
Setelah pesawat take off dan kami diperkenankan untuk melepas seat belt. Pramugari menawariku minuman dan makanan. Aku pun hanya meminta jus apel.
Sesekali aku melirik ke arah Mr. Dav yang masih belum membuka kacamatanya. Dia terlihat tengah sibuk dengan ipadnya.
Perjalanan terasa membosankan. Lalu aku mengeluarkan ear phone ku dan mulai memasang di telingaku. Namun sesaat sebelum aku berniat menyalakan musik dari ponselku, Mr. Dav memanggilku.
“Gimana kabarmu, Na?” tanyanya langsung sembari membuka kacamata hitamnya.
Aku yang tak mengerti dan tak paham dengan pertanyaannya, hanya menatapnya dan mengernyitkan dahiku. Kenapa pertanyaannya seolah dia telah lama mengenalku.
“4 tahun berpisah, kamu melupakanku, Na?” tanyanya lagi lalu sekarang dia membuka masker dan topinya.
Seketika aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, mataku melotot masih menatapnya. Kekagetanku membuat otakku tiba-tiba berhenti berpikir, bibirku kelu tak mampu berucap, bahkan mataku pun yang dari tadi melotot, tak berkedip sedikit pun.
“Na….” panggilnya lagi mengagetkanku dari lamunananku.
“I I I iya Mr. Dav….is” aku menjawabnya dengan gugup dan berakhir lirih.
Tak pernah sedikit pun aku mengira bahwa Dirut baruku adalah lelaki yang pernah ada dalam hatiku. Lelaki yang merupakan cintaku sendiri aka cinta bertepuk sebelah tanganku. Lelaki yang meninggalkanku setelah seolah memberikanku harapan-harapan manis. Lelaki yang dulu hanya aku anggap seperti adikku sendiri karena masih SMA.
Namun kini dia?? Sungguh-sungguh penampilannya jauh berbeda. Badannya lebih berisi. Lebih gentleman. Lebih dewasa. Aku tak menyangka seorang Davis yang dulu manis dan manja, menjadi sosok lelaki yang dewasa, berwibawa, sangat disegani, dan upss ditakuti.
“Narita…” panggilnya, lagi-lagi membangunkanku dari lamunan. Aku masih lekat menatapnya. Seolah tak percaya bahwa bosku adalah Davis yang kukenal.
“Jadi, kau???” aku kembali kelu, tak bisa melanjutkan kata-kataku.
Davis terlihat tertawa terbahak-bahak memperhatikanku yang masih kaget.
“Kamu kaget, Na?” tanyanya lagi.
“Biasa aja kali, Na!” perintahnya lagi, lalu dia duduk di sampingku. Mataku tak pernah terputus memandangnya mengikuti perubahan posisi duduknya kini.
“Kamu apa kabar?” wajah kami begitu dekat, bahkan aroma parfumnya yang maskulin menusuk di hidungku, kembali menghipnotisku.
“Na,,,,” Davis melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Ahhh sungguh malunya aku kembali dibangunkan dari lamunan, melamunkan seseorang yang saat ini tengah menatapku.
__ADS_1
“A aku baik. Kamu?” jawabku singkat karena masih gugup.
Diapun tersenyum dan menjawab “Aku baik. Bahkan lebih bahagia dari sebelum-sebelumnya”
“Alhamdullillah” aku kembali menunduk malu dan tersenyum tipis.
“Sebentar,,,kenapa kamu gak kaget ketemu aku?” tanyaku karena tak melihat kekagetan dari mata dan sikapnya.
“Gak” jawabnya sambil mengangkat kedua alisnya.
“Sejak kapan? Sejak kapan kamu tau aku?” tanyaku terheran, setauku kami belum pernah bertemu sebelumnya.
“Sepertinya dinas kita sampai hari Minggu akan seru dengan cerita kangen-kangenan dari kita!” ujarnya kembali membuatku kaget.
Whattt,,,apa maksudnya dengan kangen-kangenan kita? Narita!! Stop jangan kembali jatuh untuk kedua kalinya. Jangan lengah akan sikap manisnya! – aku kembali memantapkan hati dan berjanji dalam hati.
“Ceritakanlah” kataku dengan mengangkat tangan kananku tanda mempersilahkannya untuk bercerita.
Akhirnya, Davis bercerita dari awal mula dia mencariku.
Flashback On
Aku turun dari pesawat, dan menghirup udara Indonesia. Aku bersyukur kembali ke sini dengan bekal yang cukup. Aku telah menyelesaikan Pendidikan S1 dan S2 ku sekaligus. Aku pun telah belajar berbisnis selama 3 tahun terakhir.
