
AUTHOR POV
Tiba-tiba jantung Narita berdetak kencang, bagaimana bisa apa yang di dalam pemikiran Davis sama dengan pemikirannya selama ini. Mata Narita menatap lekat pada Davis, tatapan mereka bertemu untuk waktu yang cukup lama. Meskipun tak saling bicara namun tatapan mata mereka seolah saling memberikan pertanyaan dan jawaban.
“Maaf, karena aku selama ini ragu melangkah. Setelah mengetahui bahwa kau telah memiliki anak, aku langsung patah hati. Aku berpikir bahwa aku telah mencintai wanita yang tidak tepat” kata Davis dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mata Narita pun turut berkaca-kaca. Ucapan Davis mampu membuatnya terhanyut dalam kesedihan yang mendalam. Andaikan Davis tau bahwa dia adalah suaminya, andai Davis tau anak-anak itu adalah anaknya, andai Davis sedikit saja mengingat masa lalunya, mungkin mereka tak akan berada dalam situasi sesulit seperti saat ini.
“Andaikan aku lebih nekat sedikit dan berjuang untuk meluluhkan hatimu, mungkin kau akan mampu merasakan betapa besar rasa cintaku” lanjutnya.
“Atau andaikan saat itu aku langsung mencari tau tentang pasanganmu, mungkin aku akan dengan gagah berani mendekatimu. Meskipun luka di hatimu teramat sakit karena lelaki brengsek itu, meskipun kau sulit untuk membuka hati, dan meskipun aku harus ekstra terus dan terus berjuang,,,mungkin saat ini kau akan menatapku juga”
Narita segera melengos ke samping, dia berusaha menyembunyikan air yang mulai menetes dari ujung matanya, namun segera dihapusnya dengan tangannya.
Dia bukan lelaki brengsek. Dia hanya lelaki yang berada dalam situasi sulit. Dia hanya diberi ujian dalam cinta dan hidupnya—batin Narita.
“Na, apakah aku boleh mengobati luka di hatimu? Bolehkah aku menjadi ayah untuk anakmu?” Davis bertanya dengan nada memohon.
“Dari mana Anda tau apa yang selama ini tak pernah kuceritakan pada siapa pun?” Narita terheran ketika mengetahui bahwa Davis sepertinya mengetahui bahwa Narita telah ditinggalkan oleh pasangannya/ayah anaknya. Narita sama sekali tak menanggapi pertanyaan Davis namun malah mmberikan pertanyaan lain.
“Na, kau lucu sekali,,,,” Davis tertawa lebar, entah apa yang membuatnya lucu padahal menurut Narita tak ada yang lucu sama sekali.
“Kau sudah tinggal di rumah kak Dave hampir 3 tahun, bagaimana mungkin kau tak tau kami? Apa sih yang kami gak tau, Na?” lanjut Davis.
“Apa kau tau siapa suamiku juga?” Narita menanyakannya dengan mata terbelalak.
__ADS_1
“Aku gak tau dan gak mau mencari tau! Yang penting aku tau kau wanita yang tak terikat” mendengar penuturan Davis, Narita kembali melemah, justru dia mengharapkan Davis mengetahui siapa ayah dari anak-anaknya.
“Tapi sayangnya,,,,,” Davis menggantungkan kalimatnya, Narita masih menatapnya dan menunggu Davis melanjutkannya.
“Sayangnya aku baru menyatakan perasaanku sekarang” lanjut Davis.
“Jadi apa tujuan pernyataan cinta Anda?” Narita akhirnya berani menanyakannya.
“Seperti yang aku katakan tadi. Aku ingin mengobati luka di hatimu. Aku ingin menemanimu menjaga anakmu. Aku ingin membuatmu bahagia. Na, apakah kau bersedia?”
Narita kembali meneteskan air matanya. Davis yang menangkap pemadangan itu, segera memberikan sapu tangannya untuk Narita dan Narita menerimanya. Davis sendiri tak memahami kenapa Narita malah menangis, apakah dia juga memiliki perasaan padanya? Lalu kenapa menangis?. Davis masih dengan sabar menanti jawaban Narita. Dia melanjutkan makannya. Narita pun sama halnya dengan Davis, melanjutkan makannya.
