
NARITA POV
Beberapa hari ini tak banyak kegiatan yang kulakukan selain ke kampus dan menemani si kembar bermain. Sebagian besar barang-barangku yang berada di rumah Mr. Dave masih belum kuambil karena Davis melarangku ke sana sendirian, dia mengatakan akan mengantarku ke sana mengambil barang-barang itu dan berpamitan dengan Karen. Aku pun hanya mampu menuruti apa katanya.
Tidak ada yang berubah dari keadaan sebelum sebelumnya. Aku masih tidur di kamar ibu bersama si kembar. Davis tak pernah protes dan menyinggungnya. Meski demikian aku sebisa mungkin melayaninya dengan menyiapkan kebutuhannya kala mau ke kantor. Sebelum dia bangun tidur, aku masuk ke kamarnya dan menyiapkan baju kerjanya. Dia selalu memakai baju yang telah kupersiapkan.
Aku pun melakukan aktifitas memasak untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Ibu yang kurang paham menggunakan peralatan dapur yang mennurut beliau terlampau canggih, akhirnya aku memintanya untuk tetap menjaga anak-anak di kala aku memasak.
Beberapa hari ini belum ada kabar juga mengenai kelanjutan hasil tes DNA. Mungkin memang Opa belum menerima hasilnya, ataukah karena pertimbangan lain, aku tak begitu memikirkannya. Aku harus menyiapkan hati seandainya kecewa dengan hasil akhir yang menjadi keputusan dari keluarga ini. Davis tak pernah berhenti meyakinkanku bahwa dia akan berusaha mendapatkan restu keluarga. Apalagi Raffa dan Rafina adalah bukti nyata keturunan kandung yang selama ini sangat mereka idam-idamkan.
***
Opa meminta seluruh anggota keluarga inti termasuk keluargaku untuk datang ke sebuah Hotel. Bapak, ibu, Arjuna, aku, Davis, dan si kembar telah di arahkan ke sebuah restoran ketika kami sampai di sebuah lobby hotel. Mataku menyapu pemandangan di restoran ini. Restoran ini nampak sepi, hanya terdapat beberapa pelayan yang nampak lalu Lalang mempersiapkan beberapa meja.
Lalu kami pun dipersilahkan untuk duduk di salah satu jajaran meja dan kursi yang di atasnya telah tersaji beberapa makanan pembuka.
Semenjak kami memasuki restoran ini, ada hal yang aneh. Alunan lagu anak-anak mengudara dengan jelasnya membuat suasana restoran berubah yang seharusnya romantis menjadi seperti sedang ada persta ulang tahun anak-anak. Posisi dudukku berdekatan hanya terpisahkan oleh Raffa dan Rafina. Mereka berdua nampak antusias, sesekali mereka turut menyanyikan lagu anak-anak itu.
Beberapa saat kemudian, nampak kedatangan Mr. Dave, asistennya, Leni yang juga menggandeng Karen. Karen segera berlarian ketika netranya menangkap adanya diriku. Tanpa menunggu, aku segera berdiri, dan menangkap tubuhnya ketika dia hendak memelukku. Mataku masih memandang Mr. Dave yang berjalan melangkah mendekat, namun saat pandangan kami bertemu, dia segera membuang muka. Ahh, sebegitu bencikah dirinya padaku?
Rombongan Mr. Dave memilih duduk di bagian meja yang lainnya, sementara itu Karen merengek untuk duduk berdekatan denganku. Aku pun menggendongnya dan mendudukkannya tepat di samping Rafina. Arjuna segera bergeser ke kursi lain agar kursinya bisa dia serahkan untukku.
Aku memperkenalkan Raffa dan Rafina pada Karen. Mereka bertiga masih dalam mode liat-liatan tanpa ada yang berani berkata-kata.
Raffa pun sudah tidak betah duduk, akhirnya dia minta turun. Begitu pun halnya dengan Rafina. Kini mereka berdua asyik bersendau gurau, lari ke sana ke mari sesukanya. Davis pun tak hanya tinggal diam. Naluri kebapakannya menuntunnya untuk turut berlarian demi bisa menjaga keduanya tetap aman. Suasana restoran yang tadinya tenang tiba-tiba berubah menjadi heboh karena gelak tawa keduanya yang memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Tak betah hanya melihat dari kejauhan saja, akhirnya Karen meminta diturunkan dari kursi lalu dia bergabung mendekati si kembar. Tanpa banyak bercakap, akhirnya ketiganya bisa langsung akrab dan bermain bersama, saling mengejar dan saling tertawa. Ketiganya seolah menjadi magnet tontotonan yang tak pernah membosankan bagi kami yang ada di sana.
Beberapa menit kemudian, dua orang pelayan restoran tiba-tiba datang membawa balon warna warni. Ketiganya berlari mendekat pada kedua pelayan itu, sedangkan Davis akhirnya berhenti mengejar mereka, dia masih tersenyum memandang betapa ketiganya sangat bahagia meski hanya melihat balon-balon itu. Ketiganya menerima balon-balon yang diberikan oleh pelayan itu. Meski kerepotan, ketiga anak itu membawa balon-balon yang diberikan padanya.
