CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
PERJUANGAN


__ADS_3

---- Tempat Bimbel----


“Senyum-senyum sendiri, bertukar pesan sama siapa loe?” tanya Aldi.


“Narita” jawab Davis.


“Loe suka sama dia?” tanya Aldi to the point.


“Iya” jawad Davis singkat.


“Iya? Serius loe?” Aldi seolah tak percaya.


“Loe gak lagi kena pellet kan?” tanyanya lagi.


“Enggak. Gue beneran suka, sayang, cinta sama dia!” jawab Davis yakin.


“Perasaan loe sama Alin, gimana?” Aldi menelisik.


“Perasaan gue ke Alin dari dulu gak pernah berubah. Gue sayang dia sebagai adik. Tidak lebih dan tidak kurang” tegas Davis.


“Narita suka loe?”


“Enggak!”


“Serius? Masa sih?”


“Tau darimana loe? Udah loe tembak dia?”


“Gue belum nembak, tapi gue denger dia gak suka gue langsung dari mulut dia sendiri”


“Ahh gue gak percaya. Cowok sekelas loe masa ditolak cewek seperti Narita!”


“Hmm, apa gue nekat pedekate aja ya Bro?”


“Gue masih gak percaya aja loe suka dia? Apa sie yang loe suka dari dia. Cantikan Alin kemana-mana lagi!”


“Suka, sayang, dan cinta, gak bisa diukur hanya dari fisik, Bro. Gue ngerasa nyaman dan happy bersamanya”


“Loe aja baru ketemu dia 2x, masa loe seyakin itu bilang cinta. Loe kan belum pernah jatuh cinta. Loe juga bukan playboy yang dengan mudahnya jatuh cinta. Gue tau banget loe, Bro!”


“Siapa bilang ketemu baru 2x?? Sebelum ke pulau seribu, gue tiap hari kirim pesan ke dia. Hampir tiap hari jemput dia, makan di kosannya, ngobrol banyak hal”

__ADS_1


“Gileeee…..Gue salut sama usaha loe. Btw umur dia bukannya jauh di atas loe, Bro?!”


“Iya gue tau, bukannya cinta tak pandang umur, tampang, kedudukan, dll. Yang gue rasain, gue kangen kalo gak kirim pesan ke dia dan ketemu dia, gue cemburu waktu dia ngobrol sama temen cowoknya, gue khawatir kalau terjadi sesuatu dengannya, asshhhhh ya gitu deh…….”


“Jadi gimana nie Di menurut loe? Apa gue pedekate dia? Tembak dia?


“Semangat Bro. Gue yakin dia suka sama loe juga. Cuma mungkin banyak pertimbangan dia, secara loe kan baru lulus SMA! Loe buktiin aja kalau loe layak untuk dia tunggu”


“Beneran, Bro? Loe serius kan kasih gue saran gitu?”


“Beneran!!! Serius!!!!”


“Thanks Bro. Gue jadi semangat nie. Doain gue ya!” Davis meminta toss pada Aldi.


Hari itu, Davis ke bimbel menggunakan mobil Pajero Sport. Setelah percakapannya dengan Aldi, dia kembali bersemangat untuk pedekate dengan Narita. Malam ini dia berencana memberikan surprise pada Narita.


“Aku sudah gak sabar ketemu Narita. Tiga hari tak bertukar pesan, tak mendengar suaranya, tak melihat wajahnya, rasa kangennya berlipat-lipat. Dia suka gak ya aku surprise-in kaya gini?” gumam Davis sembari bersenandung.


Di hari kerja, jam pulang kantor seperti sekarang ini, jalanan Jakarta begitu macet.


“Ashhhh,,,,kalau gue bawa motor bisa selap selip” gerutu Davis.


Ketika Davis bersiap untuk turun dari mobilnya, nampak Narita dan seorang pria baru saja keluar dari dalam ruang tamu kos Narita.


“Br*ngs*k, gue keduluan!” gerutu Davis sambil memperhatikan dan mengingat sosok pria yang bersama Narita.


Mereka berjalan menuju gerbang dengan bersendau gurau. Davis menggenggam erat setir mobilnya ketika mengingat sosok pria itu.


“Gue aja kalau bertamu cuma disuruh duduk di teras, kenapa dia masuk ke kosnya?!” Davis geram. Nampak olehnya Narita masuk ke dalam mobil pria itu dan berlalu meninggalkannya.


Davis melihat jam tangannya, jam menunjukkan pukul 21.00. Lalu dia memukul setirnya tanda kesal “Mau kemana mereka jam segini?”


----Keesokan harinya di Tempak Bimbel-----


“Kenapa, Bro?” tanya Aldi menepuk pundak Davis dan duduk di samping kursi Davis.


“Gue semalem ke kos Narita. Tapi kulihat dia jalan sama cowok lain.” Jawab Davis.


“Temennya?”


“Entahlah, gue gak tau!”

__ADS_1


“Cowok yang Sabtu lalu ngobrol sama dia”


“Sabtu lalu? Pulau seribu?”


“Iya”


“Owh iya gue inget”


“Berlanjut dong mereka?”


“Entahlah. Menurut loe gue mesti gimana?


“Maju terus, Bro.”


“Baiklah” Davis berusaha mengumpulkan semangatnnya.


Seusai bimbel, Davis kembali merencanakan perjuangannya. Kali ini dia berencana menjemput Narita di kantornya. Mengingat jalanan depan kantor Narita merupakan jalan protokol, mau tak mau dia harus masuk ke dalam komplek kantornya dan memarkir mobilnya di dalam. Tak cukup sulit baginya mendapatkan tempat parkir, mengingat beberapa karyawan sudah mulai pulang.


Davis keluar dari mobilnya. Dia menuju ke lobby kantor Narita. Namun sesampainya dia di depan pintu lobby yang terdapat pintu kaca otomatis, dia dikagetkan oleh Narita yang berjalan berdampingan dengan pria itu lagi.


Dia lagi?? –batin Davis.


Takut ketahuan, Davis memilih menyelinap di balik kerumunan orang-orang yang berdiri di depan pintu lobby. Narita dan pria itu tak menyadari keberadaan Davis. Lalu Narita masuk ke dalam mobil pria itu lagi, dan itu membuat Davis mengepalkan tangannya, geram.


Sesaat kemudian, Davis menjatuhkan harga dirinya dengan mengirim pesan ke Narita.


Davis: Kak, bisakah kita ketemu?


Narita: Kapan?


Davis: 1 Jam lagi aku ke kosmu ya!


Narita: Maaf, Vis. Aku sedang ada perlu di luar.


Davis: 👌. Never mind.


Narita: Sorry 🥺. See u next time


Kembali Davis dibuat geram, muka merah menahan amarah, tangan mengepal, rahang mengeras.


Sabar,,,,Sabar,,,,gue cemburu, tapi gue belum punya hak atas dirinya –Batin Davis menenangkan diri.

__ADS_1


__ADS_2