CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
HARI PERTAMA DI KANTOR


__ADS_3

AUTHOR POV


 


--- ruang makan ---


Saat ini, Dave, Davis, Jess, Teddy, dan Drake telah berada di ruang makan. Drake berdiri untuk melayani mereka.


“Kenapa kau yang di sini, Drake? Di mana Narita?” Dave memperhatikan Drake yang tengah sibuk menyajikan nasi goreng, telur dadar, dan kerupuk untuk masing-masing orang.


“Maaf tuan, Narita minta ijin selama beberapa bulan ini untuk tidak melayani Anda, mengasuh Karen dari waktu pagi hari sampai sore hari, karena ada kewajiban kampus yang harus dia selesaikan” jawab Drake.


“Kau yang memberinya ijin?”


“Iya, Tuan. Maaf, saya pikir tidak masalah, karena Narita berjanji akan tetap menyiapkan sarapan untuk Anda dan Karen, Tuan” Drake sudah selesai menyajikan semua makanan, dan kini dia mundur beberapa langkah lalu berdiri tegak seperti sedang diinterogasi.


“Lancang sekali kau, Drake!” bentak Dave dengan nada keras dan menatap tajam pada Drake.


“Ma-ma-ma-maaf, Tuan.” Drake gemetaran melihat perubahan sikap tuannya.


“Bagiku kebutuhan Karen adalah yang paling utama. Kau pikir, ketidakhadiran Narita tidak berpengaruh pada psikologi Karen?” Dave belum memakan nasi gorengnya tapi masih meluapkan emosinya memarahi Drake.


“Kak, sudahlah! Kakak tau kan kalau Narita di sini hanya part time, tugas utamanya kuliah. Kalau kakak menerimanya kerja di sini, berarti kakak harus menerima konsekuensi seperti sekarang ini. Jangan egois, kak! Dia punya kehidupan sendiri, masa depannya adalah lulus kuliah S3” Davis yang dari tadi diam, kini mulai angkat bicara. Sementara itu, Jess masih tak peduli dengan perdebatan itu, dia asyik memakan nasi gorengnya.


Dave nampak terdiam setelah mendengar penuturan Davis. Sepertinya dia sedang memikirkan kebenaran apa yang dikatakan adiknya itu. Lalu tanpa memakan nasi gorengnya, Dave berdiri dengan kasar hingga kursi yang didudukinya dengan cepat dan bersuara keras bergeser ke belakang. Di berjalan cepat ke arah tangga padahal seharusnya dia pergi keluar seperti rutinitas biasanya langsung bekerja.


“Drake, antar aku ke kamar Karen!” Dave sejenak membalikkan badannya lalu melanjutkan menaiki tangga, dia tau Karen masih di dalam kamarnya.

__ADS_1


Kini Dave sudah berdiri di depan kamar Karen dengan Drake yang ada di belakangnya. Namun saat, Dave hendak membuka handle pintu, dia menoleh sedikit ke kamar di samping kamar Karen, yaitu kamar Narita. Matanya membulat sempurna menyaksikan beberapa paperbag berisi barang-barang mahal yang dibelinya kemaren waktu di mall, teronggok begitu saja di lantai depan pintu kamar itu. Dave tidak jadi membuka pintu tapi malah langsung menghadap ke arah barang-barang itu dengan melipat kedua tangannya di dada.


“Kenapa barang-barang itu masih di sana?” Dave menunjuk paperbag di lantai dengan menggunakan dagunya.


“Owhh itu Tuan, mmmm,,,Narita bilang itu bukan punya dia” jawab Drake gugup.


“Kau tau berapa harga barang-barang itu? Kalau memang dia tidak mau, kenapa dibiarkan teronggok di lantai? Suruh dia menghargai barang!”


“Suruh dia menemuiku dengan membawa barang-barang itu!” ucap Dave ketus lalu segera masuk ke kamar Karen.


 


NARITA POV


Sementara itu di tempat terpisah, aku telah sampai di kantor yang direkomendasikan oleh Prof. Mark dan Prof. Stanly untuk melakukan kerja sementara atau istilah gampangnya magang. Mengingat perjalananku ke kantor itu lumayan, aku harus jalan kaki jauh dari rumah ke halte bus, lalu dilanjut naik bus dengan jarak yang lumayan juga dan memakan waktu lama tentunya, jadi aku sengaja pergi dari rumah pagi sekali. Ternyata, di kantor masih sepi meskipun sudah ada beberapa orang yang lalu lalang.


Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, barulah aku melihat dua orang gadis cantik, berambut blonde, bermata biru, dengan tatanan rambut rapi bak pramugari, dan baju kerja model blazer yang sangat pass dipakai mereka, telah berdiri di belakang meja resepsionis. Tangannya masih sibuk seperti sedang mempersiapkan sesuatu. Tak menunggu lama, aku segera menghampirinya.


“Permisi, nama saya Narita, saya sudah ada janji ketemu dengan Bapak Adam dari bagian Marketing. Kemana sebaiknya saya pergi?” untuk sejenak kedua menghentikan aktifitas lalu menatapku.


Keduanya tak langsung menjawabnya, mereka masih memperhatikan penampilanku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Entah apa yang mereka pikirkan, sepertinya mereka sedang menilai penampilanku.


