CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
MEMINTA JAWABAN


__ADS_3

NARITA POV


Sejak Davis melamarku, dia menjadi sangat perhatian. Berkirim pesan pagi, siang, dan sore. Malam hari menjelang tidur, dia pasti menyempatkan menelponku.


Sudah beberapa hari ini dia tak datAng ke kantor. Kali ini, dia tidak menghilang begitu saja, tapi dia mengatakan bahwa ada urusan yang harus dirinya sendiri yang bolak balik ke Australia. Kepergiannya kali ini tidak dengan Alin. Meskipun jarak memisahkan, dia tak lupa berkirim pesan dan menelponku. Tak lupa dia selalu sematkan kata ‘LUV U’ di setiap pesannya. 


Ketika kami bertukar pesan atau telponan, Davis selalu mengingatkanku untuk istikharah. Jujur ada rasa penasaran yang menghinggapiku, kenapa dia memintaku melakukan itu?


Sejak hari Davis melamarku, tiap malam selalu aku sempatkan untuk istikharah. Namun, sampai saat ini aku belum meyakini apa keputusan yang harus aku ambil. Kepergian Davis keluar negeri justru membuatku makin tenang tanpa takut dimintai jawabannya, karena terus terang aku belum tau harus menjawab apa.


Sementara itu, Daniel beberapa hari ini rutin menjemput dan mengantarku pulang kantor. Mobilku yang sudah waktunya diservis ternyata mengalami beberapa kerusakan yang membutuhkan penggantian suku cadang, sehingga harus menginap beberapa hari di bengkel resmi. Awalnya aku menolak tawaran Daniel, namun dia selalu memaksa dengan alasan rumah kami searah.


Selain rutin antar jemput, Daniel juga rutin menyapaku melalui pesan singkat tiap pagi, siang, dan sore. Bahkan terkadang waktunya hampir berbarengan dengan pesan singkat dari Davis. Sebagai bentuk tulusnya persahabatanku, aku pun selalu membalas pesan-pesannya, meskipun untuk pesan yang sedikit mesra, tak kubalas.


Selain Davis dan Daniel, ternyata Arnold sudah mulai menunjukkan perhatiannya. Hampir setiap hari dia mengirimiku kopi dan kue dari brand terkenal. Awalnya aku berusaha menolaknya, namun ternyata bukannya berhenti mengirimiku makanan, dia malah mengirimi Sherly juga dengan alasan ‘tanda persahabatan’. Sesekali Arnold mengajakku makan malam, namun selalu aku tolak karena selama itu aku masih diantar jemput Daniel.


Seminggu sudah Davis berada di Australia. Pagi ini Davis mengirimiku pesan:


Davis: Aku tunggu di bawah!


Aku: Maksudnya?

__ADS_1


Davis: Buruan!


Tak menunggu lama, segera aku selesaikan riasan wajah dan tatanan rambutku. Saat aku keluar dari pintu lobby apartemen, Davis menelponku.


“Mobil Mercedes Benz warna hitam sebelah kananmu!” aku menengok sesuai petunjuknya dan melangkah ke mobil tersebut.


“Hai, kamu sudah balik?” aku membuka pintu mobilnya, lalu menampilkan senyum bahagiaku melihatnya sudah ada di sini. 


“Salamnya yang bener dong! Assalamu’alaikum” dia cemberut dan mulai menceramahiku.


“Wa’alaikum” jawabku cengar cengir.


“Mobilnya baru?” aku mengamati interior mobilnya.


“By the way kapan kamu balik Indo? Kok tumben langsung menjemputku?” aku mulai menatapnya dan masih dengan senyum ceriaku.


“Semalem. Tau dong. Bahkan aku tau kalau selama ini kamu diantar dan dijemput siapa, makan siang, makan malam sama siapa, yang rutin mengirimimu makanan siapa aja” dia mulai melajukan mobilnya.


“Hah???” aku terbengong mendengar penuturannya.


“Astaghfirullah, aku harus ngabarin Daniel dulu nie!” segera aku menelpon Daniel.

__ADS_1


Setelah aku menutup telpon, Davis memulai percakapannya.


“Apa kamu sudah bisa memberiku jawaban?”


“Baru 2 minggu, Vis!”


“Sudah 2 minggu, Na!”


Hufh aku pun hanya bisa menghela nafas panjang. Seperti dugaanku, begitu Davis kembali, aku sudah ditagih jawabannya.


Suasana kembali hening. Aku memandang jendela mobil sebelah kiri.


Aku mulai memikirkan, apakah mungkin aku bisa menerimanya? Sedangkan kami jelas berbeda. Kalau memang jelas berbeda, mau jawabannya sekarang atau nanti pun toh sama saja. Kenapa aku harus menundanya?


Tapi kenapa hatiku terasa berat?


Aku menyadari perasaanku padanya?


Bahkan kami merasakan hal yang sama sejak 4 tahun yang lalu. Namun kami sama-sama jalan di tempat. Aku tak melangkah karena menyadari adanya perbedaan yang menjadi jurang pemisah antara kami, sedangkan dia tak melangkah karena ingin memantaskan dirinya.


Oh Tuhan, kenapa aku belum mendapatkan petunjukmu?

__ADS_1


Dua minggu sudah aku bermunajat meminta jawaban atas kegalauanku, meminta petunjuk atas 2 pilihan terpenting dalam hidupku. Namun kenapa sama sekali aku belum bisa menetapkan pilihan?


Jawaban apa yang harus kuberi?


__ADS_2