CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(NARITA POV) PERJALANAN UDARA 1


__ADS_3

Sejak kejadian makan siang itu, ada kecanggungan yang terjadi antara aku, Daniel, dan Arnold. Meskipun pada kenyataannya, Daniel berusaha mengakrabkan diri kembali denganku seperti tidak pernah terjadi apapun di antara kami.


 


Tak henti-hentinya Sherly, Dewi, Abel menanyakanku mengenai perasaanku yang sebenarnya kepada kedua pria itu. Aku dengan tegas menjawab bahwa tak ada niatku sama sekali menggantungkan perasaan mereka berdua, tetapi jujur perbedaan antara kami membuatku tak berani membukakan hatiku untuk mereka berdua. Aku tak tau apa yang akan terjadi nantinya. Benar kata Daniel biarlah waktu yang akan menjawabnya.


Arnold. Pria berkewarganegaraan Swiss yang menjabat sebagai Manajer di bawah bagian Supporting (IT) telah membuatku kaget dengan pengakuannya. Selama ini dia bersikap biasa saja, namun entah kenapa Daniel bisa mengetahui isi hati Arnold, yang bahkan aku sendiri tak pernah menyangkanya.


Aku terbangun dari lamunanku ketika telpon di mejaku berdering dan aku dipanggil ke ruangan Mr. Al.


 


“Na, besok kamu dampingi Mr. Dav ke Bali!” kata Mr Al.


“Besok? Berapa hari Mr? Dengan siapa saja?” tanyaku beruntun.


“Iya. Paling cuma meninjau lokasi dan mengecek persiapan pembangunannya, sampai hari minggu kemungkinan.” Jawab Mr. Al.


“Dengan siapa saja Mr?” kembali aku menanyakan yang belum dijawab Mr. Al.


“Besok kamu sendiri yang pergi dengan Mr. Dav. Nanti Mr. Daniel, dan beberapa orang dari tim operasional akan menyusul menggunakan pesawat komersil! Owh ya, kamu ajak 1 asistenmu untuk menyusul nanti bareng Mr. Daniel perginya!” penjelasan Mr. Al memuatku mengernyitkan dahiku, kenapa hanya aku yang mendampingi Mr. Dav??? Mendengar cerita dari teman-teman kantorku bagaimana tabiat Mr. Dav membuatku ngeri sendiri.


“Ba baik Mr” jawabku sedikit gugup.


“Kamu kenapa gugup?” tanya Mr. Al.


“Iya Mr, aku kan belum pernah ketemu Mr. Dav. Eh giliran ketemu, langsung disuruh menemani beliau. Hufhh” nada suaraku lemah membuat Mr. Al tertawa terkekeh.


“Aku udah biasa kena seprot dia Na,,,sekarang gantian kamu ya!” goda Mr. Al, membuatku makin menciut nyalinya.


“Hmmm,,,apa gakk bisa Daniel bareng saya aja Mr?” kataku bernegosiasi.


“Mr. Daniel bisa berangkatnya hari Kamis, sedangkan Mr. Dav ada meeting hari Rabu malam di Bali dan kebetulan ada hal yang mau beliau bahas denganmu jadi beliau memintamu naik jet pribadinya!” jelas Mr. Al.


“Whatttt? Naik jet pribadinya??” aku sedikit berteriak kaget dengan apa yang dikatakan Mr. Al. Aku pikir menemaninya di pesawat di kelas Bisnis,,ini malah lebih parah, di jet pribadi. Hadew tak terbayang gimana horornya suasana di pesawat.


 


Mr. Al kembali tertawa terbahak-bahak. “Gak usah takut Na. Siapa pria yang akan berani keras pada wanita selembut dirimu!” bela Mr. Al.


 


Aku hanya menyembikkan bibirku, memutar bola mataku. “OK baiklah Mr. Apa boleh buat” lalu aku berpamitan.


 


Saat aku telah kembali di mejaku, Abel melihatku dengan keheranan “Kenapa Na? Kok lesu?” tanyanya kemudian.


 


“Besok aku dinas ke Bali. Pergi bareng Mr. Dav” jelasku malas.

__ADS_1


“Whaatttt??” Abel berteriak kaget mendengar penuturanku.


“Selamat Girl!” dia pun berdiri dari duduknya dan menepuk-nepuk pundakku.


 


----- Apartemen-----


 


Ponselku berbunyi, ada pesan wa masuk. Kuambil ponselku, dan kulihat nomor asing yang wa aku.


 


0813******* : Narita, aku dengan Rio Asisten Mr. Dav. Kita berkomunikasi lewat nomor wa ini ya!


Aku : Ok Baik. Mr. Rio.


 Lalu Aku Save nomor asisten Mr. Dav.


 


Rio Asisten Dirut : Jangan panggil Mr. Aku pribumi kok. Panggil saja Rio. Owh ya, besok kita berangkat naik jet pribadi Mr. Dav. Nanti langsung ketemu di bandara AAA di terminal BBB jam 10.00 tepat. Jangan telat ya, Mr. Dav tidak suka telat.


 


Aku hanya menghela nafas panjang membaca instruksi yang begitu panjang.


 


Rio Asisten Dirut : Minggu siang atau sore baliknya. Kamu bareng Mr. Dav lagi.


