CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
KEDATANGANNYA


__ADS_3

Narita sampai di kos jam 21.00, langsung membersihkan badannya, menunaikan sholat Isya dan beranjak tidur.


Seminggu telah berlalu sejak wisatanya ke salah satu curug di puncak Bogor. Seminggu sudah tak ada komunikasi lebih lanjut antara Narita dan Davis, meskipun mereka telah bertukar nomor telpon.


Sabtu sore seusai mandi, Narita memindahkan foto-fotonya dari kamera digitalnya ke laptopnya. Sebagian dia posting di Friendster dan sebagian besar hanya dia simpan sebagai koleksi pribadinya. Narita tersenyum-senyum sendiri memandangi foto-fotonya. Terlihat ada beberapa foto Davis yang merangkulnya.


Ganteng –batin Narita sembari tersenyum dan mendengarkan musik dari radionya.


Tak berapa lama, terdengar dering ponsel Narita. Narita memicingkan matanya, seolah tak percaya dengan siapa yang tengah menelponnya “Davis calling”, lalu dia angkat telponnya “Hallo—“ sapa Narita.


“Kak, aku di depan kos Kakak nie!,” sahut Davis memotong sapaan Narita. Seketika Narita melotot tak percaya dengan apa yang dia dengar, darimana Davis tau alamat kosnya.


“Buruan keluar Kak!” suruh Davis segera mengingat tak ada jawaban dari Narita.


“Ya, tunggu” jawab singkat Narita berjalan cepat keluar kamarnya.


Dari halaman depan, Narita melihat Davis tersenyum masih di atas motor maticnya. Segera Davis berjalan ke depan gerbang sembari menunggu Narita membukakan pintu gerbangnya.


“Bawa masuk ke dalam gerbang aja motornya, Vis!” suruh Narita, segera Davis berbalik dan menaiki motornya untuk dia bawa ke dalam halaman depan dalam gerbang kos.


“Duduk di sini aja ya!” Narita mempersilahkan Davis duduk di kursi rotan yang ada di teras depan kos. Teras itu cukup bersih dan luas, sangat nyaman untuk menerima tamu. Meskipun suasana Jakarta cenderung panas, namun tidak demikian untuk kosan Narita karena kosan Narita dikelilingi pohon-pohon cukup besar dan banyak ruang terbuka hijaunya.


“Kok kamu tau alamat kosku Vis?” Tanya Narita dengan tersenyum ke Davis dan hanya Davis balas dengan menaikkan kedua bahunya seolah berkata rahasia.


“Tumben ke sini? Kirain udah lupa” Tanya Narita lagi dengan memperbaiki posisi duduknya karena saat ini dia hanya mengenakan atasan kaos lengan pendek press body dan hot pants.


Aku kangen senyum dan candaanmu, Kak –batin Davis tersenyum       


“Aku mau konsultasi nie kak” bohong Davis.


“Oke, wait,,,aku ambilin minum dulu ya” lalu Narita beranjak masuk ke dalam.


Beberapa saat kemudian Narita kembali dengan membawa dua gelas minuman dingin, cemilan kue kering, dan buah jeruk mandarin yang dia beli minggu lalu di Kerfur.


“Wah segernya, makasih Kak” kata Davis setelah dia meminum minuman yang disajikan Narita.


“Mau konsultasi tentang apa nie?”Tanya Narita sambil mengupas jeruk.


“Aku galau nie kak, bingung milih jurusan apa kuliahnya.” Davis merebut dengan lembut jeruk yang telah dikupas bersih dari tangan Narita, lalu memakannya.


“Emang kamu belum kepikiran mau kuliah di Universitas mana? Jurusan apa?” Tanya Narita kemudian mengambil jeruk lain lagi dan kembali mengupasnya lagi.


Udah kepikiran sie, tapi aku modus, bingung ke sini pake alasan apa –Davis dalam hati.

__ADS_1


“Belum tau Kak” bohong Davis lagi.


“Tapi orang tuaku pengennya aku ambil jurusan Manajemen” lanjut Davis.


“Yasudah oke juga kok Manajemen”


“Universitas?” tanya Narita ulang karena belum dijawab semua oleh Davis.


