CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(NARITA POV) KEKASIH?


__ADS_3

“Hwahhh,,,kamu datang ke kantor lamaku dan ke kosku?” tanyaku terheran-heran.


“Iya.”


“Sebelumnya aku mencoba menelponmu, tapi nomormu sudah tidak aktif. Aku bingung cara menghubungimu” Dia kembali bercerita.


“Aku ganti nomor. Hpku dijambret. Daripada ribet urus nomor baru, mending aku ganti nomor”


“Ada beberapa orang yang ku smsin nomor baruku. Tapi gak semuanya sie” terangku sambil nyegir, mengingat aku tak pernah terfikirkan mengsms dia.


“Terusss???” tanyaku penasaran dengan kelanjutan ceritanya.


“Ya sudah. Aku berusaha mencari info di bagian pemasaran apartemen Kalibata. Aku sengaja mencari informasi tentangmu. Tapi mereka tak mau memberikan informasi tentang biodata pembeli apartemennya. Karena itu menyangkut kerahasiaan informasi”


“Aku kembali gagal menelusuri keberadaanmu”


“Lalu?” tanyaku antusias.


“Sampai suatu ketika, aku mengadakan perkenalan dan rapat dengan para Direktur. Aku memberi kesempatan pada masing-masing Direktur untuk mempresentasikan pending matters dan keberhasilan apa yang sudah dicapainya selama tahun ini”


“Pada saat Mr. Al bersiap mempresentasikan materinya. Dia menampilkan materi dari sebuah laptopnya yang disambungkannya dengan in focus.”


“Background di laptop itu menampilkan sebuah foto yang tak biasa. Foto yang hanya dimiliki aku dan kamu. Foto yang diambil oleh Mbak Sriti menggunakan kameraku” Davis menjelaskan sambil menatapku lekat. Aku pun terhipnotis dengan wajah tampannya dan tatapan matanya yang teduh.


Astaghfirullah. Sadarlah Narita – aku kembali mengingatkan diriku sendiri.


“MasyaAlloh,jadi foto itu? Aku tak pernah mengganti background laptopku dari sejak awal beli sampai dengan sekarang. Iyaa aku inget. Foto candid yang diambil Mbak Sriti dengan posisi aku dari samping dan memperlihatkan pemandangan air terjun yang indah dan ada kamu di kejauhan sana” aku kembali mengingat background yang telah 4 tahunan terpasang di laptopku.


“Huwaaa, kamu ternyata setia juga ya. Bisa gak ganti background sampe bertahun-tahun” katanya lagi.


“Bukan setia. Tapi malas aja milih-milih foto. Kamu tau gak? Pada saat Mr. Al presentasi dengan laptopku. Aku menunggu kalian rapat di depan ruang rapat lho. Aku menunggu sampai 3 jam lamanya.”


“Owh yaaaa???????” Davis terdengar kaget dan excited.


“Coba kalau aku melihat kamu tanpa aku mengetahui keberadaanmu sebelumnya, bisa-bisa aku gak bisa menahan diri untuk langsung memelukmu!” godanya kembali dengan mengerlingkan matanya.


Ck---gumamku.


“Iya. Mr. Al tak mengijinkanku kembali ke ruanganku. Takutnya Dirut baru menginginkan penjelasan langsung dariku, biar gampang dia memanggilku jadi aku nunggu kalian rapat” jelasku kemudian.


“Aku lanjut ceritanya ya!” Davis kembali bercerita.

__ADS_1


“Lalu aku kembali penasaran ingin menemui si pemilik laptop itu dan sekaligus memberimu kejutan.”


“Seusai rapat kami masih makan bersama. Aku membuat suatu alasan agar Mr. Al tak mencurigaiku jika tiba-tiba menginginkan masuk ke ruangan para bawahannya.”


“Lalu aku beralasan ingin berkenalan dengan semua karyawan”


“Tapi saat aku tiba di lantai 5, menyapu semua sudut ruangan, aku gak menemukanmu. Aku cukup kecewa sie. Aku berpikir kemungkinan bukan kamu pemilik laptop itu, tapi orang lain yang sengaja mengambil gambar dari blogku”


“Lalu ketika aku berada di mejamu, aku melihat mejamu kosong hanya ada laptop yang tadi dipakai untuk presentasi dan ada pigura foto. Saat aku melihat satu per satu orang yang ada di pigura itu. Aku kembali tersenyum”


“Kamu tau Na,,,aku bahagia banget. Menemukanmu seperti menemukan emas berlian berkilo-kilo tanpa usaha yang bersusah payah”


“Ahhh lebay” aku dengan beraninya menyenggol lengannya, dan saat aku menyadari dia atasanku, aku kembali meminta maaf.


“Lalu, kamu inget gak, aku pernah memintamu mengantarkan sendiri dokumen ke ruanganku?” tanyanya kembali.


