CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(DAVIS POV) PERJUANGAN 2


__ADS_3

Mbak Sriti antusias mendengarku ceritaku. Aku menceritakan bagaimana perasaanku ke Narita sejak 4 tahun lalu, apa alasan yang membuatku ingin berkuliah di luar negeri, dan bagaimana aku berjuang kembali untuk menemukan cinta pertamaku.


“Mbak, mbak masih inget gak dulu sewaktu mbak Sriti menanyakan perasaan Narita sewaktu di pulau seribu?”


Flashback on


“Na?” panggil Sriti


“Hm” jawab Narita Singkat.


“Kamu yakin tidak ada perasaan ke Davis?” tanya Sriti


“Kenapa kamu menanyakan hal yang sama berulang-ulang kali mbak?”


“Kamu inget kan apa yang pernah aku bilang dulu? Jangan pernah melawan perasaanmu sendiri, tapi jujurlah meskipun kejujuranmu tak seperti apa yang kamu inginkan”


“Mbak, jawabanku masih sama”


“Umurku sekarang 23 tahun, aku ingin menikah ketika usiaku 25 tahun.”


“Davis hanya aku anggap sebatas adik”


“Davis bukan pria yang aku harapkan menjadi pendamping hidupku!” tegas Narita.


Flashback Off


“Mbak, salah satu alasanku memilih menjauh darinya adalah karena aku tau diri kalau aku tak mungkin menjadi pendampingnya. Dia sama sekali tak memiliki perasaan yang sama denganku. Aku tak bisa melihatnya menikah dengan orang lain. Aku lebih memilih mengobati luka hatiku dengan menjauh darinya, melupakannya, dan berusaha membuka hati untuk yang lainnya”


Aku menjeda curahan hatiku dengan mata Sriti yang masih menatapku dan sepertinya dia sedang menunggu kalimatku selanjutnya.


“Sudah berbagai cara aku lakukan untuk melupakannya. Berusaha menjalin hubungan dengan wanita lainnya. Membuat diriku ketergantungan dengan wanita lain. Namun pada kenyataannya, aku tak bisa melupakannya. Setiap aku kesepian, aku akan selalu kepikiran dia. Hal itulah yang mendorongku untuk kembali ke Indonesia dan mencarinya”


“Sampai akhirnya aku sangat-sangat bersyukur karena kami dipertemukan kembali. Dia pun masih berstatus sendiri. Aku tak mau menyia-nyiakan waktu dan kesempatan lebih lama lagi. Lalu aku menyatakan perasaanku. Tapi dia sama sekali tak memberiku jawaban Mbak. Akhirnya aku beranikan diri untuk melamarnya. Tapi lagi-lagi, sudah satu minggu ini dia tak kunjung menjawabnya.”


“Hufh…..” aku menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Aku sedang frustasi.


“Aku harus bagaimana Mbak?” tanyaku kemudian.


“Hmm, aku gak papa kan panggil kamu, Davis aja?” tanya mbak Sriti ragu-ragu.


“Lha kenapa emangnya mbak?”


“Yaa kan sekarang kamu sudah berbeda. Meskipun kamu jauh lebih muda dariku tapi kamu kan seorang Dirut di perusahaan terkenal.”


“Aihh,,mbah. Santai aja kali. Panggil aja aku Davis. Toh kita sedang tidak meeting formal”

__ADS_1


“Oke. Vis kamu pernah tau perasaan Narita yang sebenarnya?” mendengar pertanyaannya, aku hanya mampu menggelengkan kepala.


“Apakah pernyataannya waktu di pulau seribu itu, bukan ungkapan perasaannya yang sebenarnya?” tanyaku.


“Enggak. Kamu hanya mendengar sebagian”


“Jadi?” tanyaku bingung.


“Kalian memiliki perasaan yang sama” ucapan mbak sriti membuatku tak dapat menutupi rasa bahagiaku. Senyum mengembang begitu saja, seolah ada gambar hati keluar banyak dari dadaku.


“Alhamdullillahi robbil ‘alamin” ucapku dengan bernafas lega.


"Tapi,,,," mbak Sriti menjeda omongannya.


"Tapi apa Mbak?"  


“Tapi perbedaan kalian, membuatnya memilih mundur!” lanjut mbak Sriti.


Hufhhhh........


“Perbedaan? Perbedaan apa?” tanyaku bingung.