“Hmmm,,,,itu mah gampang Kak, yang jelas masih di Jakarta aja, kalau gak UI ya nanti swasta juga gakpapa, toh di Jakarta kan banyak universitas swasta yang bagus”


“Owh,,,bagus itu” Narita manggut-manggut dan memakan jeruknya.


Dengan nilai yang telah diraih oleh Davis, tak sulit baginya diterima di universitas favorit. Davis memang dikenal anak berprestasi sejak kecil, bahkan saat di SMP dan SMA dia mengikuti program akselerasi. Davis memang dikenal gaul tapi cerdas, berbagai kegiatan ekstrakurikuler dia ikuti, saat temen-temen mengajaknya nongkrong pun masih dia sanggupi, bahkan tak jarang Davis dan temen-temen basketnya datang ke club eksklusif di Jakarta milik salah satu temen basketnya hanya sekedar menghilangkan kebosanan rutinitas sekolahnya. Davis hanya sesekali ke perpustakaan dan serius belajar, namun karena dasar otak encer, begitu mudahnya dia menyerap pelajaran yang diajarkan di sekolah dan di tempat bimbingan belajarnya.


“Yaudah Vis, clear kan urusan rencana kuliahmu?” Narita meminum minumannya dan sesekali memperhatikan ponselnya.


“Lagi nunggu ditelpon pacar Kak?” tanya Davis penasaran memperhatikan Narita tak henti-hentinya menatap layar ponselnya yang tak berdering atau bergetar.


Narita menjawabnya hanya dengan senyuman. Dari awal perkenalan dengan Davis, Narita tak pernah sekali pun mengungkapkan bahwa saat ini dia sedang usaha dalam mencari jodoh. Pikirnya, untuk apa juga harus kasih tau Davis.


Di tengah-tengah asyiknya perbincangan mereka, tiba-tiba ponsel Davis berdering, lalu dia menjawabnya dengan lembut “Iya Lin, apa?” dan beranjak melangkah menjauh dari Narita.


“Gue lagi gak di rumah, nanti malam gue telpon lagi ya” lalu Davis menutup ponselnya.


“Pacar?” Tanya Narita sembari mengulurkan toples makanan keringnya.


Davis hanya membalasnya dengan senyuman.


Kok gak dijawab sie –batin Narita.


Entah Narita sendiri tak tau kenapa ada sedikit perih di dalam hatinya ketika Davis tidak menjawab pertanyaannya.


Ahh apa-apaan sie aku, dia cuma kuanggap kaya adikku, Arjuna –Narita menggeleng-gelengkan kepalanya atas pemikiran konyolnya kali ini.


Adzan Maghrib berkumandang, Narita bergegas kembali ke kamarnya untuk menunaikan kewajibannya. Seusai itu, Narita memanasi makan malamnya yang telah dia masak tadi siang, lalu membawanya ke teras depan kos.


“Kamu cobain masakanku Vis, yaah,,,,,walaupun cuma masakan sederhana ala kampung” Narita meletakkan nasi dan sayur yang dibawanya. Kembali dia masuk ke dalam untuk membawa piring, sendok, garpu dan lauk yang belum terbawa.


Lalu sekembalinya Narita di teras, “Wahh ngrepotin nie kak” tanpa sungkan Davis meraih piring dari tangan Narita dan menyendokkan nasi, sayur, dan lauk ke piringnya. Setelah piringnya lengkap terisi semua menu yang disajikan Narita, terlihat Davis terdiam, sepertinya dia tengah berdoa sebelum memulai makannya.


Taat agama juga dia –batin Narita tak henti memandangi dan tersenyum pada Davis.


“Enak Kak, aku gak pernah makan makanan seenak ini” kata Davis sembari menyuap makanannya.

__ADS_1


“Kamu makan kaya anak kecil, Vis” Narita spontan mengusap lembut dengan tangannya pada sekitar mulut Davis yang ada sisa nasinya. Terlihat Davis terkaget melihat perlakuan Narita, dia sedikit membelalakkan matanya, terdiam dan sesaat berhenti mengunyah.


Duh kok jadi gugup gini sie –gerutu Davis dalam hati.


