
DAVE POV
Teddy mengatakan bahwa Narita memiliki anak kembar tapi tak memiliki suami, sontak aku pun kaget mendengarnya.
“Lalu apa kau tau, siapa laki-laki brengsek itu?” tanyaku lagi.
“Coba liat tuan perhatikan anak kembar itu!”
“Apakah mungkin dia orang Eropa, Amerika, Australia?”
“Ya yang jelas bukan orang Asia. Dan satu lagi, informasi ini pasti akan membuat Anda makin kaget”
“Apa, Ted?”
“Sebelum dia melahirkan, sebelum dia berangkat kuliah S3, dia sudah bekerja di perusahaan OX Company yang ada di Jakarta selama kurang lebih 4 tahun”
“Oh ya?” aku kembali berteriak karena saking kagetnya mendengar informasi ini.
“Hmmm,,,bisa jadi ayah dari anak-anaknya adalah karyawan di kantor kita, Ted. Karena di sana kan banyak pekerja asing”
“Dan, ternyata pada masa di bekerja di OXC, Davis menjabat sebagai salah satu Dirutnya” lanjut Teddy.
“Cuma itu saja, Ted?”
“Maksud Anda?”
“Apa Anda tidak terkejut kalau mereka pernah satu kantor?”
“Kalau cuma satu kantor, belum tentu saling mengenal kan? Kau lihat Narita. Dia sepertinya tidak mengenal Davis sebelumnya, hmm mungkin mengenal tapi hanya sebatas atasan dan bawahan, karena sepertinya Narita tidak terlalu dekat dengan Davis” aku berargumen.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan Davis? Bukankah Davis seolah sangat mengenal Narita?”
“Apa Anda tak berpikir barangkali Narita pura-pura tidak mengenal karena mengetahui Davis amnesia” kata Teddy.
“Ted, kalau Narita mengenal dekat Davis, tentu dia akan antusias mencari tau kenapa Davis bisa amnesia? Sekaligus berusaha untuk memberikan kenangan-kenangan masa lampau agar Davis mengingatnya. Tapi kau liat sendiri kan, Narita bersikap biasa.”
“Hmm bener juga, Tuan. Dengan sifatnya yang seperti itu, sepertinya dia tak mungkin cuek dengan seseorang yang dikenalnya dengan baik”
“Tuan, apa perlu saya cari tau siapa---”
“Gak usah!” aku tau arah pembicaraan Teddy.
“Informasi ini sudah cukup untukku. Terima kasih”
“Baik. Saya permisi, Tuan”
“Ted” Teddy yang hendak berdiri kini kembali duduk.
“Ya” jawabnya.
“Ya. Kenapa Dave?”
“Ted, sepertinya aku menyukai Narita”
“Hah????” Teddy sedikit bersuara keras karena kaget mendengar pengakuan tuan sekaligus sahabatnya itu.
“Awalnya aku pikir menyukainya karena dia menyayangi Karen. Dia sosok ibu yang baik untuk Karen. Dia menyayangi Karen dengan tulus meskipun mereka tidak ada hubungan darah.” Aku menjeda kalimatku.
“Sifat keibuannya yang membuatku kagum dan takjub. Namun, entah kapan awal mulanya, aku mulai tidak suka melihatnya dekat dengan Ali dan Davis. Aku mulai ingin memberikan sesuatu yang selama ini tak pernah diperhatikannya, itulah kenapa aku membawanya ke mall dan memberikan beberapa barang padanya. Aku suka melihat interaksi dia dan Karen. Lama kelamaan aku menyadari bahwa aku menyukainya sebagai wanita bukan sebagai pengasuh Karen” Teddy manggut-manggut saja mendengarkan penuturanku.
“Aku salut padamu, kau tau Karen bukan anak kandungmu, tapi kau bisa sangat menyayanginya”
__ADS_1
“Itu pelajaran berharga yang kudapatkan dari Narita, Ted. Aku menjadi seseorang yang sangat berdosa ketika menyia-nyiakan seorang anak yang tak berdosa demi ego dan dendam. Justru karena Narita yang bukan siapa-siapa bisa menyayangi Karen dengan tulus, kenapa aku enggak bisa? Dia memang bukan darah dagingku, tapi kalau ibunya sudah mengamanatkan dia padaku, berarti dia adalah tanggung jawabku.”
“Kurasa Narita membawa pengaruh baik untukmu. Kau menjadi orang yang lebih terbuka, manusiawi, lebih bisa bersosialisasi, meskipun masih belum bisa mengontrol emosi amarah” Teddy mulai mengomentari sifat-sifatku.
“Iya aku menyadari itu, kehadiran Narita memang memberiku dampak yang bagus.”
“Owh ya, Lalu kenapa kau sering marah-marah padanya?” lanjut Teddy bertanya.
“Kalau dia deket dengan lelaki lain, tentu aku gampang terpancing emosinya”
“Lalu kau juga marah ketika dia tidak menerima hadian yang kau berikan”
“Ya jelas marah. Aku mengharapkan dia memasang senyum bahagia sembari mengucapkan terima kasih, kenapa balasannya justru sebaliknya.”
“Apa iya harus dengan sikap marah?”
“Sebenernya,,,,aku suka menggodanya. Kalau dia marah, ekspresi merajuknya lucu. Yah walaupun,,,,,” aku tak melanjutkan kalimatku.
“Justru sikap pemarahmu itu yang membuatnya makin tidak menyukaimu!”
“Apa iya?”
“Dia pernah cerita ke asisten rumah tangga yang lain yang kebetulan aku juga mendengarnya. Dia tidak menyukai sikap pemarahmu. Sepertinya ini akan menjadi hal yang sulit untukmu menaklukkannya, Dave!”
“Aku yakin tak ada seorang wanita pun yang menolak pesonaku. Liat aja! Aku punya cara untuk bisa membuatnya bahagia bersamaku”
“Apa” tanya Teddy, lalu aku memintanya untuk mendekat, membungkuk untuk mensejajarkan tinggi badan kami, dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
“Bagaimana? Apa kau siap membantuku?” tanyaku lagi, lalu Teddy meraih kalender di atas mejaku.
“Kau siap kutinggalkan seminggu ini?”
__ADS_1
“Tentu”
“Oke. Aku akan berusaha” lalu kami pun tersenyum bersamaan.