CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
AKU MERINDUKANMU, SANGAT!


__ADS_3

AUTHOR POV 


Davis yang belum menyadari bahwa ada orang lain di ruangan itu, malah bertanya ‘kenapa’ ketika secara terang-terangan Narita menolak kecupan di dahinya.


“Malu, banyak orang” Narita sesekali menatap mata Davis namun kemudian menoleh ke kanan dan kiri berusaha menyadarkan Davis dari situasi ini.


Tak menunggu waktu lama, Davis pun akhirnya cekikikan menyadari kekonyolannya. Bukannya melepaskan tangannya dari bahu Narita, kini dia malah kembali menarik Narita untuk masuk ke dalam dekapannya.


Lalu perlahan Davis mengurai pelukannya.


“Maaf, kami terbawa suasana” jemari Davis merekat erat masuk ke sela-sela jemari tangan Narita.


Sungguh pemandangan yang sangat romantis. Senyum merekah terkembang di wajah keduanya. Setelah berpelukan lama dan merasakan dunia hanya milik berdua, kini tangan mereka saling membelit seolah tak mau lagi terpisahkan.


Melihat kedua insan manusia yang sedang bersuka cita dalam kebahagiaan yang tiada terkira, bapak, ibu, dan Arjuna yang saat ini ada di ruangan itu turut terharu, tersenyum tapi masih terdengar sisa air di hidung mereka.


Narita kini membawa Davis mendekati brankar tempat anaknya berada.


“Unda” panggil anak kecil cantik yang memiliki wajah blasteran.


Meski terpaksa, Davis akhirnya mengurai rekatan tangannya, lalu menghambur memeluk gadis kecil yang tergolek lemah di atas brankar.


“”Maafin Daddy, nak,,,maaf” Davis menjatuhkan wajahnya di sela-sela leher anak itu. Rafina hanya terdiam.


“Om siapa?” setelah Davis mengurai pelukannya dan memandang wajah cantik anak itu.


“Jangan om sayang. Aku papamu. Hmmm,,, Sayang, kamu mau manggil ayah atau papa?” Rafina nampak bingung mendengar pertanyaan Davis.


Lalu Narita berjalan ke arah sisi sebelah satunya lagi. Kini Rafina berganti menoleh ke kanan ke ibunya dan ke kiri ke ayahnya. Dia hendak bertanya pada ibunya.


“Panggil papa nak. Dia papa Rafina dan Raffa” Narita mencoba menjelaskan pada Rafina. Rafina masih menatap penuh kebingungan dan tak menyahut.

__ADS_1


“Raffa?” Davis mengulang kembali satu nama yang tak dia kenali. Lalu Narita menoleh pada seorang anak kecil berwajah blasteran yang saat ini tengah tertidur lelah di sofa dengan dijaga oleh Arjuna, adik Narita.


Davis yang menyadari bahwa dia telah memiliki anak kembar, buah cintanya dengan Narita, kini mendudukan dirinya di sofa yang tadi diduduki Narita di samping brankar. Setelahnya dia menciumi tangan Rafina dengan lembutnya sampai berkali-kali.


Dia tak mungkin menghambur ke pelukan Narita, jadi dia memilih untuk menciumi tangan buah hatinya itu. Dia bener-bener merasakan kebahagiaan yang tiada terkira. Untuk beberapa saat suasana masih hening, hanya terdengar kecupan Davis di tangan Rafina.


Lalu setelah dia sanggup mengangkat kepalanya, dia kembali menatap Narita lalu berkata “Maaf Sayang, aku terlambat mengetahuinya. Aku tidak menemanimu melalui hari-hari tersulitmu menjaga mereka. Terima kasih sudah memberikan hadiah terindah” tangan kanan Davis membelai lembut rambut Rafina sementara tangan kirinya terulur ke atas badan Rafina dan mengharapkan Narita meraihnya. Akhirnya tangan Narita dan Davis saling menggenggam erat tepat di atas tubuh Rafina. Mereka kembali larut dalam suasana suka cita.


Setelah itu, Davis kembali menceritakan mengenai kejadian yang menimpanya dulu. Davis menceritakan sepenggal kisah pada saat perpisahan mereka, apa yang dilakukannya ketika dia pergi ke Australia, lalu kejadian kecelakaan yang telah menimpa dirinya dan asisten pribadinya. Davis juga menceritakan bahwa pernikahan mereka sudah didaftarkan di catatan sipil sehingga sudah resmi dari segi agama dan negara. Hanya saja, surat nikahnya belum berada di tangannya dan dia harus kembali mencarinya karena seseorang yang telah diberikan tanggung jawab untuk memegang buku nikahnya, telah meninggal dunia. Ya, Davis mengetahui aspri nya meninggal, dari psikiaternya yang tadi mendampinginya.


