CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
GAGAL


__ADS_3

AUTHOR POV


 


“Apakah kita pernah saling mengenal, sebelumnya?” tanya Davis membuat wajah Narita tiba-tiba berubah, lalu tersenyum.


Dia bingung, jawaban apakah yang akan dia berikan. Banyak pertanyaan di dalam benak Narita untuk Davis, tapi rasanya mereka berdua di posisi seperti dua orang yang tak saling mengenal.


“Kamu dari Indonesia kan?” tanyanya kemudian.


“Iya” jawab Narita pendek.


“Aku juga pernah tinggal di Indonesia” ujarnya lagi dan hanya disambut senyuman oleh Narita.


Melihat Karen yang tiba-tiba menguap, tercetus ide Narita untuk membuat Davis pergi dari kamar Karen.


“Sepertinya Karen sudah mengantuk, bolehkah tinggalkan kami berdua?” tanya Narita sopan lalu diangguki dan disenyumin Davis. Davis pun segera meninggalkan mereka berdua.


Kini Narita menuntun Karen kembali ke kamarnya, mengangkat tubuh kecil Karen ke atas ranjang, mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur saja. Narita menidurkan Karen dengan menepuk-nepuk ***tat Karen. Hanya dalam hitungan menit, Karen sudah tertidur lelap.


Narita yang mengingat kejadian perkenalan baru saja dengan Davis tiba-tiba meneteskan air mata.


 


NARITA POV


Sekuat tenaga aku berusaha melupakan peristiwa yang sudah sangat menyesakkan dada. Sampai aku di kondisi saat ini, aku telah bangkit dari keterpurukanku di masa lalu.


Ya Alloh, kenapa Engkau mempertemukanku dengannya?


Kenapa dia hadir di saat aku telah move on?


Dan dia melupakanku ataukah amnesia?


Kenapa dia bisa amnesia?


Ya Alloh apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


Apakah aku harus jujur atau mencari tau tentang dia terlebih dahulu baru menentukan sikap?


Tidak bisa dipungkiri kalau kami memiliki penghubung, Daffa dan Dafina. Beberapa saat setelah aku menenangkan hatiku, aku keluar dari kamar Karen dan segera masuk ke kamarku. Namun ketika aku telah menarik handle pintu, tiba-tiba seseorang memanggilku “Narita”.


DEG


Tiap kali mendengar suaranya, sudah membuat jantungku berdebar kencang. Perasaan yang entah susah untuk digambarkan, kembali bergelayut di hati. Aku kemudian menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum dan berjalan mendekatiku.


“Entah kenapa, aku merasa kita pernah saling mengenal sebelumnya. Maukah nanti setelah sholat Isya’ berjamaah, kita ngobrol di deket kolam renang?” tanyanya menatapku lekat.


“Saya kurang berkenan kalau hanya ngobrol berdua. Apakah Anda keberatan jika ada Ali?” aku tak menolak ajakannya untuk mengobrol karena sejujurnya aku pun ingin mengetahui kisahnya selama 2 tahun ini, hanya saja aku tak mau menimbulkan fitnah jadilah Ali yang menurutku tepat untuk menjadi orang ketiga di antara kami.


“Oke nope. See you!” aku mengangguk dan dia pun berlalu pergi.


Setelah masuk ke kamar, aku segera video call dengan anak-anakku. Meskipun tiap hari selalu menghubungi mereka, tapi rasa kangen itu tak pernah luntur. Mereka yang lama kelamaan mengetahui akulah sebagai sosok ibunya, mulai mau dan bisa diajak komunikasi. Suaranya yang cedal, bernada manja, dan terkadang diselingi tingkah usil, lucu, nan menggemaskan membuatku ingin sekali memeluk mereka.


“Nak, kamu kenapa? Ada masalah?” video kini beralih menampilkan wajah ibuku yang nampak makin renta.


“Gakpapa bu. Mungkin Na hanya capek aja” jawabku tersenyum. 


Aku tak mungkin mengatakan ke ibu bahwa ayah dari Daffa dan Dafina masih ada. Karena aku sendiri belum tau bagaimana menghadapinya yang sama sekali tak mengenaliku. Di satu sisi, aku bersyukur karena ketakutanku selama ini tidak terbukti. Awalnya aku takut dia pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Tapi di sisi lain, aku juga bersedih karena meskipun kami bertemu tapi kami seperti dua orang asing, tak bisa melepas rindu, dan sekaligus melepas amarah yang terpendam karena kepergiannya yang tanpa kabar sama sekali.


“Percaya sama Na, Bu. Na hanya capek aja baru pulang dari luar kota. Ibu jangan khawatir, tenang saja, Na bisa jaga diri. Na harap bapak, ibu, sama Arjuna sehat terus, biar bisa menjaga anak-anak Na. Maafin Na ya bu, Na udah merepotkan!” mataku berkaca-kaca.


