CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
KECEMBURUANNYA


__ADS_3

Malam ini kami peserta tour menikmati makan malam romantis di pinggir pantai. Mengingat cottage yang kami tempati tepat berada di pinggir pantai, sehingga makan malam romantis ini tak perlu pergi jauh ke restoran pinggir pantai. Kami beruntung mendapatkan cottage yang cantik, dengan pemandangan laut lepas dan ketika malam tiba, pinggir pantai akan disulap menjadi tempat makan malam romantis. Suasana remang-remang, lampu bohlam warna kuning malang melingtang menghiasi langit. Masing-masing meja dihiasi lilin dari minyak dan dihiasi bunga kamboja warna warni. Wajah kami tak nampak jelas, hanya terlihat remang-remang.


Menu makan malam kami adalah berbagai macam seafood dengan beragam olahan. Satu meja bisa memuat 4 orang. Di meja Narita telah duduk manis sembari bercerita Narita, Sriti, dan dua orang cewek peserta tour yang pernah mereka kenal sebelumnya. Mereka terlihat asyik bercerita mengenai kerja mereka masing-masing, sesekali mereka tertawa ringan.


Di meja Davis telah duduk Alin, Bagas, Aldi, dan Davis dengan memegang gitarnya. Davis masih mencoba-coba menyesuaikan suara gitarnya dan seperti memikirkan lagu apa yang akan mereka nyanyikan kemudian.


“Bro, Sis, mau request lagu apa?” tanya Davis dengan mata masih fokus dengan petikan gitarnya.


“You are the reason, dong Sayang!” pinta Alin lekat memandang dengan penuh cinta. Davis menjawab dengan tanda tangan mengartikan OK.


Davis memulai intronya, lalu dia mulai menyanyikan lagunya solo. Setiap orang yang sedari tadi hanya sibuk dengan obrolan masing-masing, mulai menatap dan menikmati petikan gitar dan lantunan lagu yang dinyanyikan oleh Davis. Ketika lagu telah mencapai reff, seolah seperti dikasih aba-aba, mereka bersama-sama menyanyikan lagunya seolah seperti paduan suara. Davis masih konsentrasi menghayati petikan gitarnya dan lirik lagunya. Satu lagu telah selesai, dan semua orang riuh bertepuk tangan dan meneriakkan “lagi,,,lagi,,,lagi”.


Davis tak menanyakan lagu yang diinginkan audience nya. Dia langsung memetikkan gitarnya, intro, lalu mulai bernyanyi :


Teruntukmu hatiku


Inginku bersuara


Merangkai semua tanya


Imaji yang terlintas


Berjalan pada satu


Tanya s'lalu menggangguku


Seseorang itukah dirimu kasih


Kepada yang tercinta


Inginnya kumengeluh


Semua resah di diri


Mencari jawab pasti


Akankah seseorang yang kuimpikan 'kan hadir?


Raut halus menyelimuti jantungku


Cinta hanyalah cinta

__ADS_1


Hidup dan mati untukmu


Kau yang jawab


Dan tentang seseorang


Itu pula dirimu


Ku bersumpah akan mencinta


Kepada yang tercinta


Inginnya kumengeluh


Semua resah di diri


Mencari jawab pasti


Akankah seseorang yang kuimpikan 'kan hadir?


Raut halus menyelimuti jantungku


Cinta hanyalah cinta


Hidup dan mati untukmu


Kau yang jawab


Dan tentang seseorang


Itu pula dirimu


Ku bersumpah akan mencinta


Cinta hanyalah cinta


Hidup dan mati untukmu


Kau yang jawab


Dan tentang seseorang

__ADS_1


Itu pula dirimu


Ku bersumpah akan mencinta


Cinta hanyalah cinta


Cinta hanyalah cinta


Cinta hanyalah cinta


Hanyalah cinta


Davis memang lebih sering melihat dawai dan petikan gitarnya, meskipun sesekali untuk beberapa lirik lagu yang diperuntukkannya untuk seseorang, dia melirik dan sekian menit menatap seseorang itu. Meskipun seseorang itu nampak sedikit jauh darinya dan hanya nampak remang-remang. Sesekali padangan mereka bertemu, namun mereka tetap menikmati momen itu. Seolah mereka berdua bisa berbicara dari pandangan mata mereka. Ketika menyadari berkali-kali Davis menatap lekat ke arahnya, Narita tersenyum manis dan melambaikan tangannya. Namun Davis tak membalas dengan senyuman, hanya tekanan demi tekanan lirik lagunya seolah mengisyaratkan isi hatinya untuk seseorang yang sedang dipandangnya.


Lagu kedua berakhir dengan romantisnya, semua orang bertepuk tangan. Mereka mulai request lagu dan Davis mengabulkannya. Begitulah indahnya lagu-lagu yang mereka nyanyikan, menyatu dengan suara romantisnya deburan ombak.


Tiba-tiba, seorang pria menghampiri meja Narita dan menyapa “Narita? Kaukah itu?” tanyanya dengan menundukkan wajah dan mengamati wajah Narita yang hanya disinari cahaya redup. Dia seolah memastikan bahwa yang dilihatnya adalah orang yang dikenalnya.


Narita menoleh pada orang yang tiba-tiba menyapanya. Sekian menit dia mengamati wajah pria itu, butuh waktu untuknya mengingat siapa pria itu. Wajahnya familiar, tapi dia sulit mengingat di mana mereka saling mengenal.


“Iya….??” Narita masih menunjukkan wajah bingungnya, seolah bertanya siapa?


“Aku Beni, temen seangkatanmu waktu di SMA!” kata Beni kemudian, seolah paham dengan ekspresi wajah bingung Narita.


Narita masih mengkerutkan dahinya, berusaha untuk mengingat wajah temen SMA nya yang bernama Beni. Namun masih tak diingatnya juga, akhirnya Narita berbohong “Owh iya iya,,,kamu sama siapa ke sini? Lagi jalan-jalan juga?”.


Lalu Beni menarik kursi plastik ringan, diangkatnya, diletakkannya di deket Narita lalu dia duduki. “Aku ada acara gathering kantor. Nginepnya di cottage ini juga.”


“Tadi aku liat kamu dari kejauhan, awalnya sempet ragu-ragu, tapi pas kulihat status facebookmu dan fotomu, aku jadi yakin kalau ini kamu, Na” Beni bercerita dengan sesekali tersenyum.


“Owh kita berteman di facebook?” tanya Narita kemudian dengan keheranan.


Lalu Beni mengambil ponselnya, dia terlihat fokus ke layar ponselnya. Beberapa menit kemudian dia tunjukkan layar ponselnya dan berkata “Ini aku request friend sekarang ya!” katanya sembari cengengesan.


Narita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum, membuka layar ponselnya, membuka aplikasi facebook dan klik pertemanan dari Beni.


Aku masih belum inget sie, tapi nantilah aku stalking facebooknya.—batin Narita.


Lalu Narita dan Beni asyik ngobrol, sesekali tertawa kecil. Sesekali temen semeja mereka pun ikut ngobrol. Beni nampak mudah bergaul dengan siapapun walaupun baru pertama kenal dengan teman Narita, dan bahkan dengan Narita pun dia mengakui dulu tak kenal dekat. Dia baru familiar dengan wajah Narita setelah Narita selalu eksis mengupadate foto dan kegiatannya di media sosial (Friendster dan Facebook).


Mereka tak menyadari ada sepasang mata yang selalu intens memperhatikan meja mereka. Dengan mata dan wajah penuh kecemburuan.

__ADS_1


__ADS_2