
AUTHOR POV
Di ruang perawatan tempat Davis dirawat, Jess dengan setia menungguinya. Sementara Mommy, Daddy, dan Opa tengah keluar untuk makan. Jess membelai lembut punggung tangan Davis yang tidak ada jarum infusnya. Sesekali isakannya terdengar sangat menyayat hati. Tangannya yang terbebas, sesekali mengusap air mata yang mengalir bak anak sungai. Betapa Jess sangat menyayangi Davis.
Tadi ketika keluarga Davis menelponnya dan mengabarkan bahwa Davis kecelakaan, dia pun langsung melesat ke lokasi rumah sakit. Hanya berselang setengah jam setelah keluarga Davis datang, Jess pun sampai di sana. Melihat Davis yang tak sadarkan diri dengan wajah penuh memar, membuat dia menangis histeris.
Saat ini sudah 4 jam sejak kejadian kecelakaan, namun Davis tak kunjung sadar. Bahkan kini semua anggota keluarganya telah kembali ke ruang rawat inap. Sesekali mereka mengobrol hal yang ringan, namun kecemasan nampak dari wajah mereka karena menyaksikan betapa Davis tak kunjung sadarkan diri.
“Mom, sudah 4 jam, dia masih belum sadar. Hasil rontgen juga menyatakan tidak ada masalah. Apa tidak sebaiknya kita pindahkan dia ke rumah sakit kita aja?” Jess masih setia membelai punggung tangan Davis, meski kini dia menoleh ke Mommy Davis yang duduk di deket brankar.
“Bersabarlah Jess!” jawab mommy.
Jess menghela nafas panjang. Air matanya seolah sudah kering karena sedari tadi terus menerus menangis. Kini dia menjatuhkan kepalanya di kasur brankar.
“Darl, please bangun! Bangun, Sayang”
“Aku berjanji akan memberikan apapun yang kamu mau, asalkan kamu bangun!”
“Aku—aku—aku tak akan memaksakan perasaanmu lagi!” Jess kembali terisak. Dia tak peduli ada beberapa pasang telinga yang mendengarnya berbicara. Dia lebih memilih Davis hidup meski tak memilikinya daripada tidak memiliki kesempatan untuk melihatnya.
“Tolong bangunlah!”
“Aku-aku-aku-aku akan meminta maaf asal kau mau melihatku”
Semua yang ada di ruangan itu meski terdiam, tapi mereka memasang telinga baik-baik. Melihat tidak ada tanda-tanda, Jess dengan berani akhirnya mengguncang tubuh Davis dengan kerasnya, hingga Daddy berteriak.
“Hentikan Jess! Kau bisa menyakitinya!” pekik Daddy Davis.
__ADS_1
“Aku hanya ingin dia bangun, Dad. Kalau sampai dia mati, aku akan menyesal seumur hidupku!” Jess menjawabnya dengan terisak. Kini Opa berdiri dari duduknya, mendekati Jess, lalu tangannya terulur untuk membelai lembut bahu Jess.
Mendapat perlakuan lembut sebagai bentuk kasih sayang Opa padanya, Jess menangis hingga bahunya terguncang. Dia menelungkupkan wajahnya dan membenamkannya di Kasur. Meski dikuatkan mentalnya, tapi dia merasa hancur. Dia menyadari telah berbuat egois, hingga menyebabkan Davis seperti saat ini.
“Semua bukan salahmu, Jess. Aku sudah perintahkan orang untuk menyelidiki kecelakaan ini. Kamu tak usah khawatir!” kata Opa dengan masih menepuk pundak Jess.
“Jess terlalu egois dengan perasaan Jess hingga tak menghiraukan perasaannya, Opa. Jess tau dia sengaja pergi dan menghindar dari semua kejadian hari ini karena,,,,”
“Sssstttttt,,,,kamu jangan menyalahkan dirimu. Opa tau kamu sangat tulus menyanyangi Davis, begitu pula sebaliknya” Opa yang tau ke mana arah pembicaraan Jess, mencoba untuk menghiburnya. Meskipun Opa tau dengan pasti, bahwa saat ini dia berbohong. Dia melakukan semua ini, demi kebaikan keluarganya.
“Opa salah! Davis mencintai wanita lain. Bodohnya aku, aku selalu memaksanya agar dia menjadi milikku. Padahal, dia dan wanita itu…..” Jess mengangkat wajahnya dan menoleh untuk selanjutnya menatap pada Opa, namun tiba-tiba ucapan Jess terhenti ketika Jess merasakan pergeran di jemari tangan Davis yang tengah dia belai.
