CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
TERPAKSA MENERIMA PEMBERIANNYA


__ADS_3

NARITA POV


 


“Ada apa denganmu, Narita? Kenapa kau tiba-tiba gugup?”


“Apa ada hal yang kau sembunyikan?”


Kini semua mata memandang padaku. Aku seperti seorang terdakwa yang sedang menunggu untuk diadili.


“Maaf tuan, saya gugup karena saya sedang memikirkan hal lain tapi tiba-tiba tuan memanggil nama saya” jawabku mencari alasan.


Beruntungnya semua memahami alasanku. Tak berapa lama Davis sadar. Setelah Davis sadar, dia akhirnya dibantu Drake dan beberapa pria yang ada di sana untuk masuk ke kamarnya, sementara itu Dave memintaku untuk menemuinya di ruang kerjanya.


Aku pikir karena kejadian pingsannya Davis tadi, sehingga aku bisa terhindar dari masalah barang-barang branded itu, ternyata dugaanku salah.


Saat aku sudah sampai di depan pintu ruang kerja Dave, aku mengetuk sebanyak 3x dan suara dari dalam mempersilahkanku masuk. Perlahan aku membuka pintu, dan kulihat Dave tengah menatap laptopnya.


Aku mulai memasuki ruangan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak ada siapapun di sana, hanya Dave seorang. Karena hanya ada kami berdua di ruangan itu, setelah aku masuk, pintu sengaja tidak aku tutup.


“Tutup pintunya!” suara tegasnya membuatku tak berani membantah. Aku ikuti saja perintahnya kali ini.


“Duduk!” dia memerintahku tanpa melihatku. Aku pun terus menurutinya.


5 menit – 10 menit – 20 menit – Dave masih belum berpaling dari laptopnya.


“Maaf tuan, Anda memanggil saya ke sini pasti ada hal yang ingin Anda bicarakan? Kalau boleh tau, apa tuan?” aku memberanikan diri membuka suara karena tak mungkin aku terus berada di ruangan itu hanya untuk menunggunya bicara.


Tak berapa lama, dia menutup laptopnya dengan sedikit kasar. Matanya menatap tajam padaku. Mimik wajahnya menunjukkan amarah.


Duh apalagi kesalahanku? --pikirku


“Kau tau apa salahmu?” aku menjawabnya dengan gelengan kepala.


“Sungguh kau tak tau?” tanya dia lagi.


“Apakah ini mengenai barang pemberian Anda, Tuan?” tanyaku memberanikan diri.

__ADS_1


“Iya. Itu salah satunya!”


Hah, salah satunya, berarti ada kesalahanku yang lainnya juga? Apa dia mencurigaiku kalau aku----, ahh tidak mungkin –batinku.


“Kenapa kamu geleng-geleng kepala seperti itu?” 


“Kalau mengenai barang itu, saya bisa jelaskan tuan!”


“Jelaskan padaku!” perintahnya kemudian. Tatapan matanya yang tajam membuatku sedikit gugup.


“Kenapa pada saat membelinya, Tuan tidak meminta pendapatku?”


“Kau bodoh atau apa sie? Hampir semua barang yang aku beli sudah kau coba dan kuminta pendapatmu dengan kalimat ‘mana yang lebih bagus’? Apa kau tak menyadari bahwa aku sedang membelikanmu sesuatu?”


“Hah??” mataku terbelalak mendengar penuturannya.


“Apa kau tidak pernah dibelanjakan laki-laki seperti itu?” 


“Iya. Tidak pernah tuan. Maaf mungkin saya memang bodoh, saya pikir tuan hanya meminta pendapatku karena menyangka bahwa selera wanita terhadap barang-barang itu hampir sama.” Aku sejenak menghela nafas.


Huh,,,kudengar Dave menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Pasti dia merutuki kebodohanku.


“Sepertinya, aku baru menemui wanita sepolos dirimu!” tiba-tiba mimik wajah garangnya berubah menjadi tersenyum manis.


“Apa kau tak menyukainya?” pertanyaannya kini sudah dengan nada lembut.


