CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
MELAMAR 3


__ADS_3

NARITA POV


Tak ada kecurigaan sama sekali ketika Daniel mengajakku ke sebuah café yang sepi dengan suasana yang gelap gulita. Bahkan seolah tak ada tanda-tanda cafe dalam keadaan buka. Namun dia terus membawaku ke bagian belakang café, hingga sampailah kami pada sebuah taman. Dia memintaku berdiri di suatu titik lalu dia meninggalkanku dan menuju ke sebuah benda besar yang sekilas mirip piano.


Aku memperhatikan gerak geriknya hanya dengan mengandalkan lampu rumah tetangga. Sampai akhirnya sebuah lampu menyorot keberadaannya. Dia mulai memainkan piano dan bernyanyi.


Aku semakin dibuat terkejut ketika sebuah lampu turut menyorot diriku. Tak ayal aku menengok ke kanan dan kiri hendak bertanya ‘ada apa ini sebenarnya?’.


Otakku mulai berpikir.


Apa maksud Daniel menyanyikan lagu itu? Untuk apa? Dalam rangka apa?


Aku tau banget kalau ini adalah lagu yang selama ini selalu dia putar di dalam mobilnya.


Mataku sama sekali tak berpaling darinya. Alunan musik dan suaranya seolah menyihirku. Dia yang selama ini diam seolah tak pernah menunjukkan kepiawaiannya, ternyata memiliki talenta yang membuatku berdecak kagum. Selama aku mengenalnya, sekali pun aku tak pernah melihatnya memainkan piano atau bahkan mendengarkan suara nyanyiannya, bahkan sekedar bersenandung pun tidak.


Namun kali ini?


Aku terpukau. Aku kagum. Aku terhanyut dalam nuasanya. Permainan piano yang menyentuh dan suara merdunya seolah dia professional di bidang itu.


Hingga lagu pun berakhir, suara tepuk tangan terdengar ramai, dan lampu tiba-tiba menyala dengan terang telah menyadarkan lamunanku.


Aku seperti orang bodoh yang hanya mampu terdiam membisu di tempatku berdiri saat ini. Aku tengok ke kanan dan ke kiri telah banyak orang berkumpul mengitari. Mereka adalah teman-teman genk kami termasuk beberapa anak buah Daniel.


Sampai,,,,,


Oh Tuhan,,,,apa yang dia lakukan??


Tiba-tiba Daniel tengah berlutut dengan bertumpu pada 1 lutut kirinya dan 1 telapak kaki kanannya. Tangannya memegang sebuah kotak bludru kecil berwarna merah yang telah terbuka. Lalu dia berkata:


"Indeed we have much taste. Indeed we are not together. If indeed we are destined to be together forever, love would not be where."


(Sungguh kita punya banyak perbedaan. Sesungguhnya kita pun tidak sedang bersama. Jika memang kita ditakdirkan bersama selamanya, cinta tak akan kemana.)


"Meeting you was fate, becoming your friend was choice, but falling in love with you was completely out of my control."


(Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihan, tapi jatuh cinta denganmu benar-benar di luar dayaku.)


“I love you not because I need you. I need you because I love you."

__ADS_1


(Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.)


“Will you marry me?"


(Maukah kau menikah denganku?)


Mataku melotot, mulutku menganga yang akhirnya aku tutupi dengan kedua telapak tanganku. Kata-kata terakhirnya membuatku tak bisa berpikir jernih, tak bisa berucap apapun, kaki pun terasa kaku. Hanya telingaku yang mampu berfungsi mendengar betapa gemuruhnya suara teman-teman kami meneriakkan dukungannya pada Daniel.


Bagaimana mungkin ini terjadi padaku. Selama 28 tahun tidak pernah ada yang melamarku, tiba-tiba saat ini dalam 1 minggu ada 2 laki-laki tampan yang melamarku.


Oh Tuhan, aku harus bagaimana?


Aku bingung, jawaban apa yang akan kuberi?


Aku tak mungkin mempermalukannya di sini. Tapi aku juga tak bisa langsung memberinya keputusan.


Sesaat kemudian, aku pun kembali dengan kesadaranku. Segera kuraih pergelangan tangannya, dan kutarik menjauh dari sana.


Tak ayal suara gemuruh teman-teman kami makin membuat suasana heboh. Aku membawanya ke sisi yang tak ada siapapun di sana.


