CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
SALING MEMAAFKAN DAN MENERIMA KEMBALI


__ADS_3

NARITA POV


 


Aku tak langsung menjawab pertanyaan Abel. Aku memencet kunci mobil dan sesaat sebelum masuk mobil, aku masih berucap “Nanti saatnya tiba aku akan beritahu semua orang” lalu aku masuk mobil. Kulihat dari dalam mobil, Abel masih bengong dan terdiam. Saat mobilku hendak maju, aku sengaja memencet klakson agar dia minggir, lalu dia dengan sukarela minggir. Aku heran dengan sikapnya, kenapa dia masih terbengong seperti itu? Apa yang dipikirkannya?


Mobil melaju membelah jalanan ibu kota menuju komplek rumah suamiku. Saat aku memasuki pelataran rumah, mobil Davis sudah terparkir rapi di sana. Namun ketika hendak turun mobil, ponselku berdering dan kulihat nama Daniel. Aku kembali masuk ke dalam mobil dan mengangkat telponnya di dalam mobil.


“Hallo, Niel! Ada apa?”


“Aku denger gosip yang menyebar hari ini! Apa bener Mr. Dav yang mengirimimu bunga dan nraktir makan siang temen-temen seruanganmu?”


“Iya.”


“Dalam rangka apa?”


“Memang kalau mau ngasih bunga dan makanan harus ada momen spesial ya?”


“Kamu dan Arnold kan sering juga tuh”


“Apa kamu menolaknya makanya dia semakin gencar mencari perhatian dengan memberimu bunga dan nraktir temenmu?”


“Aku hargai niat baik orang, Niel!”


“Yang jelas kalau sudah aku jawab, yaa komitmen akan kupegang teguh selamanya. Kecuali Allah yang maha membolak balikkan hati manusia bisa merubah hatiku”


“Na, kami sedang kumpul-kumpul, kamu tidak berniat memperkenalkan tunanganmu ke kami?” Daniel nampaknya memancingku penasaran dengan sosok tunanganku.


“Belum waktunya, Niel!”


“Apa yang kamu tunggu? Apa salahnya memperkenalkan tunangan ke kami?”


Aku hanya terdiam dan tak menjawabnya.


“Oke. Selama kamu belum memperkenalkan tunanganmu, aku akan terus memberikanmu perhatian. Aku hanya berharap Allah membalikkan hatimu untuk memandangku” ujar Davis kembali.


Hufh,,,aku hanya bisa menghela nafas panjang.

__ADS_1


“Kalau Mr. Dav aja boleh melakukannya, berarti aku pun memiliki kesempatan yang sama!” tanpa mendengar jawabanku, Daniel langsung menutup telponnya.


“Iiihhh nie orang udah maksa, gak sopan lagi. Main asal tutup telpon aja!” aku menggerutu kesal.


Lalu aku keluar dari mobil dan segera memasuki rumah. Sesaat setelah masuk ke dalam kamar, tiba-tiba terdengar suara berat seseorang “Kenapa lama sekali masuknya?”


“Iya, tadi cincinku jatuh jadi aku cari-cari dulu” aku meletakkan tas di rak dan menjawab pertanyaan Davis tanpa menatapnya, aku takut dia menghardikku setelah tau kebohonganku.


“Owh..” suaranya melemah, sepertinya dia percaya alasanku.


“Mas, tumben pulang cepet” aku yang sudah beberapa hari ini mendiamkannya, mulai bisa berbincang santai dengannya.


“Iya, aku kangen ngobrol sama istriku. Seminggu ini aku beristri tapi seperti tak dianggap sebagai suaminya.”


“Mas, aku minta maaf ya!” aku mendekatinya, duduk bersebelahan dengannya, meraih lengannya dan memeluk lengannya yang kokok dan keras ini.


“Terima kasih juga untuk kirimannya hari ini” aku menghilangkan urat maluku untuk bergelayut manja di tubuhnya.


Davis tak bergeming. Untuk beberapa saat suasana kamar hening. Kami berdua sama-sama terdiam dan aku sendiri tak bisa menebak apa yang tengah dipikirkannya kali ini.


“Apa kamu menerimaku kembali?” aku menjawabnya dengan anggukan.


“Apa kamu menerimaku dengan segala kekuranganku dan kekotoranku di masa lalu?” aku kembali mengangguk.


“I Love You More and More!” tiba-tiba Davis menarik lenganku dengan keras sehingga tubuh kami berdua berbenturan dan dia memelukku dengan erat seolah aku tak diperkenankan lepas. Aku tau dari gerakan badan dan bahunya, sepertinya dia sedang menangis.


“Aku memang bodoh!”


“Aku memang labil!”


“Aku memang kotor!”


“Aku menyesal, Sayang telah melakukannya!”


“Andaikan waktu bisa diputar kembali, aku takkan mungkin berbuat sebodoh itu. Sebegitu mudahnya aku terpengaruh lingkungan dan teman yang tidak benar!”


“Aku menyesal Sayang!” suara lirih dan seraknya terasa tulus. Aku menepuk punggungnya. Kini meskipun badannya lebih besar dan kekar dariku tapi seolah dia yang nampak lemah di sini.

__ADS_1


 


“Aku telah menerimamu, itu artinya aku menerimamu dengan segala baik buruknya dirimu di masa lalumu. Aku hanya menginginkan dirimu yang kini telah bertaubat dan berjanji tak akan mengulanginya lagi!”


“Aku juga meminta maaf, seharusnya aku tak boleh mendiamkanmu lebih dari 3 hari. Tapi aku jujur kaget, Mas. Bahkan ketika aku mengetahui perbuatan zina separah itu bisa dilakukan oleh orang aja aku heran dan jijik, apalagi kini suamiku sendiri yang mengaku pernah melakukannya. Siapa yang gak akan kecewa mas?”


“Iya, Sayang. Aku minta maaf. Itu adalah masa terkelam dalam hidupku.” Ucap Davis lemah.


Aku kembali mengelus-elus punggungnya dan perlahan melonggarkan pelukannya.


“Sayang, aku berjanji itu takkan pernah terjadi lagi”


“Bagiku kini kaulah masa depanku, sinar penerangku dikala malam, pengobat luka masa laluku, dan sekaligus sumber kebahagiaanku” mata kami berdua saling bersitatap, aku mengangguk pelan dan sedikit tersenyum dengan masih menyisakan tetesan bening di wajahku.


“Aku percaya mas.”


“Tolong kamu pelan-pelan jujur padaku”


“Jangan menutupi hal yang memang patut aku ketahui karena aku istrimu”


“Tolong, berceritalah lebih banyak tentang dirimu dan keluargamu” pintaku.


“Iya sayang, nanti aku akan perkenalkan kedua orang tuaku dan kakak laki-lakiku padamu”


“Kini mereka masih di luar negeri, jadi mohon bersabar ya!” aku mengangguk pelan.


“Untuk buku nikah, kata Rio dalam minggu depan kemungkinan sudah bisa diambil. Sabar juga ya! Biarkan gosip itu menyebar, toh sebentar lagi aku akan mengumumkannya!” aku menjawabnya hanya dengan anggukan kepala.


Cup


Davis mengecup pelan bibirku.


“Iiihh mas, aku masih bau. Aku mau mandi dulu!” aku segera menjauh darinya dan masuk kamar mandi.


Davis tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku yang seperti anak perawan yang kaget ketika tiba-tiba dicium pacarnya. “Buruan Sayang!” teriak Davis dari luar yang dapat didengar jelas olehku dari kamar mandi.


“Iya. Baru juga masuk, udah diteriakin!” jawabku dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2