CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
RASA PENASARAN


__ADS_3

AUTHOR POV


 


Entah apa yang sedang dirasakan Ali saat ini, dia sering begitu mudahnya mengucap kata-kata gombal ‘cantik’, ‘cinta’, ‘kagum’ pada Narita. Entah itu benar dari dalam lubuk hatinya yang terdalam, atau hanya sekadar bualan tanpa arti dan bobot sama sekali.


Beberapa menit kemudian, datang sepasang laki-laki dan perempuan dengan seorang anak kecil cowok yang digendong oleh laki-laki dewasa yang sepertinya adalah ayahnya. Ketika si cowok bule kecil itu diturunkan ke rerumputan, dia berlarian melempar mainan bola yang tadi dibawanya. Melihat itu, Karen seperti mendapatkan teman bermain. Dia yang tadinya dalam posisi di pangkuan Ali, tiba tiba menyerahkan botol minumnya lalu berlari kecil menghampiri cowok bule kecil tadi.


Narita dan Ali duduk tak berjauhan dari sepasang orang tua anak cowok tadi. Mereka intens mengamati betapa mudah akrabnya mereka meskipun ini kali pertama mereka bertemu. Berlarian mengejar bola, berteriak, sesekali ngobrol yang terkadang masih bisa dimengerti tapi terkadang juga susah diartikan. Narita dan Ali tersenyum memperhatikan polah tingkah lucu dan aktif mereka.


Tiba-tiba, senyum Narita nampak meredup. Tatapannya kosong seolah tengah menatap Karen dan temennya. Ali yang menyadari perubahan ekspresi Narita, dibuat penasaran.


“Mikirin apa Na?” 


“Aku inget seseorang nan jauh di sana”


“Pacarmu kah?” mendengar ucapan Ali, Narita langsung menoleh ke arahnya lalu tersenyum kecil.


“Bukan.”


“Mereka berdua mengingatkanku akan seseorang” Narita menatap lekat pada Karen dan temennya.


“Owh,,, inget keponakanmu?” tanya Ali sok tau.


“Gak mungkin kan inget anakmu? Kamu bukan tampang wanita yang sudah memiliki anak Narita!” lanjut Ali berucap namun hanya ditanggapi senyuman oleh Narita.


Narita masih menutup diri dari pembahasan yang bersifat pribadi mengenai dirinya. Bukan karena dia tak mengakui anak-anaknya, tapi lebih kepada tak ada urusannya juga dengan orang yang dia ajak berbicara.

__ADS_1


Tiba-tiba sepasang laki-laki dan perempuan bule tadi menghampiri Narita dan Ali.


“Hai…” sapa si wanita.


“Hai juga…” sapaan balasan dari Narita sementara itu Ali hanya tersenyum.


“Berapa usia anak kalian? Mereka nampak sangat akrab meskipun baru kenal” tanya si wanita.


Mendengar pertanyaan itu, Ali dan Narita tak langsung menjawabnya. Mereka masih cukup kaget mengingat mereka menyebut Karen dengan istilah ‘anak kalian’


“Aamiin” ucap Ali lirih sembari mendekatkan bibirnya ke telinga Narita, membuat Narita tergelak kaget dan menatapnya dengan mata melotot.


“Namanya Karen. Usianya 15 bulan” jawab Ali kemudian.


“Nice” jawab si laki-laki.


“Alex, Alexander. Usia 14 bulan” jawab si laki-laki itu lagi.


“Sering ke sini kah?” lanjut si laki-laki bertanya.


“Biasanya mommy nya yang sering mengajaknya ke sini” ucap Ali sambil melempar pandangan pada Narita, namun segera dipelototin oleh Narita.


“Karen cantik. Perpaduan asia, eropa, dan timur tengah ya?” lanjut ibu Alex, namun hanya dijawab senyuman oleh Ali dan Narita. Kali ini Ali tak berani berucap karena takut dipelototin kembali oleh Narita.


“Kapan-kapan kalau ke sini, kita janjian aja, sepertinya Karen dan Alex sangat ceria bermain bersama!” ucap ibu Alex lagi karena pertanyaannya tak segera mendapat jawaban.


