seseorang yang kuat untuk bisa menyelesaikan kegundahan hatiku dengan pemikiranku sendiri. Otakku terasa buntu.
Aku menyadari, seminggu ini aku telah mengacuhkannya. Ketika dia berusaha menyentuhku, akan kutolak dia meski tidak dengan kata-kata penolakan. Suamiku, maafkan aku! Tunggulah hati dan pikiranku tenang untuk bisa mengambil keputusan yang terbaik.
Rasanya aku tak rela untuk melepaskannya. Bagiku, hubungan kami bukan hubungan lintas lalu, tapi sebuah hubungan atas dasar cinta yang dibangun sejak lama. Aku akui dialah cinta pertamaku, meskipun masih ada cinta monyet sebelum dia. Dan sepertinya, rasa cintanya padaku juga cukup mendalam, dibuktikan dengan jarak memisahkan dan waktu yang menjeda, tapi kami masih merasakan perasaan yang sama, ketika kami dipertemukan kembali.
Tapi aku tak yakin, apakah aku harus mempertahankannya. Mampukah aku menerima masa lalunya?
Kala itu, sang Ustadzah memberikanku masukan yaitu:
Semua orang punya masa lalu, baik itu masa lalu kelam atau masa lalu yang penuh keindahan. Mungkin suamimu tidak pernah menceritakan masa lalunya karena dia ingin menutupnya rapat-rapat, tak perlu dibeberkan ke orang-orang terlebih pasangan, karena hal itu akan membuat aibnya kembali terbuka.
Zina merupakan salah satu dosa yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Meski begitu, dosa ini dapat diampuni oleh Allah SWT apabila hambanya benar-benar bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.
Kalau suamimu telah bertaubat, itu artinya Allah SWT sudah tutup aib itu, dan nggak perlu diungkit lagi. Ditutupnya aib tersebut seharusnya menjadi penanda agar seseorang bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan begitu, aib di masa lalu bisa dimaafkan dan tentunya harus bisa fokus menjalani masa kini dan masa depan yang lebih baik. Fokus menjadi lelaki sholeh.
Jadi, saran saya, kalau kamu mencintai dia, terimalah dia apa adanya dengan segala masa lalunya, karena masa lalu bukan untuk ditengok kembali tapi masa lalu menjadi pelajaran yang berharga untuknya. Kalau dia telah bertaubat, untuk apa kamu ragukan masa lalunya? Tataplah dan jalanilah masa depan kalian bersama. Kamu menjadi istri yang sholehah dan dia menjadi suami yang sholeh. Membentuk keluarga yang Sakinah, mawaddah, dan warohmah. Aamiin.
Aku mendengarkan pengajian itu secara diam-diam sehingga setelah sang Ustadzah menjawab pertanyaanku, aku kembali merenungkan kata-kata beliau.
__ADS_1
Mungkinkah aku terlalu naif, hingga begitu mudahnya terpengaruh akan aib masa lalunya?
Hari demi hari, aku merenungi kembali keputusan yang akan aku ambil. Sepertinya aku memang terlalu egois jika aku tidak bisa menerima masa lalunya. Toh sekarang dia telah bertaubat dan bahkan mau menjadi mualaf dan mendalami agama tanpa dorongan dari seseorang, murni keinginannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bijak, dan tenang dalam berperilaku. Lalu apa yang kuragukan?
Sejak aku mengenal suamiku, aku hanya mengenal dia yang baik, perhatian, manja namun dewasa, dan setia. Dan itu tidak berubah sampai dekarang. Seharusnya sekarangpun aku tak perlu meragukannya lagi, karena pada kenyataannya, dia masih tetap menjadi Davis seperti yang aku kenal dulu.
Ada beberapa masa di kehidupannya yang harus menjadi pengalaman pahit baginya, tapi sekaligus menjadi titik balik dari kuatnya keimanan dan ketaqwaannya dalam menyembah Sang Pencipta.
Aku kembali didera rasa bersalah ketika aku menyadari betapa aku telah mengacuhkannya lebih dari 3 hari. Tapi aku terlalu malu untuk mulai meminta maaf atau memulai pembicaraan. Aku menjadi seseorang yang seperti baru mau mengenalnya, malu, gugup, dan sungkan mengungkapkan permintaan maaf.
Tapi dia seolah ikut mendiamkanku. Mungkinkah karena dia memberiku waktu untuk merenung? Ataukah dia menganggap bahwa--, ahhh aku tak mau memikirkan hal buruk. Aku harus memulai jika dia tak memulainya.
Suatu pagi ketika kami sedang sarapan di meja makan, seperti biasa aku melayaninya, mengambilkan nasi, sayur, dan lauknya, mengupas buah yang diminta, menuang air putih untuk diminumnya. Kami masih sama-sama diam, bahkan kami sama-sama mengerti apa yang hendak kami lakukan hanya dengan tindakan dan isyarat mata.
Namun, ketika dia hendak memasuki mobil yang telah dibukakan pintunya oleh Rio, segera aku menyusul di belakangnya, aku tarik jassnya, dan dia balik badan. Tatapan matanya seolah berkata ‘ada apa?’. Tanpa berkata-kata, segera aku raih tangan kanannya, aku salim takzim. Wajahnya berubah, dia kaget. Pagi ini aku berubah sikap, tidak seperti diriku selama seminggu ini.
Dia masih terdiam, sesaat kemudian menyunggingkan senyum tipis, lalu meraih pundakku dan dia membalasnya dengan mengecup mesra ujung kepalaku.
“Assalamu’alaikum” ucapnya dengan tatapan mata lembut .
“Wa’alaikum salam. Hati-hati mas!” balasku.
Nampak dia tersenyum sembari memasuki mobilnya, lalu dia membuka kaca jendela dan melambaikan tangannya. Aku pun membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan.
“Alhamdullillah” ucapku lirih.
Ada rasa lega di dalam hati.
__ADS_1