
NARITA POV
Aku hanya diam meskipun sangat geram dengan sikap suamiku. Kenapa dia yang sekarang sangat jauh berbeda dengan dia yang semalam? Aku menyadari betul bahwa Davis tak menginginkanku berada di dalam aula ini.
“Mr. Dav, Daniel” aku menyebut nama mereka dan memandanginya secara bergantian.
“Saya ijin keluar” saat aku sudah balik badan, tangan Davis tiba-tiba mencengkeram tanganku.
“Tolong lepaskan!” aku menoleh ke belakang memandang tanganku yang dicengkeramnya lalu menoleh ke dia.
“Kita perlu bicara!” suara berat, nada tegasnya membuatku tak berkutik.
“Perhatian!!!! Tolong kalian semua keluar sebentar!” teriak Davis.
Lalu Rio mulai menggiring orang-orang untuk keluar. Pandangan mereka terhadap kami, penuh tanda tanya, termasuk Daniel. Namun Daniel nampak tak bergeming dari tempat berdirinya.
“Mr. Daniel, kau juga!” perintah Davis menatap mata Daniel tajam.
“Maaf, Mr. Dav. Saya yang membawa Narita ke sini jadi saya berhak di ruangan ini!”
“Rioooooooo!!!!!!!!” teriak Davis membuat aku pun sedikit takut.
“Iya, Mr?” Rio berlari mendekati kami, dan menjawab sahutan Davis dengan terengah-engah.
“Bawa, Mr. Daniel keluar, sekarang!” mata Davis masih menatap tajam, dengan tatapan marah.
Aku yang sudah tak bisa terima dengan sikap Davis dan amarahnya yang meluap-luap tanpa aku ketahui dengan jelas penyebabnya, membuatku geram. Dengan paksa, aku membuka cengkeramannya dengan tangan sebelahku, hingga akhirnya terlepas. Lalu aku mendekati Daniel.
“Kalau dia keluar, aku juga keluar. Permisi!” aku segera menarik tangan Daniel yang menatap terheran pada kami berdua.
“STOOOOOOP!!!!” Davis kembali berteriak kala melihatku pergi dengan langkah cepat sembari menarik tangan Daniel.
Davis berjalan dengan langkah lebar dan cepat hendak menyusul kami, hingga dia menghadangku.
“Apa perlu aku katakan sekarang?” ucapannya tegas menatapku tajam.
“Lepaskan tanganmu!” perintahnya lagi membuatku segera melepas tanganku yang tengah menggenggam tangan Daniel.
__ADS_1
“Mau aku katakan sekarang di depan mereka atau kita bicara?!” Davis seolah tak menganggap Daniel ada karena tatapannya tak lepas menatap mataku. Aku pun membalas tatapannya dengan tatapan marah dan wajah serius. Aku tak suka dengan ancamannya ini.
“Keluarlah, Niel!” perintahku ke Daniel.
“Tapi, Na?” Daniel enggan meninggalkanku.
“Aku gakpapa” aku meyakinkannya lagi.
Akhirnya Daniel pergi dan disusul Rio di belakangnya. Pintu aula ditutup oleh Rio. Kini di dalam aula hanya ada kami berdua.
Aku sangat tau beberapa cctv tengah mengamati kami berdua. Aku berusaha menjaga jarak dan bersikap sewajarnya sebagai atasan dan bawahan agar mereka yang tengah mengamati cctv, tak akan curiga. Aku cukup bersyukur bahwa ini cctv tanpa rekaman suara.
“Maaf” ucapnya pelan.
“Untuk apa?” jawabku malas.
“Karena aku marah padamu"
“Harusnya aku yang marah!” kataku dengan nada ketus.
“Kamu tak punya alasan marah padaku!” sahutnya kemudian.
“Egois!” sahutku.
“Tolong jaga sikapmu! Cctv sedang memperhatikan kita!” aku mengingatkannya.
“Persetan dengan mereka!” ucap Davis ketus.
“Massss!!!” teriakku memuncak gara-gara mendengar kata-kata kasarnya.
“Kamu boleh marah, bicara ketus, tapi tolong jangan pernah mengucapkan kata-kata kasar! Baik di depanku atau pun di depan karyawanmu!”
“Bukan karena aku tidak suka, tapi ingat kita ini umat beragama, harus bisa menahan emosi, menahan ucapan, karena ucapan adalah doa!” aku berusaha berbicara lebih lembut.
“Maaf” ucapnya pelan.
Aku menunggu beberapa saat untuk menenangkan hati kami berdua.
“Kenapa kamu marah padaku mas?” aku mulai mencoba bicara baik-baik.
“Aku tidak suka kamu berbicara intim dengannya!”
__ADS_1
“Intim? Intim dari sudut pandang mana? Aku dan Daniel sama sekali tak berbicara intim, kami malah berdebat hebat, kami beda pendapat dan adu argument!”
“Tapi tadi----”
“Jangan cari alasan, kamu yang gak jujur padaku! Aku gak suka!” aku menyela omongannya dan malah kembali ketus.
“Gak jujur? Perihal apa?” tanyanya heran.
“Kenapa kamu gak bilang kalau kamu dan dia jadi bintang iklannya? Seneng banget disuruh pose mesra. Biar dikira pasangan ideal ya!” ketusku.
Hahahahhahahha,,,,,,Davis tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, lalu hendak memelukku tapi segera aku menjauh.
“Mas, sudah kubilang, jaga sikap!”
“Iya, iya, Sayang, maaf. Aku lupa” dia sedang berusaha menghentikan tawanya.
“Kenapa tertawa? Bener kan dugaanku?”
“Owhhh, jadi kamu cemburu ceritanya” ucap Davis kemudian.
“Wanita mana yang tak cemburu melihat suaminya diam-diam melakukan sesi pemotretan mesra dengan wanita yang sangat mencintainya”
“Makasih Sayang,,,aku suka, akhirnya aku bisa merasakan betapa kamu juga mencintaiku” ucapnya lagi.
“Iiiiiihhh,,,gak nyambung!!!”
“Kalau kamu cemburu, berarti kamu mencintaiku!” dia mulai jumawa.
“Terserah kamulah!” ucapku malas.
“Lalu kenapa kamu gak cerita?”
“Iya, Sayang. Aku lupa mengatakannya, maaf. Aku jadi bintang iklan atas kesepakatan rapat, padahal aku sudah menolaknya!”
“Sayang, tolong maafkan aku. Aku berusaha bersikap professional”
“Kalau aku mau dengannya, sudah sejak lama aku memacarinya. Bahkan bukan hanya status pacara, tapi mungkin akan aku terima begitu saja perjodohan kami!” Davis berusaha meyakinkanku bahwa ini hanya sebatas profesionalitas kerja saja.
“Kamu bisa menolak kontak fisik!” argumenku.
“Iya aku akan menolak kalau itu kontak fisik yang berlebihan, seperti berci***n, berdekapan, tiduran. Kalau masih dalam tahap wajar, aku berusaha mengikutinya”.
__ADS_1
“Kamu mau memahamiku kan, Sayang!?”