
NARITA POV
---di kantor---
Siang ini genk kami mengagendakan untuk makan siang bersama. Kami pun berdelapan janjian bertemu langsung di kantin kantor. Aku dan Abel telah sampai di tempat terlebih dahulu. Kami sengaja memesan tempat duduk untuk berdelapan. Aku dan Abel tengah memandangi buku menu.
“Na, enaknya makan apa ya?” Abel memandangi buku menu.
“Entahlah. Aku gak selera makan” jawabku malas.
“Tumben banget sie? Biasanya juga maruk, apa aja pengen dipesen” Abel masih sibuk membolak balik buku menu.
“Bakso enak kali ya?” tanyaku sama-sama masih melihat gambar di buku menu.
“Serius loe? Kalau aku mah biasa makan bakso doang buat makan siang, lha kamu?” Abel menoleh padaku dan menatapku keheranan.
“Hmm gampanglah nanti kalau laper lagi, ya beli makan online aja.”
“Mbak, aku pesen bakso 1, buah potong 1, jus strawberry 1” aku berbicara pada mbak pelayan, lalu kututup buku menu.
“Aku pesen Sphagetti 1, jus apel 1” ucap Abel lalu ikut menutup buku menunya.
“Mbak, 1 buku menu ditinggal ya! Nanti temen-temen kami datang and pesen lagi!” lanjut Abel.
“Iya. Silahkan mbak” jawab mbak pelayan lalu berlalu meninggalkan kami.
“Na, sudah beberapa hari ini Mr. Dav sama pak Rio gak pernah keliatan, kemana ya mereka?”
“Bahkan rapat rutin juga mereka gak ada” Abel kini mengalihkan pandangan matanya padaku.
“Kok nanya aku?” Aku menaikturunkan bahuku tanda tak tau.
“Yaa, siapa tau kalian masih saling bertukar kabar” mendengar pertanyaan Abel, segera aku menatap pada layar ponselku.
Aku tau dia ke Aussie Bel, tapi aku sendiri gak tau apa yang dilakukan mereka di sana --- jawabku dalam hati.
__ADS_1
“Hei, kok malah sendu ngeliatin handphone sie?” Abel mengagetkanku dengan membunyikan jari jemarinya di depan wajahku dan aku tersenyum memandangnya.
“Mikirin apa?” tanyanya lagi.
“Sorry, sorry aku gak fokus ngebahas soal Mr. Dav.” Aku menjeda kalimatku.
“Aku lagi kangen kekasihku” aku kembali memandangi ponselku.
“Kemana emangnya kekasihmu?” tanyanya mulai mengalihkan pembicaraan tanpa dia bahwa sebenarnya kami sedang membicarakan orang yang sama.
“Sedang tugas ke luar negeri” aku masih belum melepas pandangan dari ponselku.
“Jaman sekarang mah gampang kalau mau komunikasi. Tinggal telpon aja! Wa aja!” aku menjawabnya dengan menggeleng kepalaku.
“Udah kutelpon, tapi tak diangkat. Sudah di wa tapi centang 2 nya belum berubah warna biru” jawabku lemah.
“Emang luar negerinya ke mana?”
“Aussie”
“Udah berapa hari?”
“Hmm sebenernya kami bertukar pesan sie, tapi saat dia kirim wa, aku udah tidur, atau pas aku kirim wa, dia sedang gak bisa balas” aku sengaja tak langsung menjawab pertanyaan Abel karena takut dia sangkut pautkan dengan Davis.
Maaf, Bel. Aku belum bisa berkata jujur. --- jawabku dalam hati.
“Haiiii guys!!” Sapa Daniel dan yang lainnya yang secara bersamaan mengagetkan aku dan Abel.
“Hai” kami berdua melambaikan tangan membalas sapa mereka.
Kehadiran mereka sungguh menyelamatkanku dari pertanyaan Abel yang sudah sangat menjurus. Mungkin dia sudah mulai berpikir dan mencari tau mengenai kekasihku. Lalu aku serahkan buku menu yang sudah ada di meja kepada Dewi yang memilih duduk di sampingku. Tak berapa lama, pelayan datang untuk mencatat pesanan selanjutnya, sementara itu pesananku dan pesanan Abel telah datang.