Dengan sangat detail Davis menceritakan kejadian demi kejadian dan alasan kenapa saat itu Mommy dan Daddynya tidak bisa datang di acara pernikahannya, kenapa dia merahasiakan kepergiannya ke Australia, hingga berujung pada kecelakaan itu yang pada akhirnya mereka lost contact. Davis juga mengungkapkan kebahagiaannya karena kini dia dipertemukan kembali dengan istri tercintanya.


Narita menyadari ada yang aneh dari cerita Davis. Kenapa Davis sama sekali tak menyinggung pertemuan mereka di Australia, bahkan selama beberapa tahun mereka tinggal di bawah satu atap.


Tak terasa Davis sudah berada di ruangan itu selama 2 jam. Bapak, ibu, Arjuna, dan Raffa bahkan sudah pulang kembali ke rumah yang selama ini disiapkan oleh Dave. Malam ini Narita yang akan bergiliran menjaga Rafina. Sementara itu Rafina pun sudah terlelap dalam tidurnya. Bocah itu awalnya mendengarkan cerita papanya dengan seksama, tapi malah ternyata membuat matanya lelah dan pelan-pelan tertidur.


Kini hanya tinggal Narita dan Davis yang terjaga di dalam ruangan. Mereka duduk santai di sofa, posisi hampir rebahan. Narita sengaja menyandarkan tubuhnya ke dada Davis, dan Davis mendekap erat tubuh Narita.


“Ngomong-ngomong, kenapa kalian semua bisa berada di Australia?” sontak Narita bangun lalu menatap ke kedua mata Davis.


“Ya aku tau, ibu tadi bilang kalau mereka di sini untuk menemuimu. Tapi kamu sendiri di sini ngapain?” tanya nya kemudian.


Narita menyadari, mungkin ada masalah dengan memory Davis. Hal ini sama ketika Davis hilang ingatan karena kecelakaan itu. Apa mungkin kecelakaan baru-baru ini yang telah mengembalikan memorynya yang lama, namun justru menghapus memory nya yang terbaru?


ANEH….


“Kok diem aja, Sayang?” tak mendapatkan jawaban yang diharapkan, Davis kembali memanggil istrinya. 


“Kamu sedang tidak bercanda kan?” kepala Narita mendongak demi melihat ke mata Davis yang kebetulan juga tengah menatapnya dari atas. Davis tersenyum sembari menggelengkan kepalanya tanda memberi jawaban.


“Kamu tau kan kalau aku mendapatkan beasiswa S3 di sini? Aku sedang menyelesaikan study ku” jawab Narita.

__ADS_1


“Owh…” Narita makin yakin ketika Davis memberi tanggapan ini.


Narita sangat bersyukur karena ternyata Davis mengingat mereka tepat pada waktunya, Davis hadir dan memberikan darahnya untuk darah dagingnya tepat pada waktunya. Dia sungguh-sungguh terharu akan karunia Nya. Mungkin kalau memang terpaksa, demi kesembuhan anak kesayangannya, dia akan merendahkan harga dirinya untuk langsung meminta bantuan pada Davis.


“Selama di sini kamu tinggal di mana?”


DEG


Narita bingung antara harus menjawab jujur atau tidak. Cukup lama dia tak langsung menjawab pertanyaan Davis.


“Tinggallah denganku! Kau dan anak-anak kita” tangan kiri Davis memeluk Narita sementara tangan kanannya *******-***** tangan Narita.


“Ya” jawab Narita singkat.


“Kapan kuliahmu selesai?”


“Satu semester lagi”


“Setelah kuliahmu selesai, bagaimana kalau kita kembali lagi ke Indonesia? Aku lebih cocok tinggal di sana daripada di sini?” Narita menjawabnya dengan anggukan kepala. Sesekali Davis mengecup bibir Narita sekilas membuat Narita merasa malu.


“Sayang, Aku merindukanmu! Sangat-sangat merindukanmu!” Davis kembali mengecup Narita lalu mengeratkan pelukannya, demikian halnya dengan Narita yang membalas ungkapan Davis dengan mengeratkan pelukannya.


 


------******-------


Beberapa episode lagi akan TAMAT, semoga para readers menikmati novel perdanaku. Maaf yaa, aku selalu telat update, karena kesibukan jadi kurang mendapat inspirasi. Next time mau buat Novel yang sederhana aja, yang tidak sampai 100 episode. Kalau kepanjangan kok kaya capek fokusnya yaaa,,,,


Mohon doanya yaa para readers tercinta, semoga akum akin banyak belajar lagi untuk menulis, biar novelnya makin seru dan asyik dibacanya.


Dan jangan lupa untuk mampir di Novel keduaku dengan judul “ENGKAULAH PELABUHAN TERAKHIRKU”

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya : SUKA, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE


Terima kasih


__ADS_2