
NARITA POV
Hari ini Davis telah membawa keluarga dan anak-anakku ke sebuah apartemen. Menurutnya ini apartemen sederhana, tapi bagi kami ini sungguh sangat mewah. Apartemen ini terdiri dari dua lantai dengan 4 kamar tidur yang masing-masing terdapat kamar mandi dalam. Kamar utama dilengkapi dengan sebuah walking closet yang cukup luas. Furniturenya juga sangat mewah. Davis mendesainnya dengan sangat detail sehingga terasa kental sekali kemewahannya.
“Jun, aku titip bapak, ibu, sama si kembar ya! Kami mau keluar, ada hal yang harus kami bereskan!”
“Iya, Bro. Tenang saja” jawab Arjuna pada Davis.
Kami berdua pun pergi dari apartemen. Rencananya hari ini aku dan Davis akan mengutarakan rencana kami selanjutnya di rumah Daddy, setelahnya bertolak ke rumah Mr. Dave untuk mengambil barang-barangku yang telah dibereskan oleh asisten rumah tangga di sana selanjutnya untuk aku bawa ke apartemen. Aku merasa bersalah ketika harus meninggalkan Karen. Entah bagaimana perasaannya ketika nanti kami bertemu. Setelah sekian lama kami tak berjumpa, tiba-tiba aku pergi dari rumahnya, pasti dia akan sangat sedih.
Hubunganku dengan Karen sudah sangat dekat. Bahkan selama aku tak berada di sana, tiap hari dia selalu meminta video call denganku. Saat itu, aku memang mengatakan sedang mengurusi Rafina (anakku), dan kulihat raut kecemburuan di wajahnya, sepertinya dia merasa bahwa aku yang mencintainya tiba-tiba berpaling darinya. Aku selalu menjelaskan bahwa aku masih dan akan selalu mencintainya. Meskipun berat, tapi akhirnya dia mengangguk pasrah dan memahami keadaan. Aku tak pernah menyinggung tentang rencanaku meninggalkan rumahnya. Ahh sungguh sejujurnya aku berat meninggalkannya.
“Ada yang sedang kau pikirkan?” Davis buka suara sesaat setelah mendengarku menghela nafas panjang.
“Aku tak tega meninggalkan Karen” jawabku pelan.
Saat ini kami berdua telah berada di mobil menuju ke rumah Daddy. Davis masih fokus dengan kemudinya, namun terlihat dia pun seperti sedang memikirkan sesuatu hal.
“Kasihan anak itu, entah bagaimana hancurnya perasaannya jika dia tau bahwa dia sebatang kara di dunia ini.”
“Sebatang kara? Dia kan memiliki ayah, hufhhh,,,,meskipun dia sangat mendambakan sosok ibu juga” aku masih perih mengatakannya, teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Mungkin jika Rafina tidak pingsan, aku sudah di…….. Ahh,,,rasanya campur aduk tidak karuan, bahkan aku tidak sanggup mengucapkannya.
Bagaimana dengan perasaan Mr. Dave saat ini ya?
Bagaimana juga kalau aku meninggalkan Karen?
“Karen bukan anak kandung Kak Dave!” kalimat Davis sontak membuat mataku membulat dan aku menoleh padanya.
“Ibunya Karen berselingkuh saat dia masih berhubungan dengan kak Dave.” Davis masih menatap ke depan dengan sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri karena konsentrasi mengendarai mobilnya.
__ADS_1
“Dia baru mengetahui kenyataan itu setelah sekian lama merawat Karen.” Lanjutnya.
“Ya Allohhhh,,,,,” seketika air mataku meleleh mendengar kenyataan ini.
“Kak Dave dulu memang acuh padanya, tapi lama kelamaan dia mulai menyayangi anak itu. Semua karena---” Davis menghentikan ucapannya, melirik padaku sekilas, dalam sekian detik pandangan kami bertemu. Aku heran kenapa dia menghentikan kalimatnya.
“Karena apa?”
“Karena dia belajar darimu” dahiku mengernyit tidak memahami maksud perkataannya.
