
NARITA POV
Kini mereka telah kembali ke rumah. Drake menyambut kepulangan tuan besarnya di halaman depan rumah karena biasanya kalau tuannya nyetir sendiri, begitu tuannya turun dari mobil dia akan langsung mengambil alih mobil lalu memarkirnya dan membawa serta turun barang-barangnya.
Namun kali ini begitu mobil berhenti sempurna, aku segera turun dan menuju ke pintu tempat duduk Karen. Karen yang tengah tertidur dengan sigap aku gendong dan aku melupakan untuk menggendong diaper bagnya yang terletak di sisi Karen. Namun aku terkesiap saat aku tengah bingung menatap diaper bag yang teronggok, tiba-tiba dari pintu sebelah, Dave membukanya lalu dengan cepat dia ambil tas itu.
“Tuan, biar tas Karen saya yang bawa!” Drake bermaksud merebut tas itu dari pegangan Dave, namun tangannya segera menepisnya.
“Yang ini biar kubawa sendiri. Tolong kamu bawakan barang-barang belanjaan di belakang, ada 1 dasi tolong pisahkan dan bawa ke kamarku, barang yang lainnya segera kamu letakkan di depan kamarnya!” Dave menunjuk ke arah kami dengan dagunya.
Dengan langkah cepat Dave berjalan menuju pintu masuk, dan aku pun mengikutinya dengan langkah cepat. Namun saat kami sampai di ruang keluarga, Dave menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Aku yang dengan langkah cepat dan jarak kami yang sangat dekat sehingga tanpa bisa menghindar aku menubruknya dan aku pun hampir terjatuh.
“Astaghfirullah” tangan Dave bergerak cepat hingga meraih lalu menumpu punggungku agar tidak terpental ke belakang.
“Lain kali hati-hati, jalan pake mata jangan nunduk terus!” ucapnya ketus membuatku bener-bener sakit hati.
“Kalian dari mana?” aku yang sedang fokus dengan peristiwa barusan, baru menyadari keberadaan Davis di sana. Dia berjalan pelan, menelisik aku, Karen, dan Dave, dari ujung kaki sampai mata kami bertemu.
“Mall” jawab Dave datar sembari melanjutkan jalannya namun kali ini dia berjalan pelan menuju dapur.
Aku yang kerepotan menggendong Karen yang tubuhnya sudah bertumbuh besar, ditangkap oleh netra Davis. Tanpa meminta persetujuanku, dia segera mengambil alih Karen lalu membawanya menaiki tangga menuju lantai 2.
Kulihat Dave yang sedang meminum air putih memperhatikan gerak gerik Davis sampai dia menaiki tangga, lalu dia beralih menoleh padaku. Masih dengan tatapan dinginnya, entah aku kurang mengerti arti tatapan matanya kali ini. Aku segera memutus tatapannya, lalu berjalan cepat menyusul Davis dan Karen.
__ADS_1
Saat aku membuka pintu kamar, kulihat Davis sudah menidurkan Karen di tempat tidurnya, lalu dia menyelimutinya, dan AC sudah dalam posisi on.
“Terima kasih” ucapku sembari mendekatinya.
“Hati-hati dengan Kak Dave! Tidak hanya bicaranya saja yang kasar dan ketus, tapi dia juga ringan tangan” Davis berbicara pelan saat dia sudah berdiri kembali di depanku.
“Maksudnya?” aku masih tak mengerti dengan maksud DAVIS mengatakan itu padaku.
“Aku tau dia mungkin mulai menyukaimu! Makanya kamu harus hati-hati!” Davis mendekatkan wajahnya ke telingaku dan membisikkan peringatan itu.
Lalu sontak aku menoleh padanya dengan dahi berkerut. Perkataan Davis barusan sama sekali tidak berdasar. Mana ada orang menyukai seseorang kok bicara selalu datar, ketus, dan bersikap menyebalkan, tentu saja hal itu akhirnya aku anggap pepesan kosong.