Saat makanan pesanan Dewi yaitu sop kambing telah datang, aroma sup yang teramat menusuk hidung hingga merasuk ke dalam jaringan otakku, tak kuasa aku menahan mual “hoeekk”. Spontan mereka bertujuh mulai memandangku dengan intens dan aku sudah tak kuasa. Aku berlari meninggalkan mejaku dan pergi berlari kecil menuju toilet terdekat.
Perutku yang sudah kenyang terisi bakso, telah kosong kembali karena aku memuntahkannya. Kepalaku terasa berputar, badanku ringan seolah tengah melayang, pandanganku mulai sedikit menggelap. Ketika badanku mulai semakin ringan, kakiku melemah, mataku sedikit terpejam merasakan betapa aku tak memiliki daya, badanku terhuyung ke depan dan hampir terjatuh.
“Naaa!!” Abel segera menangkap kedua lenganku.
Aku tak jadi terjatuh karena sigapnya Abel menangkap tubuhku. Kini aku masih dalam posisi jongkok dengan kepala menunduk dan begitupun Abel.
__ADS_1
“Na, kamu bisa berdiri?” tanyanya panik. Aku masih menunduk dengan kedua tangan memegang kepala dan mata tertutup berusaha mengumpulkan energi untuk bisa berdiri kembali.
Tak berapa lama kudengar Abel menelpon seseorang dan meminta bantuan untuk memapahku keluar dari toilet.
Aku tak begitu jelas siapakah yang tengah memapahku kini. Meskipun aku berdiri, tapi aku sengaja memejamkan mata agar mengurangi rasa pusing. Kini aku tengah didudukkan. Seseorang menyuruhku dan menuntun tanganku untuk menerima segelas air, lalu aku meminumnya. Setelah itu aku masih menahan kepalaku dengan kedua tanganku.
Pelan namun pasti, aku akhirnya kembali mendengar apa yang saat ini mereka bicarakan.
“Na, are you oke?” suara Daniel yang cemas.
“Better. Alhamdullillah” meskipun aku sudah bisa menjawabnya namun aku masih belum mengubah posisiku.
“Maaf ya, jadi mengganggu acara makan siang kalian” lanjutku.
“Never mind. Kamu kenapa, Na?” tanya Abel yang sepertinya juga panik.
“Tiba-tiba eneg bau sup kambing, sorry ya Dew!”
“Bakso semangkok sama buah potongnya keluar semua” jawabku pelan.
“Maaf aku, Na. Aku gak tau kalau sup ku yang membuatmu muntah-muntah” ucap Dewi ikut panik.
“Sekarang masih pusing?” tanya Arnold.
“Sedikit” jawabku singkat.
“Hallo, aku Daniel. Tolong bawakan kursi roda ke kantin kantor, meja nomor 15” kudengar Daniel tengah menelpon seseorang.
“Aku gakpapa kok. Bentar lagi juga pulih. Kalian lanjutkan makannya.” Aku mulai membuka mata dan menatap temenku satu per satu dengan wajah lemah, namun saat aku menyadari bahwa Daniel tengah merangkulku, segera aku menjauhkan badanku dari tangannya yang menempel.
“Sorry, sorry!” Daniel yang menyadari kesalahannya, langsung memindahkan tangannya.
“Sebentar lagi kursi rodanya datang, kamu gak usah khawatir! Kamu mau pesen apa lagi, Na?” Daniel menatapku dan kujawab dengan gelengan kepala.
“Na, jangan bandel deh! Gimana mau punya tenaga kalau yang kamu makan keluar semua!” George dengan nada tinggi memarahiku.
“George!” gertak Abel kemudian.
“Ya udah aku pesen jus melon aja!” lalu Daniel sigap memesan minuman sesuai permintaanku.
__ADS_1
Suasana meja kami kembali hening, hanya terdengar denting piring atau mangkok dengan sendok dan garpu.
“Na, kamu gak sedang hamil kan?” bisik Abel di telingaku, yang hanya dapat didengar olehku. Aku terkesiap dan kaget mendengar pertanyaannya.