“Dia mulai belajar mencintai seseorang yang bukan siapa-siapanya, seperti kamu yang bisa sangat menyayanginya meskipun Karen bukan siapa-siapamu”
“Kamu sudah mengingat sesuatu?” Davis menggeleng kepala dan tersenyum sekilas.
“Beberapa hari yang lalu, Kak Dave datang lagi membesuk Rafina. Waktu itu kamu sedang meminta ijin untuk membereskan urusan di kampus. Dia bercerita banyak padaku.” Aku mengangguk mendengar penuturannya, namun setelahnya aku mulai kepo dengan apa yang mereka bicarakan kala itu.
“Apa saja yang kalian bahas?” Davis melirik dan tersenyum lagi.
“Dia bilang sudah mempersiapkan diri untuk melamarmu dan memintamu menjadi ibu Karen. Seandainya aku masih hilang ingatan mungkin dia sudah menjadi suamimu saat ini, karena dia mau langsung menikahimu jika kamu menerima lamarannya”
“Kenapa diem”
“Nyesel ya gak jadi nikah sama dia?” Davis tersenyum licik sambil melirikku, sedangkan aku hanya mencembikkan bibirku.
“Aku sendiri bahkan tidak menyangka hal itu, bagaimana mungkin menyesal?”
“Dia bilang sangat mencintaimu” seketika aku melongo mendengar penuturan Davis.
Aku sama sekali tak menyangka, kupikir bualannya di panggung hanya bualan semata. ‘Cinta’ ?? Mana mungkin? Masa iya dia mencintaiku dan aku sama sekali tidak pernah merasakannya? Apa aku yang terlalu cuek, atau dia yang terlalu pandai menyimpan perasaannya? Bahkan obrolan yang selama terjadi di antara kami berdua, hanya obrolan normal antara Nanny dan tuannya saja.
“Tapi aku yakin, kau masih mencintaiku. Makanya aku tak khawatir bila kau tau bahwa dia mencintaimu.” Davis tertawa ringan dan aku kembali mencembik.
__ADS_1
“Aku sebenernya-----”
“STOP. Aku gak mau denger!” Davis tiba-tiba berteriak.
“Dengerin dulu, aku mau bilang sesuatu!”
“Gak. Jangan katakan apapun!”
Aku akhirnya hanya terdiam dan tak berani melanjutkan kata-kataku. Padahal aku hanya akan bilang bahwa aku sebenarnya mengharapkan Davis mengingat kembali kenangan kami. Dalam doaku, aku selalu memohon agar Alloh menyembuhkannya, membuatnya sadar, dan kami bisa kembali di waktu yang tepat. Sungguh aku sangat takut ketika keluarganya mulai mendesaknya untuk menikah. Aku memang sempat kecewa kala aku melihatnya selalu mesra dengan Jess, dini hari keluar dari kamar Jess, berciuman dengan Jess, tapi hati kecilku selalu menolaknya dan mengatakan bahwa ‘kamu tidak mengkhianatiku’.
“Tolong setelah ini, jangan pernah tinggalkan kami!” ucapku sembari merangkul lengannya dan memeluk lengannya yang besar dan keras itu dengan mesra.
“Tolong sadarkan aku, jika aku sakit lagi dan khilaf. Jangan pernah membiarkanku tersesat sendirian!” ucap Davis lirih.
------******-------
Beberapa episode lagi akan TAMAT, semoga para readers menikmati novel perdanaku. Maaf yaa, aku selalu telat update, karena kesibukan jadi kurang mendapat inspirasi. Next time mau buat Novel yang sederhana aja, yang tidak sampai 100 episode. Kalau kepanjangan kok kaya capek fokusnya yaaa,,,,
Mohon doanya yaa para readers tercinta, semoga akum akin banyak belajar lagi untuk menulis, biar novelnya makin seru dan asyik dibacanya.
Dan jangan lupa untuk mampir di Novel keduaku dengan judul “ENGKAULAH PELABUHAN TERAKHIRKU”
Jangan lupa dukungannya ya : SUKA, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE
__ADS_1
Terima kasih