
NARITA POV
---- Di kantor ----
Mr. Al mendatangi mejaku dan berkata “Na, rapat dibatalkan”
“Owh baik, Mr. Apakah akan dijadwalkan ulang?” tanyaku.
“Karena ini rapat rutin antar bagian, menurut pak Rio asisten Mr. Dav rapat akan kembali diadakan minggu depan” aku pun mengangguk paham.
“Oke, tolong siapkan feasibility study yang kemaren aku minta ya!” aku pun kembali mengangguk.
Lalu Mr. Al berbalik dan menuju ke ruangan beliau.
“Eh Na, kenapa rapat dibatalkan? Apa Mr Dav sedang tidak masuk kantor?” tanya Sherly tiba-tiba sembari berbisik dari mejanya.
“Entahlah” aku menaik turunkan bahuku.
DAVIS POV
Aku tengah berada di jet pribadiku bersama Rio asisten pribadiku.
“Rio, sudah kamu infokan pembatalan rapat kita kan?”
“Sudah Mr” jawabnya singkat.
Lalu seorang pramugari memberiku minuman. Ya dia sudah hafal dengan minuman yang biasa aku minum ketika menaiki jet pribadiku.
“Mbak, kira-kira perjalanan kita butuh waktu berapa jam?” tanyaku pada pramugari itu.
“Sekitar 1 jam, Mr” jawabnya ramah.
“Oke terima kasih”
“Sama-sama, Mr” jawabnya sembari tersenyum.
Satu jam kemudian jet pribadi telah mendarat. Rio menyiapkan sebuah mobil Alphard untuk membawaku ke suatu tempat. Kami pun memasuki mobil tersebut.
“Rio, untuk siapa itu?” tanyaku menoleh ke kursi penumpang bagian belakang terdapat 1 keranjang besar buket buah dan 1 keranjang besar aneka camilan. Keduanya nampak memenuhhi kursi tersebut.
“Owh itu untuk buah tangan, Mr. Kalau tradisi timur kan gitu, tiap kali kita berkunjung ke rumah orang, ada baiknya kita membawa buah tangan” jelasnya.
__ADS_1
“Astaghfirullah, kenapa aku bisa gak kepikiran. Makasih Rio, kamu memang aspri is the best” ucapku sembari tersenyum.
“Sama-sama, Mr” jawabnya malu-malu.
Perjalananku kali ini hanya ada aku dan Rio saja. Aku memang cukup terbuka dan selalu meminta pendapat dan bantuan Rio untuk melancarkan semua kegiatanku, baik itu terkait pekerjaan maupun menyangkut hal pribadi.
Mengingat bandara memang tak jauh dari tempat yang aku tuju, 45 menit kemudian mobil belok ke halaman luas sebuah rumah joglo. Nampak rumah itu bernuansa tradisional, teduh, rindang karena banyak pepohonan dan terdapat taman di sekelilingnya. Rumah tak memiliki tembok pembatas dengan tetangga sebelah kanan dan kiri, bahkan tak memiliki pintu gerbang layaknya rumah-rumah di kota besar.
“Kita sudah sampai, Mr” ucap Rio sembari meraih buah tangan di kursi belakang.
Tak bisa kupungkiri, aku gugup. Kuambil nafas dalam-dalam.
Ketika Rio hendak membuka pintu mobil, langsung aku raih lengannya “Sebentar Rio. Aku aku aku belum siap turun” aku berkata dengan tergagap-gagap, Rio mengangguk paham dan membatalkan membuka pintu.
Setelah 5 menit, aku pun membuka pintu mobil dan keluar. Kami pun menuju ke pintu utama dan mengetuk pintu, sementara itu Rio masih kembali ke mobil untuk membawa buket yang masih tertinggal.
Cukup lama kami menunggu, namun suasana tetap masih hening, sepertinya rumah dalam keadaan kosong. Lalu ada seseorang yang tiba-tiba mendatangi kami dan bertanya “Maaf cari siapa?” dia memperhatikan dengan seksama aku dan Rio.
“Maaf, apa benar ini rumah pak Bagus dan bu Marni?” Rio bertanya dengan suara selembut mungkin.
“Owh benar. Sudah dicoba membunyikan lonceng?” tanya dia masih menelisik penampilan kami berdua dan sesekali memperhatikan mobil kami.
“Owh, lonceng? Di mana?” kami mencoba mencari keberadaan lonceng seperti apa yang dikatakan bapak-bapak itu.
“Ini Mas! Nanti kalau belum dibukakan pintu, diulang lagi saja ya! Kalau belum ada yang membukakan pintu berarti memang tidak ada yang di rumah.” Ujarnya.
“Owh baik terima kasih, Pak!”
