
NARITA POV
Tiba-tiba Dave masuk ke sebuah butik brand ternama yang menjual barang-barang mahal. Kalau aku mah sayang duitnya kalau mengeluarkan duit buat beli barang di sini. Aku hanya mengekor dengan masih mendorong stroller. Dia menuju ke bagian baju wanita, membolak balik, mengambil, lalu menimbang-nimbang seolah sedang memikirkan ‘apakah size nya cukup? Apakah dia menyukainya?’.
Akhirnya aku memilih duduk di sofa yang disediakan untuk para pengunjung, sembari tetap mengawasi Karen yang tengah tertidur pulas. Sesekali, Dave menoleh padaku dengan wajah datarnya, mungkin takut aku menghilang dari sana kali.
Kulihat dia berjalan mendekatiku dengan membawa beberapa potong baju lalu berkata “Cobain!” tanpa basa-basi dia langsung menyodorkan baju-baju itu di depan wajahku.
“No. Thanks” aku menjawabnya dengan tersenyum kecut. Pikirku untuk apa aku mencoba baju yang bukan untukku.
“Aku membayarmu hari ini tidak hanya untuk merawat Karen selama di mall, tapi juga mencoba baju-baju yang akan kuberikan ke seseorang. Aku tidak terima penolakan. Cobain!” kali ini dia nerocos cukup panjang, bikin bête aja.
Akhirnya aku berdiri dengan wajah cemberut, tatapan tajam, selanjutnya tangan bergerak secepat kilat merebut secara kasar baju-baju itu. Aku sampai kelupaan kalau telah meninggalkan Karen di strollernya.
“Tolong jaga Karen sebentar!” aku membalikkan badan sekilas hanya untuk meminta itu, dia pun masih dalam posisi berdiri langsung mendorong stroller Karen dan mengikutiku ke dekat ruang ganti.
“Mau apa?” ucapku saat aku kaget dia sudah berada di depan pintu ruang ganti.
“Setelah kau pakai, tunjukkan padaku! Aku harus tau baju itu cocok apa gak” ucapnya dengan wajah datar lalu aku segera menutup pintu.
Ada 5 baju yang kupakai secara bergantian. Setiap kali selesai memakai, aku keluar dan menunjukkan padanya. Terkadang dia memintaku untuk memutar badan, ahhh sungguh menyebalkan sekali dia ini. Dia pikir aku foto model apa? Kenapa gak dia minta si mbak-mbak pelayannya aja yang nyobain sie? Aku kan paling males nyobain beginian kalau tidak untuk dibeli, soale ribet harus ngebenerin lagi jilbabnya.
Dari ekspresi wajahnya, kalau menurutnya bagus, dia akan manggut-manggut dan tersenyum, sementara kalau kurang bagus maka akan geleng-geleng kepala dan bibir dilebarin dalam posisi terkatup.
Usai aku mencoba semuanya, segera diserahkan kembali baju-baju itu padanya. Dia menerima baju itu, lalu dia meninggalkanku dan pergi ke bagian kasir. Lagi dan lagi aku masih mengekorinya tanpa berbicara sepatah katapun jika tidak ditanya.
Lalu kami keluar dari butik itu. Kini dia kembali masuk ke butik yang lainnya lagi. Di sini harganya jauh lebih mahal daripada butik yang sebelumnya. Aku kembali memilih duduk di sofa pengunjung, sementara dia pergi ke bagian tas-tas perempuan.
Aku sendiri heran, untuk apa dia membeli barang-barang itu? Apa mungkin buat ibunya Karen, entahlah. Yang jelas aku menunggunya membeli dasi, kenapa sampai sekarang dia tak kunjung membelinya? Mau beli di butik yang mana lagi.
__ADS_1
Lalu aku mengambil minuman yang disajikan oleh pelayan di butik itu. Pilihannya ada wine dan orange juss dan tentunya aku memilih yang halal. Ahh, Alhamdullillah minuman ini sangat efektif untuk melepas dahaga.
“Ayo” dia mendekatiku dengan paperbag yang sudah ada di tangannya. Aku sontak kaget dan mendongakkan kepala, lalu aku pun menjawab dengan anggukan kepala, berdiri, berjalan dengan mendorong stroller.
Aku yang tadinya berada di belakangnya, kini dia memelankan langkahnya, menoleh padaku, dan seolah mensejajarkan langkahnya dengan langkahku. Dan kini kami berjalan berdampingan. Aku mendorong stroller sementara dia menenteng kedua paperbag berisi barang branded.
