
DAVIS POV
---- Di kantor ----
“Rio, apa agendaku hari ini?”
“Nanti jam 15.00 ada rapat dengan PT Megah Konstruksi, setelahnya kosong, Mr”
“Oke. Tolong jangan tambahkan agendaku untuk nanti sore ya. Aku ada perlu”.
“Baik, Mr. Permisi!” Rio berbalik keluar ruangan Davis.
Setelah itu aku meraih ponselku, menekan nama seseorang untuk kutelpon.
“Hallo” suara di seberang sana.
“Hallo. Assalamu’alaikum Mbak. Saya Davis. Masih inget kan?”
“Wa’alaikum. Owh iya. Masih inget dong”
“Mbak pulang kantor ada acara gak?”
“Enggak. Kenapa, Vis?”
“Bolehkah kita ketemu?”
“Kita? Ada apa ya? Hmmm boleh juga sie!”
“Iya mbak. Ada hal yang ingin aku obrolin. Di café seberang kantor Mbak aja gimana?”
“Oke boleh.”
“Oke. Sampai jumpa nanti, Mbak. Makasih. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum”
Kututup kembali ponselku. Aku pun kembali fokus dengan pekerjaanku.
Flashback On
__ADS_1
Malam itu seusai makan malam dengan klien, rasanya aku kangen banget ingin ketemu seseorang. Meskipun kami satu kantor, namun dia selalu menolak diajak makan siang bareng. Satu-satunya cara agar aku bisa ketemu dengannya adalah membuat jadwal rapat yang mengundang bagiannya.
Selama beberapa hari ini, agendaku sangat padat. Banyak rapat dengan klien sehingga tidak bisa menyelipkan rapat internal yang mengundang bagian dia.
Dengan semangat, aku melajukan mobilku menuju apartemennya. Aku yakin dia pasti tidak ada agenda kemana-mana kalau weekday seperti ini. Setelah aku sampai, segera aku parkir mobilku di area parkir tamu tepat di depan gedung apartemennya.
Setelah aku membuka sabuk pengaman dan bersiap membuka pintu mobil, mataku yang secara tak sengaja menatap ke arah lobby apartemennya, menangkap seseorang yang tengah terburu-buru keluar dari gedung lalu menaiki sebuah mobil.
Tanpa berpikir panjang, aku urungkan niatku untuk membuka pintu. Aku pasang kembali sabuk pengaman dan segera kunyalakan mesin mobil dan melajukannya, mengikuti mobil yang saat ini dinaiki Narita.
Jalanan Jakarta yang cukup padat, membuatku kesulitan mengikuti mobilnya karena tertutupi oleh mobil lainnya. Sampai akhirnya mobil itu berbelok dan masuk ke sebuah pelataran café. Mataku terbelalak ketika kulihat Narita berdua bersama Daniel yang tengah keluar dari mobil. Setelah menunggu keduanya masuk ke gapura café, aku segera membelokkan mobilku ke dalam pelataran café. Kulihat banyak mobil yang sedang di parkir di sana.
Takut kehilangan jejak mereka, aku bergegas keluar mobil. Aku mulai kebingungan ketika masuk ke dalam café, karena tak ada lampu yang menyala.
Apa cafenya tutup? Tapi mobil yang parkir banyak --- pikirku dalam hati.
Aku masuk dengan mengendap-endap, sampai tiba di bagian belakang café terdapat taman yang cukup luas.
Kembali aku dibuat kaget ketika mendapati 2 sorot lampu tengah menyorot Daniel yang sedang memainkan piano dan bernyanyi dan menyorot Narita yang sedang berdiri terpaku.
Hatiku memanas, tanganku mengepal kencang, dadaku bergemuruh tak karuan. Dari lirik lagu yang sedang dinyanyikannya. Dari skenario dan akting yang sedang dilakoni Daniel. Aku tau pasti, apa yang tengah dilakukan Daniel untuk Narita.
Sebelum lampu café kembali menyala terang, aku bergegas balik badan dan pergi meninggalkan café dan pulang ke rumah. Tanpa sadar, aku mengemudikan mobil dengan kecepatan cukup tinggi.
Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar dan masuk ke kamar mandi. Salah satu cara untuk mendinginkan dan menjernihkan pikiran adalah dengan berendam air dingin di bath up.
Tanpa terasa aku berendam cukup lama.
“Aku harus mencari cara agar Narita mantap memilihku!” mataku memandang ke segala arah seolah sedang mencari ide.
“Aku yakin Narita menyukaiku, tapi kenapa dia ragu untuk menerimaku??”
“Pasti ada alasannya!”
Aku pun kembali terdiam
“Hmmm,,,Ya Mbak Sriti”
“Dia pasti tau”
__ADS_1
“Mereka bahkan mengikuti taaruf, pasti ada hal yang mbak Sriti tau tapi tidak aku ketahui karena Narita tak mau mengatakannya padaku”
Merasa mendapatkan ide yang cukup cemerlang, aku pun puas dan tersenyum smirk.
“Narita!”
“Aku pastikan kamu akan memilihku!”
Aku pun menuntaskan mandi, mengenakan pakaian tidur, dan mencoba untuk tidur lebih awal.
Flashback Off
---- Café ----
Aku tengah sampai di café tempat kami janjian. Aku sudah mengirimkan pesan ke dia kalau aku sudah sampai di café.
“Maaf aku terlambat, Vis” seru Mbak Sriti yang saat itu sudah ada di depan mejaku.
“Owh gakpapa Mbak. Gimana kabarnya?” aku berdiri dan mengulurkan tanganku lalu dia menjabat tanganku dan berkata “Alhamdullillah kabarku baik”.
“Silahkan mbak!” lalu Mbak Sriti duduk di kursi depanku.
“Gimana kabarmu, Vis?”
“Alhamdullillah aku baik, Mbak”
“Syukurlah. Narita gimana kabarnya? Kok kamu gak ajak dia?” tanyanya kemudian.
“Sorry ya aku gak ngabarin keberadaan Narita ke kamu, karena nyatanya malah justru kamu yang udah ketemu duluan sama dia daripada aku!” Mbak Sriti terkekeh.
“Iya gakpapa mbak. Aku gak bisa ajak Narita karena ada hal yang ingin aku diskusikan denganmu mengenai dia”
“Diskusi denganku? Kok kamu memilih aku, kenapa?”
“Karena aku rasa dia lebih terbuka denganmu dibandingkan dengan genk nya di kantor”
“Terbuka? Mengenai apa dulu nie?”
__ADS_1
“Asmara” jawabku mantap menatap mata mbak Sriti.