Seusai lulus S2, Daddy menawarkanku posisi di salah satu cabang perusahaannya di Australia, tapi aku menolak. Aku memilih kembali ke Indonesia. Akhirnya Mommy n Daddy mengijinkanku memulai karir di salah satu bidang usaha beliau di Indonesia, sambil mempersiapkan diri dan memantaskan diri untuk menggantikan posisi Mommy.
Namun aku kembali ke Indonesia bukan untuk menggantikan posisi Mommy. Aku ingin kembali menemuinya. Dia yang telah kutinggalkan 4 tahun yang lalu.
Aku kembali ke Indonesia dengan membawa asisten pribadiku yang telah mendampingiku selama 3 tahun ini, Rio Adrian Putra. Sesosok pemuda Indonesia yang berkuliah S1 di Inggris dan mengadu nasib di negeri orang. Kami sama-sama cocok. Dia tau dan selalu mengerti apa pun yang harus dikerjakannya, itu yang aku suka darinya. Begitu pun sebaliknya dengannya, menurutnya bekerja denganku membuatnya sangat dihargai.
Kami dijemput oleh mang Ujang. Rio turut pulang ke rumah utama Mommy Daddy. Kami sampai rumah siang hari. Seolah aku tak merasakan jetlag, aku begitu semangat ingin bertemu dengannya.
Sore tiba, aku meminjam motor matic Mang Ujang yang dulu sering aku pinjam. Aku menunggunya di depan kantornya seperti 4 tahun lalu. Perasaanku membuncah, jantungku berdebar lebih kencang ketika aku memperhatikan para karyawan kantor mulai berhamburan keluar kantor. Aku dengan seksama memperhatikan satu per satu mereka.
Sampai aku melihat seseorang yang cukup aku kenal.
__ADS_1
“Mbak Sriti…” panggilku, aku membuka helm, masker, dan kacamata hitamku. Dia membalasku dengan senyuman dan menghampiriku.
“Kau???? Davis?” Mbak Sriti bertanya dan aku ulurkan tanganku. Kami pun bersalaman.
“Ya ampun Vis, lamaaa banget gak ketemu ya!”
“Iya mbak. Narita mana Mbak?”
“Lho kamu gak pernah bertukar pesan dengannya?” aku menggelengkan kepalaku.
“Apa dia resign Mbak?”
“Iya, dia pindah kerja!”
“Di mana kantor barunya mbak?”
“Aku pernah nanya, tapi aku lupa di mana? Seingatku kantornya di Sudirman”
“Mbak Sriti punya nomor hpnya?”
“Nah itu dia Vis. Aku dulu punya tapi sepertinya dia ganti nomor. Aku sudah gak pernah kontak lagi dengannya”
Aku kembali kecewa mendengar penuturan Mbak Sriti.
“Mbak boleh minta nomor hp mu? Barangkali nanti mbak mendapatkan kabar tentangnya, tolong kabari aku ya!” lalu Mbak Sriti menyebutkan no hp nya dan aku miskol dan mbak Sriti pun menyimpan nomorku.
Aku pun segera melajukan motorku menuju ke kos nya dulu. Sesampainya aku di gerbang kos, aku mengetuk gerbang kos dengan kunci motor, agar berbunyi nyaring dan penghuni kos ada yang mendengarnya. Maklum kos Narita gak ada bel nya.
Syukurlah, beberapa saat kemudian keluarkan mamang penjaga kosnya.
“Mang, masih inget saya kah?” tanyaku. Aku percaya diri dia tak akan melupakanku, karena dulu sesekali aku membawakannya makanan dan mengobrol dengannya. Dulu pun dia bercerita bahwa belum pernah ngobrol dengan bule seganteng diriku, hehehe.
“Owh ya. Cowoknya Mbak Narita.” Katanya membuatku tersenyum tersipu-sipu.
“Mang, Narita ada di kos kah?” tanyaku kemudian.
“Loh, udah putus to??” dia gak menjawab pertanyaanku malah balik bertanya.
“Aku kuliah di Inggris mang, gak pernah kontak-kontakan dengannya lagi” jelasku.
“Owhh. Dia pindah dari sini. Yang saya dengar dia sudah beli apartemen di Kalibata.” Jelasnya.
“Tau alamatnya mang?” tanyaku lagi, tapi dijawabnya dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
Akhirnya dengan kecewa, aku kembali pulang tanpa membawa hasil apapun. Aku sudah tak tau lagi harus mencarinya ke mana lagi.
Flashback off