“Jangan bilang gitu, Nak. Bagi bapak sama ibu, Daffa dan Dafina itu adalah penghiburan di kala tua, sedangkan bagi Arjuna, mereka adalah pelipur lelah ketika pulang ke rumah. Daffa dan Dafina itu selain pinter, juga lucu Nak. Jadi bagi kami mereka sama sekali tidak merepotkan tapi malah menyenangkan” jawab ibu.


Setelah dirasa cukup, kami pun sama-sama memutus sambungan video call.


 


DAVIS POV


Entah kenapa setiap mendengar suaranya, berdekatan dengannya, dan berbicaranya dengannya jantungku berdebar-debar rasanya. Menatap ke dalam matanya, seolah aku pernah menjadi salah satu sejarah hidupnya, namun entah apa itu.


Saat aku mengajaknya mengobrol dan dia mengiyakan, membuatku makin bahagia. Setidaknya aku bisa mendapatkan banyak cerita tentangnya ketika dia di Indonesia. Kalau pun kami tidak saling mengenal, berarti debaran jantungku ini mungkin suatu hal yang lain.


Usai menunaikan sholat Isya’ berjamaah, aku segera menuju ke tempat santai di deket kolam renang. Tapi ternyata di sana sudah ada opa.

__ADS_1


“Davis” panggil opa ketika aku hendak balik badan karena melihat opa di sana sehingga aku berencana untuk mengubah tempat mengobrol. Tapi karena panggilannya, terpaksa aku pun segera menghampirinya.


“Tolong temani opa menginap ke rumah Daddy mu!” opa beranjak dari duduk dan menepuk pundakku lalu berlalu.


Belum sempat mengatakan tidak, opa sudah berlalu.


“Opa!” aku berjalan cepat mengejar opa dan berjalan mensejajarkan diri dengannya.


“Opa gak terima penolakan. Kamu bawa semua pakaianmu dan mulai malam ini kita menginap di rumah Daddy mu. Inget, kita di sini hanya seminggu!” 


“Opa, apakah kita bisa berangkatnya besok pagi saja? Saya ada janji dengan---” belum selesei berbicara, opa segera menyela.


“No!” jawab opa tegas.


“Sekarang kamu beresin semua bajumu!” perintahnya lagi.


Hufh…


Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan menuruti apa kemauan opa. Usai membereskan bajuku, aku turun dari lantai 2 ke lantai 1 naik lift. Saat melewati ruang keluarga, opa sudah duduk di sana ditemani kak Dave, Drake dan para asistennya.


“Kamu sudah bawa semua bajumu kan?” tanya opa dan hanya aku jawab dengan anggukan kepala.


“Dave, kami pergi!” opa beranjak dari duduknya dan diikuti yang lain. 


“Opa, sebenarnya aku masih kangen kalian, kenapa harus pindah dari sini sie? Kenapa jadi keluar dari rencana awal?” dahiku berkerut mendengar ucapan kak Dave. 


“Jadi, awalnya opa berencana menghabiskan sisa waktu kita menginap di sini?” tanyaku menatap opa berharap mendapat jawaban jujurnya.


“Iya. Tapi ada hal yang harus opa diskusikan dengan Mommy Daddy kalian!” seperti biasa opa pasti menutupi sesuatu hal dari kami.


 


Aku hanya bisa menurutinya. Di keluarga kami, perintah opa adalah undang-undang yang harus dipatuhi oleh semua orang.


Opa adalah seseorang dibalik suksesnya OX Company, hingga memiliki cabang di berbagai negara. Beliau yang memiliki jiwa bisnis dengan segala lika-likunya, sangat sensitif dengan persaingannya, sangat preventif mengantisipasi segala kemungkinan terburuk yang akan menimpa perusahaan maupun anggota keluarganya. Beliau sangat berhati-hati dalam membina hubungan dengan orang, karena bisa jadi mereka adalah lawan bisnis kita. Beliau juga sangat berhati-hati dengan orang yang saat ini sangat dipercayanya, karena bisa jadi mereka adalah musuh dalam selimut.


Jangankan menjadi bagian dari keluarga ini, bahkan siapapun yang dekat dengan keluarga kami, harus lulus uji dan direstui opa. Dari lini terendah di dalam lingkup perusahaan maupun keluarga, seperti asisten rumah tangga, opa pasti akan mengetahuinya. Dengan mudahnya bagi beliau untuk mengetahui apakah seseorang memiliki niat jahat pada kami atau tidak. Untuk itulah, meskipun terpaksa, kami akan berusaha mengikuti titahnya.

__ADS_1


__ADS_2