CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
CURIGA


__ADS_3

NARITA POV


 


“Na, maukah kau menemaniku terapi besok siang?” pertanyaan Davis memecahkan sunyinya suasana ruangan, mendengar pertanyaan itu mataku membola penuh.


“Kenapa saya tuan? Bukannya Anda bisa meminta Jess?”


“Psikiater dan psikolognya memintaku datang bersamamu”


“Maksudnya?” aku tak mengerti maksud Davis dan memintanya menjelaskan.


“Aku menceritakan ke mereka kalau aku baru mengenal seorang perempuan tapi seperti terasa sangat mengenalnya. Akhirnya untuk pertemuan selanjutnya mereka memintaku membawamu besertaku.


“Lalu bagaimana dengan pekerjaanku? Bagaimana dengan Jess? Aku tak ingin dia salah paham”


“Aku sudah membicarakannya dengannya. Kalau itu menyangkut kesembuhanku, dia mengijinkannya”


“Tapi tuan,,,” aku hendak menolaknya.


“Please, Na!!!” kedua tangan Davis menangkup dan memohon, akhirnya aku pun pasrah, aku mengangguk. 


Keesokan harinya, saat aku tengah menyiapkan sarapan untuk keluarga ini, aku dikejutkan oleh suara Oma dan Opa dan Buyut Karen. Akhirnya mereka semua sudah berkumpul di ruang makan. Dari pembicaraan mereka, Oma dan Opa karena datang semalem dari Inggris. Mereka datang ke sini karena kemaren mendengar kabar kalau Davis pingsan. Mereka mencemaskan anak bungsunya itu.


“Kak, aku ijin pinjem Narita untuk menemaniku terapi” semua orang yang tengah makan tiba-tiba menghentikan kegiatannya dan menatap pada Davis dan aku bergantian. Dari semuanya, hanya Jess yang nampak biasa saja, dia sama sekali tak terusik dengan ucapan Davis barusan.


“Kenapa Narita? Kenapa bukan Jess” tanya Dave menatap tajam pada Davis.


“Davis, taukah kau kalau hal itu membuat Jess----” lanjut Mommy.


“Enggak Mom. Demi kesembuhan Davis, aku tidak masalah” sela Jess. Semua mata kini menatap ke Jessica.

__ADS_1


“Tuan Davis, sepertinya saya tidak perlu---” aku pun memberanikan diri berpendapat, namun ucapanku segera disela Opa Davis.


“Pergilah Narita! Kalau dia bisa menjadi nanny buat Karen, dia juga bisa menjadi nurse untuk Davis”


“Opa!” Davis sedikit membentak.


“Biarkan psikiater dan psikolog ku menemui Narita. Untuk kali ini saja, demi kesembuhanku”


“Terserah kamulah” jawab Dave malas.


Akhirnya usai sarapan, para tuan besar pergi keluar rumah, sementara aku mulai membereskan meja makan. Setelahnya aku bergegas kembali ke kamarku untuk mempersiapkan diri ke kantor.


DAVE POV


Sepanjang perjalanan menuju kantor, aku kembali memikirkan kenapa Davis meminta Narita menemaninya terapi. Kenapa dia nampak terbuka mendekati Narita. Apakah dia menaruh hati padanya? Dan kenapa sepertinya Narita tak membantah? Biasanya dia terkesan galak, ketus jika harus melakukan sesuatu yang tak disukainya, kenapa dia seolah pasrah?


“Tuan, adiknya Rio sebentar lagi lulus kuliah, apakah Anda akan menawarkan pekerjaan untuknya?” pertanyaan Teddy tiba-tiba membuyarkan lamunanku.


“Rio?” entah kenapa tiba-tiba otakku loading mengingat siapakah ‘Rio’ yang disebut oleh Teddy.


“Kau atur saja bagaimana baiknya.” Titahku.


“Baik tuan” jawab Teddy singkat.


“Ted,?”


“Ya, Tuan”


“Apa kau bisa menyelidiki ulang siapa wanita di masa lalu Davis?”


“Baik tuan. Nanti akan saya kerahkan banyak ahli untuk menyelidikinya” jawab Teddy mantap.

__ADS_1


“Apa kau sudah menyelidikinya di Indonesia?”


“Hasilnya kan sudah pernah tuan dapat.”


“Aku yakin kau melewatkan sesuatu!” ungkap Dave.


“Andaikan Rio masih ada dan Davis tidak amnesia, mungkin akan lebih mudah, tuan!”


“Aku gak mau tau, Ted. Kau atur saja! Aku curiga grandpa sudah tau tapi menutupi kenyataannya. Aku hanya ingin membantu Davis agar segera sembuh. Sementara grandpa, sepanjang itu membahayakan kami, sampai kapanpun itu pasti akan dia tutupi”


“Baik, Tuan”


Sesampainya di kantor, aku tak bisa fokus pada pekerjaanku. Entah kenapa aku memikirkan Davis dan Narita. Segera kuraih telepon internal dan menanyakan jadwalku hari ini ke sekretarisku. Setelah mengetahui hari ini aku off rapat, segera aku beranjak dari tempat dudukku, meraih pouch dan segera kuisi dengan ipad, hp, dompet, dan kunci mobil. Setelahnya aku melangkahkan kaki keluar ruangan. Aku sampai tak ingat bahwa aku tak mengenakan jas ku yang selalu biasa menempel di tubuhku.


“Bilang ke Teddy, aku pergi sebentar” aku berpesan pada sekretarisku, dia pun mengangguk dan menjawab dengan sopan.


Mobil segera kulanjukan ke rumah sakit tempat Davis biasa terapi. Aku sengaja menaiki mobil sampai lobby rumah sakit, dan segera meminta petugas rumah sakit untuk memarkir mobilku. Aku langsung menuju ke ruangan terapi.


“Sus, apa Davis sudah datang?” aku segera menghampiri meja suster yang berjaga.


“Tuan Davis sudah masuk sejak 30 menit yang lalu” jawabnya sopan.


“Apa dia bersama seorang wanita?”


“Iya Nona Narita juga turut masuk ke dalam bersama dokter”


“Masuk?” 


“Iya tuan, salah satu cara terapi menggunakan media orang. Kalau dokter memperkenankannya masuk berarti dia menjadi salah satu media terapinya tuan Davis.” Suster itu menjelaskan.


Lalu aku segera pergi meninggalkan ruangan itu. Sesaat kemudian ponselku berdering dan aku segera mengangkatnya.

__ADS_1


“Ya, Ted?”


“Apa? Kamu sudah menemukan identitas wanita itu?”


__ADS_2