
NARITA POV
Mr. Dave memegang microphone dan berdiri tepat di tengah panggung, lalu berkata:
“Dia tidak mengetahui bahwa aku mencintainya, tapi hari ini aku telah membawa keluarganya untuk berada di sini. Aku ingin melamarnya dengan disaksikan oleh ayah, ibu, adik, dan anak-anaknya. Aku ingin dia tau bahwa aku mencintainya dan keluarganya”.
Aku masih biasa saja. Tapi sejurus kemudian, pandangan Mr. Dave tertuju pada satu arah, yang pada akhirnya kami pun mengikuti arah matanya.
DEG
Bapak, Ibu ada di sini?
Dan itu? Si kembar yang selama ini sangat aku rindukan, Raffa dan Rafina juga ada di sini?
Ya ampun Arjuna juga?
Spontan aku berdiri, sedangkan yang lainnya masih duduk manis di kursinya. Mataku melotot, sesekali menoleh bergantian ke arah Dave dan keluargaku. Karena ekspresi terkejut, mulutku menganga lebar namun tetap masih kututup dengan tanganku.
Tiba-tiba otakku ngeblank.
Beberapa kali aku menoleh berulang kali pada keluargaku dan padanya. Saat mata kami bertemu, terlihat dia menebar senyuman dan mengangguk padaku.
Aku masih tidak percaya, keluargaku ada di sini. Aku masih tidak dapat berpikir seolah otakku tiba-tiba membeku. Yang kurasakan hanya BAHAGIA. Kejutan ini bener-bener membuatku sangat sangat bahagia. Hingga pada akhirnya setelah Bapak dan Ibu berjalan lebih dekat dengan posisiku berdiri, mata kami bertemu.
Kami sama-sama terharu dengan pertemuan ini. Aku menerobos lorong kecil dan langsung memeluk bapak dan ibu secara bergantian. Aku memeluk mereka cukup lama hingga tiba-tiba aku disadarkan oleh belaian tangan di bahuku.
“Astaghfirullah” pekikku kaget karena Mr. Dave yang mengelus bahuku. Menyadari hal itu, dia pun segera menurunkan tangannya dan masih dengan senyuman di bibirnya.
Aku sudah tidak memperhatikan bagaimana situasi di sekitarku. Aku hanya bahagia melihat keluargaku tiba-tiba ada di sini.
__ADS_1
Aku memandang Raffa dan Rafina bergantian. Mereka yang tidak begitu mengenalku, hanya terdiam. Ya Tuhan, sungguh aku merasa bersalah telah meninggalkan mereka.
Aku dekati bodyguard yang menggendong mereka. Aku mengulurkan kedua tanganku pada Raffa, dia pun mengulurkan tangan. Aku mengambil alih Raffa, menggendongnya, dan memeluknya dengan erat. Ikatan batin antara anak dan ibu tak bisa dipungkiri. Aku menangis tersedu dalam suasana bahagia dan haru. Berkali-kali aku menciumi seluruh bagian wajahnya, hingga Raffa kegelian dan menepis wajahku dengan tangannya. Setelah puas memeluk dan menciumi Raffa, aku kembalikan gendongan Raffa kepada bodyguardnya. Kini, aku beralih pada Rafina.
Setelah dia berada di gendonganku, aku peluk dan ciumi dia dengan sepuasnya. Mataku masih tak berhenti mengeluarkan air mata. Kali ini, aku ingin menggendong Rafina, sengaja tak kuserahkan ke bodyguardnya.
Dave yang menyadari hal itu, akhirnya mencoba mengarahkan dan membawaku ke panggung.
Aku masih tak bergeming dari posisi berdiriku, karena aku bingung dengan kode yang dia berikan.
“Ayo!” tangan kirinya seolah merangkulku tapi tak bersentuhan sementara tangan kanannya yang memegang microphone, terulur ke depan mengarah ke panggung.
Aku masih belum paham, karena memang otakku membeku.
“Kaulah wanita itu” ucapnya lirih tepat di samping telingaku.
“What!!!!???” sontak aku berteriak mendengar bisikannya barusan. Teriakanku mengagetkan Rafina yang sontak mempererat tangannya di leherku.
Dave meyakinkanku kembali dengan menganggukkan kepala perlahan.
“Tapi---” kakiku masih belum melangkah.
“Nanti aku jelaskan. Sekarang ayo ke panggung!” ucapnya lembut.