Ya, aku memang selalu mengenakan jilbab lebar. Meskipun aku mengenakan blazer, tapi sepertinya tak nampak karena tertutup jilbab lebarku. Saat ini aku mengenakan blazer warna coklat tua, dengan dipadukan rok lipit warna coklat muda, sepatu aku mengenakan pantofel warna coklat muda dengan hak lebar dengan tinggi hanya sekitar 4 cm saja, sedangkan jilbabku berwarna coklat tua senada dengan warna blazerku. Aku menenteng tas brand local Indonesia yang berwarna coklat tua senada dengan warna blazerku. Aku menyadari penampilanku memang tidak menampakkan seorang pekerja kantoran di negara ini.


“Bisa minta identitasnya?” lalu aku menyerahkan kartu identitasku lalu ditukarnya dengan tanda pengenal ‘tamu’.


Setelah itu, dia memintaku scan barcode, dan aku mulai mengisi daftar isian yang harus kulengkapi. Setelah dataku masuk di aplikasi resepsionis, seorang resepsionis mempersilahkanku mengikuti seseorang pria yang sepertinya tadi telah ditelpon oleh seorang resepsionis untuk mengantarkanku masuk.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, kami berdua tidak ada yang membuka pembicaraan. Setelah di dalam lift dia memencet angka 10. Di lift itu ada beberapa orang selain kami berdua, jadi ya tidak canggung-canggung amat sie. Sesampainya di lantai 10, pintu lift terbuka, dia berjalan di depanku dan aku di belakangnya. Kami melewati sebuah ruangan besar yang di bagian kanan dan kirinya berjajar kubikal area kerja. Beberapa orang telah ada yang menempati kubikel itu, tapi beberapa kubikel terlihat kosong, mungkin mereka belum pada datang.


Setelah itu, tibalah kami di sebuah ruangan yang dibatasi oleh full kaca. Pria itu membuka handle pintu, lalu mempersilahkanku untuk duduk di sofa di dalam ruangan besar itu.


“Silahkan duduk! Pak Adam belum datang, tapi beliau sudah memberitahukan saya kalau Anda sudah datang, disuruh menunggu di sini!” 


“Terima kasih” lalu dia pergi dan menutup pintu itu kembali.


Sebenarnya aku merasa kurang nyaman berada di dalam ruangan orang sendirian seperti ini, tapi yasudahlah. Dalam posisi duduk, mataku menyapu ke seluruh penjuru ruangan. Di sana terdapat meja besar dan kursi singgasana yang nampak nyaman. Di atas meja terdapat papan nama dan aku terkejut karena baru mengetahui bahwa orang yang direkomendasikan oleh Prof. Mark jabatannya adalah General Manager. Wah sekelas GM aja ruangannya sekeren ini ya, apalagi Direktur?


Lalu di belakang kursi terdapat beberapa lemari buku, di ujung ruangan terdapat gantungan untuk menggantung jas atau tas atau topi atau apa saja. Semua furniture yang ada di ruangan itu nampak sangat mewah, dengan nuansa yang sangat menyatu satu sama lain.


Saat aku masih menikmati satu per satu furniture di ruangan itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan muncullah seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun, bertubuh tinggi besar, dengan perut yang sedikit membuncit, mengenakan pakaian eksekutif, lengkap dengan dasi dan jass dan menenteng tas yang sudah bisa kutaksir harganya berapa.


“Narita?” dia menyapaku dengan tersenyum lalu mendekati kursinya, meletakkan tas di meja kecil samping kursinya lalu berjalan mendekatiku.


Aku yang disebut namanya, spontan langsung berdiri dan membalas senyumnya seraya berkata “Iya Pak. Hmm Pak Adam?” tanya balik aku.


“Namaku Adam Braxton” dia mengulurkan tangannya, lalu kusambut dengan uluran tanganku “Saya Narita Prameswari”. Dengan isyarat tangan, pak Adam mempersilahkanku duduk kembali.


Kami pun berbincang-bincang cukup lama membahas mengenai maksud dan tujuanku ke sana. Lalu setelah pak Adam menelpon bagian SDM, tak lama kemudian seseorang yang sepertinya dari bagian SDM datang ke ruangan itu.


Dengan didampingi pak Adam dan pria dari bagian SDM, aku ditunjukkan mejaku yang untuk beberapa bulan ini akan menjadi meja kerjaku. Setelah itu, pak Adam berpamitan untuk kembali ke ruangannya sedangkan pria SDM sudah membawaku ke bagian ujung ruangan di mana di sana terdapat meja dan kursi-kursi minimalis gitu.


Dia menyodorkanku map, aku dimintanya untuk mempelajari perjanjian magang dan setelah itu ditandatangani kalau tidak ada yang perlu dipertanyakan atau dipermasalahkan. Cukup lama aku membacanya, karena terdiri dari beberapa lembar dengan tulisan yang sangat kecil-kecil. Ada beberapa hal yang kupertanyakan dan si pria tersebut menjawabnya, hingga aku pun akhirnya menandatanganinya.


“Baiklah, silahkan kembali ke kubikel Anda. Saya permisi!” ucapnya kemudian lalu aku pun tak lupa mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2