
NARITA POV
Aku masih jejeritan berusaha membuang benda yang menempel di rambutku. Sampai beberapa menit kemudian aku mendapatkannya, ternyata mainan kaki seribu 2 buah yang ditempeli double tape. Pantesan susah banget ambilnya.
Sekarang giliran Sherly yang mengajukan pertanyaan.
“Apa kamu masih perawan?”
Lagi-lagi tatapan mata mereka tajam menatapku, menunggu apa jawabanku. Aku bingung menjawabnya, kalau aku bilang sudah menikah, pasti pertanyaan mereka akan tambah gak karuan lagi, tapi kalau aku gak bilang, bakal bergulir pertanyaan lain yang sejenis. Gimana ini?
“Aku memilih Dare” jawabku dengan sedikit nyengir.
“Yahhh…..” kata mereka bersamaan.
Sherly berjalan mendekatiku dengan membawa sesuatu.
“Kamu pake ini sampai acara games selesai ya!” dia mengeluarkan ****** ***** pria dari sebuah paper bag lalu memakaikan celdam itu di kepalaku seolah seperti bandana. Semua yang melihatnya tertawa terbahak-bahak melihatku mengenakan bandana dari celdam cowok, aku hanya mampu memasang wajah cemberut.
Kali ini George yang akan mengajukan pertanyaan.
“Kalau seandainya tidak ada tunanganmu itu, di antara Daniel dan Arnold, siapa yang kamu pilih?”
Kali ini aku tersenyum, pertanyaan yang mudah.
“Aku tidak memilih di antara keduanya!” jawabku mantap.
“Gak bisa Na. Kalau kamu mau truth, kamu harus pilih salah satu. Aku gak bilang kamu disuruh memilih salah satu untuk menjadi calon suamimu, aku Cuma memintamu memilih mana yang ter--- diantara mereka?” ujar George.
Aku menatap mereka berdua bergantian dengan senyum tipis.
“Hmmmm,,,siapa ya?” aku memangku tanganku sementara itu jemari tangan kanan menangkup daguku dan memandang Daniel dan Arnold bergantian.
“Kalau milih dua-duanya, boleh??”
“Gak bisa, harus salah satu!” tegas George.
“Hmmm, yasudah aku memilih Daniel” jawabku pelan.
“Yess!!” Daniel berjingkrak kegirangan dan kami semua spontan menoleh kepadanya.
“Kenapa kamu memilih Daniel, Na?” tanya Arnold kecewa.
“Habisnya aku gak boleh milih dua-duanya!”
“Lalu kenapa kamu gak memilih aku?” Arnold bertanya.
__ADS_1
“Karena kamu sudah ada yang menyukai, meskipun dalam diam!” jawabku dengan nada puas telah membuatnya kepo.
“Whaaaahhhhhh,,,,siapa tuhhh?” semua heboh mendengar penuturanku.
“Oke sudah sudah,,,,sekarang giliranku bertanya ya?” ujar Dewi tiba-tiba menyela kehebohan kami.
“Lhoo sekarang giliranku yang bertanya, Wi. Aku muter spin dulu tapinya!” aku kembali berteriak tak terima.
“Owh iya lupa” Dewi sedikit memukul kepalanya, sepertinya dia sedang grogi.
Lalu aku segera memutar spin, dan tak diduga tak dinyana ternyata jarum jam menunjukkan nama Arnold. Aku tersenyum smirk membayangkan pertanyaan yang akan aku berikan ke dia.
“Arnold, udah siap?”
“Kalau Dewi naksir kamu, apa kamu mau menerimanya menjadi pacar/tunangan/istri mungkin?”
Semua sudah mulai heboh kasak kusuk, sementara itu aku memperhatikan wajah Dewi yang sudah merah bagai buat tomat, matanya melotot ke arahku, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Selama ini aku selalu memperhatikan gerak gerik temen –temenku ini. Dewi sering grogi kalau deket dengan Arnold, dia nampak suka curi-curi pandang juga. Beberapa interaksi bahkan Dewi menunjukkan kecemburuannya ketika Arnold malah secara terang-terangan mendekatiku, menyatakan perasaan sukanya ke aku, meskipun kalau orang pikir mungkin dia sedang bercanda tapi aku tau itu bukan hanya sekedar candaan.
Lama ditunggu tapi Arnold tak kunjung menjawabnya.
“Apa jawabanmu, Nold?” tanya ku lagi.
“Kamu jangan pilih Dare lho Nold, karena nanti kamu menyesal! Dare nya lebih parah!” aku sengaja menakutinya.
“Aku pilih dare aja!”