Aku sungguh tak percaya. Melihat dia berkata lembut dengan ku pun, aku tak percaya, apalagi ini,,,,.
Akhirnya aku memilih untuk menurut saja. Aku melangkahkan kaki perlahan menuju panggung.
“Unda,,,,” aku segera menatap Rafina kala dia berbisik memanggil namaku.
__ADS_1
Wajahnya tiba-tiba berubah pucat. Sesekali dia memejamkan matanya seolah sedang menahan rasa tertentu. Pelukan tangannya yang awalnya erat tiba-tiba mengendur. Kakiku melangkah namun tatapanku masih lekat memandang perubahan raut wajah Rafina. Ada apa dengannya??
“Iya Sayang, kamu kenapa Nak?” sungguh aku cemas. Aku menggoyang tubuhnya yang seolah perlahan melemas dan tiba-tiba matanya terpejam, kepalanya terjatuh di pundakku.
“Rafina!” aku berteriak memanggilnya. Sontak Dave yang mendengarnya, langsung menatap kami dan nampak panik.
Secepat kilat, Dave mengambil alih menggendong Rafina. Dia turut berteriak panik. Dia balik badan dan menyerukan, memerintahkan sesuatu kepada bawahannya.
“Segera siapkan mobil di lobby!”
Dia balik badan, dan berlari meninggalkan kami. Aku pun turut panik dan berlari di belakangnya. Suasana sangat gaduh karena semua turut merasakan kepanikan ini. Ya, Rafina pingsan di saat kami tinggal beberapa langkah lagi menuju panggung.
Keluargaku, aku, dan beberapa orang, berlarian mengejar Dave yang sudah melesat di depan sambil menggendong Rafina. Aku tak menyangka, dia bisa sepanik itu.
AUTHOR POV
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Davis dan anak buahnya tengah berada di perjalanan. Karena perjalanan cukup jauh dan memakan waktu lama, Davis pun tertidur.
Namun kemalangan terjadi. Pada saat berada di perempatan jalan, ketika lampu lalu lintas telah berganti warna hijau, mobil Davis langsung tancap gas. Tanpa mereka perkirakan, dari arah kanan tiba-tiba melintas mobil lainnya. Demi menghindari tabrakan, sang sopir akhirnya mengerem mendadak dan membanting stir bermaksud putar balik. Akibatnya mobil berputar-putar untuk beberapa saat sampai akhirnya berhenti. Sempat terjadi benturan dengan mobil lain tersebut, namun untungnya tidak terlalu keras.
Karena mendadak direm dan sopir banting stir, beberapa kali kepala Davis terbentur kursi mobil yang ada di baris depan.
Setelah mobil benar-benar berhenti. Sopir dan anak buahnya langsung menengok ke kursi baris kedua, berteriak memanggil nama Davis berkali-kali, karena Davis masih terpejam matanya dan sepertinya dia pingsan. Anak buahnya yang saat itu berada di kursi penumpang baris depan, langsung turun dan masuk ke baris kedua. Dia mengguncang tubuh Davis beberapa kali. Dia memperhatikan jidat dan tulang pipi Davis yang nampak memar. Mungkin benturannya tadi sangat keras. Bisa jadi karena Davis dalam posisi tertidur sehingga dia tidak bisa bersiap-siap dengan berpegangan, namun malah terombang-ambing dan berkali-kali kepala membentur kursi depannya.
Si anak buah segera memindahkan Davis ke taxi dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Sementara itu, sang sopir bertanggung jawab dengan mengikuti Polisi ke kantor untuk dimintai keterangan.
Begitu Davis sampai rumah sakit, dia langsung ditangani. Kata dokter IGD yang menanganinya, kondisinya cukup baik, tidak ada luka yang cukup berarti, hanya saja pasien masih pingsan karena mungkin efek dari shock.
“Beberapa menit lagi, sadar kok” ujar Dokter itu.
__ADS_1
“Dok, apakah kami boleh membawanya pindah ke rumah sakit lainnya? Mengingat di sini sangat jauh dari kota asal kami”
“Silahkan, tapi paling tidak menunggu sampai besok. Kami masih mengobservasi luka dalamnya. Kami sedang mempersiapkan ruang rontgen, nanti sebelum pasien dibawa ke ruang rawat inap, akan kami bawa ke ruang rontgen terlebih dahulu” dokter itu menjelaskan panjang lebar dan hanya dijawab anggukan kepala.