Nampak mbak Sriti canggung untuk mengatakannya. Dia mengusap berkali-kali jemari tangannya.


“Katakan saja mbak. Aku tak masalah. Aku takkan tersinggung.” Lanjutku.


“Oooooo,,,,,,” aku ber oh panjang dengan senyum lebarku.


“Apa karena itu pula, dia ragu maju ketika aku berniat menikahinya?”


“Apa karena itu pula yang akhirnya memilihnya berkenalan dengan pria seiman dengan jalan taaruf?” pertanyaaku dijawab anggukan kepala oleh Mbak Sriti.


Tak berapa lama kami mengobrol, terdengar adzan maghrib berkumandang.


“Mbak hayuk. Aku buktikan! Ikuti aku!” aku pun berdiri dan menemui salah satu pegawai restoran. Dia menunjukkan suatu ruangan yang cukup luas dan bersih dimana di sana telah tergelar karpet cukup tebal.


Kulihat mbak Sriti masih bengong di belakangku.


“Kok bengong mbak? Wudhu dulu! Kita jamaahan!” aku pun tersenyum dan kulihat selintas dia membelalakkan matanya.


Aku pun akhirnya memimpin ibadah. 


Seusai itu, dia melipat mukena yang dia pake sembari bertanya “Sejak kapan, Vis?”


“Sejak 2 tahun yang lalu, ketika aku masih kuliah di Inggris” aku pun bergegas keluar ruangan itu.

__ADS_1


“Kita lanjutkan di meja makan ya Mbak!” 


Makanan kami telah siap di meja makan. Kami pun makan diselingi obrolan.


“Narita sudah tau?” tanya mbak Sriti.


“Entah. Aku tak pernah mengatakannya.”


“Kalian tak pernah berada di moment seperti kita sekarang ini?”


“Enggak. Kalau pun kami sedang di perjalanan, palingan kami singgah di masjid. Setelah itu dia masuk ke ruangan wanita sedangkan aku ke ruangan untuk laki-laki”


“Owh, bener juga ya” ucap mbak Sriti.


“Apa kamu tak pernah ke apartemennya dan melewati waktu ibadah?” tanyanya kemudian.


“Pernah. Tapi aku yang kemudian mengingatkannya untuk dia ibadah. Sementara dia kembali ke unitnya, aku memilih pergi ke masjid dalam komplek apartemennya”


“owh,,pantes”


“Tapi kamu melakukannya, bukan karena Narita kan?” tatapan Mbak Sriti tajam.


“Sama sekali bukan, Mbak!” aku menggoyang-goyangkan kedua telapak tanganku di depan dadaku tanda mengatakan 'tidak'.


“Ada suatu peristiwa yang membuatku akhirnya memutuskan ini. Bahkan aku sama sekali tidak tau kalau Narita menginginkan seseorang yang seiman. Toh banyak juga yang tidak tapi tetep lanjut” jawabanku yakin.


“Bagaimana dengan orang tuamu? Mereka tau?”


“Tau. Orang tuaku tak mempermasalahkannya. Karena itu pilihan hidup masing-masing, yang terpenting aku mampu bertanggung jawab dengan pilihanku!” kulihat mbak Sriti manggut-manggut.


“Jadi, bagaimana menurutmu mbak?” tanyaku lagi.


“Aku rasa Narita masih memiliki perasaan padamu. Cukup kamu buktikan saja bahwa tak ada jurang pemisah antara kalian!”


“Tapi jalanku tak semulus itu, Mbak. Narita baru dilamar orang lain lagi? Aku takut dia mempertimbangkan pria itu juga”


“Hahhhh????” mbak Sriti tersedak mendengar itu kemudian berucap dengan sedikit berteriak.


“Dalam waktu yang hampir bersamaan, dilamar 2 orang pria sekaligus?” Tanya mbak Sriti kembali.


“Iya. Di kantor kami yang sudah jelas-jelas naksir dia ada 3 orang asing. Salah satunya aku, cuma kalau aku kan wajah bule tapi bukan pria asing.”


“Ckckckckckkc dia sudah laris manis, kenapa harus susah payah nyari dari taaruf? Padahal menemukan seseorang yang cocok di taaruf juga gak gampang” ujar mbak Sriti.


“Hmm aku punya ide” lalu Mbak Sriti pun mulai mengutarakan idenya kepada Davis.

__ADS_1


 


----- TO BE CONTINUED ----


__ADS_2