“Opa, Davis bangun!” sontak semua yang tengah duduk di sofa, bergegas berdiri dan berdiri di deket brankar Davis.
Tak beberapa lama setelah mereka memencet tombol emergency, muncullah seorang wanita berpakaian putih dan seorang laki-laki yang mengenakan jas panjang putih. Mereka berdua memeriksa Davis.
Karena faktor kelelahan, kini semua anggota keluarganya tertidur. Di saat semua orang yang menungguinya tengah tertidur, Davis perlahan membuka matanya. Meski terlihat kesulitan, namun akhirnya matanya benar-benar terbuka sempurna. Dia melihat Jess yang tengah berada di sampingnya, dengan kepala dijatuhkan di Kasur, sementara tangannya menggenggam erat tangannya. Menyadari akan hal itu, perlahan Davis menarik tangannya dari genggaman Jess.
Kini dia mulai menoleh ke arah sofa. Mommy dan Daddy juga telah tertidur di sofa itu. Setelahnya dia hanya menyunggingkan senyum tipis. Punggungnya yang terasa pegal, akhirnya dia menekan tombol untuk membuat posisi punggungnya sedikit lebih tegak.
Merasakan ada pergerakan di brankar, Jess membuka matanya. Karena efek kaget, matanya langsung melotot memperhatikan Davis yang sudah dalam posisi duduk.
“Darl…” Jess tak bisa menutupi kelegaannya. Dia langsung bangkit dan menghambur ke tubuh Davis. Dia memeluk Davis erat, tanpa dia sadari telah menumpukan badan di dada laki-laki itu.
“Jess, lepas. Jangan begini!” Davis berusaha mengurai pelukan Jess dengan kedua tangannya.
Tapi bukannya pelukannya terurai, tapi malah makin kencang. Kini bahu Jess ikut terguncang dan sayup-sayup kembali terdengar isak tangis Jess.
__ADS_1
“Tolong ijinkan aku untuk memelukmu, Darl. Mungkin ini pelukan terakhir kita” suara Jess perlahan mampu meluluhkan hati Davis.
“Aduh!” pekik Davis sembari tangannya yang terbebas memegangi kepalanya.
Jess segera mengurai pelukannya, menatap dengan lekat pada wajah Davis, menoleh-noleh wajah Davis sambil berkata “Mana yang sakit? Mana? Hm?”
“Kepalaku” jawab Davis sambil memejamkan matanya.
Tanpa menunggu lama, Jess segera memencet tombol emergency.
***
Keesokan harinya, dokter yang kemaren menangani Davis sudah visit dan mengatakan bahwa Davis dapat dipindahkan ke rumah sakit lain, tapi dia tetap harus diopname karena masih harus diobservasi pasca kecelakaan yang tidak membbuatnya terluka bagian luarnya itu. Mereka harus membawa Davis menggunakan ambulans.
Meski Davis terlihat lebih bugar, tapi sesekali dia masih merasakan pusing kepala. Sepanjang perjalanan, Davis memanfaatkan waktu di ambulans untuk kembali beristirahat. Tak dipungkiri, tubuhnya terasa lemas. Dia tidak menyadari ketidakberadaan Dave di sana.
Sesampainya di rumah sakit yang saham mayoritasnya milik OXC, Davis langsung ditempatkan di ruang perawatan VVIP, tak jauh dari kamar Rafina dirawat. Dave pun kini sudah berada di di kamar itu. Davis masih dala posisi tidur saat dia dipindahkan dari ambulans ke kamar.
“Dave, bagaimana keadaan anak itu? Hmmm,,,itu anak Narita bukan?” Mommy berbisik saat berada di dekat Dave.
Dave tidak langsung menjawabnya, dia malah menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar.
“Dia memiliki golongan darah langka, Mom, sementara itu ibunya tidak sama golongan darah dengannya. Karena kelangkaannya, kami hanya dapat 1 kantong saja, padahal kata dokter masih butuh beberapa kantong lagi. Kasian Rafina!” jawab Dave juga sembari berbisik. Kini posisi mereka telah sama-sama duduk di sofa. Sementara Jess masih setia di samping brankar Davis.
“Ayahnya?”
“Hufh,,,Narita keras kepala, Mom. Dia terlalu angkuh untuk meminta tolong pada ayah Rafina”
__ADS_1
“Apa kau yakin Narita mengetahui keberadaan ayah dari anak itu?” pertanyaan Mommynya membuat Dave langsung menatap lekat pada mommynya. Ada benarnya dugaan mommynya. Mungkin bukan karena ‘keangkuhan Narita’ tapi lebih kepada keberadaan laki-laki itu yang mungkin tidak diketahui Narita.