“Bohong kalau aku bilang tidak menyukainya. Tidak ada satu orang wanita pun di dunia ini yang tidak menyukainya, Tuan. Tapi alangkah baiknya, demi kebaikan saya dan tuan, lebih baik barang itu jangan dikasihkan ke saya!”


“Kebaikanku? Kebaikanmu? Maksudnya” tuan Dave berdiri dari kursinya lalu mendekatiku dan duduk di meja tepat di depanku. Aku mendongak demi bisa melihatnya. Posisi kami yang cukup dekat membuatku berdebar. Kaki dia yang panjang berada persis di depan wajahku, wajahnya yang sengaja dia buat condong ke depan dan ke bawah, membuat kami bertatapan sangat dekat sekali.


Aku hanya takut debaran jantungku terdengar olehnya. Aku berdebar bukan karena perasaan lain, tapi karena kami saat ini berada di ruang tertutup hanya berduaan.


“Iya mereka akan berpikir macam-macam kalau sekelas pembantu seperti saya mendapatkan barang mahal dari tuannya.” Aku mengatakannya dengan menunduk.


“Maksudmu, mungkin mereka berpikir kalau aku menyukaimu?” aku memilih terdiam.


“Yaa, gak mungkinlah!” entah kenapa kalimatnya ini membuatku sedikit lebih lega.

__ADS_1


“Bagiku, itu bukan barang-barang mahal. Karena aku mengajakmu ke mall jadi aku yang membelikanmu, mungkin kalau yang kuajak Leni, Leni pasti yang akan kubelikan!”


“Owh begitu, Tuan!”


Dave lalu berdiri dan pergi ke suatu sudut ruangan. Ternyata barang-barang branded yang kemaren ada di lantai depan kamarku, kini sudah ada di ruangan itu.


“Jangan kau berpikir aneh-aneh. Aku tidak mungkin menyukaimu! Barang-barang itu sebagai penghargaan karena kau adalah nanny terbaik untuk Karen. Dan ingat! Jangan pernah kau membagikan barang-barang itu kepada orang lain! Kalau sampai ketauan, tau sendiri akibatnya!” aku bergidik ngeri mendengar ancamannya.


Dia meletakkan semua paperbag itu di meja depanku.


“Baik tuan. Terima kasih. Lalu apalagi kesalahan saya?”


“Tidak melayaniku sarapan tanpa meminta ijin terlebih dahulu padaku!” jawab Dave.


“Saya sudah minta ijin pada tuan Drake, Tuan!” jawabku.


“Memangnya siapa yang membayarmu? Bukannya perintahku waktu itu sangat jelas!” meski Dave mengatakannya dengan nada rendah, namun terkesan ketus dan angkuh.


“Oke baiklah. Saya mengaku salah. Jadi apa mau Anda sekarang? Saya sudah mulai kerja dan magang di kantor. Kantornya buka jam ½ 8. Saya harus datang on time di kantor” 


“Aku akan sarapan jam 06.00 dan kau bawalah ini!” Dave meletakkan sebuah kunci yang ada gantungannya berupa dompet.


“Ini---“


“Ini kunci dan semua surat-surat kendaraan, termasuk SIM Internasional punyamu! Aku meminjamimu mobil. Jangan lagi ada alasan transportasi sehingga kau melalaikan kewajibanmu!”


Aku hanya bisa melongo dan melotot mendengar penuturannya. Ahh,,,kenapa dia selalu memaksakan kehendaknya? 


“Jangan bilang kau tidak bisa nyetir?” 


“Saya bisa tuan. Tapi mana berani saya memakai mobil mahal tuan!”


“Besok kau pake saja mobilku yang VW city car warna putih. Itu mobil termurahku.”


“Dan aku tidak menerima penolakan!”


“Oke kau boleh pergi!”

__ADS_1


Dengan terpaksa aku menerima semua yang ditawarkannya, lalu aku pun berpamitan setelah diperkenankan pergi. Dengan Langkah gontai aku keluar ruangan yang serasa seperti ruang sidang. Entah kenapa, aku tidak suka menerima semua pemberiannya ini. Aku takut berhutang budi, meskipun aku cukup lega karena dia tak ada niat tersembunyi dibalik pemberiannya ini.


__ADS_2