Whaattt?? Bareng dia lagi? Apa-apaan ini? Lah mending aku bareng sama Daniel, Sherly, dkk – gumamku sendiri.


 Aku kembali mengetik, menghapus, kembali mengetik, intinya aku mau menegosiasi kalau pulangnya aku mau bareng temen-temenku naik pesawat komersiil aja.


Aku : Rio, apa tidak sebaiknya aku bareng teman kantor naik pesawat komersial aja ya?


Rio Asisten Dirut : Perintah Mr. Dav begitu Narita.


Hufh --- keluhku.


 


Aku telah selesai packing, waktu menunjukkan pukul 23.00, namun mataku sulit sekali terpejam. Aku membayangkan begitu tidak nyamannya besok.


 


Keesokan harinya aku tidak ke kantor, tapi langsung ke Bandara AAA. Ancaman tidak boleh terlambat, membuatku berpikir lebih baik aku datang kepagian daripada datang terlambat. Aku sudah berkirim pesan ke Rio menginformasikan bahwa aku telah sampai di bandara dan menunggu di ruang tunggu sesuai instruksinya. Rio juga mengabarkan bahwa dalam 1 jam lagi dia akan sampai di bandara.


 

__ADS_1


1 jam bukanlah waktu yang lama untuk menunggu, aku sudah terbiasa menunggu lebih dari 1 jam. Tinggal main ponsel saja, waktu begitu cepat berlalu.


“Narita!” panggil Rio. Aku sama sekali tidak mendengar dan mengetahui kehadiran Rio dan Mr. Dav. Aku berdiri dan menyapa Rio dan Mr. Dav dengan sedikit membungkuk dan tersenyum “ Selamat pagi, Mr. Dav, Rio!”


 


Aku lihat seorang pria yang kuduga sebagai Mr. Dav menganggukan kepalanya. Lalu Rio menghubungi petugas, yang mungkin saja petugas itulah yang tengah mempersiapkan jet pribadi Mr. Dav.


 


Aku curi-curi pandang ke Mr. Dav. yang duduk di sofa di seberangku. Kami terhalang sebuah meja. Aku tak bisa membayangkan bagaimana wajahnya. Saat ini dia menggunakan masker dan kaca mata hitam. Yang membuatku terheran dia mengenakan pakaian casul, celana jeans, kaos putih yang dipadukan dengan blazer casual warna cream, dan topi putih. Kalau aku memperkirakannya, sepertinya dia masih sangat muda belia, dan dia menenteng pouch brand LV.


 


Ah, tau gitu aku pake pakaian casual juga. Ketika aku melihat penampilanku, sepertinya aku saltum. Rio dan bosnya sama-sama menggunakan pakaian casual.


 


Meskipun aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, sepertinya dia berwajah tampan. Hushhh apa-apan sie aku,,,aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku karena telah memikirkan hal yang aneh. Aku kembali fokus pada ponselku.


 


Beberapa saat kemudian, Rio datang mendekati Mr. Dav dan berkata “Ayo Mr. Jet dan kru pesawat telah siap.” Lalu Rio pun beralih memandangku, aku pun mengangguk tanda mengerti. Kami lalu bergegas, mengikuti salah satu petugas yang tepat berjalan di depan. Rio dan petugas berjalan berdampingan di depan, sedangkan aku dan Mr. Dav jalan berdampingan di belakangnya. Ada 2 orang petugas lagi yang khusus membawakan troly dan koper kami. Ternyata enak yaa gak perlu repot-repot antri check in, bawa barang berat kemana-mana. Cukup masuk ruang tunggu khusus yang dingin, lalu barang dibawakan petugas khusus, kami tinggal bawa barang pribadi saja.


 


Tak ada pembicaraan selama kami berjalan beriringan. Terasa suasana sangat dingin dan kaku. Belum mendengar suaranya aja sudah membuatku ngeri apalagi kalau melihatnya marah-marah yaa? Tak bisa kubayangkan.


 


Aku makin takjub saat menaiki tangga jet pribadi. Hwaaahh gini ya rasanya jadi orang kaya, naik jet pribadi gak perlu antri mau naik tangganya. Ketakjubanku makin menggunung saat aku memasuki pesawat. Wow, interior yang bener-bener mewah, percis kaya di foto-foto yang dishare para artis.


 


“Narita, Kamu duduk di sana!” Rio mengagetkan lamunanku. Dia menunjuk sebuah tempat duduk percis di hadapan tempat duduk Mr. Dav.


 


Lalu aku mendekat ke telinga Rio dan berbisik “Bisakah kita bertukar tempat duduk, Rio? Kamu yang di sana, aku yang di sini!” tunjukku pada tempat duduk Rio.


 


“NO!” Rio menggeleng-gelengkan kepalanya dan menggoyang-goyangkan jari telunjuk tepat di depan wajahnya.


 


Hufh,,,bener-bener nie Rio nyebelin – gumamku dalam hati dan dengan terpaksa duduk dengan gugup di hadapan Mr. Dav.


 


Aku kembali menundukkan kepalaku sejenak ke arah Mr. Dav tanda meminta ijin untuk duduk di hadapannya, dan dia balas dengan mengangkat tangan kanannya mempersilahkanku. Dia tak bersuara sama sekali.

__ADS_1


“Terima kasih” ucapku.


__ADS_2