CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
RENCANA PERTUNANGAN


__ADS_3

Sepulang dari kos Narita, Davis menemui Bagas dan Aldi di sebuah club. Setelah memarkir motornya, dia bergegas masuk ke club melalui jalan pintas yang hanya dilewati karyawan dan pemilik club.


“Hai bro, udah lama kalian?” tanya Davis menepuk pundak Bagas dan Aldi secara bergantian lalu duduk di samping Aldi.


Hiruk pikuk dan hingar bingar alunan music club, membuat mereka memilih menggunakan bahasa isyarat atau bahasa tubuh dibandingkan berbicara namun harus dengan berteriak. Bagas menjawab dengan menunjukkan kesepuluh jari tangannya.


Aldi mengambilkan gelas dan menuangkan minuman beralkohol ke gelas tersebut lalu menyerahkannya ke Davis. Davis menerima gelas itu lalu menenggaknya sampe habis.


Nampak dari kejauhan sosok gadis cantik mendekati keberadaan mereka bertiga, setelah dekat dia melalukan toss tangan ke Bagas dan Aldi, lalu spontan duduk di sebelah kiri Davis dan mencium pipi kiri Davis.


Mendapat perlakuan mendadak seperti itu, Davis terlihat santai dan tidak kaget sama sekali. Setelahnya gadis itu tersenyum dan meraih gelas kosong dari tangan Davis, mengisinya kembali dengan botol alkohol, dan bermaksud menenggaknya, namun belum sempat gadis itu meminumnya, Davis kembali merebut gelas itu dan berkata “Loe cukup pesen sprite aja Lin!”. Alin cemberut mendengar perintah Davis, namun akhirnya dia pergi ke meja bartender dan kembali lagi ke tempat duduk Davis dkk dengan membawa sprite kemasan kaleng.


“Nie, gue lakuin demi nurutin perintah loe. Kurang apa coba gue buat jadi pacar loe?” Narita manja meminum spritenya. Davis hanya tersenyum dan manggut-manggut.


“Loe darimana aja sie? Kalau bukan Bagas yang jemput gue, gak bakal kan loe ngajak gue?” Narita berteriak tepat di deket telinga Davis.


“Ada sedikit urusan gue, yang penting kan sekarang kita udah di sini, gak usah dipersoalkan lagi!” Davis kembali lagi menenggak minumannya.


Alin menarik tangan Davis untuk mengajaknya turun melantai. Dengan terpaksa dan ogah-ogahan Davis mengikuti langkah Alin. Mereka melantai dan setelah puas melantai kembali duduk di tempat semula.


Pukul 01.00, Davis beranjak dari tempat duduknya “Bro, gue cabut duluan ya!”


“Cepet amat loe?”tanya Aldi.


“Besok pagi Mommy Daddy gue sampe Jakarta, bisa digorok gue kalau ketauan habis dari club” sahut Davis.


“Gue ikut!” Alin bergegas berdiri dan memeluk lengan Davis.


“Gue gak bawa mobil Lin, gak mungkin bisa anterin Loe!” tolak Davis dengan melirik  ke arah Alin.


“Bohong!” Alin cemberut masih mengeratkan tangannya di lengan Davis.

__ADS_1


“Yaudah kalo gak percaya, hayuklah kalo mau gue anterin pake motor” Lalu Davis toss tangan dengan Bagas dan Aldi dan berjalan ke luar club dengan digandeng oleh Alin.


Sesampainya di parkiran motor, Davis mengeluarkan helm dari dalam jok motornya “Nie pake” tangan Davis dengan sigap memakaikan helm ke kepala Alin.


Alin menerima perlakuan itu dengan tersenyum manja. “I love you, Darling!” balas Alin dengan mengerlingkan mata. Davis memutar bola matanya tanda malas.


Tanpa diperintah, Alin mengeratkan pelukannya di punggung kokoh Davis.


Asyik juga pacaran pake motor –Alin senyum-senyum dalam hati.


-----Rumah Davis-----


Pagi itu, terdengar suara berisik di ruang keluarga rumah Davis. Davis sudah sedikit tersadar dari tidurnya namun masih belum sanggup membuka matanya, dia masih bermalas-malasan di ranjangnya. Terdengar pintu kamar Davis dibuka dari luar dan terdengar suara cukup nyaring “Perjaka Mommy jam segini masih tidur, ngapain aja semalem Sayang?” seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik, wanita berkulit sawo matang dengan wajah cantik asli perempuan Indonesia tiba-tiba mendekat pada wajah Davis dan menciumi wajah Davis sampai Davis risih dan mengubah-ubah posisinya untuk menghindarinya.


“Mommy” panggil Davis dengan masih mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya.


