CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
KATA-KATAMU MENUSUK HATIKU


__ADS_3

DAVE POV


 


Setelah mendengar berita bahwa Teddy sudah menemukan identitas wanita itu, segera aku melajukan mobil kembali ke kantor. Setibanya di kantor, aku segera meminta meminta petugas untuk memarkir mobilku dan sedikit berlari menuju lift. Sesampainya di depan ruanganku, kulihat Teddy segera berdiri dan menyapaku. Aku memintanya langsung masuk ke ruangan. Kini kami berdua duduk di sofa ruang kerjaku.


“Apa yang kau ketahui Ted?” tanyaku segera.


“Ini, tuan!” Teddy menyerahkan map seukuran kertas F4 berwarna coklat, segera aku meraihnya, membukanya, dan melihat dokumen-dokumen yang ada di dalamnya.


“Kau yakin cuma ini?” aku hanya menemukan foto-foto Davis bersama dengan gadis berwajah indo campuran. 


“Iya, tuan”


“Kalau cuma ini, aku juga sudah tau, Ted” kulempar map yang sudah terbuka beberapa isinya itu ke atas meja. Aku kecewa dengan kinerja Teddy kali ini, kenapa hanya ini yang ditemukannya.


“Apa Anda mencurigai seseorang, Tuan? Aku bisa segera menelusuri dari pihak yang Anda curigai itu tuan. Karena sangat sulit kalau menelusuri dari sisi Davis, mengingat Rio tangan kanannya sudah tiada”


Aku pun berpikir sejenak. Ada benarnya juga yang disampaikan Teddy, tapi aku ragu menyebutkan nama seseorang itu. Bagaimana kalau seandainya benar? Dan bagaimana kalau seandainya tidak benar tapi dia tau kalau aku sedang menyelidikinya?


“Gak ada, Ted. Aku tidak mau tau, kau harus terus melanjutkan penelusuranmu!” aku memilih berbohong daripada menyebutkan namanya untuk diselidiki.


Usai itu, aku meminta Teddy untuk kembali ke ruangannya. Aku segera meraih laptop dan berjalan keluar ruangan.


“Kalau ada hal penting, kabari aku, aku di café bawah” aku berpesan pada sekretarisku dia pun menjawab dengan sopan.


Sesampainya di café, aku duduk di kursi yang nyaman di sudut ruangan. Ketika aku sedang banyak pikiran, aku lebih memilih untuk duduk menyendiri di café dengan ditemani musik mellow dan memesan kopi panas. Mungkin dulu ketika miras bukan hal yang haram, aku akan memilih pergi ke tempat yang hingar bingar dengan ditemani miras. Namun kini sudah berbeda.


Hingga 30 menit kemudian, dari arah pintu lobby aku lihat Davis dan Narita datang berdampingan. Café yang letaknya di atas lobby sangat leluasa untuk melihat apa yang terjadi di pintu lobby. Mereka nampak berjalan biasa saja, bahkan terkesan seperti sedang ada masalah. Sepertinya aku terlalu berlebihan menilai kedekatan mereka.

__ADS_1


NARITA POV


Sepanjang perjalanan kembali dari rumah sakit ke kantor, Davis cukup ramai untuk memulai obrolan. Sementara itu, aku hanya menjawab sekenanya. Aku masih memikirkan apa yang terjadi tadi ketika di dalam ruang terapi.


Dengan mata dan telingaku sendiri, aku mendengar bahwa Davis menceritakan tentang kisahnya denganku di masa lampau. Dia mengingatku di dalam hatinya yang terdalam.


“Na, na, kita sudah sampai”


“Ya,,,” Davis sudah membukakan pintu mobil untukku, segera aku menurunkan kaki untuk keluar. Tangan Davis sudah berada di atas kepalaku bermaksud untuk melindungi agar kepalaku tidak terbentur.


“Terima kasih” ucapku kemudian.


“Sama-sama. Terima kasih juga sudah menemaniku” senyumnya sembari menggiringku untuk masuk ke lobby. 


