
NARITA POV
---- Di Kantor ----
Jam menunjukkan pukul 11.00, aku meraih telpon di mejaku yang sejak tadi kubiarkan berdering.
“Hallo”
“Hallo, Assalamu’alaikum” jawab dia di seberang sana. Hanya 1 kalimat saja aku sudah tau siapakah gerangan orangnya.
“Wa’alaikum. Ada apa?” tanyaku to the point.
“Kenapa telponku dari semalem gak pernah kamu angkat?”
“Maaf semalem aku tidur cepet. Dari tadi kerjaanku juga banyak, gak sempet pegang handphone” jawabku malas.
“Kalau aku gak menelpon ke extensionmu, pasti kamu gak bakal angkat telponku.”
“Makan siang yuk!”
“Aku gak bisa” jawabku tanpa pikir panjang
“Kenapa?”
“Masih ada kerjaan yang mau aku selesein dulu”
“Kamu ngambeg?”
“Ngambeg? Kenapa?”
“Mungkin karena kemaren aku ingkar janji"
“Enggak. Lagian aku kan gak nungguin kamu, ngapain ngambeg?” jawabku enteng tak ada sedikit pun nada ketus.
“Alhamdullillah deh kalau gitu. Tapi sekali lagi aku minta maaf ya!”
“Iya”
“Jadi beneran nie gak bisa meluangkan waktumu sedikit untuk makan siang bareng?”
“Maaf. Next time aja ya!”
“Baiklah kalau gitu. Bye. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum”
Aku pun segera meletakkan telponnya pada tempatnya dan kembali berkutat dengan pekerjaanku.
“Na, maksibar yuk!” ajak Sherly sembari merangkul pundakku.
“Hayuk! Jam berapa?” aku menoleh padanya.
__ADS_1
“Setengah jam lagi ya. Anak-anak sudah oke kok. Ke café biasa aja gimana?”
“Oke” aku pun mengiyakan ajakan makan siang Sherly. Padahal tadi sudah menolak ajakan Davis.
Flashback On
Kemaren sore tepat jam pulang kantor, aku telah bersiap di kursi sofa dekat lobby. Ponsel sengaja aku genggam terus karena takut dia tiba-tiba mengabariku.
Setengah jam sudah aku menunggunya namun tak kunjung dia mengabari. Aku mengirimkan pesan bahwa aku telah bersiap di lobby. Pesan telah terkirim namun belum dia baca. Aku pun mulai menunggu dengan gelisah.
Tak berapa lama, kulihat beberapa orang bertubuh tegap tinggi berjalan cepat, disusul di belakangnya beberapa orang yang kukenal adalah para petinggi di perusahaanku. Mataku terbelalak ketika aku melihat dia yang selama setengah jam ini aku tunggu ada di barisan tersebut. Alin pun berjalan sejajar dengannya.
Setelah mobil-mobil yang membawa mereka pergi meninggalkan lingkungan kantor, aku pun memutuskan pulang sendiri.
Hufh, kenapa gak ngabarin kalau dia tidak bisa menepati janji? –batinku.
Flashback Off
“Na, kamu turun ke lobby duluan ya! Nanti aku nyusul. Ini kerjaanku lagi nanggung” Sherly masih menatap pc ketika menyuruhku untuk pergi makan siang terlebih dahulu.
“Ya udah, kabarin lagi nanti ya!” aku bergegas pergi meninggalkannya.
Sampailah aku di lobby. Kulihat Daniel tengah menelpon, dia melambaikan tangannya dan aku berjalan ke arahnya. Sejenak aku menunggu dia yang tengah berbicara dengan seeorang di telpon.
“Sendirian Niel?” tanyaku sesaat setelah dia menutup telponnya.
“Iya. Tau nie anak-anak pada ngebatalin janji semua!” jawabnya sambil menyembikkan bibirnya.
“Gak ada. Tinggal kita berdua aja” aku pun mengangguk dan dia mulai menggiringku untuk melangkah ke kantin.
“Kantin aja lah ya!” ajaknya kemudian.
“Iya” kami pun berjalan berdampingan.
Sesampainya di kantin, aku mengedarkan pandangan mencari meja dan kursi kosong yang akan kami tempati. Setelah mataku menemukan beberapa meja kosong, tanpa pikir panjang segera aku merangkul lengan Daniel dan menariknya. Sesampainya di meja yang kami tuju, Daniel membuka kursi untuk kududuki.
“Terima kasih” aku menoleh dan tersenyum padanya.
“Sama-sama” dia pun membalas senyumanku.
Sembari menunggu pesanan, aku dan Daniel mengobrol. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mulai mengamati kantin yang sudah ramai pengunjung.
