CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
NIKAHI AKU!


__ADS_3

NARITA POV


 


Mendengar penuturan Ali, kini semua mata memandangku seolah meminta penjelasan. Ditatap oleh semua orang, awalnya aku menatap bergantian pada mereka seolah berkata ‘kenapa kalian menatapku?’ namun tak lama kemudian aku hanya menunduk dan tak mampu berkomentar apapun.


“Kau mencintai seseorang di rumah ini?” tiba-tiba Davis bersuara setelah dari tadi seolah acuh tak acuh dengan pembicaraan ini. Mendengar pertanyaan Davis, Ali mengangguk pelan.


“Dia menolakmu?” tanyanya kembali dan dijawab anggukan lagi.


“Siapa?” tanya Davis lagi kepo.


“Perempuan sehebat apa dia hingga berani menolakmu? Apa kau tak pernah menceritakan dirimu yang sebenarnya?” tiba-tiba Jess berbicara dengan angkuh lalu melempar lirikan mata tajam ke arahku.


“Al, katakanlah padanya kalau kau itu bukan orang sembarangan. Meskipun kau tinggal di sini, statusmu bukan menumpang tapi itu atas permintaanku. Mungkin dia akan berubah pikiran” kini Dave melanjutkan ucapak Jess, tatapan matanya masih mengarah pada Ali.


“Al, wanita itu suka diperjuangkan. Wanita itu suka tarik ulur. Mungkin saat ini dia menolakmu, tapi kalau dia merasakan betapa baik, tulus, dan sempurnanya dirimu, aku rasa dia akan kembali mempertimbangkanmu.” Jess mengatakannya menatap lekat padaku, dan aku pun sangat berani menatap kembali padanya. Jess seolah mengatakan ‘wanita’ yang disebutnya adalah aku.


“Aku lebih berpengalaman dibanding dirimu, Al. Kau tau bagaimana perjuanganku meraih hatinya?” Jess menyentuh lembut kedua pipi Davis yang ada di sampingnya, Davis membalasnya dengan menatap Jess, tersenyum, dan menyentuh dengan lembut kedua tangan Jess yang ada di pipinya.


Ahh lagi-lagi adegan mesra mereka mengusik hatiku. Aku tak kuat melihat kemesraan mereka kembali, segera aku lempar pandangan ke Ali yang kini justru tengah menatapku. Ahhh aku pun tak sanggup melihat matanya yang sendu, aku memilih menunduk.


“Perjuangkan dia, Al. Kalau kau yakin sangat mencintainya, dia yang terbaik untukmu, tunjukkan padanya, perjuangkan, nyatakanlah berkali-kali!” Jess mengatakannya dengan berapi-api, tapi dari ekor mataku dapat kurasakan dia menatapku lekat.


Sesekali kulirik pada Davis, dia hanya terdiam dan sesekali juga melirikku. Pada suatu moment mata kami bertemu, dan segera aku putuskan tatapan matanya.


“Terima kasih saran dan nasehatnya, Jess. Aku tau dia wanita seperti apa. Meskipun dia mengetahui diriku yang sesungguhnya, belum tentu akan mengubah keputusannya. Sudah beberapa kali aku mengungkapkan perasaanku, tapi jawabannya tetap sama. Biarlah ini menjadi rasaku sendiri.” Ali menatap bergantian mereka yang ada di ruang makan, tatapan penuh kelemahan.


Pembicaraan yang cukup serius mengenai hati ini membuat semua yang ada di sana, spontan menghentikan aktifitas makan.

__ADS_1


“Yasudahlah, Al. Aku tak berhak menghentikannya kalau kau sudah membuat keputusan”


“Ayo lanjutkan makan kalian!” kini semua melanjutkan makan.


DAVIS POV 


Sarapan pagi menu Indonesia. Wah aku sangat bahagia, serasa aku sedang berada di tanah air. Kulihat dia sibuk menyiapkan makanan kami. Entah kenapa, aku suka mencuri pandang padanya dan entah kenapa pula dia pun melakukan hal yang sama. Dia meletakkan sepiring singkong keju di depanku dan tanpa menunggu lama aku segera mengambilnya.


“Sayang mau dong” Jess yang di sampingku tiba-tiba membuka mulut tanda meminta disuapi. Aku mengikuti perintahnya.


Jess memang baik dan romantis. Sejujurnya aku merasa ganjal dengan pertunanganku dengannya, aku memang mengakui betapa dia berjuang untuk membuatku bahagia, tapi entah mengapa rasaku padanya tak sebesar dirinya padaku. Selalu dia yang berinisiatif untuk mesra, kirim pesan, menelpon, dan bahkan seperti saat ini minta disuapi.