Mommy Davis membuka lebar gorden kamar Davis hingga sinar matahari pagi begitu menyeruak masuk ke kamar tanpa terhalang apapun, karena jendela kaca itu berukuran besar dan hampir memenuhi seluruh bidangnya.


“Sama Kak Dave kah?” Lanjutnya kemudian.


“Baru aja Sayang, Mommy kangen banget sama kamu makanya begitu sampai, Mommy langsung ke sini.”


“Kakakmu udah pegang cabang perusahaan di Inggris jadi yaa jadwalnya beda dengan Daddy” jelas Mommy Davis.


Mommy Davis masih terlihat muda dan stylist di umurnya yang ke 51 tahun. Perempuan bernama Mirsha ini merupakan wanita beruntung yang sangat dicintai Daddy Davis. Daddy Davis  merupakan pria berkewarganegaraan Inggris bernama Dawson Oxley merupakan salah satu pewaris Oxley Company yang memiliki berbagai bidang usaha yang tersebar di beberapa negara.


Malam hari, Mirsha, Dawson, dan Davis berkumpul di ruang makan.


“Davis, Mom and Dad mau kamu melanjutkan study di Inggris aja. Sekalian nanti belajar bisnis sama Kak Dave!” Mirsha mengawali perbincangan sembari mengambilkan makanan untuk Dawson.


“Mom, bolehkah Davis kuliah di Jakarta aja?” pintanya sambil mengaduk jus buahnya dengan sedotan.

__ADS_1


“Sudah saatnya kamu berani hidup di luar negeri, Sayang” kata Mirsha


“Yahh, walaupun Daddy tau pendidikan di Indonesia juga bagus, tapi Mom and Dad maunya kamu memperluas wawasan dan belajar bisnis di sana!” pinta Dawson.


“Di sini Davis juga bisa belajar bisnis di perusahaan Daddy, please Mom,,,please Dad!” pinta Davis kembali.


Sesaat Mirsha dan Dawson saling berpandangan, dan Dawson mengangguk pelan dengan masih memandang Mirsha.


“Oke, Mom and Dad kasih kamu kesempatan kuliah di Indonesia, dengan syarat kamu harus kuliah Jurusan Manajemen UI, kalau gak diterima di UI, harus kuliah di Inggris, bisa?!” nego Dawson.


“Oke, deal” kata Davis optimis, lalu berdiri dan mencium Mommynya dengan lembut.


“Mom and Dad rencana di Indo berapa lama?” tanya Davis kembali duduk di kursinya, mengingat Mirsha dan Dawson selama ini selalu berpindah-pindah tempat karena Dawson harus selalu memantau dan mengunjungi perusahaan-perusahaannya.


“Mungkin 2 sampai 3 bulan, tergantung kerjaan Daddy di sini” jawab Dawson masih sambil makan.


“Owh ya, selama Mom and Dad di Indo, Mom and Tante Celine (Mommy Alin) merencanakan pertunanganmu dengan Alin” sambung Mirsha.


“Mom,,,,please.” Davis merajuk, berhenti makan dan meletakkan sendok garpunya dengan suara yang cukup membuat piringnya berdenting.


“Davis masih mau lanjutin kuliah S1 dan S2, kenapa sie harus Davis duluan yang tunangan? Bukannya harusnya Mom and Dad merencanakan pernikahan Kak Dave duluan ya?”


“Dave beralasan sedang melanjutkan study S3 nya, Sayang.”


“Toh ini pertunangan aja Sayang,, nikahnya menunggu kalian siap” Mommy Dave berbicara tanpa melihat ke arah Davis.


Mirsha dan Dawson merupakan sosok orang tua yang sangat mengedepankan pendidikan anak-anaknya. Dia akan senantiasa mendukung jika anak-anaknya menginginkan melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dengan konsekuensi mereka akan sulit untuk diminta cepat menikah, karena menurut Dave dan Davis menikah akan mengganggu konsentrasi belajar dan bekerjanya.


“No Mom,,,sekali Davis bilang No, ya No” tegas Davis.


Begitulah Mirsha dan Dawson, mereka tak dapat memaksakan kehendak kedua anaknya. Bagi mereka, kebahagiaan Dave dan Davis adalah segala-galanya, mereka selalu menyerahkan pilihan jodoh anak-anaknya kepada anak-anaknya itu sendiri. Namun di umur mereka yang sudah tidak muda lagi, mereka sangat menginginkan kehadiran cucu dari anak-anaknya, terutama Dave. Dave yang telah berumur 27 tahun dan telah matang usianya untuk menjalin biduk rumah tangga, nyatanya selalu beralasan ketika diminta A dan B untuk segera menikahi tunangannya yang telah menjalin hubungan 7 tahun lamanya.

__ADS_1


__ADS_2