Meskipun sulit untuk menelan makanannya, tapi Narita mencoba untuk menikmatinya. Davis masih belum berani membuka suaranya. Mereka pun akhirnya makan dalam diam, sampai keduanya selesai menghabiskan menu makanannya.
Davis mengangguk tanda tau konsekuensinya.
“Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin Anda dengan lantang mengatakan mencintaiku, padahal Anda---Anda---” kalimat Narita terhenti karena matanya kembali berkaca-kaca. Davis masih diam menanti kalimat lanjutannya.
“padahal Anda bisa dengan ber**fsu nya menciumi wanita lain” lanjut Narita dengan sesekali menyeka air di pipinya.
DEG
Bagai disayat sebilah pisau belati yang teramat tajam. Hati Davis teramat sakit mendengar kalimat Narita. Lalu apa maksud Narita mengatakannya? Apa mungkin Narita cemburu melihatnya berciuman dengan Jess? Apa itu artinya Narita memiliki perasaan yang sama dengannya? Apakah air mat aitu adalah bukti kecemburuannya?
__ADS_1
Sungguh Davis kali ini sangat mengutuki perbuatannya. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin dia menggampangkan sebuah hubungan? Bagaimana mungkin dia akan memperbaikinya di hadapan Narita.
“Maaf,,,” hanya itu yang mampu Davis ucapkan.
“Apakah kau sama sekali tak memikirkan bagaimana perasaan Jess?”
“Begitu mudahnya kau berpaling dari satu hati ke hati yang lainnya?”
“Apakah ada jaminan jika kita bersama, kau tak akan berpaling juga?”
Kata-kata Narita sungguh mampu membuat Davis tak bisa berkata-kata lagi.
“Perasaanku ke Jess berbeda dengan perasaanku padamu. Dari awal, aku hanya menganggapnya bahwa dia adalah seseorang yang dijodohkan oleh Opa untukku. Aku tak bisa menolaknya, tapi hatiku juga tidak bisa menerimanya. Aku,,,aku,,,aku memang salah karena tak bisa mengendalikan n**su ku”
“Na, apakah ada perasaan benci ketika kau melihatku dengan Jess---”
“Tidak” Narita menjawab dengan cepat apa maksud Davis.
“Maaf. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Anda harus menjadi lelaki sejati. Anda harus tegas dengan perasaan Anda. Anda harus menghormati dan menghargai perasaan orang lain juga! Instrospeksi diri Anda, Tuan Davis” Narita pun segera berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Davis.
Davis menatap dengan nanar kepergian Narita. Dia seolah mendapatkan jawaban atas pernyataannya. Tangannya memegang dada kirinya. Entah sudah berapa kali dia merasakan sakit hati, tapi rasanya kali ini adalah rasa tersakit yang pernah dia alami.
--- Pintu gerbang rumah Dave---
Narita telah sampai di depan rumah Davis. Hari ini dia tidak menaiki mobil yang dipinjamkan Dave untuknya, tapi dia memilih untuk naik kendaraan umum. Setelah dia memasuki gerbang rumah, dia melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah yang luas itu. Beberapa mobil yang masih terparkir di halaman menunjukkan bahwa mobil-mobil itu masih belum dimasukkan ke garasi.
Saat dia melewati salah satu mobil, tiba-tiba dia mendengar suara-suara mesum. Narita awalnya ingin melewatinya begitu saja, tapi entah kenapa ketika salah satu kaca jendela mobil terbuka sedikit, membuat suara itu makin terdengar dengan jelas.
__ADS_1
Tanpa bermaksud mengintip, Narita kembali dikejutkan dengan sebuah adegan yang tak pantas dilakukan mereka di dalam mobil itu. Terlihat sepasang lelaki dan perempuan tengah berciuman dengan panasnya seolah dunia milik berdua hingga tak menyadari bahwa ada orang lain yang melihat adegan mereka. Menyadari siapakah mereka, Narita langsung berlari kecil meninggalkan tempat itu. Air mata kembali lolos begitu saja dari matanya.