CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
TERPAKSA MENGAJAKNYA


__ADS_3

--- Halaman Rumah Davis -----


Jam 05.00 pagi buta telah terjadi keributan kecil di rumah Davis. Terlihat Davis telah bersiap menenteng tas ransel, bumbag, dan gitarnya, namun tiba-tiba Alin datang dan merengek ingin ikut tour ke pulau seribu.


“Tante, Alin mau ikut Davis. Suka atau tidak, boleh atau tidak, Alin harus ikut!” rengek Alin.


“Davis, udah biarin aja sie Alin ikut!” bujuk Mommy Mirsha.


“Mom,,,,bukannya Davis gak mau ajak Alin, tapi ini tuh tour berame-rame yang hanya diikuti oleh orang-orang yang sudah daftar jauh-jauh hari sebelumnya.” Elak Davis yang tertahan langkahnya belum bisa pergi karena ransel yang sudah digendongnya ditarik-tarik Alin.


“Kenapa loe dari kemaren gak ngajak gue? Loe sengaja kan mau jauh dari gue makanya gak nawarin gue?” Alin masih merengek dan menari-narik ransel Davis.


“Udah Vis, Mommy telponin temen Mommy yang punya fery di Ancol deh biar Alin bisa tetep pergi bareng kamu sewa fery dia” Mommy Mirsha terlihat mau menelpon seseorang.


“Hall…….” Suara Mommy terputus karena tiba-tiba ponsel Mommy Mirsha direbut Davis.


“Momm,,oke Alin ikut. Tapi janji jangan manja. Jangan komplen kalau di sana gak ada fasilitas hotel bintang 5, tidur, makan, dan wisata apa adanya ala backpakeran!” ancam Davis pada Alin, sembari tangannya mengembalikan ponsel Mommy Mirsha tanpa memandang Mommynya.


“Oke, deal!” Tegas Alin lalu tersenyum berbarengan dengan Mommy Mirsha.


“Perlengkapan loe mana?” tanya Davis clingak clinguk mencari tas Alin.


“Ada tuh di mobil. Kita berangkat pake mobil sama sopir gue aja. Gak mau pake motor butut Mang Ujang” kata Alin manja menepuk motor matic yang sering dipake Davis.


Davis menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Hufh.


“Mom, Davis pergi dulu” pamit Davis mencium punggung tangan Mommy Mirsha.


“Dad,,,” lanjut Davis memeluk Daddynya yang daritadi hanya diam memperhatikan sandiwara anaknya dan Alin. Daddy Dawson memeluk anaknya dan menepuk Pundak anaknya.


“Tan, makasih ya. Om, Alin pergi” pamit Alin dan diangguki Mommy Mirsha dan Daddy Dawson.


“Jaga Alin, Vis. Awas yaa kalau terjadi apa-apa sama Alin!” ancam Mommy Mirsha.


“Hm” jawab Davis malas.


Lalu Davis dan Alin naik mobil jok belakang, setelah sebelumnya mereka memasukkan barang-barang di bagasi.


“Loe udah siap-siap, datang ke rumah gue pagi-pagi, siapa yang ngasih tau loe sie?” tanya Davis ketus.


“Rahasia!”


“Jangan loe pikir gue gak di deket loe, terus gue gak tau ya. Gue punya cctv di mana-mana!” jawab Alin ketus yang seketika membuat Davis memutar bola matanya, lalu membuang muka ke arah jendela mobil.

__ADS_1


----- Dermaga Ancol-----


Terlihat peserta tour sudah banyak yang datang namun acara keberangkatan masih belum dimulai. Mereka masih duduk menyebar. Peserta tour kali ini tidak terlalu banyak karena Mbak Silvi membatasi peserta hanya 20 orang saja.


Davis menyapa sekilas Aldi dan Bagas lalu mencari keberadaan Silvi.


“Kak, sorry, kalau nambah 1 orang lagi, masih bisa gak?”


“Adikku merengek maksa ikut nie!” pinta Davis dengan tampang lesu ke Silvi.


“Sebenernya udah full Vis” jawab Silvi.


“Gimana mas?” tanya Silvi menoleh dan meminta pendapat suaminya.


“Hufh,,,,,yaudah deh. Tapi kalau ada lagi yang mau ikut dadakan, aku tolak” jawab suami Silvi tegas.


“Makasih Kak, Mas” Davis sumringah merasa lega.


“Ayo” ajak Davis cuek. Alin hanya berani mengekor.


Davis tengok kanan, kiri, depan, belakang, menyapu pandangan ke sekitar.


Kak Na kok tumben belum datang sie? – tanya Davis dalam hati.


Terlihat dari kejauhan, Narita dan Sriti berlari tergopoh-gopoh dengan ransel di punggung mereka dan tas slempang di bagian depan. Seketika Davis tersenyum.


“Bro, kirain Kak Na gak ikut makanya loe ngijinin Alin ikut?” bisik Bagas tepat di telinga Davis.


“Ck, loe gak tau drama tadi pagi di rumah gue. Terpaksalah gue ajak!” jawab Davis dengan mata masih memandang Sriti dan Narita.


Seperti biasa, sebelum pemberangkatan ada acara perkenalan. Peserta tour kali ini sebagian besar merupakan peserta tour sebelumnya, namun untuk rombongan temen SMA Davis, cuma ada Davis, Bagas, dan Aldi yang lainnya gak bisa ikut karena quota terbatas.