__ADS_1
Dari pintu masuk, datang Mommy dan Daddy Davis. Terlihat keduanya berpakaian sangat rapi selayaknya memenuhi undangan makan para kalangan atas. Ah yaa,,,sepertinya hanya keluargaku yang mengenakan pakaian ala kadarnya. Aku memang tak pernah tau bagaimana kehidupan para konglomerat, wajar saja keluargaku tak memperhatikan hal sedetail itu, kupikir hanya undangan makan biasa saja.
Ah sudahlah, bomat.
Mommy dan Daddy mendekat kepada si kembar dan Karen. Kedua sengaja berjongkok untuk sekedar memeluk dan bertegur sapa dengan ketiganya.
Pemandangan ini membuat hatiku lega. Mungkinkah ini pertanda baik? Kuharap demikian. Mommy dan Daddy cukup lama berinteraksi dengan ketiganya, entah apa yang mereka bicarakan, kami tak bisa mendengarnya karena kami memang berjauhan ditambah alunan lagu anak-anak yang sedikit lebih keras. Setelah itu, Mommy and Daddy membelai lembut rambut ketiganya secara bergantian. Manis sekali.
Mereka pun kembali berdiri dan melangkah mendekat ke meja kami.
“Sudah lama?” tanya Mommy padaku setelah tadi aku mengulurkan tangan meminta tangannya lalu salim takzim.
“Tak apa Mom. Anak-anak happy di sini kok” jawabku kemudian.
Mommy nampak sumringah ketika aku dan Davis bergantian salim takzim. Lalu keduanya mendekat pada meja Dave dan duduk di rombongan itu.
Kami kembali lagi dikejutkan ketika terdapat pelayan yang tiba-tiba mendorong trolley berisikan mainan anak-anak, baik itu mainan untuk anak laki-laki maupun perempuan. Si kembar dan Karen terlihat kegirangan menerima mainan-mainan itu. Mereka meletakkan mainan-mainan itu di satu sudut restoran yang telah disulap menjadi area bermain secara lesehan beberapa saat lalu. Tanpa aba-aba ketiga bocah itu langsung menyerbu lokasi yang dipenuhi mainan dan mereka asyik duduk di sana.
Aku dan Leni secara bersamaan mendekat ke sana. Saat aku berpapasan dengan Davis yang tengah berdiri di deket itu, aku memintanya untuk duduk karena aku yang akan bergantian menemani mereka. Akhirnya dia pun kembali ke meja kami.
“Baik, Na. Eh Nyonya” jawabnya gugup. Aku pun akhirnya tergelak tawa karena menyadari kegugupannya berhadapan denganku.
“Tak usah sungkan. Aku masih Narita yang dulu kok”
“Mana bisa begitu Nyonya. Anda kan---”
“Aku siapa memangnya?” Leni hanya menjawab dengan tersenyum getir.
Tak ada yang tau bahwa Davis adalah suamiku, mereka hanya tau gosip bahwa Mr. Dave hendak melamarku. Bisa kaget dia kalau ternyata mantan calon tunangan Mr. Dave adalah istri adiknya. Ahh susah sekali ya istilahnya,,,
“Biasa aja Len. Panggil aja Narita. Aku bukan Nyonya” Leni pun tersenyum mengangguk”
__ADS_1
“Hmmm,,,Na, kenapa Mr. Dave tidak di meja kalian? Tapi kenapa malah Mr. Davis?” tanya Leni heran.
“Memangnya apa yang kamu tau, Len?”
“Kau dan Mr. Dave bertunangan bukan?” Leni menatapku lekat dan dari sorot matanya menuntut jawaban segera.
“Enggak Len” aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Sayang sekali, Na! Padahal Karen sudah sangat bahagia ketika mendengar kau akan menjadi Mommy nya”
“Apa?” spontak aku berteriak dan membelalakan mata. Untung tak ada yang menyadari dengan teriakanku karena suasana gelak tawa anak-anak lebih menghebohkan dari suara apapun.
------******-------
Beberapa episode lagi akan TAMAT, semoga para readers menikmati novel perdanaku. Maaf yaa, aku selalu telat update, karena kesibukan jadi kurang mendapat inspirasi. Next time mau buat Novel yang sederhana aja, yang tidak sampai 100 episode. Kalau kepanjangan kok kaya capek fokusnya yaaa,,,,
Mohon doanya yaa para readers tercinta, semoga akum akin banyak belajar lagi untuk menulis, biar novelnya makin seru dan asyik dibacanya.
Dan jangan lupa untuk mampir di Novel keduaku dengan judul “ENGKAULAH PELABUHAN TERAKHIRKU”
Jangan lupa dukungannya ya : SUKA, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE
__ADS_1
Terima kasih