CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
PINDAH RUMAH LAGI


__ADS_3

NARITA POV


 


Sore ini aku sudah janjian untuk datang ke unit apartemen mbak Ami dan mbak Diva. Kebetulan sekali mereka tidak ada lembur kerjaan, jadi aku bisa main ke sana. Kami memang tinggal di tower yang berbeda, tapi masih satu komplek apartemen. Apartemen kami sangat ketat jadi yang bukan penghuni tidak dapat naik ke lift sesuai dengan yang dituju. Lift dilengkapi dengan sensor kunci unit apartemen yang kami miliki, sehingga untuk bisa ke apartemen mbak Diva, aku dan mbak Ami harus menunggu dijemput di lobby.


Meskipun kami sering ketemu, tapi kami selalu ada momen heboh dengan acara pelukan. Kami pun bersama-sama menaiki lift menuju unit apartemen mbak Diva.


“Na, kamu lagi hamil ya?” Mbak Diva dan mbak Ami memang mengetahui pernikahan siri ku jadi tak heran jika dia langsung bertanya hal itu to the point.


“Alhamdullillah mbak”


“Sudah berapa bulan?” tanya mbak Ami.


“2 bulan jalan”


“Lho bukannya waktu itu aku denger kamu udah pindah ke rumah Davis ya? Kok sekarang di sini?”


“Davis pergi tanpa kabar” aku tertunduk lesu menjawab pertanyaan yang sebenernya bukan merupakan jawaban atas pertanyaan mbak Ami.


“Kemana?” serempak mbak Ami dan mbak Diva bertanya dan aku jawab dengan gelengan kepala.


“Pamitnya keluar negeri, tapi dia masih belum terbuka padaku urusan apa keluar negerinya” jawabku pelan, Mbak Diva yang sangat dewasa segera merengkuh pundakku dan menepuk-nepuk pelan berusaha menenangkan.


“Sudah berapa lama perginya? Dia masih kasih kabar gak?”


“Sudah 2 bulanan. Awalnya dia masih kasih kabar tapi lama-lama menghilang tanpa kabar. Aku takut mbak?” aku terisak dalam rangkulan bahu mbak Diva.

__ADS_1


“Sssttt,,,,jangan berpikir macam-macam Na. Doain semoga Davis baik-baik saja. Hm?” aku pun mengangguk lemah.


“Sekarang apa rencanamu, Na?” tanya mbak Ami yang masih duduk di depan kami terhalang meja kecil.


“Aku sudah resign dari kerjaanku, mbak. Karena aku gak enak kalau kandunganku makin membesar mereka akan menggunjingkan aku padahal mereka tidak mengetahui yang sesungguhnya. Aku juga sudah keluar dari rumahnya, karena aku merasa sesak berada di sana. Davis pernah bilang bahwa Mommy nya dan Opa nya menjodohkan dia dengan wanita pilihan mereka, aku takut kalau aku masih di rumah itu, tiba-tiba Davis datang dengan istri barunya.” Aku bercerita dengan isakan tangis dan lelehan air mata membanjiri wajahku.


“Untuk sementara aku masih balik apartemen, tapi aku lebih terasa sesak kalau harus berhari-hari di apartemen tanpa ada pekerjaan” sambungku.


“Apa kamu punya rencana lain?” tanya mbak Ami memastikan.


“Entahlah mbak, aku juga bingung. Rencana jangka pendek aku belum punya, tapi aku merencanakan melahirkan di kampung, dan pertengahan tahun depan aku harus sudah terbang ke Aussie”


“Kalau ke Aussie, anakmu?” tanya mbak Diva.


“Entahlah mbak. Aku inginnya kubawa, tapi bagaimana dengan biaya hidup kami di sana? Aku hanya diberikan biaya hidup untuk 1 orang saja”


“Bapak sama ibu tau tentang Davis?” tanyanya kemudian dan kujawab dengan gelengan kepala.


“Berarti kamu punya waktu 1 tahun sampai dengan kamu pergi ke Aussie ya? Hmmm,,,aku rasa akan sangat membosankan jika kamu hanya mengurung diri di apartemen Na! Kalaupun pulang kampung juga sepertinya sama boringnya.”


“Aku kepikiran pengen jual beli online mbak, yaaahhh selain untuk mengisi kegabutan tapi juga bisa untuk biaya hidup”


“Kamu masih ada tabungan kan?” tanya mbak Ami.


“Ada mbak. Alhamdullillah bunga depositonya aja masih cukup untuk biaya hidup sehari-hari, asalkan gak boros ya hehehhehe”


“Alhamdullillah, kalau gitu.”

__ADS_1


“Na, aku sebenernya kerjanya dipindah ke Bogor, rencananya aku pengen ngontrak rumah di sana soalnya kalau aku tinggal di Jakarta, lumayan capek perjalanannya Na. Kamu mau kita ngontrak bareng?” mbak Diva menawariku sesuatu hal yang pernah menjadi pemikiranku juga.


“Wahhh kebetulan banget mbak. Aku tuh kepikiran pengen minggir tapi gak mau kejauhan minggirnya karena aku pengen usaha jual beli online. Hayuk mbak”


Akhirnya aku dan mbak Diva mulai searching-searching kontrakan rumah di Bogor yang deket tempat kerja mbak Diva namun juga gampang akses ke Jakartanya. Akhirnya malam itu juga aku mendapatkan rencana jangka pendekku.