Davis lalu tersenyum tipis sembari melangkahkan kakinya pelan meninggalkanku yang masih berdiri termangu. Saat Davis sudah di depan pintu, tiba-tiba pintu didorong dari luar, untungnya Davis segera menahan pintu itu agar tidak mengenainya. Perlahan seseorang dari luar membuka pintu.
“Kupikir kau sudah naik Kak?” Davis memperhatikan Dave yang dengan santainya melenggang masuk ke kamar.
Dave meletakkan diaper bag di atas nakas samping tempat tidur Karen, lalu dia berbalik bermaksud menuju ke arah pintu. Saat melewatiku dia lalu berkata “Kalian hanya berduaan di dalam kamar, dengan pintu tertutup, apa yang kalian lakukan?”
Kini Dave sudah berdiri tepat di depan Davis yang sedari tadi belum juga beranjak keluar kamar.
“Aku hanya membantunya menggendong Karen dan menidurkannya ke dalam kamar. Masalah?” Davis kini menatap Dave. Mereka saling bertatapan dengan tajam.
“Tolong kalian kalau mau ribut, jangan di sini! Suara kalian bisa membangunkan Karen” kedua kakak beradik itu langsung beralih menatapku tajam.
Sejujurnya tatapan mereka membuatku takut, walau bagaimana pun juga mereka adalah orang yang menggajiku, mereka pasti akan tersinggung ketika aku turut serta dalam pertengkaran mereka. Namun tak berapa lama akhirnya Dave keluar tanpa mengatakan apapun dan disusul Davis di belakangnya.
__ADS_1
Usai kepergian mereka, aku dapat bernafas lega. Aku kemudian membongkar diaper bag, mengeluarkan barang-barangnya dan menatanya kembali di tempatnya. Setelah itu aku keluar kamar Karen.
Aku kembali terkejut ketika melihat beberapa kantong belanjaan tergeletak begitu saja di depan pintu kamarku. Aku sangat mengenali brand dan kantong itu.
“Ini kan belanjaan yang tadi. Kok tuan Drake taruh di sini sie?” aku melewatinya begitu saja, lalu masuk ke kamar.
Esok hari, aku disibukkan dengan memasak camilan untuk sajian seminar nanti. Iya, hari ini adalah jadwalku mengadakan seminar penelitian. Aku telah meminta ijin tuan Drake untuk seharian ini tidak bisa mengasuh Karen. Camilan yang kubuat adalah siomay. Usai semua siomay selesai kumasak dan membuat bumbunya, aku menempatkannya di sebuah wadah satu per satu.
“Perlu bantuan?” salah seorang pelayan wanita mendekatiku.
“Boleh kalau tidak merepotkan. Terima kasih” ucapku kemudian.
Akhirnya aku dan teman kerjaku bersama-sama membungkus siomay pada wadahnya. Karena bantuannya, pekerjaan ini jadi lebih cepat selesai.
--- kampus ---
Acara seminar berlangsung dengan lancar. Para audience juga sangat menikmati sajian camilan yang kubuat.
“Selamat Narita, kamu bisa lanjut ke tahap selanjutnya!” ucap Prof. Mark.
“Terima kasih, Prof” jawabku.
“Na, kamu harus magang di perusahaan yang aku rekomendasikan! Ini perusahaan bagus sangat cocok untuk kelanjutan penelitianmu. Kamu bisa memberikan beberapa rekomendasi di sana!” lanjut Prof. Stanly.
“Baik, Prof. Saya siap magang di mana saja”
__ADS_1
“Nanti aku kirimkan nama dan alamat perusahaannya serta contact personnya. Mereka sudah mendengar ceritaku tentangmu dan mereka sangat excited untuk segera bertemu denganmu. Mereka berharap kamu bisa segera bergabung dengan perusahaan mereka”
“Terima kasih Prof atas rekomendasinya. Saya sangat beruntung bisa menjadi mahasiswa ampuan Prof. Mark dan Prof. Stanly” mereka pun mengangguk dan tersenyum lalu pergi meninggalkan aula.