“Iyaa. Tapi kamu malah pergi. Menyuruhku menunggu. Ditunggu sampai sejam gak balik-balik. Gitu yaa seenaknya aja kalau udah jadi Direktur!” aku menyembikkan bibirku kesal kalau inget waktu itu.


“Sorry Sorry, Na. Tiba-tiba aku ada urusan mendadak yang harus aku selesaikan. Tapi gara-gara kamu pergi, kita kembali gagal bertemu ya?” katanya.


“Dannn, sekarang aku pun sudah atur sedemikian rupa biar gak gagal lagi. Aku sudah tidak bisa menahannya untuk segera bertemu. Sebulan lebih kita berada di kantor yang sama, menghirup udara yang sama tapi belum bertegur sapa. Rasanya aku sudah tak bisa sembunyi lagi darimu, Na” dia mengatakannya sembari sesekali tertawa dan masih dengan tatapan yang penuh makna.


“Hebat ya kamu! 4 tahun yang lalu masih anak ingusan---” langsung dia sela.


 


Aku hanya geleng-geleng kepala “Jangan besar kepala kamu! Kalau kamu bukan siapa-siapa gak mungkin langsung duduk di kursi Direktur!”


 


Wajahnya langsung berubah cemberut “Aku bukan fresh graduate ya! Biarpun aku baru lulus S2 tapi aku sudah punya pengalaman kerja di Inggris 3 tahun” bela dia dengan nada tidak suka.


“Ma ma maaf, bukan maksudku merendahkanmu. Tapi jujur kamu yang sekarang telah mengubah pandanganku padamu. Bukan anak ingusan lagi!” dan dia pun tergelak tertawa lebar. Bahkan Rio asistennya dan beberapa pramugari dan pramugara terheran-heran mengintip kami dari kejauhan.


“Na, anakmu umur berapa? Kalau kamu nikah sejak 2 tahun yang lalu seharusnya anakmu berumur 1 tahun?” tanyanya kembali dengan entengnya.


 


Aku pun segera membuang muka, tak pernah suka dengan pertanyaan ini. Aku pun berpura-pura dengan meminum jusku.


“Kenapa gak dijawab?” dia kembali mendesak jawabanku.

__ADS_1


“Kenapa kamu gak meminta asistenmu membawakan biodata tentangku?” Davis kembali tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku.


“Sudah!” jawabnya lagi.


“Terus kenapa masih nanya?” aku berbicara dengan ketus dan wajah cemberut.


“Gak usah cemberut gitu dong!” tangannya menyenggol daguku, langsung aku tepis tangannya “Apaan sieh!!”


“Kamu sendiri kapan peresmiannya?” tanyaku membuat dia mengernyitkan dahi.


“Peresmian? Nantilah nunggu villa nya dibangun baru diresmikan!” dia sepertinya berniat mengelak untuk menjawab pertanyaanku.


“Assshh,,,,udah pinter ngeles nie!” candaku sambil menyenggol lengannya dengan lenganku.


“Ceritakan dong gimana 4 tahunmu setelah kita berpisah?”


“Setahun aku kerja di kantorku yang di Cawang, aku kembali mencari pekerjaan lain dengan jenjang karir dan gaji yang lebih bagus”


“Aku sempat tes di beberapa tempat, tapi akhirnya berjodoh dengan OX Company”


“Di sini, aku mendapatkan jabatan dan gaji yang bagus”


“Banyak bertemu rekan kerja dari berbagai negara, membuatku belajar beberapa Bahasa”


“Setahun aku kerja di sini, aku sudah bisa beli apartemen. Aku bisa membeli mobil dan membiayai kuliah S2 ku dengan gajiku sendiri!” penjelasanku panjang lebar.


“Wow,,,,,,kerennnnnn” dia mengacungkan 2 jempol tangannya.


“Aku gak mungkin terpaku terus menerus pada jodoh. Kalau aku belum dipertemukan dengan jodohku minimal aku bisa meningkatkan kualitas diriku, memantaskan diriku untuk pasanganku, menjadi diri dan pribadi yang lebih baik!” terangnya, membuat Davis mengangguk-anggukan kepalanya.


“Aku bangga pernah mengenalmu sejak lama!”


“Lalu apakah kamu sudah punya kekasih?” dia kembali menatap kedua mataku.


“Hmm,,aku---” dia kembali menyelaku.


“Aku yakin kamu banyak yang menyukai. Sudah berapa orang yang menyatakan cinta?” tanyanya lagi dengan mata yang masih memandangku dengan lekat.


“Kamu bertanya sebagai sahabat atau atasanku?” aku masih memutar-mutar kenyataannya. Aku tak berani memandang matanya. Bagiku ini privacy. Apa perlunya dia bertanya aku sudah punya kekasih apa belum.


“Keduanya!” jawabannya.

__ADS_1


“Sebagai atasanku, untuk apa menanyakan hal yang bersifat privacy ke bawahannya. Sebagai sahabat, apa urusannya sahabat tau aku sudah punya kekasih apa belum?” jawabanku membuatnya memutar bola matanya.


__ADS_2