“Yaahhhh, gak seru!” semua berujar bersamaan.
“Ok no problem. Sekarang tantangannya, kamu harus berakting nembak Dewi!” aku mulai memainkan mata genitku yang membuat Arnold melotot dengan wajah merah marah.
“Ihhhhhhh Na! Diganti aja deh, acting nembak kamu!” tawar Arnold kemudian.
“Gak bisa ya….kamu juga sie udah diingetin suruh jangan pilih dare malah pilih dare, ya rasakan akibatnya!”
Temen-temenku mulai heboh dengan kasak kusuknya, begitu pun halnya dengan Dewi yang dari tadi hanya berani menundukkan kepalanya.
“Aku pilih truth aja deh!” ujar Arnold kembali.
“No!! Kalau sudah memilih, gak bisa diganti!” tolakku.
Lalu Arnold bergegas ke depan Dewi dan langsung berkata “Kamu mau jadi cewekku?” dan tanpa menunggu jawaban Dewi dia langsung kembali ke posisi berdirinya tadi. Sementara yang lainnya heboh menyorakinya. Suasana nampak riuh, ramai, dan heboh.
“Terima,,,,terima,,,terima!” mereka berame-rame mengatakannya.
“Sudah selesai aktingnya, kasian Dewi jangan disuruh menjawab. Kan ini tantangan untuk Arnold.” Aku segera berteriak berusaha menetralkan suasana yang sudah mulai heboh.
__ADS_1
“Dilanjut Dewi!”
“Awas ya Na. Aku balas kamu!” kata Dewi lirih.
“Apakah kamu dan Mr. Dav memiliki hubungan?”
Mereka kembali heboh mendengar pertanyaan Dewi untukku. Awalnya aku kaget mendengar pertanyaan itu. Aku kembali serasa mentok mau menjawab dengan jawaban apa, namun beberapa saat kemudian akhirnya aku tersenyum puas karena menemukan jawaban yang pas.
“Iya” jawabku mantap dan tegas yang membuat semua makin riuh.
“Hubungan spesial maksudku, Narita!” sambung Dewi.
“Gak ada yaaa sambungannya, pertanyaan pertama yang aku jawab.” Elakku.
“Bagaimana ini, apakah jawaban Narita diterima?” tanya George kemudian, sementara itu aku memperhatikan wajah Daniel yang nampak tak suka menatapku.
“Diterima!” jawab Daniel lantang.
"kenapa jawabanmu iya? " tanya Leo kemudian.
"Kan hubungan antara atasan dan bawahannya. Bener kan? " aku dengan wajah jumawa.
“Sekarang giliranku ya!” kata Abel kemudian menyela.
“Kapan terakhir kali kamu berciuman?”
“Yahhh, pertanyaan sepele, Bel. Ganti dong yang seru!” teriak Leo.
Meskipun bagi Leo ini pertanyaan sepele, tapi bagiku ini juga pertanyaan sulit.
“Sekitar 2 bulan yang lalu!” jawabku pelan dan sedikit menunduk.
“Whaaahhhhh,,,,,gak nyangka ternyata Narita sudah ciuman dengan tunangannya! Whahh, hebat Na! peningkatan banget! Aku curita kamu udah gak perawan!” teriak Leo yang memang terkenal paling cablak dan terus terang diantara kami berdelapan.
Lalu tanpa menunggu tenang, aku segera memutar spin, dan jarum menunjukkan nama Daniel.
“Wah seru ini, idola memberi pertanyaan kepada fansnya!” seru George.
Aku cukup lama berpikir hendak melontarkan pertanyaan apa ke Daniel. Bagiku Daniel baik dan tak memiliki kenakalan sebagai cowok pada umumnya.
“Hal bandel apa yang pernah kamu lakukan, yang membuatmu menyesal sampai dengan sekarang?” aku pun akhirnya melontarkan pertanyaan yang normatif dan gampang dijawab olehnya. Kulihat dia menyunggingkan senyum.
“Aku pernah memimpikan seseorang sampai basah dan aku menyesal kenapa aku tidak menyatakan perasaanku sejak lama atau sejak awal mengenalnya sehingga aku gak perlu bersaing dengan banyak cowok lain. Mungkin kalau aku nembak duluan, kami sudah menikah sekarang. Tapi nyatanya, sekarang setelah tau dia bertunangan dengan cowok lain, aku menyesal deh!
“Yahhhh,,,itu lagi deh!” semua mengeluh dan memukul ke udara mengarah ke Daniel.
Kami tau apa yang dimaksud oleh Daniel.
__ADS_1