Nampak dari kejauhan seseorang yang juga sedang menatapku tajam. Mataku yang sepertinya mulai nambah minusnya meskipun telah aku pakaikan kacamata, tak cukup jelas menangkap siapakah gerangan seseorang itu. Aku memicingkan mataku dan berulang kali menajamkan pandanganku, sampai pada suatu titik aku merasakan dia pun tak pernah beralih pandangannya.
Deg
Setelah aku menyadari dia yang menatapku, aku pun segera membuang pandangan ke arah lain.
Daniel yang melihatku memandang ke suatu arah, segera berujar “kamu liat siapa sie, Na?”
Aku yang tersadar, gagap menjawab pertanyaannya “Eh eh, enggak ada kok.”
__ADS_1
Daniel menoleh ke belakang, mencoba menelusuri ke mana arah mataku tadi.
“Kamu liat Mr. Dav sama Alin?” katanya santai.
“Enggak kok” bohongku, Daniel nampak tersenyum tipis.
DAVIS POV
Dari sejak semalam aku sudah berusaha menelpon dia, tapi gak pernah diangkat. Mengirim pesan pun jangankan dibalas, dibaca pun enggak. Apa mungkin kemaren sore dia menungguku lama, hingga kesal karena kami tak bisa pulang bareng?
Aku akui aku yang salah. Kemaren klien kami datang terlambat. Aku cukup lama meyakinkan mereka untuk mau bekerja sama dengan hotel kami. Sampai akhirnya mereka menyetujuinya.
Sebagai ucapan terima kasih karena telah menunjuk hotel kami, kami menawarkan makan malam bersama. Aku jujur lupa akan janjiku pada Narita karena saking bahagianya mendapatnya proyek lumayan besar ini.
Aku baru mengingat janjiku, setelah aku sampai di rumah dan pada saat membuka pesan di ponselku. Memang dia hanya mengirimiku 1 pesan, tapi aku cukup tau bahwa tadi sore dia menungguku. Aku sedikit tersenyum membayangkan dia yang dengan setia menungguku, tapi seketika hatiku melemah karena mengingat mungkin saja dia marah karena aku membatalkan janji tanpa pemberitahuan.
Segera aku menelponnya. Berkali-kali aku menelponnya, tapi dia tak mengangkat. Hampir setengah jam aku menelponnya, namun hasilnya sama saja. Aku menyerah.
Aku putuskan untuk kembali menelponnya besok pagi saja. Aku ingin mengajaknya makan siang sebagai tanda permintaan maaf.
-----Pagi hari di kantor----
Sesampainya di kantor, aku kembali mencoba menelponnya berulang kali dan mengiriminya pesan.
Aku: Assalamu’alaikum. Pagi Narita. 🥰
Aku: Sudah sampai kantorkah?
Aku: Kamu sehat kan?
Aku: Na…. 🧐
Aku: Aku mesti gimana Na? Tolong balas wa ku! 😫
Aku: Na, please,,,, 😔
Aku: Jangan buat aku makin merasa bersalah 😩😭
Aku berpikir untuk menelpon Narita melalui ekstensionnya. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Akhirnya dia mengangkatnya. Aku mengutarakan permintaan maaf sekaligus mengajaknya makan siang. Aku cukup lega mendengar suaranya yang lembut, semoga ini pertanda baik. Namun ajakanku ditolak olehnya dengan alasan masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan dengan segera.
Setengah jam kemudian, Alin yang memasuki ruanganku dan bermaksud untuk mengajakku makan siang bareng. Aku menyetujuinya dan kami pun keluar ruangan bersama.
“Permata, tolong sampaikan ke Rio untuk menyusulku ke kantin!” Permata pun mengangguk dan mulai menekan tombol telpon di mejanya.
Aku sengaja mengajak Rio karena aku tidak mau makan hanya berdua dengan Alin. Aku ingin membuktikan ke Narita kalau aku serius ingin membuktikan bahwa hanya dia satu-satunya yang aku inginkan. Kalau Narita melihatku berdua dengan Alin, dia bisa salah paham.
Sesampainya di kantin, kami telah disiapkan tempat duduk. Rupanya Permata tadi yang menghubungi pihak kantin untuk mencarikan ku tempat.
Saat kami sedang menunggu Rio dan menunggu hidangan disajikan, aku melihat seseorang yang tadi menolakku makan bersama. Dia menggandeng tangan seorang pria yang aku anggap sebagai sainganku. Aku geram melihat mereka berdua. Rasa marah dan cemburu bercampur jadi satu
Apa mungkin Narita menolakku karena ingin makan berdua dengannya?
__ADS_1
Apa arti gandengan tangannya?