Cukup lama Davis tak bergerak, namun akhirnya ia tersadar dan kembali menyantap makanannya sembari menatap pada Narita yang seolah memperlakukannya biasa saja.


Sesekali mereka bercerita mengenai hal-hal lucu yang membuat mereka sedikit tertawa di tengah makan malamnya.


“Ehem ehem…” deheman Diva dan Ami yang tiba-tiba muncul dari dalam ruang tamu kos, membuat Narita dan Davis seketika menoleh ke arah Diva dan Ami. 


“Mau ke mana mbak?” Tanya Narita dengan masih menatap pada mereka berdua.


“Mau malem mingguan, Na” jawab Ami singkat sembari memainkan matanya ke arah Narita.


“Maklum belum ada yang ngapelin, jadi kami malmingnya berdua aja, ya kan Mbak Div?” lanjut Ami sembari melirik Diva. Diva manggut-manggut untuk sekedar menjawab pertanyaan Ami.


“Ditunggu makan-makan jadiannya, Na!” sahut Diva dan mereka pun berlalu keluar gerbang.


Degg


Mata Narita dan mata Davis bertemu, sesaat mereka terdiam, bibir kelu tanpa bisa berucap apapun dan hanya bisa saling menatap, tak ada yang berani berujar sama sekali.


Ada perasaan aneh ketika mereka godain Narita seperti itu. Ya, mungkin karena selama ini tak pernah sekali pun Narita menerima tamu laki-laki di kosnya, jadi mereka sudah salah paham atas kejadian ini. Apalagi yang mereka tau, tamu Narita kali ini sudah cukup lama bertamu, lebih dari 3 jam, dari sore sampai malam masih di sana.


“Siapa juga yang jadian dan diapelin? Ada-ada aja mereka” Narita tersenyum dan sesekali melirik pada Davis. Tangan Narita mulai membereskan piring kotor dan mengangkatnya untuk dibawa ke dalam.


“Boleh kubantu Kak?” Tanya Davis dengan mengangkat sisa nasinya sedangkan piring kotor tempat sayur dan lauk sudah diberesin Narita karena tadi habis ludes mereka makan.


“Boleh” jawab Narita singkat dan berjalan di depan memberi petunjuk pada Davis untuk meletakkan sisa nasi di meja di dalam kamar Narita, sedangkan Narita sendiri membawa piring, sendok, dan garpu kotor ke dapur lalu dia cuci. Setelah Narita mencuci bersih perlengkapan makannya, dia bawa masuk ke dalam kamarnya. Betapa kagetnya Narita melihat Davis tiduran di atas ranjangnya sembari memaikan ponselnya, dia pikir Davis sudah keluar dan kembali ke teras.


“Kok masih di sini?” Narita meletakkan perlengkapan makan di dalam lemari dan memasukkan kembali sisa nasi ke rice cooker.


“Setelah makan, kenyang, ngantuk, enak juga rebahan di kamarmu Kak, wangi, adem meskipun tak ada AC nya” jawab Davis masih dengan posisi tiduran dan memainkan ponsel tanpa memperhatikan kehadiran Narita.


“Ayo ngobrol di luar aja!” ajak Narita menarik lengan Davis.


“Kalau dua orang di ruangan tertutup seperti ini, maka yang ketiganya setan” lanjutnya, terpaksa Davis beranjak dan melangkah keluar kamar dengan tangan Narita masih mencengkeram lengan Davis. Tiba-tiba di lorong antara kamar kos, Davis meraih tangan Narita yang lain, “Kak Na” panggilnya, seketika Narita terhenti dan memandang Davis penuh tanda tanya.


Tiba-tiba tangan kiri Davis meraih tangan kanan Narita dan kurang sedikit lagi Davis mencium lembut tangan itu ke bibirnya, namun sebelum itu terjadi, “Sorry, Vis” Narita melepas paksa tangan kanannya.


Narita melepas lengan Davis dan melangkah pergi terlebih dahulu, sedangkan Davis masih membeku seolah tak percaya dengan keberanian yang baru saja dilakukannya.


Apa-apan sih gue, Bodoh Bodoh Bodoh- Davis merutuki tindakannya barusan.

__ADS_1


__ADS_2