
NARITA POV
Mau tak mau, suka tidak suka, ikhlas tidak ikhlas, nyatanya aku harus merelakannya pergi kali ini. Aku berharap pikiran-pikiran dan bayangan-bayangan buruk takkan pernah terjadi. Aku percaya dia akan menjaga hati dan kepercayaan yang telah kuberikan, seperti halnya diriku.
Aku tak mampu bertanya apa alasannya pergi mendadak. Jikalau dia belum bercerita, berarti memang ada hal yang tidak ingin dia ceritakan saat ini. Oke, aku akan sabar menunggunya.
Tak berapa lama, Rio mengetuk pintu kamar kami dan telah siap untuk mendampingi suamiku. Aku melepas kepergiannya sampai di depan pintu utama. Aku memeluknya erat dan lama. Dia membelai kepalaku dengan lembut dan membalas pelukanku dengan erat.
Aku merasakan betapa sebenarnya dia juga tak ingin meninggalkanku. Tapi sepertinya dia memang harus pergi dan perginya malam ini juga. Aku hanya berdoa semoga dia selamat sampai tujuan, mendapatkan apa yang menjadi tujuannya ke sana, dan kembali lagi ke Indonesia dengan selamat.
Setelah itu, dia mengurai perlahan pelukannya, mengecup sekilas pipi kanan, kiri, kening, dan berlama-lama di bibir. Pemandangan yang cukup membuat orang lain yang melihatnya malu itu, tak luput dari padangan beberapa orang pengawal Davis dan juga Rio. Mereka segera membuang muka. Aku yang sesungguhnya malu mempertontonkan adegan 18+ ini seolah telah putus urat malunya. Aku menikmati keromantisan dan kemesraannya yang terpampang nyata dan terekspos dengan liarnya.
Meski telah kutahan, tetesan bening tak bisa tak lolos jatuh berderai dari sudut kedua bola mataku. Aku melepas kepergiannya hingga mobilnya tak lagi nampak dari pandangan mataku. Doaku, semoga engkau kembali dengan selamat, Suamiku.
Akhirnya malam ini aku harus tidur sendiri dalam sepi.
Pagi hari aku merasakan hal yang tak biasa. Aku terbangun tapi tak ada seseorang yang tengah memelukku. Ya, meskipun kami saling mendiamkan, tapi dia tak pernah absen memelukku. Meskipun bibir diam, namun kehangatan tetap terjaga.
Setelah melakukan kewajibanku, aku bersih-bersih kamar, lalu keluar kamar menuju dapur.
“Selamat pagi, Nyonya” sapa 2 orang chef yang tengah memasak.
“Pagi, Chef. Kalian sudah memasak?” aku melirik ke arah kompor yang tengah menyala.
“Sesuai pesan Mr. Dav, Nyonya tidak diperkenankan untuk memasak selama tidak ada Mr. Dav. Kami lah yang harus memasakkan menu sehat untuk Nyonya” aku pun mengangguk setuju.
“Oke. Terima kasih Chef. Kalau gitu aku siap-siap aja”
“Silahkan, Nyonya!” jawab mereka lalu aku membalikkan bada dan pergi menuju ke kamarku.
Pagi ini aku ke kantor tanpa ada yang mencium kening. Terasa ada yang hilang, namun aku harus membiasakannya. Sesampainya di kantor, aku dikejutkan oleh setangkai mawar putih, segelas juss strawberry kesukaanku, dan setangkup sandwich. Dahiku berkerut memikirkan siapakah yang mengirimkannya. Apa mungkin Davis?
Segera kuraih mawar putih dan kubaca kertas kecil yang menyantol di salah satu tangkai daunnya.
Aku menghela nafas panjang, karena kutau dari siapakah bunga dan sarapan pagi ini. Aku duduk di kursiku, kupegang kepalaku dengan kedua tanganku dan menumpu pada meja. Rasanya kepalaku mau pecah. Ternyata dicintai seseorang dengan mendalam sama sulitnya dengan mencintai seseorang dengan mendalam jika itu tidak berbalas. Aku hanya bisa mengucap kata maaf namun tak bisa terdengar olehnya.
Hufh,
Kapan Davis akan mengumumkan pernikahan kami?
Kapan surat nikah kami selesai diurus?
Kapan mereka akan menyerah untuk mengejar cintaku.
Segera kuraih ponselku dan mengirimkan pesan ke dia yang telah mengirimkanku sarapan.
Aku: Niel, makasih kirimannya.
Daniel: Sama-sama. Semoga kamu suka.
Aku: Tolong jangan repot-repot begini!
Daniel: Kalau Davis saja mau repot, kenapa aku enggak? Ijinkanku berjuang untuk cinta!