Aku menyuapi singkong keju dengan garpu, sementara dia mengambil singkong keju itu dengan tangannya lalu gantian disuapi ke aku. Entah sengaja atau tidak, saat kami bercanda dan suap-suapan, ada beberapa gula yang belepotan di sekitar mulutku. Tanpa sungkan dan risih, dia mencium bibirku dan sekitarnya seolah membersihkan gula itu.


Aku sebenarnya risih dengan sikapnya, namun entah kenapa aku selalu tak bisa menolaknya. Sesekali kami bercerita hal-hal receh yang berunjung pada tawa kecil di antara kami berdua.


Cinta? Entahlah!


Owh ya, singkong keju ini uenakkk banget. Dia memang hebat. Selain pintar memasak menu Indonesia, tapi juga pintar merawat tanaman. Pantas saja Kak Dave kecanduan masakannya.


Canda tawa kami berdua terhenti saat kami mendengar pernyataan bahwa Ali ingin keluar dari rumah ini karena dia tak mungkin sanggup tinggal serumah dengan seseorang yang dicintainya sementara seseorang itu telah beberapa kali menolaknya.


Saat kami menatap Ali, mata Ali tengah menatap seseorang. Kuikuti arah matanya, dan ternyata dia menatap Narita.


Apa mungkin seseorang yang dicintai Ali, Narita?


Apakah Narita sudah berkali-kali menolak Ali?


Kenapa?

__ADS_1


Entah mengapa, rasa penasaranku membuncah. Aku yang awalnya tak peduli dengan obrolan mereka, tiba-tiba kepo. Kutanyakan siapakah seseorang itu? Tapi sayang, Ali tak mau jujur mengatakannya.


Setiap kali Ali berbicara, tatapan matanya tak pernah putus menatap terus pada Narita.


DEG


Mengapa aku tidak terima dia menatap Narita seperti itu? Ahhhh,,,,lagi-lagi kenapa aku berpikir konyol seperti ini. Siapa Narita dan apa hubungannya denganku hingga membuat dadaku bergemuruh saat mengetahui ada seseorang yang menyukainya.


Kini, aku lebih memilih diam.


Sesekali aku menoleh pada mereka yang menasehati Ali untuk memperjuangkan wanita itu. Jess pun ikut menasehatinya. Namun yang membuatku heran, kenapa Jess juga menatap lekat pada Narita, seolah mengatakan bahwa ‘wanita’ itu adalah Narita.


Sesekali aku melirik Narita untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, mengetahui ekspresi wajahnya, mengetahui bagaimana reaksinya. Kulihat sesekali dia gugup namun beberapa saat kemudian dia kembali menampakkan ekspresi biasa saja. Entahlah apakah Narita adalah ‘wanita’ itu, yang saat ini tengah berusaha bermain peran dengan menampilkan ekspresi wajah seolah ‘biasa’ saja atau mungkin memang bukan Narita.


Sejujurnya terbersit rasa bahagia mendengar bahwa Ali ditolak wanita itu.


Usai acara makan bersama, kami pun berjalan keluar menuju mobil. Sepanjang perjalanan keluar rumah, Jess menempel dengan manja dan merangkul lenganku. Kami berjalan berhimpitan, sesekali dia mendongak, memonyongkan bibirnya dan meskipun sedikit ragu namun tetap kubalas dengan kecupan.


“Segeralah kalian menikah! Jadikan ciuman, kecupan sebuah ibadah, jangan seperti sekarang, DOSA!” suara Dave yang berat dan cukup keras membuat kami segera menoleh padanya. Dia berjalan cepat melewati kami tanpa menoleh pada kami.


“Segera berikan Mommy Daddy cucu yang banyak karena mereka sangat menginginkannya!” tiba-tiba dia yang sudah berjalan jauh di depan kami, berhenti dan membalikkan badan dan mengatakan hal itu.


Mobil Kak Dave berangkat lebih dahulu meninggalkan kami. Kini hanya ada aku dan dia di sebelah mobilku. Dia mengalungkan kedua tangannya, mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menciumku. Ciuman yang awalnya biasa saja kemudian menjadi semakin dalam, meskipun aku sama sekali tak meresponsnya. Aku membiarkannya menguasaiku.


Tak berapa lama perlahan kudorong tubuhnya dan melepaskan ciuman kami.


“Aku berangkat” ucapku dan dia mengangguk pelan. Dia masih memegang tanganku hingga terlepas karena kami makin menjauh, aku masuk mobil.


Aku telah berada di belakang kemudi, kubuka jendela kaca sebelah penumpang depan, kubunyikan klakson pertanda hendak jalan. Namun tiba-tiba dia menghentikanku, mendekatkan kepalanya di jendela dan berkata “Nikahi aku secepatnya, Sayang!”

__ADS_1


__ADS_2