CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
PERDEBATAN 2


__ADS_3

DAVIS POV


 


Pagi ini aku datang ke kantor dengan senyum yang selalu mengembang. Bahkan beberapa staf yang berpapasan denganku menampakkan wajah kebingungan kala aku membalas sapaan mereka dengan cukup hangat. Mungkin inilah yang orang selalu bilang ‘aura pengantin baru’.


Sebagai asisten pribadiku, Rio selalu menemaniku kemana pun aku pergi. Berangkat dan pulang kantor selalu satu mobil karena dia pun tinggal di salah satu paviliun di dalam rumahku. Saat aku masuk ke lift yang hanya ada aku dan Rio aku pun kembali mengingatkannya “Rio ingat! Satu, tolong rahasiakan pernikahanku dengan Narita. Dua, segera urus berkas-berkas pernikahanku di KUA. Tiga, pastikan orang-orang suruhanmu untuk tutup mulut.”


“Baik, Mr. Jangan khawatir. Saya pastikan selesai dalam minggu ini!” jawabnya mantap.


“Bagus! Kalau selesai minggu ini, minggu depan sudah bisa aku umumkan!” aku tersenyum Bahagia.


“Tapi Mr, Apa tidak apa kalau Mr tidak memberi kabar Grandpa?” raut wajah Rio khawatir.


“Setelah buku nikah ada di tangan, aku pasti akan mengabarkan padanya” aku menepuk pundaknya seolah aku tengah menghiburnya, padahal harusnya aku yang khawatir.


“Kalau dia tidak setuju dengan pernikahan ini, bagaimana?” tanya Rio lagi.


“Saya Cuma kasian sama Narita, Mr. Takutnya nanti Grandpa akan berbuat sesuatu kepadanya”


“Setuju atau tidak, yang penting pernikahanku telah sah di mata agama dan negara.”


“Aku pastikan Narita aman.” Jawabku penuh keyakinan dan dia pun mengangguk angguk tanda paham.


Setelah kami turun lift, Rio segera berpamitan ke ruangannya sembari mengingatkanku “Mr, jadwal hari ini sudah disusun Permata.” Lalu aku menjawabnya hanya dengan menganggukan kepala.


“Pagi Mr” sapa sekretarisku Permata, setelah aku berada di dekatnya.


“Pagi, Permata.” Aku berhenti sejenak di depan mejanya, lalu dia pun akhirnya berdiri dengan masih tersenyum padaku.


“Pagi ini cerah sekali, Mr?” tanyanya kemudian.


“Iya dong. I love Monday” kataku masih memainkan ponselku sesekali melihat ke arahnya.


“Agendaku hari ini apa aja?” kumasukkan kembali ponselku.


“Nanti jam 08.00 ada pemotretan untuk iklan di aula besar lantai 2”


“Jam 13.30 ada rapat rutin dengan semua bagian”


“Jam 15.00 ada rapat dengan pihak kontraktor yang di Bali melalui online”


“Jam 17.00 rapat dengan Mr Lee di hotel kita yang di jalan Kenanga”


“Sudah itu aja Mr.” terangnya.


“Tolong sampaikan ke Alin, untuk rapatku yang dengan Mr. Lee cukup aku sama Rio saja yang datang!” 


“Baik, Mr.”


“Kirim jadwal hari ini melalui wa ya!” setelah melihatnya mengangguk dan menjawab permintaanku, aku segera balik badan dan masuk ruanganku.

__ADS_1


Setelah aku duduk di kursi kebesaranku, aku nyalakan laptop, dan sembari menunggunya menyala sempurna, aku kembali melihat gallery foto di ponselku.


Senyumku kembali mengembang melihat foto-foto Narita tadi pagi saat aku terbangun lebih dulu. Beberapa kali aku mengambil gambarnya. Tidurnya yang lelap yang menampakkan wajah polos seperti halnya bayi yang tengah tertidur pulas, ah lucunya dia. Aku mengelus pelan pipi Narita di layar ponselku. Aku masih sedikit tersenyum.


Namun tanpa aku sadari, Alin sudah berada hampir di sampingku.


“Kamu!!! Kalau masuk ruangan orang, bisa gak ketuk pintu dulu!” aku sedikit keras karena kesal dengan kebiasaannya.


“Ck,,jangan berlebihan deh Vis. Biasanya juga aku masuk begini, kamu gak komplen!”


“Lagian aku kan penasaran, ngapain pagi-pagi udah ketawa-ketawa sendiri di depan handphone!”


“Selama ini aku biarkan karena aku fikir kamu bakal mengetahuinya sendiri, ternyata semakin kubiarkan semakin gak tau aturan!”


“Alaah udah deh, gak usah marah-marah. Pagi-pagi udah marah-marah, bikin badmood seharian tau gak sie?” Alin pun meluapkan kekesalannya.


“Kemaren pagi kamu kemana aja?” tanya Alin setelah dia duduk di kursi depan mejaku.


