
DANIEL POV
Saat aku menyadari ada suara seseorang yang tercebur ke laut dan selanjutnya tak kurasakan adanya tangan yang menarik jaket pelampungku sekedar untuk berpegangan, aku baru menyadari kalau Naritalah yang tercebur.
Dengan secepat kilat aku memutar balik jeetsky ku dan berusaha mencari keberadaan seseorang dengan jaket orens yang mengapung di air. Namun betapa kagetnya aku saat kulihat Davis telah menceburkan diri dan meraih tubuh Narita dan membawanya ke jetsky nya. Atas bantuan salah satu anak operasional yang turut menceburkan diri, dia menaikkan tubuh Narita dan Davis meraihnya untuk selanjutnya dia posisikan di depannya, lalu Davis memeluk tubuh Narita yang tak sadarkan diri itu.
Hufh,,,aku sungguh ceroboh sekali. Bisa-bisanya aku membahayakan nyawa seseorang yang sangat aku sukai-gumamku.
Mengingat Narita sudah ditolong, aku segera melajukan jetsky ku mengikuti laju jetsky Davis.
Kembali aku dibuat tercengan dengan perlakuan istimewa Mr. Dav ke Na. Aku lihat dia Nampak panik, gugup, dan heboh ketika tubuh Na tak bergeming meskipun telah dia guncang-guncang.
Wait,,,,,lancang sekali Mr. Dav menekan dada Narita. Aku melotot dan sempat maju mau memprotes perbuatannya, namun tangan Sherly menahan badanku dan dia memberi tanda dengan menggelengkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian Waiiitt,,,lancang sekali Mr. Dav,,,kali ini dia malah memberikan nafas buatan mouth to mouth. Sebelum aku kembali protes, Sherly sudah memegang lenganku dengan erat dan menahan tubuhku.
Sesaat setelah Mr. Dav memberikan nafas buatan, Narita pun tersadar. Aku pun memilih bungkam, mengalah, dan menahan emosiku.
Saat Narita dengan tubuh lemahnya berusaha bangun, aku segera mendekatinya dan membantunya. Kulihat Davis yang tadi menjatuhkan tubuh lemas di samping Narita, berniat untuk membantu Na bangun namun sepertinya kalah cepatku denganku, akhirnya dia pun memutar bola matanya dengan ekspresi cemberut.
“Na, maaf” Aku menahan punggungnya dengan tanganku dan menatap matanya yang terlihat sayu. Dia pun hanya mengangguk lemah.
Kulihat teman-teman yang tadi menampakkan wajah panik akan peristiwa ini, berangsur lega.
“Mr. Dav saya minta ijin membawa Narita ke mobil!” dengan wajah sedikit keraguan, Mr. Dav akhirnya mengangguk setuju.
“Ayo naik” aku pun jongkok membelakanginya dan memintanya untuk naik ke punggungku. Dia menolaknya dengan memukul keras punggungku.
“Udah deh, nurut napa!” aku pun protes.
“Bantu aku jalan” Narita berusaha bangun dengan bertumpu pada punggungku. Namun ketidakseimbangan tubuhnya membuatnya terhuyung ke samping dan dengan sigap kembali ditangkap tubuhnya oleh Davis.
“Anak tangganya banyak, Na. Kamu gak akan kuat naik sampai atas!” Mr. Dav meyakinkan Na.
“Iya Na, tenang aja. Kami gak akan berpikir macam-macam kok. Ini kan demi keselamatanmu juga” imbuh Sherly.
“Buang rasa malumu, Kak Na!” tambah Mirna.
__ADS_1
Akupun mengangguk tanda memperkenankan dia naik ke punggungku, lalu akhirnya dia pun mengalah.
“Aku terpaksa” kata Narita dengan menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya. Kulihat mereka yang melihat kami pun mengangguk.
Aku menaiki tangga dengan menggendong Narita di punggungku.
“Maaf Niel, aku merepotkanmu” kata Narita yang tipe tidak enakan.
“Kamu lebih merepotkanku kalau memintaku memapahmu!” jawabku ketus namun masih sangat jelas nada becandanya.
“Niel, aku malu bersentuhan dengan yang bukan mahramku”
“Apa itu mahram?”
“Mahram itu adalah orang-orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya seperti bapak, anak, saudara, paman dan lain-lain”
“Kalau gitu jadikan aku mahrammu!” tegas Daniel.
“Ngaco” Na memukul lenganku, dan kami pun kembali tertawa riang.
"Terus biar jadi halal gimana?"
"Mancing jawaban ceritanya?" aku kembali tertawa ketika menyadari Narita tak terpancing.
“By the way, Na, tadi kamu kurang kenceng pegangannya ya? Makanya jatuh?”
“Aku tadi pusing, terus makin lama makin gak ada tenaga”
“Kenapa tadi gak bilang?”
“Kalah cepat sama jatuhnya”
Kami kembali terdiam beberapa saat.
“Hmmmm Na?”
“Iya”
__ADS_1
“Ada hubungan apa kamu sama Mr. Dav?”
“Nanti kapan-kapan aku jelasin ya. Aku masih lemes nie”
“Owh maaf maaf, aku yang gak pengertian”
“Gakpapa. Maaf, aku berat ya Niel” suara Narita yang begitu lembut tepat di telingaku, membuat bulu kudukku berdiri. Aku terdiam untuk beberapa saat.
“Nielll,,,,” panggilnya lagi membuatku terbangun dari lamunan.
“Enggak. Enteng mah. Masih beratan besi di tempat fitness” dia kembali memukul pelan bahuku dan kami kembali tertawa.
Sampai tempat parker, aku pun meminta pak sopir segera membuka pintu mobil dan menyalakan mesinnya agar AC dingin.
“Na, kamu ganti baju di mobil bisa kan? Atau mau aku bantu” Aku mengerlingkan mataku.
“Hushh Hussh,,,,” dia mengusirku dengan tangannya, lalu dia masuk ke mobil dengan tote bag nya.
Sesaat kemudian, dia keluar dari mobil dan berseru “Sekarang giliran kamu, sana ganti baju dulu!”
“Aku bisa ganti di sini” aku kembali menggodanya dengan pura-pura bersiap membuka bajuku namun dengan secepat kilat, dia menurunkan baju yang sudah kuangkat dan mendorong badanku masuk ke mobil. Aku pun kembali terkekeh. Ahhh betapa senangnya aku menggodanya seperti ini.
“Udah dibilang bukan mahram, gak boleh pamer aurat. Masih aja ngeyel. Mentang-mentang punya perut sixpack apa?” Naritapun bicara dengan ketusnya.
“Kamu mau liat?” aku yang terdorong belum masuk mobil, malah menoleh ke belakang kembali menggodanya.
“Gak pengen!”
“Yakin?”
“Udah sering liat!”
“Liat punya siapa?”
“Rahasia” jawabnya ketus.
“Ahhhh udaaah ah sana-sana buruan. Aku mau istirahat di mobil!” akhirnya aku pun masuk ke mobil sambil tertawa ngakak.
__ADS_1