CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(NARITA POV) DIA BAHAGIA?


__ADS_3

Saat Davis menyinggung soal hubunganku dengan seseorang, aku melempar pandangan ke depan, seolah memperhatikan jalanan yang ada di depanku.


“Aku sungkan so obrolan jadi gak santai karena yang aku ajak ngobrol bertabiat aneh!” ujarku cuek dan masa bodoh dengan komentarnya nanti.


“Aku? Aneh kenapa?”


“Kemaren kita di pesawat asyik ngobrolnya. Memang selayaknya teman lama yang sudah lama tak pernah bersua. Tapi pada saat makan malam, sarapan, kenapa seolah kamu berubah menjadi orang yang berbeda?” aku menjelaskannya tanpa mempedulikan ada 2 orang asing di mobil kami.


Nampak Davis terdiam beberapa saat, lalu menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.


“Oke aku yang salah. Aku minta maaf” ucapnya kemudian.


“Ya, nevermind!”


“Kamu udah bawa baju ganti kan?”


“Iya” aku menunjukkan tas tote bercorak bunga-bunga. Dia hanya manggut-manggut.


“Kamu sendiri kan yang mengusulkan di salah satu lokasinya ada arena bermain air. Coba kita buktikan saja nanti!”


Ya ampun,,,ternyata ini alasannya kenapa harus bawa baju ganti. Kenapa aku begitu bodohnya sampai tidak terpikirkan hal ini. Aku pun tersenyum malu mengingat betapa bodohnya aku. Ibarat kata kalau aku seorang pebisnis, sudah gampang dibodoh-bodohin orang aku ini.


 "Emangnya ada jetsky nya?" aku ingat kalau aku mengusulkan permainan jetsky sebagai fasilitasnya.


"Gimana Rio?" Davis melempar pertanyaan ke Rio dan dijawab oleh Rio dengan mengacungkan jempol tangan kanannya.


Aku mengangguk paham.


“Pak sopir, sudah tau lokasi-lokasi tujuannya kan?” dan aku baru teringat bahwa seharusnya aku di sini yang berperan sebagai penunjuk jalannya karena ini bukan kali pertamanya aku tinjau lokasi. Sebelum membuat feasibility study, aku sudah survey lokasi.


“Sudah bu!” jawabnya kemudian.


“Tenang aja, Bu Na! Semua sudah beres!” jawab Rio lalu suasana kembali hening.


“Na, apa kabar bapak sama ibu?” Davis tiba-tiba menanyakan mengenai bapak ibuku.


“Alhamdullillah kabar mereka baik”


“Kamu gak pulang kampung nengok orang tua?”


“Belum ada rencana. Kemaren saya fokus menyelesaikan tesis dan sidang S2 saya”


"Kamu pulang kampung berapa bulan sekali?"


"Minimal setahun sekali, tapi rata-rata setahun 3-4 kali, tergantung libur tanggal merah"


"Bapak ibu pernah ke Jakarta?"


"Pernah. Biasanya kalau saya gak sempet pulang, mereka yang menyempatkan datang ke Jakarta"


"Naik apa?"


"Kereta"


"Kenapa gak pesawat aja?"


"Kalau pesawat mereka bingung Vis, soale gak pernah naik sebelumnya"


"Kalau pesawat, naiknya dari bandara mana?"


"Yogyakarta"


"Oooo oke oke" Davis manggut-manggut.

__ADS_1


"Kenapa manggut-manggut gitu?"


"Gakpapa" Davis kembali tersenyum manis.


Kemudian Davis membuka ponselnya dan seperti sedang menghubungi seseorang.


“Hallo Assalamu’alaikum, Bu”


“Saya Davis bu,,,bule ganteng PACAR Narita yang dulu pernah telponan sama ibu dan bapak”


Mendengar Davis menyebut kata pacar Narita akupun melotot menatapnya. Tapi Davis malah tersenyum manis tanpa rasa bersalah sedikitpun.


“Iya.”


“Iya betul Ibu”


“Yap 100% betul. Terima kasih yaa bu masih mengingat saya”


Kembali Davis tertawa nyaring.


“Alhamdullillah saya baik bu. Bapak sama Ibu apa kabar?” Davis masih berbicara di telpon.


“Iya maaf bu, saya kuliah di Inggris jadi gak bisa nelpon”


“Sudah bu. Ini orangnya ada di samping saya!”


Aku pun kembali menoleh padanya. Aku penasaran siapa yang tengah dia telpon.


“Masih”


“Iya bu”


“Segera bu”


“Iya”


“Baik bu. Terima kasih.”


“Wa’alaikum salam”


Aku yang pura-pura cuek, jujur penasaran siapa yang ditelpon Davis. Dan kenapa tadi dia cuma mengucapkan kata-kata pendek. Apa yang mereka bahas ya?


“Aku senang ibu masih mengingatku!” tiba-tiba Davis berbicara memandangku dan tersenyum lebar. 


