
AUTHOR POV
Mood buruk hati Davis hari ini, membuatnya tidak semangat untuk bekerja. Dia memutuskan untuk pulang lebih awal. Pada saat yang bersamaan, telponnya berdering.
“Darling, aku bosan, aku merindukanmu. Kamu lagi ngapain?” suara Jess di seberang sana membuat raut wajah Davis makin malas.
“Hei, kenapa diem aja sie?” Davis tak menjawab sapaan Jess hingga Jess menyapanya kembali.
“Mau ngapain lagi? Ya kerjalah?” jawab Davis bohong, tangannya masih sibuk membereskan benda-benda yang berserakan di atas meja kerjanya.
“Kamu tidak sedang mau melarikan diri kan?” sontak Davis menoleh ke arah pintu ketika terdengar suara Jess lantang dari arah sana.
Davis memutar bola matanya malas, sementara Jess tersenyum penuh kemenangan. Jess langsung menyambar pipi Davis untuk diciumnya, namun Davis segera mendorong bahu Jess agar menjauh.
“Ini di kantor Jess, aku tak suka” elak Davis. Jess menanggapinya dengan tersenyum lalu menjauhkan wajahnya, namun tangannya masih menempel ketat pada lengan Davis.
“Kamu mau ke mana Darl?” tanya Jess manja.
“Pulang”
“Jam segini?” Jess melirik jam tangan mahal yang melingkar di tangan kirinya.
“Hmm” Davis tak menggubris tatapan mata Jess, sebelah tangannya masih mencoba menata barang. Tak berapa lama, dia melepaskan belitan tangan Jess, lalu segera menenteng tasnya yang telah rapi.
“Ikut” rengek Jess.
“Hm” Davis bergegas keluar ruangan, sementara itu Jess mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
“Aku pulang duluan, kalau ada yang mau bertemu, jadwalkan besok saja!” Davis berhenti sejenak di depan meja sekretarisnya.
“Baik” jawab sekretarisnya. Lalu sekretaris memperhatikan kepergian Davis dan disusul Jess di belakangnya. Nampak ekspresi tidak suka Davis pada Jess, namun Jess seolah tak memperdulikannya. Sekretaris hanya geleng-geleng kepala memperhatikan betapa bucinnya Jess pada lelaki yang sepertinya tak menyukainya itu.
Bahkan Jess tak peduli dengan tasnya, dia masih meninggalkannya di kantor, yang terpenting buatnya adalah mengikuti ke mana pun Davis pergi.
Tibalah mobil mereka di rumah. Mobil memasuki pelataran rumah. Sebelum Davis keluar mobil, Jess segera menghadangnya dengan cara menarik lengan Davis dengan kencang. Ditatapnya wajah Davis dalam-dalam, dan Davis pun menatap Jess dalam waktu cukup lama.
Senyum seringai Jess, dilanjut dengan ciuman sekilas Jess di bibir Davis.
“Apa-apaan kau Jess!” Davis segera mendorong kedua lengan Jess agar menjauh dari wajahnya.
Jess kembali menarik Davis dengan cara mengalungkan kedua tangannya di leher Davis, lalu dipaksalah Davis untuk berciuman lebih dalam dengannya. Belitan yang sangat kuat, dan dorongan amarah di hati Davis seolah menjadi bara api di dada Davis, sehingga dia pun terbuai beberapa saat menikmati ciuman itu. Namun, hanya sekian menit, akhirnya Davis tersadar kembali dan segera mendorong dengan keras tubuh Jess.
Jess mengelap bibirnya sendiri, dan dia melihat sekelebat bayangan seseorang yang tiba-tiba menjauh dari mobil mereka, membuat Jess kembali tersenyum smirk.
Kau lihat kan? Dia berciuman denganku! Dia milikku! – batin Jess seolah berkata dengan seseorang yang berlari menjauh.
“Kau sama sekali tak menghargai prinsipku!” lanjut Davis.
