
NARITA POV
“Selamat bergabung, Narita!” Dave mengulurkan tangan kanannya memintaku berjabat tangan, aku pun menyambutnya.
“Kenapa kau tak katakan kalau magang di perusahaanku? tanya Dave kemudian.
“Maaf tuan, saya sendiri juga baru tau” mataku malah beredar ke beberapa orang yang kini makin menatapku dengan tatapan yang sepertinya tidak suka.
“Kalau begitu, kita berangkat dan pulang bareng saja!” dengan santainya Dave malah membahas masalah pribadi di kala semua bawahannya masih konsen memperhatikannya berbicara denganku. Aku justru yang dibuat tidak nyaman. Bagiku ini adalah obrolan pribadi tapi malah seolah menjadi konsumsi umum. Mungkin kalau di Indonesia, aku akan jadi bahan gunjingan se kantor.
“Hah? Tidak-tidak tuan. Terima kasih” tolakku ketika tiba-tiba dia menawarkan berangkat dan pulang kantor semobil. Bagiku kami tidak seakrab itu hingga membuatku nyaman berada di dekatnya.
Semuanya belum ada yang berani keluar ruangan karena sang penguasa masih di sana. Sementara Dave malah masih berdiri dan kami semua memang ngobrol sambil berdiri.
“Kalau satu tujuan, bukankah lebih efektif dan efisien bareng aja?”
“Kalau gak mau jangan dipaksa kak. Aku dan Jess juga sejurusan denganmu, apa pernah kau menawarkanku tumpangan?” Davis tiba-tiba menyela dengan suara yang sedikit kurang bersahabat.
Dave melirik tidak suka ke Davis.
“Narita, aku ingin membahas lebih lanjut analisamu tadi, datanglah dengan Adam ke ruanganku usai Ashar” tanpa menunggu jawabanku Dave langsung berlalu pergi, sedangkan para bawahannya mengekor di belakangnya.
“Na, buruan! Jangan sampai telat. 15 menit cukup kan?” Pak Adam nampak panik mendengar kami diminta rapat ke ruangan Dave. Aku menjawabnya dengan anggukan kepala lalu segera membereskan laptop dan ipadku, setelahnya kumasukkan ke tas lalu segera berlalu.
--- Ruang kerja Dave ---
Aku dan pak Adam sudah masuk ke ruangan Dave. Oleh sekretarisnya, kami diminta duduk menunggu di sofa yang ada di sana. Aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan ini. Ahh sungguh bodohnya aku bisa lupa bahwa perusahaan ini adalah salah satu anak perusahaan Oxley Company.
Kalau aku ingat-ingat, OXC selalu identik dengan interior yang seperti ini, kantornya yang di Indonesia juga demikian. Kenapa aku baru menyadarinya. Ehh bentar-bentar,,apa benar perusahaan sebesar ini adalah milik keluarga mereka?
__ADS_1
“Na,”
“Na!” setelah panggilan kedua kalinya, aku baru menyahut panggilan Pak Adam..
“I-i-iya pak”
“Kamu kenapa? Ngelamunin apa sih?”
Tanpa sengaja di salah satu rak hiasan terdapat foto-foto Karen.
“Maaf pak, saya sedikit mellow kalau melihat foto anak-anak. Jadi inget anak-anak saya” aku menjawab pertanyaan pak Adam sembari menatap deretan foto-foto lucu Karen.
“Itu anak Mr. Dave.” Tau mataku sedang memikirkan apa, pak Adam memperkenalkanku dengan Karen.
“Iya saya tau, Pak.” Pak Adam mengangguk.
“Eh bentar, apa tadi kau bilang? Kau punya anak?” suara pak Adam sedikit meninggi ketika mengatakannya.
“Aku tertarik dengan strategi pemasaran dan Analisamu tadi, Na. Bagaimana Adam? Apakah itu aplikatif?” setelah kami bertiga sama-sama duduk di sofa, Dave membuka pembahasan pekerjaan. Akhirnya aku terselamatkan dari pertanyaan kepo pak Adam.
Selama kurang lebih 1 jam kami membahas strategi, manajemen risiko dari strategi tersebut, dan alternatif-alternatif untuk meminimalisir risiko. Hingga jam menunjukkan waktunya pulang kantor, tapi aku masih berada di ruangan Dave.
“Kau nampak gelisah? Sudah tidak fokus membahas pekerjaan sepertinya?” entah tau darimana Dave mengetahui kegundahanku.
Ya aku memang selalu mengusahakan pulang tepat waktu, meskipun pekerjaan belum selesai. Lebih baik aku lanjutkan di rumah daripada harus kerja lembur di kantor. Mengingat aku harus sudah mempersiapkan makan malam sang penguasa, dan mengambil alih shift kerjaan merawat Karen.
“Tidak, tuan” jawabku bohong.
“Pulanglah bersamaku. Biar mobil yang kaubawa dibawa pulang Teddy” segera aku melirik ke Pak Adam yang nampak berpikir mendengar kata ‘pulang bersamaku’.
“Dia nanny Karen” melihat ekspresi pak Adam yang seperti meminta penjelasan, akhirnya Dave langsung menjelaskannya ke pak Adam.
__ADS_1
“Jadi kau sudah mengenal Karen, Na? Kenapa tadi seolah tak mengenalnya?”
“Dia tak nyaman kalau orang-orang tau kami tinggal seatap” jawab Dave enteng, tapi aku malah melotot padanya karena tak terima dia mengungkapnya begitu lebar.
“Owh” jawab pak Adam singkat.
“Maaf pak Adam, saya juga baru tau tadi sebelum acara rapat kalau tuan Dave adalah CEO kita” pak Adam tersenyum tipis sembari mengangguk anggukan kepalanya.
Tiba-tiba pintu ruangan Dave diketuk dari luar dan tanpa menunggu jawaban pintu itu langsung terbuka.
“Kak,,,” Davis yang sedianya akan mengatakan sesuatu tiba-tiba berhenti berbicara ketika menyadari ada aku dan pak Adam di sana.
“Maaf mengganggu!” sekilas Davis melirik padaku, lalu kembali keluar ruangan dan menutup pintu.
“Oke kita akhiri saja pembahasan kita kali ini. Nanti kita lanjutkan di lain kesempatan” Dave berdiri dan menunggu kami berdiri.
Akhirnya usai kami berpamitan, kami keluar ruangan ini. Ternyata di luar Davis masih menunggu.
“Pak Adam” sapa Davis sembari menganggukan kepala.
“Mari Mr. Davis” balas sapa pak Adam.
“Na, boleh bicara sebentar?” aku segera menghentikan langkah ketika Davis memanggilku. Dengan isyarat senyuman dan anggukan kepala, Pak Adam memberiku ijin.
“Bisa kita bicara di ruanganku!” Davis segera berjalan mendahuluiku dan akupun mengekor.
--- Ruangan Davis ---
Kami berdua duduk di sofa saling berhadapan. Davis belum memulai berbicara dan aku pun lebih memilih memandang penjuru ruangan ini. Ada beberapa bingkai foto yang menampilkan foto mesra Davis dengan Jess. Entah kenapa hatiku menjadi sedikit perih.
“Na, maukah kau menemaniku terapi besok siang?” pertanyaan Davis memecahkan sunyinya suasana ruangan, mendengar pertanyaan itu mataku membola penuh.
__ADS_1