“Niel…” kutatap matanya yang saat ini pun sedang menatapku. Kulihat diriku di dalam bola matanya yang kebiruan. Dia tersenyum dan menjawab “Hmm”.


Daniel kembali tersenyum dan melirik pergelangan tangannya yang saat ini masih aku genggam. Spontan aku menyadarinya dan segera kulepas genggaman tanganku.


“Kenapa mendadak kamu melakukan ini?” tanyaku lagi.


“Kamu kan pernah bilang, kalau kamu menyatakan isi hatimu biar aku tau apa yang kamu rasakan. Tapi kamu gak pernah bilang kalau kamu juga menunggu jawabanku!”


“Na, aku tulus mencintai dan menyayangimu!”


“Sejak bertemu denganmu, hanya kamu yang selalu ada di hatiku!”


“Kalau pun kamu belum merasakan seperti yang kurasakan, tak mengapa jika aku harus menunggunya”


“Lebih baik belajar mencintai ketika kita sudah di dalam ikatan pernikahan, daripada terlambat menyadari adanya cinta ketika orang lain sudah mengikat janji dengan yang lainnya” Daniel mengutarakan jawabannya.


“Niel, kamu tau saat ini aku shock!” aku mulai menunjukkan kegelisahanku dan Daniel menyadarinya.


“Na, dengarkan aku!” Daniel memegang kedua pundakku dengan kedua tangannya, sementara itu matanya menatapku dan berusaha menenangkanku.

__ADS_1


Aku mulai mengatur nafasku yang tersengal-sengal seolah habis berlarian.


“Aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya. Hmm!” dia meyakinkanku dengan sangat lembut.


“Lalu bagaimana dengan acara ini? Teman-teman kita?” tanyaku mencemaskannya. Aku tak mau membuatnya malu. Walau bagaimana pun juga, Daniel adalah sahabat terbaikku.


“Aku harus terima risiko melamar seseorang yang belum berstatus kekasihku!” dia kembali tersenyum dan melepaskan tangannya dari pundakku.


“Na, kamu simpan ini!”


“Nanti saatnya kamu siap menjawabnya, tolong kamu bawa cincin ini dan akan aku pakaikan padamu! Hmm?” kepala Davis mengangguk masih meyakinkanku.


Kulirik kotak bludru yang saat ini ada di atas telapak tangan kanannya. Aku hanya terdiam.


Tangan kiri Daniel segera meraih tangan kananku, lalu dia menyerahkan kotak bludru itu sambil berkata “Tolong pertimbangkan, Na!”


Aku pegang kotak bludru itu.


“Kita bicara di sebelah sana!” Davis menunjuk pada ayunan panjang yang muat untuk duduk berdua.


Teman-teman kami sudah mulai menikmati segala hidangan yang ada di café, alunan musik dari piano juga mengalun dengan lembut. Beberapa mata memandang intens aku dan Daniel yang saat ini sedang menaiki ayunan. Sesaat setelah kami di ayunan, seorang pelayan mengantarkan kami cemilan dan juss dan mereka letakkan di meja dekat ayunan.


“Kamu mau minum?” Daniel menawariku dan aku menggelengkan kepala mejawab “Nanti saja”.


Beberapa detik kemudian, kami berdua sama-sama terdiam.


“Na, kamu menginginkan pendamping hidup yang seperti apa?” tanya Daniel membuka obrolan kembali.


Seiman dan taat beragama, memiliki kedewasaan pemikiran, kemandirian perekonomian, penyayang, penyabar, berkepribadian lembut, dan yang terpenting nyambung diajak diskusi – sayangnya aku hanya mampu menyebutkannya secara detail dalam hati saja.


“Hai,,,kok malah melamun!?” Daniel melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku, membuatku tersadar.


“Na, aku ingin sebisa mungkin menjadi pendamping hidup yang kamu inginkan. Makanya aku perlu tau, agar kalau memang ada yang tidak sesuai kriteriamu, aku bisa memperbaikinya!” Daniel kembali berkata tanpa menunggu jawabanku.


“Hmmm,,,,” aku pun masih menjeda omongan, agar apa yang aku katakan tidak menyinggungnya.


“Aku ingin seseorang yang bisa membimbingku menjadi lebih baik. Bisa bertumbuh bersama membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.” Kulihat Daniel mengernyitkan dahinya.


---- TO BE CONTINUED ----

__ADS_1


__ADS_2