__ADS_1
Daniel: Aku harap dan selalu berharap ‘sahabat dalam cinta’ berubah ‘sahabat menjadi cinta’
Pesan terakhirnya tak kubalas, percuma juga.
“Cie, cie, kali ini dari mana lagi?” Abel yang baru saja datang, langsung meraih kertas kecil yang menempel pada tangkai mawar putih.
“Sahabat dalam Cinta?” bacanya pelan.
“Daniel again?” Abel memandangku seolah bertanya, dan kujawab dengan anggukan kepala.
“Wuihh, pantang mundur! Padahal udah kamu tolak kan?” aku kembali mengangguk lemah.
“Nie buat kamu aja!” aku segera menyerahkan juss dan sandwich itu.
“Makasih, Na. Rejeki pantang ditolak” dia meraih makanan itu.
“Kamu kenapa mukanya lemes gitu? Sakit?” Abel meminum jussnya dengan masih memperhatikanku yang tengah menyalakan pc.
“Enggak papa kok!” jawabku pelan.
“Wajahmu pucat. Kamu terlihat lemah tak seperti biasanya!” Abel mendekatkan wajahnya untuk menelisih wajahku.
Hoek hoek, bau parfum Abel yang menyengat membuatku mual. Aku segera berlalu dan berlari kecil menuju toilet.
“Stop, jangan deket-deket!” tanganku terulur ke depan badan Abel, berharap dia tak mendekat.
“Kenapa? Aku gak bau badan, kenapa sikapmu seolah aku bau badan sie?” Abel mengurungkan niatnya mendekatiku.
“Parfummu menyengat. Bikin eneg!” aku menjawabnya tanpa melihat ke arahnya.
Begitulah hari ini berlalu begitu cepat. Seharian ini aku tak mendapat kabar dari suamiku, mungkin dia masih jetlag atau malah masih dalam perjalanan.
Keesokan pagi hari, ketika bangun tidur, kurasakan badanku terasa lemas, jangankan bangun dari posisi tidur, bahkan untuk membuka mata saja sulit. Ketika kupaksakan bangun, kepala terasa ringan dan terhuyung hampir terjatuh. Aku kembali duduk di kasur. Ada apa dengan tubuhku. Belum pernah kurasakan seperti ini sebelumnya.
Aku putuskan untuk tetap duduk di ranjang. Aku meraih ponselku di nakas dan mengubah mode terbang ke mode jaringan on. Tiba-tiba masuklah beberapa notifikasi panggilan dan pesan masuk.
Davis: Sayang maaf aku baru memberi kabar. Kamu sedang apa?
Davis: Kamu sudah tidur ya?
Davis: Sayang?
__ADS_1
Davis: Sayang…
Davis: I love You 😘 🥰 😍
Davis: Miss You 🤗 🤗 🤗 🤗 🤗 😘 😘 😘 😘 😘
Davis: Good Night….
Dia mengirimiku banyak pesan karena mungkin tak ada balasan dariku. Segera aku balas pesannya.
Aku: Maaf Mas, aku semalam tidur cepet. Ini juga baru bangun.
Aku: I Love You too 🤗 😘
Pesanku masih centang 1, dengan perasaan kecewa, aku letakkan kembali ponselku. Aku pun segera masuk ke toilet dan bersiap ke kantor.
Setelah siap dan rapi dengan pakaian kerjaku, aku keluar kamar. Ketika telah sampai di meja makan, aku tak mampu menahan bau yang menusuk hidungku. Aku berlari ke wastafel dan memuntahkan air dari mulutku, hingga tak ada lagi yang dapat aku muntahkan tapi aku masih hoek hoek, seolah mengocok perutku yang sudah kosong tak berisi.
“Nyonya kenapa?” tanya Bi Jah khawatir. Dia memijit tengkukku.
“Gak tau bi, kenapa masakannya bau sie?” aku kembali ke kursiku lalu melirik piring dan mangkok yang berisi sup ayam.
“Cuma sup ayam, Nyonya. Ini kan makanan kesukaan Nyonya” dahi bi Jah nampak berkerut heran melihatku.
“Bi, Tolong kupasin buah-buahan aja. Jauhkan makanan ini dari sini!” tangan kananku mendorong jauh makanan di meja sementara itu tangan kiriku kugunakan untuk menjepit hidungku.
Bi Jah segera meraih mangkok sup dan membawanya ke dapur. Tak berapa lama buah potong sudah disajikannya di depan ku.
“Silahkan Nyonya!”
“Makasih Bi”
\----TO BE CONTINUED----
__ADS_1
PLEASE KLIK : LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE YAAAA!!!!!