“Iya. Boleh minta nomor handphonenya?” tanya Narita sembari memegang hpnya dan bersiap memasukkan nomor yang akan disebutkan oleh ibu Alex.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya ngobrol ke sana kemari. Setelah cuaca sedikit terik, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


Narita membawa Karen ke area bermain outdoor yang sengaja dibuat tak jauh dari kebun yang diurus Narita. Selama Narita tinggal di sana, dia memang meminta dibuatkan beberapa area bermain outdoor untuk Karen, karena menurutnya anak itu harus bisa mengexplore lingkungannya, jangan hanya di dalam rumah saja kalau seandainya rumahnya memiliki halaman. Narita pun selalu rutin mengajak Karen ke taman, meskipun taman di rumahnya tak kalah besar dan bagus. Tapi menurut Narita, adakalanya anak-anak seusia Karen yang memang belum sekolah tetap membutuhkan teman sebagai ajang untuk bersosialisasi.


Setelah Karena terlihat kecapekan, dia segera menuntun Karen masuk rumah utama, membersihkan diri di toilet kamar Karen, mengganti bajunya dengan baju rumahan yang lebih nyaman, memberikan susu, lalu membacakan cerita sambil Narita tiduran di pangkuannya. Biasanya kebiasaan ini akan membuat Karen tertidur dengan cepat dan nyenyak.


Segala hal yang berhubungan dengan Karen, selalu dilaporkan oleh Drake kepada Dave. Dan Dave sangat senang mendapat informasi bahwa Karen tidak pernah rewel, menangis gak jelas, dan malah selalu terlihat ceria.


Ada rasa sedikit bersalah di dalam hati Dave ketika dia mengingat bahwa selama ini ia tak pernah sekalipun menemui Karen ketika bocah itu tidak dalam keadaan tidur. Bahkan jika anak itu sudah mengenal orang di sekitarnya pun, sudah bisa dipastikan dia tak pernah mengenal Dave. Namun mau bagaimana lagi, ada rasa kecewa dari dalam diri Dave apabila dia mengingat ibu dari Karen.


 


--- Di kantor Dave ----


Ponsel Dave menandakan adanya pesan masuk. Dia segera meraihnya dan membuka pesan yang disampaikan kepadanya. Nampak Karen yang sedang bermain dengan anak bule cowok. Mereka berdua begitu cerianya bermain bersama. Namun ada 1 foto yang mencuri perhatian Dave, dia melihat Karen sedang mengejar seorang wanita berhijab. Hijab besar yang tertiup angin, baju dan roknya yang longgar pun turut melambai-lambai malah justru memberikan kesan anggun baginya. Namun sayangnya tidak nampak dengan jelas wajahnya. 


“Apakah dia yang bernama Narita? Sholehah sekali” ucap Dave pelan dengan sedikit menarik ujung bibirnya.


Ya, kali ini Dave mendapatkan pesan gambar itu dari Ali. Hubungan Dave dan Ali memang bisa dibilang cukup dekat, meskipun mereka hanya bertemu di kala Subuh saja.


2 bulan kemudian


Narita sudah 2 bulan ini selalu memasak untuk Karen dan Daddynya. Meskipun Drake memintanya untuk memasak di dapur rumah utama (sesuai instruksi Dave), tapi Narita selalu menolak karena menurut dia dapur rumah utama adalah tempatnya para chef, sementara dia hanyalah tukang masak amatiran. Dan bahkan selama 2 bulan ini, Dave tidak hanya meminta menu sarapan saja tapi juga makan malam. Baginya, semua masakan yang Narita masak, ENAK.


Atas segala daya dan upayanya, Narita mendapatkan gaji yang sangat banyak, melebihi uang bulanan dari beasiswanya. Meskipun niat utama bekerja bukan untuk mencari uang, tapi dengan bekerja dia sekaligus belajar untuk menjadi ibu yang baik untuk anaknya kelak. Dia berjanji untuk menebus waktunya saat ini yang tak bisa mendampingi tumbuh kembang anak, kelak sekembalinya dia dari tugas ini, dia akan mengabdikan hidupnya untuk anak-anaknya dengan tidak mengesampingkan ilmu yang diperolehnya dari beasiswa ini.


Kembali lagi ke Dave. Selain rutin memakan masakan Narita, selama 2 bulan lebih ini dia selalu berusaha untuk menemui Narita secara diam-diam. Dia sengaja tak meminta Drake untuk mempertemukannya dengan Narita karena walau bagaimanapun juga, tingkat kegengsian Dave sangat tinggi. Selama ini dia tak pernah berhubungan langsung dengan para asistennya, tapi selalu melalui Drake. Hal itulah yang akan selalu dipertahankannya, meskipun terus terang dia penasaran dengan sosok yang bernama Narita.

__ADS_1


__ADS_2