Dia kembali masuk ke butik yang terkenal memiliki harga paling fantastis. Siapapun yang menenteng tas ini sudah bisa ditebak kalau dia masuk golongan ‘sultan’. Bahkan hanya memasuki butiknya saja sudah membuat kakiku bergetar. Boro-boro memimpikan memiliki salah satu barang dari sini, hanya masuk ke butiknya saja aku merasa tidak pantas.
Lagi dan lagi aku hanya menunggunya di sofa. Aku masih memperhatikannya dari kejauhan. Dia saat ini sedang berinteraksi dengan pelayan butik. Aku lebih memilih bermain sosmed saja.
“Bantu aku memilih” tiba-tiba dia sudah meraih lengan bajuku dan menariknya.
“Tu tu tunggu, Karen?” dia sudah menarikku menjauh dari stroller Karen.
“Mana yang bagus?” sampailah kami pada sebuah etalase yang memajang beberapa macam koleksi dasi dengan berbagai warna. Dia menatapku lalu berpindah melihat pada deretan dasi-dasi itu.
“Saya tidak tau, Tuan!” aku menjawabnya dengan sedikit ragu-ragu.
Ah aneh juga nie si Tuan Dave. Untuk apa meminta pendapatku, dia kan punya asisten Teddy yang serba bisa mengurusi semua kebutuhannya.
“Kalau yang ini bagaimana?” dia masih kekeuh meminta pendapatku padahal jelas-jelas aku males berkomentar.
Sejenak aku lirik dasi itu. Bagus sie tapi menurutku warnanya terlalu mencolok dan coraknya terlalu aneh, kurang ‘macho’. Yaa itu sie memang warna jatidiri brand sultan ini sie, tapi kok yaa gak cocok aja kalau dia yang pake.
“Itu terlalu mencolok, Tuan. Gak macho” aku menjawabnya masih menatap pada dasi yang dipegangnya.
“yayayyaa,,,lalu yang mana yang macho?”
__ADS_1
“Hmmm,,,kalau yang ini bagaimana?” akhirnya mau tak mau aku mulai menelisik satu per satu dasi di etalase, kemudian setelah menemukan yang menurutku paling oke, segera kutunjuk menggunakan jari telunjukku.
“Hmmm….” Dia menimangnya dan mengangguk-angguk.
“Boleh deh yang ini aja kalau gitu” Dave meminta pelayan itu untuk mengambilkan dasi pilihanku.
Pikirku masa sie semudah ini dia memilih dasi, kenapa iya iya aja jawabnya.
“Kalau ini bagus gak?” kini Dave telah berdiri di jajaran scarf yang biasanya digunakan untuk wanita. Dia memegang salah satu scarf cantik, lalu menatapku dan meminta pendapatku.
“Kalau untuk Anda, gak cocok Tuan. Itu scarf untuk wanita” aku akui scarf itu bagus, tapi gak banget kalau dipakai dia.
“Aku mau memberikannya untuk seseorang. Apakah kau sebagai yang mewakili wanita, menyukainya?”
“Iya. Itu cantik”
“Oke.”
“Tolong yang ini juga ya!” Dave meminta pelayan untuk membawakan scarf itu.
“Apa kau menyukai tas itu?” kini Dave beralih ke jajaran rak yang berisi deretan tas-tas harga ratusan juta bahkan milyaran.
“Daripada untuk beli tas itu, lebih baik saya gunakan uangnya untuk pulang Indonesia saja, Tuan” jawabku ceplas ceplos dan apa adanya, di luar dugaan Dave yang dari tadi terkesan garang, sok cool, datar, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak hingga bahunya terguncang kencang.
“Kau memang polos sekali, Na” Dave mengucapkannya dengan masih tertawa.
“Polos? Maksudnya?”
“Iya baru kali ini aku menemui wanita sepertimu. Wanita yang biasanya kutemui akan berkata ‘suka, emangnya kau mau membelikan?’, tapi kamu beda”
“Iya saya bicara apa adanya, Tuan. Buat saya apalah artinya tas mahal, kalau kebahagiaan saya adalah berada dekat dengan keluarga dan bukanlah memiliki tas mahal berharga milyaran rupiah!” tiba-tiba Dave menghentikan secara mendadak tawanya yang memang sudah mulai mereda. Kini dia beralih memandangku, menatap lekat ke mataku, dan tiba-tiba bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan yang sungguh aduhai manisnya.
__ADS_1