“Kenapa? Kepo banget” aku menjawabnya santai tanpa melihatnya.


“Biasa aja. Kebetulan kemaren habis jogging beli soto terus pulangnya lewat depan rumahmu, makanya sekalian mampir!”


“Adalah pokoknya.”


“Kapan ke Australi lagi?” tanyanya kemudian.


“Belum tau, masih sibuk kerjaan di sini!”


“Masih sama” jawabku pelan tanda lemah.


“Dua-duanya?”


“Iya”


“Kasian Kak Dave! Dia harus mengurus 3 orang sekaligus belum lagi perusahaan-perusahaannya!”


“Mau gimana lagi? Perusahaan Mommy Daddy yang di sini juga kan harus diurusin”


“Hufh,,,terus kapan kita nikahnya kalau begini ceritanya?” nada suaranya terdengar galau.


“Kita? Sorry lin, dari sejak dulu sampai sekarang aku tegaskan kalau aku gak bisa menikahimu! Tolonglah kamu mengerti!” saat ini aku menatapnya meminta dia mengerti.


“Vis, kamu tau aku udah mencoba pacaran sama cowok lain, tapi nyatanya mereka hanya mampu memuaskanku melalui hubungan s**s, selebihnya enggak.”


“Aku gak merasakan cemburu, kangen, bahagia mendengar rayuannya, atau apalah!”


“Itulah alasanku kembali padamu”


“Kembali?” aku mengulang satu kata yang diucapkannya.


“Kita tidak pernah bersama sebelumnya jadi jangan pernah bilang kembali.”

__ADS_1


“Kalau boleh aku simpulkan kamu gak bisa menjadikan cowok-cowok yang sudah memuaskanmu sebagai suamimu, kamu gak merasakan cemburu, kangen, dan bahagia bersamanya, karena kamu tidak mencintainya. Begitupula halnya denganku, Lin. Aku gak ada perasaan sama kamu, jadi gak bisa kamu paksakan. Kalau aku dipaksa bersamamu, yang ada aku akan merasakan hampa di sini! Tidak ada cemburu, kangen, sayang, dan kebahagiaan” aku mulai membalikkan kata-katanya.


“Oke gimana kalau kita buktikan dulu!” tantangnya.


“Bukti? Maksudmu?”


“Ayo kita tidur!” ajakan Alin membuatku melotot saat itu juga.


“Gila kamu!” teriakku.


“Jangan ngaco kamu, Lin!”


“Kenapa? Kamu takut?” tantangnya lagi masih menatapku lekat.


“Aku sudah bukan Davis yang dulu lagi! Jangan pernah kamu memintaku berbuat seperti itu!”


“Aku bukan lelaki gampangan atau lelaki yang cuma memanfaatkanmu, mengajakmu tidur hanya untuk kepuasan belaka!”


“Bagiku hal itu harus dilakukan di dalam ikatan resmi pernikahan!”


“Hahhahaha, sejak kapan kamu jadi pak Ustadz, Vis!”


“Kita itu sama”


“Jangan sok suci! Jangan muna deh loe!” ledeknya.


“Iya gue tau, gue bukan lelaki suci. Tapi minimal sekarang gue mau berubah jadi lebih baik. Apa salah?” aku mulai mengganti panggilan menjadi ‘loe’ dan ‘gue’ karena merasa jengah dengan perdebatan ini.


“Masih mending gue, Vis. Gue cuma tidur sama cowok yang berstatus pacar gue! Nah loe?”


“STOP, LIN!!!” aku mulai kesal dan berteriak. Aku ingin mengakhiri perdebatan ini.


“Kalau loe masih mau bahas selain urusan kerjaan di sini! Silahkan keluar!” aku berdiri dari kursiku, lalu menunjuk ke pintu keluar.


“Hilang deh mood gue buat pemotretan!” dia pun berbicara ketus sembari berdiri dan berlalu dari pandanganku.


Pintu ruangan sengaja dia banting hingga suaranya terdengar keras dan cukup mengagetkan.


Tak berapa lama, telpon di mejaku berbunyi, lalu aku angkat.


“Mr. sudah jam 08.00 jadwalnya pemotretan di aula besar lantai 2” suara Permata di telepon.


“Tolong kamu cek, apakah semua sudah ready? Aku gak mau kalau harus menunggu lagi!”


“Baik, Mr. Tunggu sebentar”


Lalu aku tutup telpon, namun 5 menit kemudian Permata menginformasikan bahwa semua sudah siap, tinggal menungguku, bahkan Alin sudah berada di sana.


Aku menghela nafas panjang dan membuangnya kasar ketika mendegar namanya disebut. Perdebatan kami barusan sudah membuatku malas untuk bertemu dengannya apalagi pemotretan. Namun aku juga tidak mungkin membatalkannya, karena untuk urusan pekerjaan aku harus professional.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2