Selesai acara perkenalan, mereka diarahkan menuju ke fery yang telah disewa. Davis sengaja mengantri di belakang karena menunggu untuk menyapa Narita dan Sriti.


Narita pun dari jarak beberapa meter sudah melihat dan tersenyum kepada Davis. Tapi tiba-tiba raut mukanya berubah ketika ada tangan gadis cantik yang melingkar mesra di lengan Davis. Narita berusaha menetralisir keadaan dan menguasai gejolak hatinya dengan tersenyum sesantai mungkin.


Narita sadari, selama 3 minggu sejak perkenalannya dengan Davis, dia sudah mulai terbiasa dengan perhatian-perhatian Davis. Hampir tiap hari datang ke kos, rutin sehari minimal 3x bertukar pesan, terkadang telponan hanya mengobrol sesuatu yang gak penting. Ada rasa yang tak bisa Narita gambarkan, meskipun dia selalu menolak dengan alasan Davis hanyalah anak SMA seperti adiknya.


Narita yang belum pernah pacaran sekalipun, belum begitu memahami apa bedanya mengagumi, menyukai, menyayangi, atau mencintai. Baginya, dia selalu menolak kalau apa yang dirasakannya ke Davis adalah bentuk dari rasa cinta. Apalagi dengan masa perkenalan yang masih terbilang singkat. Dan Davis pun bisa dibilang bukanlah seseorang yang diinginkannya untuk menghalalkannya. Banyak perbedaan di antara mereka.


Penampilan Davis kali ini membuat siapapun yang melihatnya akan berdecak kagum. Wajah tampan, body bagus, tampilan casual, elegan, mahal, keren, ditambah kacamata hitamnya, menambah kesan macho. Begitupun gadis cantik di samping Davis, penampilan keren dan gaul mereka, membuat siapapun yang melihat mereka, pasti akan berpikir mereka adalah pasangan yang serasi.


Ada sedikit rada sakit yang dirasakan Narita.

__ADS_1


Davis ngajak pacarnya. Hufh kok aku bete ya? Ups, apa-apaan sie aku.—batin Narita dengan membuang pandangan.


“Kak!” sapa Davis setelah Narita tepat di depannya.


Narita tersenyum dan kembali memandang Davis dan Alin bergantian “ Eh Vis, bawa pacar nie?”


Lagi-lagi Davis tak menjawab, dia hanya tersenyum lalu berjalan mengekori Narita dan Sriti.


Sriti yang merasakan dan melihat suasana yang sedikit canggung antara Narita dan Davis, hanya diam saja. Sedangkan Alin seolah tak peduli dan berjalan makin mesra menggandeng lengan Davis.


“Sayang, gue harus duduk samping loe!” rengek Alin manja.


“Hm” jawab Davis singkat.


Duh,apa-apaan sie Alin. Lebay. Pake sayang segala. Kak Na bisa salah paham nie.—batin Davis kesal.


Panggilan sayang untuk Davis terdengar oleh Narita yang berjalan tepat di depannya. Narita hanya menghela nafas panjang dan membuangnya dengan perlahan. Sriti meraih dan menggegam tangan Narita sedikit kencang seolah menguatkan.


“Apa Mbak?” tanya Narita kaget atas genggaman Sriti dan hanya dibalas gelengan kepala oleh Sriti.


----- Di dalam fery-----


Narita dan Sriti duduk tepat di sebrang tempat duduk Davis dan Alin. Sesekali Davis curi-curi pandang pada Narita, namun Narita yang memilih duduk di deket jendela memilih membuang pandangan ke luar jendela.


Kak Narita bersikap tak seperti biasanya. Dingin. –batin Davis masih memperhatikan Narita.


Sriti yang menyadari pandangan Davis ke Narita terus, memberanikan diri untuk menatap balik Davis. Ketika mata Sriti dan Davis bertemu, dengan malu-malu Davis membuang pandangannya ke sembarang arah. Sriti tersenyum kecut.


“Na?” sapa Sriti.


“Hm?” jawab Narita singkat masih memandang lautan lepas.


“Are you OK?” tanya Sriti kembali.


“Lha, emang aku kenapa mbak?” tanya balik Narita dengan nada keheranan lalu menoleh dan menatap Sriti.


“Soalnya tuh yang di sebelah sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Dari tadi curi-curi pandang ke kamu terus” kata Sriti pelan.


“Hehehe yang di sebelah lagi gak leluasa mbak soalnya ada juru kuncinya” Narita melucu membuat Sriti lega karena tadinya Sriti berpikir Narita patah hati. 


Perjalanan yang cukup lama, memakan waktu 3 jam membuat beberapa penumpang memanfaatkan waktu untuk tidur. Begitupun hal nya dengan Davis dan Alin. Terlihat oleh Narita, Alin tertidur pulas bertumpu pada pundak Davis. Davispun tertidur, namun posisi Davis hanya bersandar pada sandaran kursinya, tak semesra sewaktu dulu Narita dan Davis tertidur di bus perjalanan Bogor Jakarta.


Ceweknya cantik banget. Bule sama bule, cocok mereka. – Narita membatin dan tersenyum kecut mencuri pandang pasangan yang duduk di sebrangnya.

__ADS_1


__ADS_2