“Aku hanya ingin menunjukkan padamu bahwa aku teramat mencintaimu” jawab Jess dengan tangan membelai sebelah wajah Davis.
“Hentikan!” menyadari telapak tangan Jess menari-nari di pipinya, Davis segera menghempaskannya.
Davis segera membuka seat belt nya, lalu keluar. Dia membuka pintu belakang untuk mengambil tasnya, lalu ‘BRUK’ menutup pintu mobil dengan keras dan meninggalkan Jess sendiri di dalam mobil. Menyadari dia telah ditinggal Davis, Jess segera keluar mobil dan menyusulnya.
***
Malam harinya, Narita menemani Karen tidur. Setelah Karen tertidur lelap, dia tidak segera kembali ke kamarnya, tapi malah tiba-tiba menangis tersedu-sedu di sana. Dia mengingat kembali kejadian hari ini. Betapa hatinya sakit, sesakit-sakitnya. Entah dia sendiri bingung. Apakah mungkin dia sedang cemburu?
__ADS_1
Tanpa disadarinya, Dave yang telah masuk ke kamar Karen, duduk di sofa dekat pintu masuk kamar Karen. Untuk beberapa saat lamanya, Dave hanya memperhatikan Narita menangis sembari mengeloni Karen. Sesekali tangan Narita menghapus air matanya.
“Ehem” Dave berdehem agar Narita menyadari kedatangannya.
Sontak deheman Dave, menyadarkan Narita. Cepat-cepat dia menghentikan suara tangis dan menghapus air mata. Hati Narita bergemuruh, ada rasa malu di sana. Walau bagaimana pun juga, dia malu kalau ketauan menangis, entah oleh siapa pun itu.
Dave segera berjalan mendekati ranjang Karen. Narita tak bergeming. Dia masih dalam posisi tidur miring dengan satu tangan menempel pada badan Karen. Dia berakting seolah sedang tidur.
Dave menggoyang-goyang kaki Narita pelan.
“Apa kau akan tidur di sini?” menyadari Narita tak bergeming, Dave mencoba bertanya. Sontak Narita segera mengubah posisi, lalu perlahan duduk.
“Maaf” ucapnya.
Saat Narita hendak berdiri dan berjalan meninggalkannya, tangan Dave menarik baju panjang Narita lalu berkata “Apa kau baik-baik saja?”
DEG
Narita sungguh malu. Dia menyadari sepenuhnya bahwa Dave mengetahui tangisannya tadi. Narita mencoba biasa saja, dia hanya membalasnya dengan senyuman dan menggelengkan kepala.
“Aku tak mungkin membiarkan Karen diasuh oleh seseorang yang secara psikologis sedang tidak baik-baik saja” ucap Dave kemudian. Narita yang hendak berdiri dan melangkahkan kaki menjauhi ranjang tiba-tiba menoleh pada Dave dan kembali duduk di ranjang.
Kini Dave yang duduk di sofa terdekat dengan ranjang, menatap lekat pada Narita yang duduk di ranjang dengan kaki yang sudah turun di lantai.
Dave duduk tegap, posisi tangan terlipat di depan dada. Nampak kegagahan dan kharisma seorang pemimpin yang seolah sedang mengintrogasi bawahannya.
“Aku hanya sedang rindu dengan anak-anakku” menyadari tatapan mereka bertemu cukup lama, Narita akhirnya menjawab dan menundukkan wajah. Dia kembali berakting seolah tangisannya tadi dikarenakan merindukan keluarganya.
__ADS_1
“Kau tenang saja. Tidak lama lagi kau akan bertemu mereka” Dave mengucapkannya dengan lembut dengan posisi masih sama.
“Saya permisi” menyadari mereka hanya berdua saja di ruangan yang remang-remang ini, Narita bergegas keluar dari sana. Dave mengangguk tanda mengijinkannya keluar.