“Sama-sama mas. Maaf kalau boleh tau, Mas-mas ini dari mana ya?” dia masih belum beranjak dari situ.
“Kami dari Jakarta pak. Kami ada perlu dengan pak Bagus dan bu Marni” ucapku sedikit tegas berharap dia mengerti kalau kami tidak ingin dia bertanya lebih jauh lagi.
“Owh gitu. Baiklah. Bapak tinggal dulu ya Mas!"
“Terima kasih, Pak” ucapku dan Rio bersamaan lalu si Bapak itu pun tersenyum sembari menundukkan kepala sedikit tanda permisi.
Kami pun kembali membunyikan lonceng itu, namun lagi-lagi sepi tak ada tanda-tanda adanya orang di dalam rumah.
“Mr, kita tunggu di mobil, di teras sini atau kita istirahat di hotel dulu?” tanya Rio.
“Kita tunggu saja di sini, tolong ambilkan air putih di mobil ya Rio!” lalu kami pun duduk di kursi rotan yang ada di teras rumah.
__ADS_1
Udara pedesaan yang masih segar, ditambah lagi pepohonan yang rindang membuat teras ini terasa asri dan sejuk. Semilir angin dan lelahnya perjalanan kami membuatku sedikit terkantuk.
Sekitar satu jam kemudian, ada seorang bapak-bapak mengenakan baju dan celana yang terkena lumpur, mengenakan caping, dan memikul cangkul dipundaknya berjalan memasuki pelataran rumah asri itu. Aku yang sedikit paham siapakah gerangan beliau akhirnya tersenyum, berdiri, dan menundukkan kepala, lalu mendekati bapak itu.
“Assalamu’alaikum, Pak” aku mengucapkan salam lalu beliau membalas salamku masih dengan ekspresi wajah keheranan.
“Maaf, Mas-mas ini cari siapa ya?” merasa tidak mengenalku dan Rio, bapak-bapak yang kuketahui adalah pak Bagus itu bertanya.
“Saya mau bersilaturahmi dengan bapak sama ibu. Selain ingin berkenalan secara langsung, ada hal yang akan saya bicarakan dengan bapak dan ibu”
“Mas-mas ini siapa?” pak Bagus menatapku kemudian beralih pada Rio.
“Saya Davis dan ini Rio asisten saya” jawabku dengan suara lembut.
“Ya Alloh, Masyaalloh. Maafin Bapak ya nak, gak mengenali nak Davis” bapak itu mulai meletakkan cangkulnya.
“Ibu lagi Yasinan, Arjuna belum pulang kerja, rumah kosong nak, jadi maaf kalau ada tamu malah dianggurin. Ditunggu dulu ya nak, bapak mau beres-beres dulu, kotor penuh lumpur, hehehe” bapak berkelakar dengan lemah lembutnya membuat kami pun terbawa lemah lembutnya pak Bagus.
“Owh iya pak, silahkan. Enak kok nunggu di sini, hawanya adem.” Jawabku sedikit tertawa mengimbangi pak Bagus.
“Bapak permisi ke dalam dulu ya nak!” lalu pak Bagus melewati samping rumah dan masuk ke dalam melalui pintu samping.
Tak berapa lama, terdengar suara pintu terbuka dari dalam.
“Silahkan masuk nak Davis, nak Rio!” pak Bagus mempersilahkan kami masuk, lalu kami masuk dengan mengucapkan salam dan dijawab oleh pak Bagus.
“Silahkan duduk dulu ya nak. Bapak ke belakang dulu!” kami pun mengangguk.
Rio pun menyusul pak Bagus masuk ke rumah bagian dalam sembari membawa buket buah.
“Pak, maaf kami tidak membawa apa-apa” Rio pun meletakkan buah itu tepat di meja makan. Rio terdiam sejenak melihat pak Bagus sedang membuatkan teh manis hangat untuk kami.
“Ya ampun nak, kok repot-repot sie. Kalau mau silaturahmi gak usah repot-repot gini!” ujar pak Bagus dengan sangat ramah. Rio pun membalas dengan senyuman dan tertawa kecil. Rio lalu kembali membawa buket cemilan.
“Tuhkan merepotkan. Kebanyakan buah tangan ini mah!” kembali pak Bagus berujar.
“Ah enggak merepotkan kok pak. Maaf kami bawa seadanya” sanggah Rio.
“Ya udah ayo balik lagi ke ruang tamu!” saat Rio melihat pak Bagus membawa nampan berisi minuman, segera dia merebut nampan itu “Biar saya yang bawa Pak”.
“Yaa yaa, makasih ya nak!” pak Bagus menepuk lembut pundak Rio.
__ADS_1
---- TO BE CONTINUED ----