Weekend telah tiba. Aku dan mbak Diva survey rumah yang akan kami kontrak. Kami mengendarai mobil mbak Diva. Setelah mensurvey beberapa tempat, akhirnya kami menjatuhkan pilihan pada sebuah rumah 2 lantai dengan 3 kamar tidur di dalamnya. Di perumahan ini semua fasilitas lengkap, dari mulai kolam renang, fitness center, jogging track, danau buatan, taman, lebar jalan lumayan, dan tiap rumah memiliki halaman samping dan depan. Aku dan mbak Diva sharing biaya kontrak rumah ini. Kelebihan yang lainnya adalah full furnished, jadi kami masuk tinggal bawa badan saja.


Tak menunggu waktu lama, hari sabtunya kami memutuskan pilihan, hari minggu nya kami pindahan. Aku sudah memberikan kepercayaan pada pihak marketing apartemen untuk menyewakan unit apartemenku dan mbak Diva, sehingga kami pun tak perlu repot-repot untuk mengurusnya apabila ada yang berminat untuk menyewa. Kami pindahan dibantuin mbak Ami dan Mbak Sriti, sedangkan sahabat kantor sengaja tak aku libatkan karena aku tak ingin mereka mengetahui alamatku dan pada akhirnya mengetahui kehamilanku.


Sahabat kantor yang berkeinginan menemuiku, aku mengaku sedang menikmati masa-masa di Indonesia di kampung, atau sibuk dengan less menjelang keberangkatanku.


Tak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri tinggal di lingkungan baru. Perumahan ini adalah perumahan yang sangat hommy. Hubungan kekeluargaan bertetangga sejauh ini aku merasakan sangat menyenangkan. Di sini aku mengaku tinggal dengan berdua dengan kakak sepupu dan aku mengaku sudah bersuami tapi suamiku meninggal karena kecelakaan pada saat aku dinyatakan hamil muda. Maaf suamiku, aku harus membuat satu kebohongan karena aku tak ingin anak kita ada yang mencemooh.


Aku pun memulai usaha online shop dengan berbagai macam keperluan perlengkapan bayi, dari usia 0 sampai dengan 5 tahun. Mbak Diva yang bekerja menjadi manager di salah satu supermarket besar di Indonesia, membuat banyak keuntungan buatku. Banyak info diskon toko offline darinya yang selanjutnya aku borong dan kujual online dengan harga yang jauh di bawah harga mall tapi dengan asli brand mall.


Aku bekerja sendiri, sebagai admin merangkap pengelola aplikasi, membungkus barang, dan manajer stok. Tapi dengan kemudahan komunikasi di era digital seperti sekarang ini, kehamilan tak membuat ruang gerakku terbatasi. Aku hanya duduk manis di rumah, tapi perputaran barang dan uang sangat cepat. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur Alhamdullillah.


Kehamilanku semakin lama semakin membesar, apalagi menurut dokter bayiku kembar. Kembar dari 2 sel telur yang berbeda. Dokter belum bisa memastikan kelaminnya tapi aku dan anak-anakku dinyatakan sehat semuanya.


Aktifitas sehari-hari terasa makin membahagiakan dibandingkan dulu sewaktu aku masih bekerja di perusahaan besar. Aku makin banyak waktu untuk berolah raga, memasak, bersih-bersih rumah, dan masih dapat berkarya dan menghasilkan uang, meskipun tak sebanyak seperti ketika aku menjadi manajer.


Aku sudah menceritakan semua kisahku kepada Bapak dan ibu. Kisah tentang kepergian Davis, kepindahanku ke Bogor, dan bayi kembarku. Awalnya mereka cukup shock dan prihatin, tapi mengingat aku tinggal bersama mbak Diva, mereka tak perlu khawatir yang berlebihan karena mereka sangat mengenal mbak Diva sebagai sosok kakak yang baik, dewasa, ngemong, dan banyak membantu. Mereka hanya kasian sama mbak Diva. Wanita sebaik dan selembut dia kenapa bisa bernasib seperti itu, pernah gagal menikah, pernah diceraikan suaminya, dan sekarang harus hidup sendiri.


Tetangga di Bogor sangat baik. Kami saling membantu dan sering ramah dan bertegur sapa. Sejauh kami berhubungan bertetangga, tak ada yang menggunjingkan hal-hal negatif kepada kami. Aku pun sering mengisi masa sore dengan mengikuti acara pengajian dan yasinan di komplek.


Kehamilan tanpa suami membuatku dan anak-anakku lebih tegar. Aku bisa mandiri mengerjakan banyak hal. Kalau hanya jarak dekat aku selalu menaiki sepeda motor dibandingkan mobil. Aku pun sudah tak pernah muntah-muntah, bahkan ngidam aja bisa dibilang tidak pernah, sekalinya pengen sesuatu yaa sesuatu itu mudah kudapatkan.

__ADS_1


Sungguh Allah itu Maha Adil. Beliau memberikan cobaan yang sekiranya kami hambanya bisa melampauinya. Cobaan yang awalnya menurutku sangat berat, ternyata setelah aku ikhlas menjalaninya malah mendapatkan kebahagiaan yang berbeda. Sungguh aku bahagia dengan hidup baru ku saat ini.


__ADS_2