Ada perasaan aneh di dalam hatiku. Aku senang ketika dia masih mengingatku, tapi aku jujur takut melangkah lebih jauh lagi. Pernah ada pernikahan di antara kami, tapi secara negara pernikahan kami sama sekali tidak pernah diakui. Ditambah kini dia sudah memiliki seseorang yang akan mendampinginya, seseorang yang sudah pasti mendapat restu dari semua pihak, tidak sepertiku dulu, bahkan Davis merahasiakan pernikahan kami dari kedua orang tuanya, mungkinkah karena dia tau bahwa kami mungkin tidak akan pernah mendapatkan restu mereka?


“Na, kita makan dulu ya!” lamunanku tiba-tiba buyar karena Davis sudah menggiringku ke café.


“Assalamu’alaikum kak” sapanya.


“Wa’alaikum salam” jawab Dave malas, dia melirikku sebentar lalu beralih melihat Davis yang sudah membukakan kursi untukku.


“Terima kasih” ucapku kemudian.


Lalu kami berdua memesan makanan dan minuman.


“Kami gak mengganggumu kan kak?” tanya Davis pada Dave yang masih menatap laptopnya.


“Sebenarnya aku ingin sendiri, tapi gak mungkin juga aku mengusir kalian yang sudah duduk!” jawabnya ketus sembari melirik kami berdua bergantian.

__ADS_1


Mereka berdua kakak beradik, tapi keduanya memiliki sifat yang berseberangan. Dave jaauuh lebih dingin, cuek, angkuh, sementara Davis meskipun terkadang terlihat angkuh namun dia lebih ramah, terbuka, dan sangat mudah membuat para wanita baper.


“Kakak tumben duduk di sini sendirian?” tanya Davis yang hanya dibalas dengan lirikan mata sekilas lalu Dave kembali menatap laptopnya.


“Kakak gak menanyakan mengenai terapiku?” lanjut Davis. 


“Sudah seberapa jauh kamu mengingat masa lalumu setelah memintanya menemanimu?” Dave bertanya tanpa melihat yang diajak bicara. 


Dari nada bicaranya, sudah bisa dipastikan kalau ‘nya’ yang dia maksud adalah aku. Kenapa dia seolah tidak suka kalau aku menemani Davis terapi? Bukannya kalau itu demi kesembuhan Davis, dia seharusnya bersyukur ya? 


“Aku mengingat seseorang tapi entah dia masa laluku atau masa depanku kelak” jawab Dave sembari tersenyum ke arahku.


Pada saat itu pula aku sedang memandangnya dan untuk beberapa saat mata kami saling bertatapan. Aku melihatnya tersenyum, tapi aku justru mungkin memperlihatkan ekspresi konyol. Aku terperanjat mendengar penuturan Dave, dia mengingatku dan mengatakan kalau ‘aku masa depannya’?


“Seseorang? Apakah saat ini dia sudah ada di antara kita?” tanya Dave menelisik dan sepertinya tau seseorang itu siapa.


“Anehnya, iya.”


“Siapa?”


Tiba-tiba seorang pramusaji menyajikan makanan yang tadi kami pesan. Akhirnya pembahasan kami terhenti sesaat.


“Dia” jawab Davis sembari menoleh padaku dan aku makin melotot dengan kejujurannya.


Dave nampak tersenyum sinis sembari melirik kami berdua bergantian. Aku sendiri tidak mengerti dengan senyuman smirk nya itu. Apa sebenarnya yang ada di dalam benaknya.


“Kalau kau bilang, dia masa lalumu, bisa iya bisa tidak. Tapi ingat, kau sudah bertunangan dengan Jess, jangan kau lukai hati wanita untuk yang kesekian kalinya, Davis!” nada sedikit keras keluar dari mulut Dave.


“Dan kau, Narita! Aku tidak membutuhkan pengakuan atau pernyataanmu. Yang terpenting saat ini adalah kau harus menyadari sepenuhnya bahwa Davis telah bertunangan! Kau bukanlah siapa-siapa untuknya!” lanjut Dave.

__ADS_1


DEG


Kenapa kata-kata Dave terasa sakit menusuk hatiku. Kenapa dia sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk berbicara? Kenapa pula Davis tidak menanyakan langsung kepadaku tentang kebenaran yang ada di memorinya? Kenapa aku sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan yang sejujurnya bahwa AKU ADALAH ISTRI DAVIS?


__ADS_2