“I ibu siapa?” aku tersadar dari lamunan dan sedikit tergagap.


“Ibu kamu lah!” jawabnya enteng.


“itu tadi ibuku?” tanyaku heran.


“Iya” jawabnya singkat.


“Kok kamu bisa tau nomor telpon ibuku?” tanyaku lagi.


“Ck,,,pertanyaan bodoh!”


Aku pun kembali terdiam. Dan aku baru menyadari, tentu saja dia bisa tau nomor telponku. Kalau dia punya dataku dari bagian HRD, tentu saja dia tau semua informasi yang ada di dalamnya, termasuk nomor telpon keluarga-keluarga terdekatku.


“Setelah aku menelpon ibu, suasana hatiku jadi seneng. Kamu tau kenapa?” tanya Davis kemudian dan kujawab dengan gelengan kepala.


“Pertama, Ibu masih mengingatku, bahkan sangat hafal ciri-ciriku. Padahal kami cuma sekali video call lho, dan itu kejadian 4 tahun yang lalu.”


“Kedua, aku yakin kamu tidak pernah mengenalkan temen-temen bulemu yang sekarang ke orang tuamu, iya kan?”

__ADS_1


Aku tersenyum smirk dan mengomentarin alasan nomor duanya “Aku ngenalin kok!” aku berbohong sie sebenernya ini.


“Gak mungkin!”


“Kenapa kamu seyakin itu?”


“Ck,,,Narita Narita,,,,” dengan beraninya Davis mengelus rambutku dan segera aku tepis tangannya.


“Sorry sorry” ucapnya kemudian masih tersenyum.


 "Ehhh bentar deh, ngapain kamu ngaku pacarku ke bapak ibuku?" aku menatap Davis sebel.


"Masa sie aku bilang gitu!?"


"Isshh ngelesss!" aku sedikit cemberut.


Dia pun kembali tertawa dan berkata "Tadinya aku mau bilang calon suamimu, tapi aku sadar diri kan belum melamar"


"Ihh jangan ngaco deh. Kepedean!"


"Kepedean? Ya jelas pede lah. Emang kamu gak mau jadi calon istriku"


"Males ah, obrolan makin ngaco!" aku mending mengakhiri becandaan yang bikin baper ini.


Dia pun malah tertawa makin terbahak-bahak.


"Nah ini baru Narita yang kukenal! Cewek yang paling asyik buat dibaperin"


"Ih gak mempan yaaa" imbuhku.


"Kalau diseriusin, mempan gak?"


"Gak!"


"Kenapa?"


"Ya gak aja"


"Apa alasannya?"


"Pak, udah mau deket pak, pelan-pelan aja yaaa!" aku memilih mengalihkan pembahasan daripada makin dibuat baper olehnya.


Mungkin niatnya adalah becanda, tapi kan kalau aku kebawa di hati, aku yang udah dengan susah payah berusaha move on akan makin susah lagi move on nya"


Kami pun akhirnya sampai ke lokasi yang pertama. Cukup lama kami berkeliling, mengamati dan membayangkan antara kesesuaian lokasi, rancangan desain, dan berbagai ide peruntukannya. Cukup banyak hal yang harus kami perbaiki lagi, karena analisa Davis yang begitu tajam. Makin kagum aku padanya.


Dari lokasi yang pertama kami berpindah ke lokasi yang kedua. Di sini kami bertemu dengan beberapa turis yang tengah menikmati tanah lapang yang bakal dibangun sebuah resort. Beberapa masukan dari para turis, menambah ide-ide cemerlang demi perbaikan proyek resort kami. Kali ini kulihat Davis menatapku ketika aku menggali informasi dan ide-ide dari para wisatawan mancanegara. Entah apa yang ada di pikirannya, namun sepertinya bukan rasa bangga atau senang dengan kreatifitasku menayai turis asing itu dengan ramah.


“Tadi dimintain nomor telepon, kenapa dikasih sie?” dia berkata dengan ketus.


“Aku sudah banyak diberi informasi, masukan, saran, dan ide-ide keren darinya. Apa salahnya juga cuma nomor telpon” ujarku.


“Kalau gara-gara nomormu nyebar terus kamu kena tipu, gimana?”


“Heheh, enggak bakal Mr. Dav”


“Lah serius lho. Jangan dianggap enteng sembarangan memberi nomor ponsel!” nada bicara Davis sudah meninggi dan wajahnya memerah.


Lalu Sherly yang menyadari perdebatan antara kami yang membuat Dav nampak marah, mendekatiku dan menepuk-nepuk pundakku pelan.


“Iya Makasih Mr. Udah diingetin” akhirnya aku memilih mengalah.


Kami pun kembali ke dalam mobil.

__ADS_1


“Pak, setauku deket sini ada masjid. Nanti berhenti ishoma di masjid dulu ya pak!” Davis berkata pada pak Sopir dan aku pun tersenyum menatapnya. Dia yang menyadari aku tersenyum padanya, membalas senyumanku dan manggut-manggut.


__ADS_2